Golden Bride

Golden Bride
Ayah Mertua



Maaf Baru update lagi😁🙏


Happy reading yah🤗🤗🤗


Ciara menatap orang yang mengambil kalung itu tajam. “Kembalikan kalungku, Hevva!” Ulangnya lagi dengan marah.


“Kenapa, harus kukembalikan. Seharusnya kalung ini milikku,” cetusnya sinis, sambil membolak-balikkan, mengagumi kalung yang berada dalam tangannya itu.


“Itu hanya mimpi, Bangunlah dari mimpi panjangmu,” desisnys sinis. “Sampai kapanpun kalung ini tak akan menjadi milikmu,” tersenyum mengejek. 


“Jangan khawatir, mimpiku itu akan menjadi kenyataan,” tersenyum licik. “Kalung ini hanya pantas untukku.”


“Kembalikan!”teriaknya marah. Berusaha mengambil kalung itu, maka terjadi saling rebut, dan saling tarik menarik. Tanpa mereka sadari, keributan itu dilihat oleh orang yang baru memasuki raungan mereka.


“Apa-apaan ini!” bentak seorang pria paruh payah, menatap marah padda sosok wanita yang tangannya sedang memegang kalung, dan tangan satunya menarik jilbab wanita satunya. 


“Abi,” ujar lirih Caira. Lalu membenarkan posisi jilbabnya. Menghampiri mertuanya dengan ketakutan, karena wajah marahnya.


“Kenapa wanita berbisa ini bisa ada di sini,” tanyanya tajam pada menantunya.


“Maaf, Abi. Caira gak tau, tiba-tiba dia sudah ada dihadapanku,”sahutnya pelan dan menunduk.


“Kenapa kamu bisa masuk?!” Tanyanya marah dan dingin, lalu mendekati Hevva.


Hevva merasa terintimidasi, berjalan mundur ketakutan. “Sa… Sa.. “ jawabnya terbata.


“Jawab!”Bentaknya marah.


“Gak… ada orang, ke..tika saya…datang, ja…di sa…ya masuk sa..ja.”Jawabnya terbata-bata karena ketakutan, dengan tatapan membunuh oleh Abi kekasihnya.


"Pelayan!" teriaknya memanggil pelayan yang ada dirumah anaknya.


Tak lama kemudian, datanglah beberapa pelayan wanita maupun pria, menghadapnya.


"Iya... Tuan," Sahut mereka bersama, menunduk kepala.


"Siapa yang suruh wanita ini masuk." tunjuknya marah pada Hevva.Tak yang berani menjawab, karena mereka takut amarah tuannya. "Jawab!"


"Ampuni saya, Tuan." Seru pelayan mengaku dan berlutut ketakutan.


Caira tahu pelayan itu, dia pelayan kepercayaan suaminya, sengaja ditempatkan agar bisa membebaskan Hevva keluar masuk sesukannya.


"Atas perintah siapa kamu mengizinkan wanita ini masuk," serunya dingin, menatap pelayan itu yang gemetaran.


"Saya.." sahutnya terbata, semakin menundukkan kepalanya.


"Zaid!" panggilnya memanggil kepala pelayan rumah anaknya.


"Iya, Tuan." Sahut seorang pria paruh baya, dengan seragam kepala pelayan, maju menghadap tuannya.


"Pecat pelayan ini," perintahnya dingin


"Baik, Tuan," sahutnya patuh.


"Ini berlaku juga bagi kalian," ancamnya menatap pelayannya satu persatu dengan tajam. "Jangan coba-coba berani, memasukkan siapapun yang diharamkan untuk menginjakkan kakinya disini."


"Baik, Tuan." Jawabnya mereka bersama dengan patuh.


Ia menoleh ke arah Hevva dan melihat kalung yang sedang dipegangnnya. “Kenapa kalung itu ada ditanganmu?” tanyanya tajam dan curiga. 


“Itu… Caira yang memperbolehkan sa..ya memegangnya,” jawabnya terbata lagi, sengaja memakai nama Ciara untuk meloloskan diri.


“Benar, Caira?”menatap menantunya tajam.


Mertuanya menatap gerak gerik menantunya dan wanita tak tahu diri itu. Berjalan mendekati Havva, menarik paksa kalung itu, membuat Havva terkesiap kaget, membuatnya mundur ke dinding. “Saya tau kelakuan kamu selama ini,” ucapnya datar dan dingin. Mengamati kalung yang dipegangnya dengan seksama, memeriksa apa ada yang tergores. “Saya diam, bukan berarti kalian bisa menyakiti menantuku seenaknya.” Sambungnya dingin dan menyeringai menakutkan. Ia maju mendekati Havva, lalu mencekik, wanita itu.


