Golden Bride

Golden Bride
Ilso Cafe



“Tenang aja, nanti gue bantu mencari pemiliknya dan ngebantu lo bertemu dengannya.” Ujar Gilang tegas dan mengembalikan kalung itu pada Tiara. “Lebih baik, kalung ini disimpan lagi. Gak baik kalau dikeluarkan lama-lama, bisa mengundang bahaya.”


“Iya,” memasukkan kalung itu ke dalam tasnya.


“Oke, urusan kalung udah beres, lalu apa lo masih perlu bukti lagi, Sya.” Seru Jasmine mengajuk hati Tasya.


“Gak perlu, gue rasa dari semua bukti-bukti yang ada, lebih dari cukup.” Tolak Tasya cepat.


“Terus apa rencana lo selanjutnya?” Tanya Jasmine lagi.


“Belum kepikiran, hehe,” jawab Tasya cengar- cengir tapi dengan raut wajah sendu.


“Nanti kita pikirkan bersama,” saran Tiara, menggenggam tangan Tasya, seakan menyalurkan energi positif pada Tasya. Menatap Tasya hangat, seolah mengatakan lo gak sendiri, Sya. Masih ada gue disamping lo.


Tasya terharu dan tersenyum. “Makasih,” membalas genggaman Tiara.


“Lo gak sendiri, masih ada gue dan monic juga, yang akan selalu berada garis depan utnuk mendukung lo,” Jasmine ikut menggenggam sebelah tangan Tasya.


“Makasih,” ujarnya terharu.


“Berpelukkan,” celetuk Gilang mencairkan suasana.


“Ck,” decak Jasmine sebal.


“Lah kenapa, biasanya kalau dalam suasana haru gini, diakhiri dengan berpelukkan.” Ujar Gilang mengangangkat bahu. “Gak salah kan.” 


“Udah Jas,” Tasya mengingatkan Jasmine. “Dari tadi, gue perhatikan bawaan lo sensi terus sama Gilang. Awas nanti berjodoh lo,” godanya tertawa sambil mengedipkan sebelah mata pada Gilang.


“Gak akan!” Tolak Jasmine


“Amit-amit,” seru Gilang bersamaan dengan Jasmin, yang langsung mendapat pelototan tersinggung dari Jasmine, yang ditanggapi dengan sinis oleh Gilang.


“Hei, ngapain natap gue gitu, minta digampol lo,” semprot Jasmine tersinggung.


“Yee, ge-er.” Ejek Gilang sinis


“Lo!” Desis Jasmine geram


“Apa…” Tantang Gilang sambil bersidekap. Membuat mereka saling melotot. Menguji kekuatan mereka masing-masing.  


“Sampai kapan kalian saling tatap gitu,” cibir Tiara geli, membuat mereka langsung melengos. “Kayaknya  kalian cocok deh,” menatap mereka dengan serius, dengan tatapan jail.


“Gak!” Sergah mereka serempak.


“Hahaha… Kalian lucu,” seru Tiara bahagia. “Mumpung kita pulangnya malam, gimana kalau kita traveling dulu, shopping time.”


“Emang mau-nya lo kan shopping. Kagak bosen, masa di sini, lo habiskan waktu dengan shopping juga,” cibir Jasmine geleng-geleng.


“Kagak, kan barang-barangnya import, langsung beli di Singapura,”


“Yee, sama aja kale Sya. Barang-barang di Singapura juga ada berasal dari Indonesia.” 


 Tasya mengangkat bahu cuek. “Biarin,”


“Kita ngikut aja, Jas,” gumam Tiara mengalah.


“Aish…”  Melirik Tasya geram. “Jangan ke Mall lagi ya.”


“Kenapa?” Tanya Tasya dan Tiara serempak.


“Kasihan Tiara, nanti kagak bisa beli, hahaha.” Candanya garing, yang mendapat cubitan dari Tiara. “Akww..”


“Iye tau, yang banyak duit,” sindirnya masam.


“Hehhe, just kidding, Ra,” cengirnya polos, menggenggam tangan Tiara.


“Gue pamit dulu.” Ujar Gilang undur diri.


“Dari tadi kek,” bisik Jasmine tapi masih terdengar oleh mereka. Yang langsung mendapat tatapan memperingatkan dari Tiara dan Tasya.


“Hubungi gue lagi aja, kalau perlu bantuan.” Tanpa menggrubis Jasmine. “Minta nomor lo, Ra. Nanti gue hubungi lo. Kalau udah dapat info tentang pemilik kalung lo itu.” Menantap Tiara dan tersenyum manis, seakan menebar pesonanya pada Tiara.


“Alasan,” bisik Jasmine sinis.


