Golden Bride

Golden Bride
Bertemu Afra



Tiara terkejut dengan sapaan itu dan menoleh. Tercengan dengan melihat orang yang menyapanya. “Waalaikum… salam,” jawabnya terbata.


“Kenapa kamu terlihat seperti orang linglung gitu, Ra.” Gumam wanita itu tersenyum.


“Af..ra.” gumamnya ragu dan menyakinkan diri kalau yang dilihatnya memang Afra, seorang wanita yang bertemu dengannya, pada malam harinya setelah ia menemukan kalung milik Wyatt.


Tampilannya juga berbeda dari terakhir mereka bertemu, dulu dia hanya menggunakan selendang dan ada tiara yang indah di kepalanya. sekarang sepenuhnya menggunakan hijab sampai ke perutnya, dipercantik dengan bellarousse headpiece dikeningnya, mahkota Tiara untuk pengantin yang sangat indah, mematulkan cahaya kerlap kerlip berwarna seperti pelangi. Membuatnya terlihat anggun dan bercahaya.


“Iya, senang bisa bertemu denganmu lagi, Ra.” Jawabnya lembut dan menggenggam kedua tangan Tiara hangat. “Ayo kemari.”


Tiara bingung mau diajak kemana, tapi tanpa ragu ia mengikuti Afra. Bertanya pada diri sendiri kenapa ia bisa berada di sini. Apa dirinya sudah meninggal? Sehingga bisa bertemu dengan arwah Afra.


Ketika mendekati air terjun itu, ia terkejut, ternyata air terjun itu sangat tinggi bertingkat dua dengan warna  air hijau dan biru,  ditengahnya ada gazebo diatas air. Mereka harus menaiki delapan anak tangga sebelum berada di dalamnya. 


Dirinya semakin tercengang dan takjub, melihat air terjut itu ternyata sangat jauh, sekitar 1 kilometer darinya, tapi kenapa bisa terlihat sangat dekat, seakan berjarak sepuluh langkah darinya. Ia menaiki dengan hati-hati, takut jatuh karena tak ada pegangan dan gazebo itu sendiri, seperti berada di atas udara, tanpa penompang yang menancap ke dasar kolam.


“Apa kita gak akan jatuh kalau naik ke sana?”  tanyanya ragu dan takut.


“Tenang saja, Ra.” Sahut Afra lembut dan memegang tangannya.


Setelah masuk ke gazebo yang berbentuk unik, dengan rangka dan atap berbentuk seperti bola, dan semuanya dilapisi emas, dari atap, penyangga dan lantainya, sehingga membuatnya takut menginjakinya.


Tiara berkeliling dan melihat sekitarnya. Ternyata sangat indah, taman yang ditumbuhi berbagai macam tanaman dengan warna beragam dan hewan, baik yang lucu maupun menakutkan. Tapi mereka hidup berdampingan. Yang kuat tak memangsa hewan yang lebih kecil dan lemah darinya.


Ia melihat ke air yang berwarna hijau dan biru, ditengahnya ada warna merah muda. Seakan warna itu hanya pantulan cahaya pelangi yang ada diatas air terjun itu. Apalagi melihat berbagai ikan bermacam warna, baik yang kecil maupun yang ukuran dua meter, ia yakin pasti di bawah sangat dalam, karena tak bisa melihat dasarnya.


Dalam hati merasa takjub dan terpesona melihat keindahan di sekelilingnya.


“Kita di mana, Fra?” tanyanya sebelum duduk berhadapan dengan Afra.


“Di duniaku,” gumamnya tersenyum.


Tiara galau dan berpikir kalau ia berada di dunia Afra, bearti dirinya sudah meninggal, timbul perasaan sedih dan sakit di hatinya. Seakan belum ikhlas begitu cepat pergi, merasa belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya.


“Jangan cemas, kamu belum meninggal,” ujarnya menepuk-nepuk tangan Tiara, menenangkannya.


Tiara terkejut Afra bisa membaca kegalauan hatinya. “Kenapa aku bisa berada di sini?”


“Soal itu aku gak tau,” menggeleng tersenyum.


“Yang pasti kamu belum meninggal.” Sambungnya menyakinkan


“Berapa lama aku akan berada di sini?” tanyanya sedih.


Afra lagi-lagi menggeleng kepala. “Jangan sedih, kita doakan, kamu bisa pulang ke duniamu, anggap aja kamu sedang bermimpi.” Tersenyum tulus mendoakan Tiara. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Ra?” menatapnya dengan ingin tahu.


Tiara menatap kosong Afra dan seketika munculah sebuah adegan flashback diingatannya. Ia lalu terisak. "Mungkin aku sekarang sudah meninggal."


