Golden Bride

Golden Bride
Usaha Wyatt



Hening… Tak ada yang bicara, mereka sibuk dengan pikiran dan kegelisahan masing-masing.


"Kamu yakin?" menatap Stuart tajam dan dalam.


"Aku berani bertaruh 10 persen saham yang ada diperusahaanmu itu," sahutnya tegas, tersenyum melihat Wyatt yang mencebiknya kesal. "Instingku yang ngomong, Wyatt. Dan kamu tau sendiri, kejadian ini bukan hal baru yang harus kuselesaikan." Jawabnya bangga dan percaya diri.


Wyatt mendesah pelan dan mengangguk. "Kamu selidiki, Stuart." Pintanya tegas. "Dan ambil ahli penyelidikan mereka," menatap kedua ketua tim dengan dingin.


"Bayarku gak murah loh," sahutnya bergurau.


"Berapapun pasti kubayar, asal kerjaanmu beres semua," cetusnya ketus.


"Oke, Bro. Haha," Stuart menepuk pundak Wyatt senang.


"Dengan saudara sendiri perhitungan," sindirnya sinis.


"Bisnis tetap bisnis, Bro. Hehe," menyeringai puas. "Kan gak bangkrut juga kamu membayar jasaku, dijamin puas pelayanan kami." Sambungnya ambigu jahil.


"Ck," decaknya sinis. "Gimana kondisi Shane dan Jasmin sekarang?" menatap Stuart cemas.


"Udah baikkan, biasa belum bisa beradaptasi dengan cuaca di sini," sahutnya lega. "Aku gak bisa lama, kubawa mereka yah," menunjuk kedua ketua tim body guard Wyatt.


"Oke, thanks, Bro." Menepuk pundaknya hangat.


"Dad, Om, kupergi dulu," ucapnya pada mertua dan mertua Wyatt. Dan mengangguk kepala pada Leon, lalu berjalan diikuti oleh ke dua body guard.


"Dad Ayo kita masuk," ajaknya, lalu menatap Leon. "Kamu urusi mereka," memberi kode menunjuk para body guard yang masih bersiaga di luar menunggu instruksi selanjutnya.


******


Malam terus bergerak, semua orang pasti merasa kelelahan. Maka nya Wyatt meminta semua keluarga istrinya dan ketiga sahabatnya untuk pulang saja, awalnya mereka keberatan dan ingin menemani Tiara tapi setelah dibujuk dan diberi alasan besok bisa kemari bergantian menjaga istrinya, karena ia ada pekerjaan yang harus dilakukan, sehingga harus meninggalkannya bersama keluarganya, alasan itu ternyata bisa diterima, dan mereka menyetujui.


Padahal alasan sebenarnya dari Wyatt, karena hatinya merasa tak percaya istrinya dijaga oleh orang lain, walaupun itu keluarga istrinya sendiri untuk malam ini. Terserah mau dibilang posesif, sejak penembakan tadi, timbul perasaan posesif dan tak mempercayai keselamatan Tiara selain dirinya sendiri. Firasatnya ngomong, ini pasti bukan terjadi hanya sekali, ini semacam langkah awal mereka untuk menyakiti dirinya maupun istrinya.


Walaupun belum bisa mencintainya tapi benih-benih cinta itu sudah mulai tumbuh, sejak ijab kabul selesai, rasa itu tiba-tiba tumbuh, sungguh keajaiban Allah menurutnya, karena dirinya bukan tipikal pria yang mudah jatuh cinta, dan belum pernah mengalaminya sama sekali, dan bersyukur hatinya hanya tergerak untuk istri yang baru dinikahinya itu.


Tiara merasa canggung, belum pernah sedekat seperti ini dengan Wyatt. Mereka hanya berdua dalam kamar inapnya tapi beberapa body guard tetap siaga berjaga diluar. Walaupum pernah ngobrol berduan saja tapi tak pernah dalam satu kamar begini.


Wyatt tersenyum geli dalam hati, melihat istrinya yang kikuk dan bengong. Ia menaiki ranjang yang memang cukup untuk 2 orang tidur, bersandar di sampingnya lalu memeluknya erat. Ia bisa merasakan tubuh istrinya yang tegang dan hati yang berdebar.


"Kayaknya ada yang bergendangbyah, kencang banget suaranya." Sindirnya bergurau.


"Eeh.." sahut Tiara linglung dan gugup, tidak mengerti omongan suaminya.


"Hati tuh dikondisikan, kasihan debarannya kencang banget, kukira tadi orang mana yang main gendang malam-malam gini, gak taunya istri sendiri," candanya geli melihat wajah memerah istrinya. "Kutakut kamu jantungan loh, dig..dag..dig..dug" meniru bunyi debaran hatinya dengan serius. "Gak lucu kan baru sehari jadi suami udah jadi duda aja."


Tiara menatap Wyatt lama, mencoba memahami omongannya, setelah paham, ia mencebik kesal dan mencubit lengan suaminya, yang keras banget.


"Aduh, sakit, Bund," seru Wyatt pura-pura kesakitan, dengan wajah datarnya.


