
"Bisa amet muda, kalau kita ngumpul terus begini." Ucap Jasmin senang sambil memegang perutnya yang kesakitan karena banyak ketawa.
"Hubungan lo sama si japrik itu masih panas sampai sekarang, Sya." Sambungnya serius ingin tahu. Tak pernah menyebutkan dengan nama asli, karena sejak awal Jasmin sudah merasa tak suka pada tunangan Tasya.
"Lo lihat sendiri." Mengangkat bahu kesal. "Gak habis pikir aja, iri kok dipelihara. Keluarga kaya, orang tua harmonis, menjadi anak kesayangan, apapun diminta pasti dikasih tapi gue heran masih aja iri ingin sesuatu yang dimiliki orang lain, bahkan bisa harus lebih dari mereka."
"Itulah manusia, Sya. Semakin kaya maka semakin merasa kekurangan." Sahut Jasmin diplomatis.
"Gue gak kok." Gumamnya percaya diri.
"Emang lo kaya apa, Ra." Sindir Jasmin geli.
"Kaya hati lah." Sahutnya polos dengan bangga.
"Akww.." Sambungnya kesakitan.
"Hahaha, benar-benar banget." Puji Jasmin lucu.
"Serius dikit lah, Ra." Ejek Tasya keki sendiri.
"Hobi banget jitak kepala orang, Sya. Kalau jadi tambah pintar, gue gak tanggung yah." Mengelus kepalanya lembut.
"Hahaha." Jasmin senang sekali bisa ketawa terus saat berada di sekitar kedua sahabatnya. mereka berdua memang the best friends yang dimilikinya.
******
"Spegeti buatan lo emang juara, Jas." Puji Tiara tulus sambil memberikan kedua jempolnya pada Jasmin. Mereka makan spageti dengan lahap, sambil ngobrol tentang rencana mereka.
"Bilang aja lo mau nambah." Ledek Tasya. "Gak usah malu gitu, Ra. Biasanya lo juga malu-maluin. Hahah."
"Enak aja, pemalu gini dibilangin malu-maluin." Bantahnya percaya diri.
"Perasaan ada yang ngomong ya, Jas. Tapi mana orangnya, kok gak kelihatan." Gumam Tasya jail, pura-pura nggak melihat Tiara.
"Iya, Sya. Kok gak nampak yah. Kecil sekali nih orangnya." Candanya geli.
"Ledek terus, mumpung orangnya lagi di London." gerutunya sebal.
"Ngapain ke London." Tanya Jasmin ikut-ukutan polos.
"Cari bule tajir, Jas." Jawab Tasya asal.
"Ngapain jauh-jauh ke sana, di sini juga banyak. Bejibun malah, tinggal mau pilih, yang tajir banyak, yang jontos juga banyak. Akww... Mahal ini habis dioperasi ulang biar face gue tambah kece'." Ujarnya pura-pura serius sambil menggosok hidungnya yang dipencet oleh Tiara gemas.
"Kasihan gue, punya teman bahagia di atas penderitaan gue." Gumamnya mendrama dengan mimik dibuat menderita.
"Lebay." Ujar Tasya
"Alay." Ucap Jasmin
"Hehehe." Tersenyum kecut. "By the way and bus way, sudah dikonfirm belum sama Gilang mau ketemuan dimana dan jam berapa?" Sambungnya serius.
"Udah, tadi pas kita mandi." Sahutnya sambil menyuap spagetinya.
"Apa katanya?" Tanya Tiara lagi
"Kita ketemuan di depan Hamilton Scotts Reignwood apartment."
"Wow." Seru Jasmin berbinar.
"Kenapa, Jas." Tanya Tiara bingung.
"Itu apart yang super mewah, Ra. Kita bisa parkir mobil di dalam apart, walaupun apart kita di lantai teratas." Jelasnya kagum. "Tapi gak sembarangan orang bisa masuk sana, keamanannya benar-benar hebat." Sambungnya dengan ragu.
"Tenang aja, semuanya udah diatur oleh Gilang kok." Ucap Tasya santai dan berbinar, terkekeh melihat temannya heran dan nggak percaya omonganya. "Kredibilatas kerja Gilang, jangan dianggap remeh. Sejak awal dia terjun dibidang ini, memang harus punya banyak koneksi untuk membantu mempermudah pekerjaannya."
