
Tiara bersidekap dan menatapnya datar. "Udah ngocehnya." Melihat Bella yang terkejut dengan reaksinya yang cuek, dia menatap dirinya marah. "Bye," sambungnya cuek, malas ribut dengan orang tak tahu diri seperti Bella, bukannya sadar malah balik menyalahkan orang lain.
"Tunggu, jalang!" seru Bella marah dan menahan tangan Tiara yang akan meninggalkan dirinya.
Tiara menatap Bella malas. "Gue jalang," menunjuk dirinya sendiri. "Hello, gak salah tuh, emang lo pernah lihat gue bermesra-mesraan gitu dengan cowok, merebut pasangan wanita lain, atau cipika cipiki dengan cowok yang bukan pasangan gue." Cibirnya mengejek. "Sebelum menghina orang lain, saran gue, ngaca dulu deh, yang lo omongkan itu ada diri gue atau lo sendiri." Menggeleng kepala menghina. "Maling kok teriak maling, sakit lo yah!." Sambungnya sarkas
"Lo!" bentak Bella marah dan tersinggung, lalu mau menampar Tiara.
"Eits, tangan lo dijaga yah, kalau gak mau gue patahin," peringatkan Tiara datar, membuat Bella menarik tangannya marah. "Sekarang ngomong aja to the point, keperluan lo apa ama gue, sampai pake drama tamparan-tamparan segala, emang ini sinetron kale yah," ejeknya sinis. "Ups, gue lupa. Lo kan artis juga, tapi sayang gak tenar."
"Kurang ajar lo!" teriak Bella marah dan ingin mencakarnya, dengan cepat Tiara mengelak. Sehingga dia membentur kaca jendela. Posisi mereka berbalik, tadi Tiara berdiri di depan jedela, dekat pintu masuk, sedangkan Bella berada dipinggir jalan, dimana Kedai Dolu cafe berada. Sekarang posisi berdiri mereka berbalik, semakin membuat Bella marah.
"Udah deh, gak usah drama lagi. Mau lo apa ama gue?" tanya Tiara sengit dan datar.
"Mana teman lo yang jalang itu menghilang?" tanya Bella tajam.
"Lo punya kaca gak di rumah," ujar Tiara sinis
"Apa maksud lo?" merasa bingung omongan Tiara yang tak nyambung.
"Cuma mau ngingatkan aja, kalau gak punya, tuh kaca jendela belakang lo," tunjuknya ke arah belakang Bella. "Lo ngaca dulu sana, julukan jalang itu pantas disematkan pada gue dan tasya, atau pantas untuk diri lo sendiri." Berdiri santai, tak menggrubis desisan marah dari Bella.
"Lo!" bentaknya marah lagi, maju selangkah mendekati Tiara tanpa disadarinya. "Gue tanya sekali lagi, mana teman lo gak tau diri itu," sambungnya dingin.
"Mana gue tau," mengangkat bahu cuek dan santai.
"Jangan pura-pura bego deh lo, Ra. Gue yakin lo tau keberadaan Tasya sekarang," ujarnya dingin.
"Hei, Iyem," ejeknya datar. "Lo sakit yah, ngapain nyari-nyari Tasya, urusan kalian kan udah kelar. Dia udah ikhlasin banget tunangannya buat lo, sekarang coba apa lagi yang kurang, udah baik gitu dia, rela berpisah demi lo."
"Kalian berdua sama-sama berengsek!" bentak Bella geram dan marah, mendekati Tiara tiba-tiba menjambak rambutnya.
Tiara yang tak siap dan terkejut, atas tindakan Bella yang tiba-tiba menjambak rambutnya dan mengoyang-goyangkannya. Membuat kepalnya pusing dan sakit, karena tarikannya begitu kuat.
"Lepas gak lo!" bentak Tiara memperingatkan, mencoba bersabar untuk tak bersikap kasar, tapi bukannya dilepas, malah semakin ditarik rambutnya. Ia melihat banyak orang yang menonton mereka. "Woi, Iyem malu dilihat orang!."
"Ini belum seberapa, dengan apa yang lo dan Tasya lakukan pada hidup gue." Teriaknya marah semakin kuat menarik rambut Taira tanpa menggrubis omongan Tiara. "Hidup gue hancur karena kalian berdua."
"Beban hidup ternyata buat hidup lo semakin kayak sinetron," sindirnya sinis dan tetap bersikap tenang. "Lepas! Sebelum gue bertindak kasar pada lo, Bel!" perintahnya tajam memperingatkan, mencoba melepaskan tangan Bella dari Tiara.
