Golden Bride

Golden Bride
Bertemu Jay



“Mereka ini kalau bertemu pasti ribut.” Jawab Roy tenang dan cuek. Tak menggrubis tatapan curiga Jay.


“Bella, ini teman kami sejak SMA.” Tutur Tiara. “Cuma kenal-kenal doang sih, tapi gak tau yah, apa salah Tasya. Bella selalu cari gara-gara dengannya.”sambungnya santai tanpa menghiraukan tatapan marah Bella.


“Maksudnya?” Tanya Jay penasaran.


“Tau sendirilah, kita fine-fine aja, gak pernah ribut atau cari gara-gara sama siapapun. Tapi sejak kenal Bella, hidup Tasya selalu penuh masalah.” Ujar Tiara sarkas, menatap Bella datar.


“Berarti teman lo yang bermasalah, sial kali hidupnya.” Sindirnya sengit. “Lagian lo ngapain kemari pakai baju gitu, mau pergi ke mall.” Tertawa menghina sambil duduk dengan kaki bersilang, memperlihatkan kaki jenjangnya yang indah.


Tiara mendengkus jijik melihatnya. Seakan ingin menunjukan kalau tubuhnya lebih sexy darinya. Ia menatap dirinya sendiri. Yang hanya menggunakan jins dan blouse hitam sampai paha. “Kenapa, gak suka.” Tersenyum menghina. “Lebih baik begini, daripada berpakaian tapi seakan gak berpakaian.”


“Apa maksud lo,” ucap Bella tersinggung.


“Seperti yang gue bilang tadi, gak masalah dengan pakaian gue. Masa bodoh, orang-orang mau menilai apa. yang pasti gue gak mengumbar-umbar tubuh ke setiap orang yang melihat.” Jawabnya santai dan tersenyum sinis


“lo ngehina gue.” Bella menatapnya tersinggung dan marah.


“Untuk apa gue ngehina lo, gak penting.” Sahutnya cuek.


“Hey, lo benalu.” Bella menghina marah.


“Siapa, Gue?” tanyanya sarkas menunjuk dirinya sendiri lalu tertawa miring. “Gak salah ngomong gitu, gak intropeksi diri lo sendiri.”


“Apa maksud lo?!” 


“Pikir aja sendiri, bukannya lo selalu bilang, kalau lo ini pintar. Masa kayak gini aja harus diberi tau.” Ejeknya datar.


“Ehem,” deheman Roy, yang seolah mengingatkan Bella, yang tak digrubis oleh Bella. “Udah, Ra. Kenapa kalian berdua yang ribut.”


“Kenapa lo, Roy,” menatap Roy datar. “Minum tuh kalau tenggorakan lo sakit.” Bersandar dan bersidekap. Menatap Tasya. “Masih lama gak lo di sini?”


“Gak tahu, tunggu Roy.” Ujar Tasya sambil menatap Roy. “Yang, masih lama yah kalian ngobrolnya, gimana kita lanjutkan besok aja, ditempat yang lebih nyaman, jauh dari kebisingan seperti ini.”


“Bentar lagi yah, Yang.” Sahutnya lembut tapi menatap Tiara Tajam. Dia sejak dikenalkan dengan Tasya, sudah tak suka dengan Tiara. Menurutnya, Tiara itu terlalu ikut campur dengan urusan Tasya. Dan seperti mematai-matai mereka, yang akan diadukan ke Bram, Kakak sepupunya Tasya.


“Kenapa lo natap gue gitu, gak suka gue nemani Tasya. Lagian ngapain juga, ngajak ketemuan di sini, kayak gak ada tempat aja.” Seru Tiara datar.


“Heran deh, Ra. Lo itu terlalu ikut campur urusan Tasya. Dia itu udah dewsa, gak perlu anjing penjaga yang selalau mengawasinya.” Ucap Bella menghina Tiara, sengaja menggunakan bahasa yang dimengerti oleh Jay.


“Bella, kata-kata lo kasar sekali.” Ucap Jay tak suka.


“Emang benar kok, setiap ada Tasya, pasti Tiara ngikut.” Ujarnya cuek.


“Sama kayak lo yah, setiap Tasya nge-date. Lo selalu ada disekitar mereka, aneh gak.” Menatap Bella dengan intens. “Lo matai-matai mereka yah, atau lo sedang merencanakan sesuatu.”  Tersenyum sini melihat Bella yang gelagapan.


“Sembarang.” Bantahnya cepat dan tersinggung. “Jangan sembarang nuduh!.”