“Gak dikasih juga gak pa-pa,” serunya cepat tanpa menggrubis jasmine.


“Its ok,” tersenyum pada Gilang. “Sini ponsel lo.” Mengambil ponsel Gilang dan mengembalikannya. “Udah gue save, kalau bisa, gue butuh info itu secepatnya yah, Lang.” 


“Oke, gue usahain.” Sahutnya yakin. “Gue cabut dulu, sampai ketemu lagi dan selamat bersenang-senang, girls.” Pamitnya sekali lagi dan berlalu meninggalkan mereka.


“Ok, sekarang waktunya kita shopping,” seru Tasya gembira dan bersemangat.


“Hmm, anu...” GumamTiara ragu-ragu.


“Anu, apaan, Ra. Ngomong yang jelas,” tegur Jasmine.


“Kayaknya kalian berdua aja yang pergi, gua gak bisa ikut,” kata Tiara pelan dan bersalah.


“Bukan gitu.” sahutnya cepat, biar tak ada kesalahpahaman. Meminta temannya mendekatkan kepala mereka dan berbisik “Kayaknya mau PMS deh, perut udah mulai gak nyaman, maka nya dari tadi takut kalau itu keluar pas kita ngobrol. Gue mau balik ke apart aja, tau sendiri awal haid, harus banyak bed rest.”


“Ya gak asik lo, Ra,” gumam Tasya kesal. “Kalau gitu gak jadi aja deh.”


“Kalian pergi aja, gue ada maupun gak, kan gak jadi masalah.”


“Lain rasanya, Tiaraku sayang. Kurang klop, dan gak asik.” Protes Tasya bersikeras.


“Udah deh, pergi aja.” Usul Tiara memberi kode pada Jasmine.


“Biar Tiara bed rest, Sya. Kasihan kalau dia kita paksa.” Bujuk Jasmine. “Kata lo tadi mau shopping, mumpung udah di sini. Sayang lo dilewatkan, apalagi seingat gue sedang ada big sale di Vivo City.”


“Yakin lo,” ujar Tasya meragukan ucapan Jasmine.


“Kagak percaya amat sih,” gerutunya geram. “Gini aja, kalau gue bohong. Biaya tiket kalian gue yang ganti.” Sambungnya mengajak Tasya taruhan.


“Deal.” Jawab Tiara cepat. ”Yang mendapat delikkan tajam Tasya. “Hehehe.”


“Gue gak tega ninggali lo.” Tasya ragu meninggalkan Tiara sendiri di apart Jasmine.


“Yaelah, Sya. Gue bukan anak kecil lagi. Dan bisa jaga diri, lagian hanya tidur-tiduran aja di apart. Gak makan banyak tenaga.” Menghela napas. “Pergi aja, sayang lo kalau hanya di apart doang bareng gue. Lo kan gak tahu kapan bisa ke Singapura lagi, belum tentu juga big sale-nya ada saat lo kemari.”


Menatap Tiara lama dan menghela napas menyerah. “Oke deh.”


“Nah gitu, nanti jangan lupa belikan gue juga yah.” Serunya senang.


“Emang mau nya lo kan.” Cibir Tiara sambil tertawa.


“Lo perlu obat, gak.” Tanya Jasmine khawatir


Menggeleng kepala. “Di apart lo, ada jahe kagak.”


“Gak ada, sorry,” sahutnya menyesal. “Lo bisa nyari di Market sebelah, gue rasa ada tapi harganya mahal daripada yang sering kita beli di Indonesia."


“Ya udah, nanti gue nyari jahe dulu.”


“Lo ingat password gue kan?” Tanya Jasmine


“Iya, Bu.” Mengangguk kepala. “Udah pergi sono, jangan lupa bawa oleh-oleh buat gue yang banyak.” Usirnya pada mereka.


“Ck, kami pergi dulu. Kalau ada pa-pa, jangan lupa telepon kami berdua.” Perintah Tasya tegas.


“Beres, Boss,” bersikap memberi hormat dan tertawa, meelihat Tiara mendeliknya tajam. “Hati-hati yah.”


“Oke.” Jawab mereka serempak lalu mereka pergi meninggalkan cafe, dengan tujuan berbeda.


Tiiing poselnya berbunyi, melihat ada pesan masuk dari Alvin


📱 Alvin


Lo, dimn, Ra?


📱 Tiara


Knp?


📱 Alvin


Mau ngajak lo jln😎


📱Tiara


Sorry, gw lg gk ada dirmh😬


📱 Alvin


Dimn lo skg, nanti gw jemput


📱 Tiara


Gw bareng Tasya😅


📱 Alvin


Ck, Selalu!😠


📱Tiara


Sorry🙏


📱 Alvin


Oke deh, nanti gw WA lo lg😞