"Coba aja kalau lo lepaskan sendiri," cibirnya dingin, tak menghindaukan peringatan Tiara.
"Ck," decaknya geram. Lalu menarik kedua tangan Bella yang berada dirambutnya, dan memelintir ke belakang tubuhnya, yang membuat Bella mengadu kesakitan.
"Akw!" seru Bella kesakitan, tangannya merasa mau patah. "Lepas!" ia mencoba melepaskan diri dari pelintiran Tiara yang menyakitkan.
"Apa-apaan lo, Ra!" seruan marah dari pria yang datang mendekati mereka.
Tiara menatap orang yang datang itu dengan datang dan mencibir. "Pasangan sejati banget yah kalian berdua, yang satu sedang tersiksa, yang satunya datang bak pahlawan kesiangan."
"Lepaskan Bella, Ra," perintah Roy tajam.
"Kalau gue gak mau, lo mau apa," tantang sinis. "Mau menjabak rambut gue, kayak selingkuhan lo ini." Menatap Roy dingin. "Coba aja kalau berani."
Mereka saling menatap tajam, tanpa memperdulikan orang-orang yang tertarik menonton keributan yang mereka buat sambil berbisik, tanpa ada satupun bermaksud melerai. Roy menghela napas mengalah, percuma melawan Tiara, bisa-bisa nginep disloam malam ini. Gara-gara berani menantang Tiara tanpa pikir panjang.
"Gue minta, tolong lo lepaskan Bella yah, Ra." Pintanya, merasa kasihan melihat mantan kekasihnya itu kesakitan. Yah, sekarang mereka sudah putus, karena kejadian memalukan saat pertungannya minggu kemarin, membuat keluarga besarnya marah besar dan akan mendepaknya menjadi gelandangan kalau dirinya masih berhubungan dengan Bella. Ia sadar kelakuan Bella yang berani melawan Tiara ini, semuanya gara-gara ia memutuskan hubungan mereka, dan Bella tak terima keputusannya itu
"Ck, cinta banget lo sama ular satu ini, pakai dibela segala," cibirnya datar dan geram. "Dia harus minta maaf dulu, seenaknya aja jambak rambut, rontok ni rambut gue. "
"Tak kan pernah!" tolaknya marah.
"Terserah," sahutnya enteng, dan mengencangkan pelintirannya.
"Akw, lepas!" teriak Bella kesakitan.
"Cepat minta maaf sama Tiara, Bel. Gak usah keras kepala, lo mau tangan lo patah, gara-gara gengsi gak mau minta maaf," perintah Roy tajam, sengaja menakuti Bella.
"Gak mau!"
"Terserah kalau gitu," ujarnya sinis. "Lo patahin aja tangan, Ra. Biar dia kapok, gak berbuat kasar seenak jidatnya saja." Sambungnya dingin dan cuek.
"Sayang!" rengeknya marah dan melotot pada Roy, tak percaya kalau kekasihnya itu, bukannya menolong malah menyuruh Tiara mematahkan tangannya. Ia menganggap mereka masih pacaran, walaupun Roy mempertegaskan kalau mereka sekarang sudah putus.
"Ok, kalau lo maunya gitu. Dengan senang hati gue lakukan," gumamnya santai dan bersemangat.
"Akw! Sakit woy!" mencoba melepaskan tangannya.
"Minta maaf pada Tiara!" perintah Roy dingin dan menatapnya tajam.
"Kenapa sih lo masih berpihak pada Tiara, gara-gara dia hidup kita hancur," isaknya marah, tak terima disuruh kekasihnya itu minta maaf.
"Ck, ck. Inilah kalau orang gak banyak-banyak ngaca," gerutunya menggeleng kepala, seakan sedang ngomong sendiri, tanpa menggrubis Bella yang semakin tersinggung atas ucapannya itu.
"Terserah kalau lo gak mau minta maaf pada Tiara, yang patah tangan lo juga, bukan urusan gue," mengangkat bahu cuek. "Silakan lo lanjutkan Ra, gue cabut dulu."
Tiara terbelalak tak percaya dengan respon dari Roy, sedangkan Tiara hanya mengulum senyum sinis dengan respon Roy.
"Tunggu!" seru Bella pada Roy, membuat Roy menatapnya tajam. "Akan gue lakukan."