“Ck,” decaknya. “Emang siapa yang mau lo kibuli, Bella, Bella. Kita ini udah kenal lama, gue tau semua track record lo dengan banyak pria, dan apa aja yang dulu lo lakuin ke Tasya.” Terkekeh menghina. “Ngeles aja lo.”


“Udah, Ra.” Sergah Roy menengahi.


“Udah apa? gak usah buat.. aduh.” Ucapannya terputus karena Tasya menginjak kakinya, menatapnya untuk diam. Ia langsung paham, hampir saja keceplocan, menghela napas lelah.


“Kenapa gak dilanjutkan.” Tantang Roy datar.


“Permisi, ini pesanan anda.” Seru seorang pelayan bar menyapa mereka. Lalu menaruh minuman itu untuk setiap orang, lalu undur diri.


“Kami gak pesan minuman apapun.” Seru Jay heran.


“Lo salah alamat kali,” ujar Tasya membenarkan.


“Gue sengaja yang pesan,” seru Bella santai, tak menggrubis tatapan curiga dari sekitarnya. “Sebelumnya emang gue sengaja pesan minuman ini, untuk menemani kita ngobrol. Gak salah kan, niat gue baik, mau ikut ngobrol dengan kalian. Gue sendirian, gak enak, kalau minum gak ada temannya.” Jelassnya dengan manis dan antusias.


“Kami gak minum alkohol, lo kasih aja sama orang lain.” Tolak Tiara.


“Tenang aja, buat kalian itu bukan minuman alkohol.” Memberikan senyuman bersahabat.


“Gak usah curigaan gitu, Ra. Bella kan cuman mau gabung dengan kita, jadi sebagai balasannya ia membelikan minuman.” Serga Roy menengahi.


“Sorry, gue gak haus.” Tolaknya Tiara halus. Lalu menatap Tasya, memberi peringatan dari matanya.


“Gue cukup dengan ini,” ujar Tasya menunjukan segelas soda ditangannya.


“Ayo lah, Sya. Masa lo gak ngehargai niat gue.” Bujuk Bella manja.


“Percuma aja lo, bujuk kayak gitu. Suka enggak, jijik lagi ada.” Tiara menatap Bella yang tersinggung dan mengeram marah. “Gak suka lo, gue aja merinding disko lo ngomong gitu pada Tasya. Lo normal kan, gak belok,” pura-pura menatap ngeri pada Bella.


“Tiara!” serunya marah dan berdiri, seakan mau meremukkan wajah tanpa dosa Tiara.


“Mau apa lo, mau mukul gue,” tertawa sambil menunjuk diri sendiri. “Gak salah loh.” Tantangnya dingin mengancam.


“Lo…” menunjuk-nunjuk Tiara dengan gemetar menahan kesal. Dia tahu, tak akan menang melawan Tiara secara fisik, cukup waktu SMA dulu, ia harus bed rest total, gara-gara melawan Tiara.


“Gak berani lo?” tantang Tiara.


“Yang, kok didiemi aja, nanti mereka malah brantem lagi.” Ujar Roy.


Tasya tersenyum miring. “Biarkan aja, Tiara gak akan memulai, kalau gak ada yang memulai.” 


“Coba lo hentikan, Yang. Malu gue ama Jay, kita kan mau senang-senang, kok malah melihat mereka ribut.” Bujuk Roy lembut.


“Tenang aja.” Sahut Tasya lembut, menepuk-nepuk tangan Roy. “Gue yakin Jay malah menikmatinya.” Menatap Jay terlihat menikmati pertengkaran Tiara dan Bella. “Benar gak Jay,”


“Hehehe.” Terkekeh mengiyakan omongan Tasya. Ia dengan santai menikmatiti pertengkaran wanita di depannya ini, sambil menyesap minumannya.


“Jay.” Panggil Tiara, yang melihat Jay melamun. Mereka sengaja berbicara menggunakan bahasa yang dimengerti olehnya


“Iya,”


“Tuh minuman diminum.” Menunjukan segelas minuman berwarna biru yang berada di depannya. 


“Bella udah berbaik hati, membelikan kita minuman. Sayang sekali gak lo minum.”


“Gue ini aja, takut mabuk.” Tolaknya halus, karena tahu kadar alkohol minuman itu, pasti tinggi.


“Kalau gitu, lo aja yang minum, Roy.” Menatap Roy ramah, berpura-pura bersikap manis. “Sayang lo, Bella udah buang-buang duit membelikan kita tapi satupun gak ada yang meminumnya.”


“Oke,” desis Roy geram, lalu mnyesapnya, menatap Tiara Tajam, yang dibalas dengan senyuman polos darinya. “Lo juga minum, Yang. Masa gue sendirian, temani yah.” Bujuknya pada Tasya, memberi minuman pada Tasya.