Golden Bride

Golden Bride
Dijemput Tiba-tiba



Ketika mereka berdua akan pulang, dan akan masuk ke dalam mobil. Wyatt datang menghampiri dan menawarkan untuk mengantar pulang.


“Kalian biar kuantar pulang.” Ucapnya tegas tanpa bertanya


“Terima kasih tapi gue bawa mobil, Tuan Wyatt terhormat.” Tolaknya tegas.


“Mobilmu biar Leon yang bawa,” perintahnya tanpa menggrubis penolakkan Tasya, memegang tangan Tiara dan membawanya meninggalkan Tasya.


“Hei, kenapa Tiara dibawa-bawa seenaknya gitu,” protes marah, mengunci mobilnya lalu mengejarnya. “Dengar yah Tuan Wyatt, Tiara pergi sama gue, jadi pulangnya sama-sama. Lagian banyak yang harus kami lakukan, dan semuanya itu gak ada urusannya dengan lo.” Berdiri menghadang Wyatt dan menatapnya tajam.


“Tanpa kamu ngomong, kutau apa yang akan kamu lakukan.” Sahutnya santai, masih tangan menggengam tangan Tiara.


“Lagian ngapain lo megang-megang tangan Tiara gitu, lo bukan siapa-siapanya dia, seenaknya bawa-bawa tanpa ngomong dia dulu.” Ujarnya tak suka, menatap tautan tangan Wyatt yang tak mau melepaskan tangan Tiara.


“Aku tungangan Tiara, jadi berhak atas dirinya,” jawabnya tegas tak memperdulikan seruan terkejut mereka.


“Bohong,” tolak Tiara cepat, berusaha melepaskan tangannya tapi tak bisa.


“Apa!” seru kaget bersamaan dengan ucapan Tiara. Lalu dia menatap Tiara penuh pertanyaan. “Benar itu, Ra. Kok gue gak tau,” sambungnya menatap Tiara kecewa, karena telah menyembunyikan hal sebesar ini.


“Gak, Sya. Dia bohong, kami gak ada apa-apa, percaya deh ama gue,” bantahnya tegas. “Bisa tolong lepas tangan gue,” pintahnya menatap Wyatt marah.


“Belum, tapi pasti akan terjadi,” ujarnya tegas dan cuek, tanpa melepaskan tautannya.


“Percaya diri sekali, Tiara aja menolak,” cibirnya. “Bisa lo lepas tangan Tiara, dia gak suka dengan apa yang lo lakukan.”


“Dengar yah, Nona Tasya. Bukan kah mau cepat-cepat pulang, malam nanti kamu akan tunangan. Daripada kita menghabiskan waktu dengan perdebatan tak berguna seperti ini, lebih baik kuantar kalian pulang.”


“Lo mata-matain kami,” ujarnya curiga. “Wah parah,” sambungnya tajam, menatap Tiara penuh pertanyaan, yang tak berdaya ditangan Wyatt. “Kenapa lo diam aja, Ra. Benar ucapannya kalau kalian bertunangan.”


“Gak, Sya. Itu bisa-bisanya dia aja,” bantahnya cepat. “Bisa lepas tangan gue,” pintahnya tajam tapi masih tak digrubis Wyatt. Menghela napas, kalau seperti ini terus, tak akan selesai-selesai. “Sya, kita ikuti aja maunya Tuan tak tau diri ini, menghemat waktu dan energi,” sambungnya menyindir. “Nanti gue ceritakan semua yang terjadi, percaya deh ama gue.” Pintanya memohon. 


Tasya melihat tatapan Tiara yang lelah dan tak berdaya, menahan diri ingin mengumpat Wyatt, terpaksa harus mengalah. “Oke.”


“Bagus,”  Wyatt menyeringai senang. Tanpa melepaskan tangan mereka, ia menelepon Leon. Dan tak lama kemudian, datanglah mobil yang berhenti di depan mereka. “Kamu bawa mobil Tasya, ikuti kami,” sambungnya memerintah lalu beralih menatap Tasya. “Mana kunci mobilmu.”


Dengan terpaksa mengambil kunci mobinya dalam tas. “Ini.” Memberikannya pada Leon.


“Makasih.” Ucap Leon datar.


“Ayo,” menarik tangan Tiara, membawanya duduk ke kursi depan lalu dia yang mengemudi mobilnya sendiri.


Dengan kesal Tasya duduk dibangku belakang sendiri. “Lo duduk sebelah gue aja, Ra.”


“Kamu tetap didepan.” Bantahnya tegas tanpa menoleh Tasya. “Mau langsung kuantar pulang?” Tanya datar.


“Kerumah Tiara dulu,” jawabnya singkat dan kesal karena omongannya selalu tak dihindaukan Wyatt.