Terdengar suara tercekat dari Hevva, dan terkesiap kaget Caira, melihat apa yang dilakukan mertuanya. Ia ketakutan kalau Havva akan terbunuh gara-gara dirinya, dengan ragu mendekati mertuanya. “A… Abi. Jangan melakukan itu,”


“Kenapa”jawabnya dingin tanpa menoleh, masih menatap Hevva yang tercekik.


“Bukannya benalu harus disingkirkan. Rupanya benalu ini, menganggap omongan saya hanya sebatas gertakkan saja.” Sambungnya marah, lalu memperkuat cekikkannya.


“Ukkh…” suara Hevva yang tersiksa. Mencoba melepaskan cekikkan itu dengan tangannya


“Kumohon jangan mengotori tangan Abi sendiri dengan dosa, hanya wanita berbisa sepertinya.” Ujarnya lembut dan membujuk.


“Tapi wanita ini harus dikasih pelajaran,” menatap menantunya datar.


“Aku tau, Abi merasa terhina karena Havva menganggap remeh ancaman dari Abi. Tapi apakah dengan membunuhnya, semuanya akan selesai, bagaimana dengan Demir, pasti dia akan marah.” Bujuknya lagi dengan hati-hati dan lembut. Tak tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya jika kekasihnya ini mati.


“Biarkan saja anak tak berguna itu, kalau dia berani melawan. Akan ayah keluarkan dia jadi pewaris, begitupun juga dari silsila keluarga, akan dihapus namanya.” Ancamnya dingin, masih mencekiknya.


“Kumohon. Lepaskan, jangan kotori tangan Abi dengan dosa.”  Bujuknya lirih dan menyetuh tangan mertuanya lembut, bermaksud meluluhkan hatinya.


“Kenapa kamu membelanya!” bentaknya marah.


“Bukan maksudku membelanya, Bi.” Bantahnya cepat. “Saya gak mau, gara-gara saya, tangan Abiberlumur dosa,”sambungnya sedih dan lirih.


Mertuanya menatapnya sedih, karena melihat menantu kesayangannya sampai memohon keselamatan wanita tak tahu diri ini. Ia menghela napas tak ketara, tak melepaskan cekikkan, walaupun sudah melonggarkannya. “Baiklah, Abi tak akan membunuhnya, tapi dia harus menerima balasannya yang setimpal, berani bermain-main dengan saya.” Menatap dingin Hevva.


“Apa.. yang akan Abi,, lakukan?” tanyanya terbata dan waspada.


“Dia berani menggoda suami orang, jadi sudah barang obral. Jadi biarlah anak buah Abi mencicipinya juga, untuk melihat sejauh apa kehebatannya, sampai anak tak berguna itu, tak bisa melepaskannya.” Ancamnya datar dan tersnyum licik.


“Ti..dak!” tolak Hevva ketakutan.


“Abi jangan, kumohon,”bujuknya lagi, membayangkannya saja membuatnya merasa prihatin dengan nasib Hevva kalau sampai terjadi.


“Lihat, menantuku ini,” ujarnya dingin pada Hevva. “Masih memikirkan keselamatanmu, kurang baik apa lagi dia, sampai wanita sebaik ini kamu sakiti,” sambungnya tajam dan marah.


“Ma..af.”


“Saya tak butuh maafmu,” desisnya sinis. “Saya bisa menyuruh anak buah saya untuk menghabisi seluruh keluargamu sekarang juga.” Ancamnya dingin.


“Jangan!... Kumohon,” pintanya lirih dan memohon, dengan mata berair.


“Ck, saat terdesak begini, otakmu masih memikirkan keluargamu. Selama ini kamu bermain-main dengan anak saya, otakmu ditaruh mana,” ejeknya sengit.


“Maaf.. Kumohon..jangan..” lirihnya memohon, memegang tangan Abi kekasihnya dengan gemetar 


“Pengawal!”” teriaknya. Lalu munculnya beberapa pengawal berseragam, dengan memegang senjata laras panjang, masuk seremapk menghadap Tuannya.


“Siap,” seru mereka bersama.


“Pegang wanita ini,” perintahnya setelah melepaskan cekikkannya dan melemparkannya kea rah pengawalnya. “Menurut kalian, jika diberi kesempatan utnuk mencicipi wanita ini, adakah yang bersedia.” Serunya bertanya datar, menatap Hevva yang ketakutan.


“Tidak!” tolaknya berteriak histeris.


“Abi, jangan kumohon,” menangkupkan kedua tangan, lagi-lagi memohon dengan kalut.


“Dengarkan, apa kata menantu saya ini,” decaknya sengit.“ Meminta saya untuk tak menyuruh pengawal-pengawal ini memperkosamu.” Menilai ke atas dan ke bawah dengan sorot menghina. “Saya ingin melihat wajah angkuhmu, apa tetap seperti itu, atau sudah berubah menyedihkan.”


👉Jangan lupa vote yah🤗😍🙏


👉Ditunggu kritis dan sarannya yah👌🤗🙏