"Ada apa, Ra?" Tanya lembut dan menggengam kedua tangannya. "Kamu bisa cerita padaku, kenapa terlihat sedih dan menangis."


"Aku…" Isaknya terbata dan ragu.


"Ngomong aja yah, biar hatimu lega." Bujuknya lembut.


Tiara menatapnya ragu, lalu ia melihat ketulusan dan kehangatan dalam mata Afra, mengambil napas pelan dan menghela. Kemudian menceritakan apa yang terjadi sebelum berada di sini. Setelah bercerita ia dipeluk Afra, menepuk-nepuk pundaknya. Dan hatinya merasa tenang dan hangat, seperti pelukan Bundanya. 


"Kamu tenang yah, gak ada apa-apa." Gumam Afra sendari memeluknya. "Kamu hanya tertidur kok," sambungnya menangkannya lalu melepaskan pelukkannya tapi masih tetap menggenggam tangannya.


"Tapi…"


"Bukannya dulu, kamu bertemu aku, dalam keadaan tertidur kan." Ujar Afra mengingatkan, .


Tiara berpikir lalu mengangguk kepala. "Kok bisa."


Tiara terkejut langsung melepaskan tangannya dan menyentuh kalung yang diberikan Wyatt padanya. 


"Kalau dalam bahasamu sekarang, aku hanyalan virtual reality, ingatan dari pemilik kalung jauh sebelummu. Dan kupikir, kamu juga pernah bertemu dengan pemilik pertama kalung itu kan." Jelas Afra.


Tiara tercengang mendengarnya, heran kenapa Afra bisa tahu. "Apa kamu pernah bertemu Caira?"


"Siapa Caira?" menatap Tiara penasaran.


"Seperti katamu tadi, dia pemilik pertama kalung ini."


"Benarkah?" tanyanya tercengang.


"Iya," menatap Afra heran, kenapa dia tak tahu Caira, apakah hanya aku yang melihat memori dari Caira.


"Benar, Ra." Afra tersenyum mendengar pikiran Tiara. "Aku tak tau siapa Caira, dan memori tentangnya."


"Dulu sewaktu kamu masih hidup, pernah melihat memorinya?"


Afra menggeleng kepala. "Bisakah kamu ceritakan apa yang telah terjadi pada Caira, Ra." Menatap Tiara penuh harap.


"Oke," mengangguk setuju dan menceritakan apa yang telah dilihatnya, dari Pertengkaran Caira sampai meninggalnya Hevva.


"Aku gak tau kenapa kamu bisa mengalami semua ini." Gumamnya heran.


"Dulu sewaktu kamu masih hidup, maaf Fra," ujarnya hati-hati dan menyesal mengatakannya ketika melihat wajah sedih Afra.


"Gak apa-apa ngomong aja," jawabnya tersenyum .


"Dulu apa kamu pernah mengalami seperti apa yang kualami ini?" tanya Tiara penasaran.


"Tidak," menatap kosong di depannya. "Tapi nasib kami berdua sama-sama menyedihkan. Meninggal karena dibunuh."


"Apa?!" tanyanya syok. "Boleh aku tau


gimana ceritanya." Sambungnya bertanya dengan hati-hati, takut menyinggung Afra.


Afra tersenyum. "Nanti, Ra. Akan ada saatnya kamu tau."


Tiba-tiba ada suara yang mengatakan. "Sah!."


Lalu ada suara ramai dan serentak mengatakan. "Sah!."


Tiara terkejut, menatap sekelilingnya. Suara itu sangat jelas ditelinganya dan tak asing baginya.


"Ada apa, Ra?"


"Apa kamu dengar suara barusan?" menatap Afra bingung.


"Iya," mengangguk kepala.


"Dari mana suara itu berasal?"


"Dari duniamu," tiba-tiba Afra merentangkan tangannya.


Dan munculah gambar sebuah adegan seperti proyektor. Ia bisa melihat dirinya yang terbaring diatas kasur, di kelilingi oleh keluarganya, para sahabatnya, lalu ada beberapa orang yang belum pernah dijumpainya.


Ia bingung apa yang terjadi di sana. Kenapa Wyatt berpakain rapi dan seperti ada penghulu begitu. Tapi pikirannya teralihkan ketika mendengar suara lirih dan sedih Bundanya


"Nak, bangunlah sayang. Jangan terlalu nyenyak tidurnya sampai melupakan kami di sini yang sangat menunggumu membuka mata." Bisik suara Bundanya. "Tiara anak tersayang Bunda, bangun yah nak."