Golden Bride

Golden Bride
Serangan



Someone POV


Flashback


 


Dua pria berbaju serba hitam, menatap tajam ke arah gedung yang berseberangan tempat mereka berdiri. Seakan sedang menunggu waktu yang tepat untuk bergerak.


"Apa mereka sudah ada di sana, Jack?" Tanya seorang pria tinggi berbadan kekar, dan wajah ditutupi masker hitam, dengan mata yang dingin menatap anak buahnya.


"Sudah bos, mereka siap di posisi masing-masing, tinggal tunggu perintah anda." Jawab anak buahnya, yang bernama Jack dengan tegas. Mereka sudah melakukan persiapan yang matang, korban mereka bukan orang sembarang.


Mereka membawa 15 orang, beberapa bawahannya ditugaskan untuk mencegah para body guard dari korbannya, menangkap mereka, sebagian lagi menunggu di mobil, saat ia dan bosnya melarikan diri. Ada juga 2 hacker yang mengatasi sistem keamanan gedung di depannya, dan gedung tempat berdiri sekarang. Kenapa menyewa 2 hacker, karena korbannya telah menambah sistem keamanan lebih ketat, khususnya di lantai tempat korban itu berada. Jadi kalau para body guard itu mau menggunakan lift, akan dihentikan dulu sementara, sampai mereka berhasil kabur. Setiap hacker andalan mereka, mempunyai tugas masing-masing, sehingga tak bisa saling campur.


Pria itu berbalik menatap ke arah seberangnya dengan tatapan membunuh dengan memegang sniper sako TRG M10 andalannya. "Bagus, lakukan peretasan sistem keamanan gedung itu dalam waktu 2 menit, karena mereka pasti langsung bertindak cepat menangkap kita."


Drrt...drtt.. Getar ponsel pria itu berbunyi dan mengangkatnya. "Sudah Bos…. Baik… Akan kami lakukan." Jawab pria yang bernama Matt datar.


Pria itu menaruh ponselnya kembali ke sakunya. "Hubungi anak buahmu, 5 menit lagi, semua siap dalam posisi masing-masing." Perintahnya dingin dan menyeringai kejam melihat mangsanya yang berada di gedung seberangannya. Ia yakin berhasil dengan pekerjaannya kali ini, karena bidang ini sudah dilakukannya selama 15 tahun, dan dirinya adalah yang terbaik di bidangnya. 


"Baik," Jack mengangguk dan menghubungi bawahannya.


"Hitung mundur 5 detik," Seru Bosnya dalam posisi siap memegang snipernya. Walaupun dari jarak jauh 800 meter, ia bisa melihat bayangan korbannya yang sedang bersandar di ranjannya, dan menyeringai dingin dan kejam.


"5..4..3..2..1.." Gumamnya menjentik tangan sebagai perintah pada Jack untuk mengawasi hacker yang disuruhnya untuk meretas sistem keamanan gedung di depannya.


Seketika Matt bersiap-siap untuk menembak, setalah mendapat signal 'ok' dari bawahannya yang berada dalan ruangan yang satu lantai dari ruangan korbannya. Dia akan menembak, tapi hal aneh terjadi, ujung lensa snipernya berkabut, seakan ditetesi air. 


Matt mengetes lensa itu dengan mengalihkan senjatanya setingkat ke atas ternyata jelas. Lalu di arahkannya lagi ke korbannya. Ia mengerjap matanya heran, ketika melihat sebuah punggung wanita yang berkerudung yang tergerai menjuntai lantai, berwarna merah darah, di jendela seberangnya. Dirinya merasa mengalami halusinasi, seakan wanita itu sedang menutupi arah tembakannya. 


Ia mengalihkan pandangannya dari lensanya, mengambil teropong binocularnya, memastikan pengelihatanya salah. Ternyata wanita itu tak ada pada pengeliatannya. Ditaruhnya teropongnya itu, melihat lagi dari lensa senjatanya, terkejut wanita iti masih ada. Mengerjap-ngerjap, menyakini yang dilihatnya iti hanya bayangan. 


Ia mengetes lagi dengan mengarahkan senjatanya ke arah samping korbannya, seakan ingin membidik korban lain yang di sampingnya. Wanita itu ikut bergerak, mengikuti gerakan senjatanya.


"Sial! Siapa wanita itu," makinya marah, melihat jam tanganya. Waktu mereka tak banyak, hanya sedetik lagi. Ketika tanganya siap membidik, wanita iti berbalik. Membuat syok dan menelen saliva dengan ngeri. Ia yakin wanita itu bukan manusia, karena bajunya penuh darah, matanya mengeluarkan air mata darah, dan ada pisau yang penuh darah menancap di perutnya.


Seketika ia melepaskan bidikannya, memejam mata, tangannya bergetar, melihat wanita itu. Dia bukan pria yang percaya dengan adanya makhluk halus sejenis hantu, dan tak takut padanya. Tapi tatapan wanita itu mengerikan, menatapnya dingin dan menyeringai menakutkan, matanya mengancam seakan mengantakan berani tembak, nyawamu sebagai gantinya.


Jack yang berada di sampingnya, heran melihat Bosnya yang diam saja, seperti ada yang dipikirkannya dan ragu menembak. Merasa heran kenapa tangannya itu bergetar. seperti ada yang ditakutinya, ia mengambil terompong di depannya. Melihat ke arah korban berada, tak melihat apa-apa, hanya tirai tipis yang menutupinya. Jadi apa yang Bosnya takutkan.


"Bos," panggilnya. "Sedetik lagi," sambungnya mengingat.