"Kok Bunda sih," ujarnya heran. "Coba deh hilangi ekspresi datar lo ini, ngelucu aja masih dengan wajah darat, mana seninya," menaruh ke dua telunjuknya di sudut bibir Wyatt dan menaikinya sehingga seperti orang tersenyum. "Nah gini kan ganteng." Sambungnya malu, telah memuji suaminya terang-terangan, apalagi melihat wajah pongah dan narsis suaminya, membuatnya membenamkan wajahnya di dadanya.


"Ck, sayang sekali, istriku baru nyadar kalau suaminya ini udah ganteng dari lahir," pujinya sombong dengan jahil, membuat wajah Tiara semakin ditekuk. Ia terkekeh, "Kenapa?"


"Gak aneh aja melihat lo terkekeh, baru kali ini terjadi, biasanya kan selalu berwajah datar dan kayak triplek." 


"Ini baru awalnya, seumur hidup kita kamu akan sering melihatku tersenyum dan tertawa." Menatap istrinya serius. "Kita udah suami istri, jangan ngomong pake lo-gua segala lagi yah," pintanya lembut, dijawab dengan anggukan oleh istrinya. "Kenapa kupanggil Bunda, karena kamu akan jadi wanita satu-satunya yang akan melahirkan anak-anakku nanti." Sambungnya penuh janji dan yakin.


"Hmm," gumamnya malu, semakin dalam membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.


"Benaran kamu mau melepaskan semua tuntutan temanmu, Bella," ujar Wyatt mengajuk keinginan hati istrinya.


"Iya," melepaskan diri dari pelukkannya dan bersandar dilengan suaminya.


"Alasannya?"


"Gak ada alasan khusus sih, hanya kasihan aja kalau dituntut hidupnya bakal hancur." 


"Bukannya itu ulangnya sendiri, yah harus diterima hasilnya," cetus Wyatt ketus.


"Dia dari dulu sangat benci Tasya, gak tau apa yang mengakar dihatinya itu, sampai ingin melihat Tasya menderita," ucapnya menatap kosong ke depan, yang langsung di tutupi sebuah tangan.


"Jangan kosong, gak baik," ingat suaminya geram.


"Maaf," sesalnya sambil menyandar. "Aku gak mau dengan dipenjaranya dia, membuatnya semakin membenci Tasya. Kutakut kebenciannya itu akan membuatnya melakukan segala cara untuk mencelakai Tasya." Sambungnya bergetar cemas.


"Kamu aja yang terlalu dipikirkan," menepuk kepalanya lembut. "Tasya kan ada macan lapar yang melindunginya, jadi gak akan ada orang yang berani mencelakainya." Sambungnya yakin, menyindir sikap Bram yang posesif semenjak tahu Bella masih mencari masalah melalui Tiara.


"Ya, kutau kalau Bang Bram mampu melindunginya," tersenyum geli melihat wajah suaminya yang tak suka memanggil Abang pada Bram. Dasar kayak anak kecil, gerutunya keki. "Tapi apa dia selalu ada 24 jam di dekat Tasya, gak kan. Maka nya jalan satu-satunya dengan membalas kejahatan dengan kebaikan." Sambungnya bersemangat.


"Kebaikannya itu seperti membebaskan tututan dirinya itu," selidik Wyatt yakin.


"Yup, anda dapat 100, Mr," ujar jahil bersemangat lalu tersenyum manis pasa suaminya.


Tanpa bisa dicegah Wyatt terpana dan langsung menciumnya, dirinya tak tahan ingin mencicipi bibir merah istrinya yang terlihat manis dimatanya. Ternyata hasilnya tak mengecewakan, membuatnya candu.


Ia memang tak mencium lama, ingin membuat istrinya perlahat nyaman dulu dengannya, baru berbuat lebih. Ciuman ini saja tanpa direncanakannya sama sekali. Dan ia berniat ini bukan yang terakhir, pikirnya mesum dan tersenyum sennag, tak sabar menanti semua itu.


"Kenapa malu gini," sindir Wyatt mencubit pipi istrinya yang merah dan ia suka melihatnya.


"Ya iyalah malu, kalau dicium tiba-tiba, apalagi ciuman pertama juga. Masa dilakukan diranjang rumah sakit sih," bisiknya geram dan kecewa pada diri sendiri tapi terdengar oleh Wyatt.


"Hehe, habis aku gak tahan mencicipi bibir manismu ini," mengelus bibir istrinya. "Gak apa-apa biar momentnya lain dari pada yang lain," sambungnya nyeblak asal ngomong, memeluknya sayang, yang langsung dihadiakan pukulan dari istrinya. "Kamu yakin dengan kebaikanmu itu bisa menyadarkan Bella dan membuatnya tak membenci Tasya lagi," sambungnya mengembalikan omongan mereka yang teralihkan tadi.


"Kita berdoa aja, yang penting ada usaha untuk memperbaiki. Siapa tau mendapat hasil yang kita inginkan," sahutnya semangat dan berpikir positif. 


Mereka saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya terdengar bunyi AC dalam ruangan itu.


"Kamu yakin dia gak semakin nekat setelah dibebaskan dari semua tuntuannya?" tanya Wyatt mengajuk hati istrinya dengan tatapan serius.


👏Hai Readers👋


😇Thanks udah masih setia membaca crita ini🙇


🙇"Maaf tak pernah membalas pesan/komen


kalian🙏


👏 Kalau suka.. jangan lupa klik 👍, rare & vote


biar menjadi penyemangat untuk selalu


menulis🤗


👉 See you on next chapter👋