"Memang orangnya kayak gitu, Ra. Low profil, kalau dia bergaya seperti golongan borjus, pekerjaannya akan terhambat dengan kecurigaan orang-orang." Terang Tasya, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh mereka.
"Apa kita bisa masuk ke sana, Sya?" Tanya Jasmin sangsi alias impossible.
"Udah gue bilang, tenang aja. Semuanya udah diatur, emang kita gak bisa masuk ke dalam apart Roy tapi kita bisa mengintai dari jauh. Semoga aja kita dapat bukti yang fantastik apalagi kalau bisa mendapat bukti video aktivitas panas mereka di dalam sana." Ucap Tasya berharap dan senang.
"Semoga aja." Jawab Jasmin berharap.
"Jam berapa kita cabut?" Tanya Tiara.
"Sekarang jam 5. Jam 7 kita harus udah siap-siap." Menatap Tiara dan Jasmin yang heran.
"Mau ke mana?" Tanya Tiara.
"Mereka nanti akan datang ke acara Singapore Fashion Week yang diadakan di Natinonal Gallery, kita akan ke sana juga."
"Keren." Seru Jasmin senang. "Udah lama mau ke sana, akhirnya keinginan untuk bertemu dengan para designer favorite gue terwujud. Hebat, Sya, lo bisa dapet tiket masuknya." Pujinya tulus dan bahagia.
"Yakin kita bisa masuk ke sana, Sya. Gimana bisa lo bisa dapat tiketnya." Tanya Tiara ragu dan penasaran
"Tenang aja, gue bisa dapat dari mana, gak usah lo pikirin. Sekarang kita dandan yang cantik, siapa tahu di sana akan ketemu dengan jodoh kita." Ucap Tasya Bersemangat.
"Ngarep." Ujar Tiara dan Jasmin serempak lalu tertawa.
******
Someone pov
"Kamu gila, itu peninggalan keluarga turun temurun, tidak boleh diberikan kepada yang bukan haknya." Bentak seorang pria yang sedang marah dan mengingatkan.
"Masa bodoh." Sahut orang diajak bicara dingin.
"Kamu boleh masa bodoh, tapi apa yang akan kakek lakukan kalau barang itu sampai hilang atau diberikan pada orang yang salah." Menatap lawan bicaranya tajam. "Kamu emang sudah punya segalanya tapi jangan lupa, kekuasaanmu belum seberapa hebat yang dimiliki kakek tua itu."
"Sial!" Makinya dingin.
"Terserahmu tapi apa yang diceritakan dari generasi ke genarasi itu nyata, terbukti terjadi apabila kita langgar. Kalau masih gak percaya, silakan hubungi Granpa Harry dan tanyakan apa yang terjadi padanya sesudah dia menolak dengan keras tradisi dalam keluarga kita. Kupikir kamu pintar, bisa membedakan mana yang nyata, maupun hanya dikarang semata." Sarannya apatis.
"Pergilah!" Usirnya halus.
"Kuhanya mengingatkan, sekuat apapun menjauh dan menolak, dengan sendirinya takdir itu akan menarik dirimu, tanpa disadari. Suka maupun tidak, kamu gak akan bisa menolak, karena takdir akan memaksamu untuk terikat. Jadi persiapkan hati dari sekarang supaya nanti gak kaget dan belajarlah untuk menerimanya."
******
"Wow, keren, Ra." Puji Jasmin tulus sambil memutar-mutar tubuhnya.
"Baru tahu ya." Candanya percaya diri.
"Setiap hari aja dandan kayak gini, gue jamin banyak pria yang ngantri menjadi pacar lo." Saran Jasmin takjup perubahan Jasmin karena berpenampilan lain dari biasanya.
Tiara menatap dirinya pada pantulan cermin yang ada di depannya. saat ini, ia menggunakan pakaian dress scuba polos, selutuh warna hita. yang dipercantik oleh dengan bunga berwarna merah dibagian bawah dressnya dan juga simple belt-nya, dipandu dengan high heels merah, serta riasan tipis natural ala-ala korea.
Mereka senang bisa make over Tiara menjadi cantik, ia sangat cuek terhadap penampilan, kecuali bekerja. Karena harus profesional dan tidak memalukan nama perusahaan. Begitupun juga dengan Tasya dan Jasmin, pakaian mereka lebih berani dan terbuka.
"Ready.." tanya Tasya
"Of course." Jawab mereka serempam dan bahagia.
"Lets go girls." Ujar mereka bersamaan dan tertawa.