“Oke.” Sahutnya datar tanpa menggrubis kekesalan Tasya.


******


“Ra, jahat lo yah. Tungangan gak ngomong-ngomong,” sindirnya kesal, lalu duduk disofa yang berada didalam kamar Tiara. Membiarkan Wyatt mengobrol dengan orang tuanya Tiara di ruang tamu.


Tiara mendekati Tasya dan duduk disebelahnya.


“Bukan gitu, Sya.” Bantahnya cepat.


Perintahnya tegas dan menatap Tiara marah.


“cerktanya panjang, kita kan mau siap-siap, gak banyak waktu lagi.” Menatap jam sudah hampir menunjukan jam 3. 


“Masih banyak waktu buat lo cerita, gak usah khawatir.” Sahutnya cuek. “Buruan cerita, Ra.”


Taira menghela napas pasrah. “Baik.” Lalu mengalirlah cerita, ketika malam itu Wyatt mengantarnya pulang, melamarnya langsung pada Ayahnya, dan malam-malam sesudah itu, dia selalu berkunjung bukan hanya untuk mengobrol dengan dirinya tapi mendekati anggota keluarganya, sekarang dia berhasil mengambil hati semua kelurganya dan sudah dianggap menantu oleh kedua orang tuanya. Minus cerita mengenai mimpi-mimpinya tentang Caira, ia belum siap menceritakannya, terlalu mengerikan untuk diingat.


“Jasmin dan Monic, apakah mereka tau ini?” tanyanya setelah mendengar semua cerita Tiara.


“Gak,” menggeleng kepala. “Hanya lo yang gue ceritakan.”


“Kenapa lo menyembunyikan hal sebesar ini, Ra. Gara-gara ini yah, gue sering lihat lo ngelamun, seakan ada beban berat yang sedang dibawa.” Menatap Tiara ingin tahu.


“Bukan bermaksud menyembunyikan dari kalian semua, tapi gue masih bingung dengan semua ini, semuanya terlalu tiba-tiba.”


“Dari omongan Wyatt yang ngomong kalau lo tunangannya, gue bisa menarik kesimpulan. Kalau kalian sudah jadi bertunangan tanpa persetujuan dari lo.”


“Gak bisa gitu donk,”protesnya menolak. “Gue kan belum menjawab lamarannya.”


“Ck, percuma aja nolak,” decaknya datar. “Pria seperti Wyatt itu, gak menerima kata TIDAK dalam hidupnya.” Menatap Tiara yang kesal. “Sejak lo menemukan kalung itu, secara gak langsung lo udah menjadi tunangannya.”


“Siapa bilang gue gak berani nolak,” bantahnya tak terima.


“Disini aja lo berani menolak, pas udah depan dia. Lo langsung gak bisa berkutik, jika udah ngomong tegas.” Sindirnya kesal mengingat Tiara selalu tak bisa berkutik ketika Wyat sudah berbicara tegas dan dingin padanya. Ia perhatikan kalau Tiara takut padanya, seakan-akan Wyatt itu Ayahnya saja.


“Eng…itu.” Serunya salah tingkah.


“Gue ngerti kok, percuma aja nurut lo memberi dia waktu, kalau baginya lo udah menjadi tunangannya.” Memegang tangan Tiara. “Bukan bermaksud buat nakut-nakuti lo, tapi kita lihat aja sikapnya sekarang.”


“Gue harus gimana sekarang.” Serunya bingung dan lelah


“Lo udah shalat,” melihat Tiara yang mengangguk, mengerti apa yang ditanyakannya. “Terus apa yang lo dapat.”


“Gak ada.”


“Benaran gak ada?” tanyanya curiga.


“Iya,” sahutnya tegas.


“Hmm, gini yah, Ra.” Menatap Tiara dengan serius. “Selama dia mendekati keluarga lo, setiap malam datang berkunjung ke rumah. Apa ada rasa berat atau kesal melihatnya.”


“Gak,” bingung dengan apa yang mau dibicarakan Tasya.


“Nah itu, berarti tanpa disadari, udah menerima dirinya buat masuk ke dalam hati dan keluarga lo.”


“Gak.” tolaknya.


Tasya menepuk-nepuk tangan Tiara bermaksud menenangkannya. “Gue tau lo menolaknya, percuma dibibir ngomong gak tapi tanpa disadari hati lo perlahan menerimanya.” Ujarnya tenang. “Gue bisa mengambil kesimpulan, kalau Wyatt benar-benar serius melamar lo buat jadi istrinya.”


“Tapi dia kan playboy, Sya.” bantanya keras kepala.


“Tau dari mana?” menatap Tiara penasaran.