Matt tersentak, dengan menelan saliva, menguatkan hatinya untuk membidik. Mulai mensejajarkan matanya di lensa senjatanya, i semakin syok dan ngeri. Wanita itu seakan semakin mendekat, dan mendekatinya dengan wajah mengerikan.


Disaat akan siap melepas pelatuknya, wanita itu sudah berada tepat di ujung lensanya, dan ia merasa ada yang mencekik lehernya. Tak siap dengan serangan wanita itu, membuat bidikannya meleset mengenai lampu dan kaca dalam kamar itu, bukan korban incarannya.


Seketika itu juga, listrik di rumah sakit itu langsung padam, dan terjadi kehebohan. Pria itu mundur, dengan wajah tegang. Pikirannya kosong, tak tahu harus bagaimana melawan wanita itu. Kalau dia manusia, begitu muda dikalahkannya. Nah ini makhlus halus, melawan pakai apa.


"Jangan mendekat!" bentaknya mengacam pada sosok tak kasat mata itu, yang terus mendekatinya dengan seringai mengerikan.


Sedangkan Jack heran dengan tingkah laku bos nya, seakan berbicara dengan orang lain, padahal ia tak melihat siapa-siapa. "Bos," ia mendekat dan berdiri tepat di belakang Bos nya


Wanita itu menggeleng, melotot tajam, sampai kedua matanya keluar, menyuruhnya diam dengan kukunya runcing, yang bisa melukainya. Ia hanya menunggu apa yang dilakukan pria ini, yang berani mengindahkan peringatannya.


"Berhenti!!!" teriaknya. Mengambil senjata glock 45 GAP. "DORR!" menebak sosok tak kasat mata di depannya, yang hanya dirinya sendiri yang bisa melihatnya. Semakin marah, melihat wanita iti dengan santai mendekatinya, dan ia mundur bersiap menembaknya lagi, tak sadar yang dihadapinya itu bukan manusia.


"Bos!" panggil anak buahnya tercengeng, dan penasaran. Bulu kuduknya merinding, seakan ada yang meniupnya. Ia mulai berpikir yang mustahil, tapi dilihat dari bosnya yang ngomong sendiri, dan menembak angin di hadapannya, membuatnya kalau bos nya sedang berbicara dan berhadapan dengan sesuatu yang tak kasat mata. Yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri, sedang di matanya tak ada apa-apa.


Ia mulai cemas, ketika jendela tempat korbannya berada, di seberang terbuka. Yang ditakutinya terjadi, sosok yang berbahaya rival bos besarnya keluar tanpa rasa takut sama sekali. Ia bisa merasakan tatapan membunuh, dari orang itu. Dengan was-was, menatap jam nya. Mereka tak punya banyak waktu buat melarikan diri, sepertinya pria itu sudah bergerak, karena sesudah menelepon seseorang, dia kembali ke dalam.


"Bos, kita harus pergi sekarang!" panggilnya dan menepuk pundaknya keras.


Wusshh!... Seketika di malam yang terang, tiba-tiba ada angin kencang yang mengenai tangannya, seakan ada yang melewatinya, membuatnya terdorong ke samping. Menatap horor sekelilingnya dengan waspada. Mereka harus pergi dari sini, sebelum body guard pria itu, menangkap mereka.


Dengan terpaksa meninju rahang Bosnya, berharap akal dan pikirannya menjadi waras. Biarlah akibatnya dipikirkannya nanti saja, yang penting sekarang membuat pikiran bos nya sadar.


"Apa!" bentaknya marah, sambil menodong senjatanya pada anak buahnya.


"Santai Bos!" serunya ketakutan. "Maaf, saya harus memukul, karena terpaksa. Kita tak banyak waktu, pria itu sudah menghubungi body guardnya, kita tak banyak waktu buat mengalangi mereka."


Matt langsung terkejut, menggeleng-geleng kepala, seakan ingin menjernihlan kepala dan pengeliatannya. Lalu menata wanita di depannya yang masih menunggu dan menyeringan kejam.


Drrt...drtt... Bunyi telepon Jack mengagetkan mereka. "Apa... baik, kami turun sekarang." menatap bos nya panik. "Bos, body guard yang menjaga diam-diam, di sekitar rumah sakit itu, sudah mulai bergerak naik, kita tak punya waktu."


Bos nya mengangguk dan merapikan peralatan menembaknya, memasukkanya ke dalam tas khusus menyimpannya. Dengan hati berdebar, menanti apa yang akan dilakukan wanita itu.


Ketika akan membuka pintu, ada sebuah suara wanita yang dingin dan mengancam. "Kalau kalian mencoba membunuh salah satu di antara mereka." Menghempaskan kuat pintu di depan kedua pria itu berulang kali, seakan ada yang membuka dan menutupnya berkali-kali, membuat mereka mundur. "Nyawa kalian jadi taruhannya, nyawa dibayar dengan nyawa, Hahaha." Wanita itu tertawa nyaring. Menuntup kencang pintu itu, lalu melihat wajah tegang dari kedua pembunuh itu, yang mencoba membukanya. Dengan jahil membuka pintu dengan sekali hentakan kuat.


Blamm!! pintu itu terbuka dan membuat mereka terdorong kedepan. "Haha," Tawa senang wankta itu.


Seketika mereka langsung pergi dari gedung horor ini, tanpa menoleh sama sekali. Karena ada yang lebih penting yaitu harus lolos dari sergapan pria itu.


🛫🛫🛫


👏Maaf baru update hari ini, semoga kalian suka


part ini🙏


🔊Kalau suka, jangan lupa 👉👍 yah🤗


☝Jangan lupa tinggalkan jejak: komen,


kritik & sarannya😉.


😇Maaf gak membalas komen readers, dan


makasih sudah setia membaca cerita amatiran


gw ini🙇🤗