
“Gimana keadaanmu, Nak. Mana yang sakit?” Tanya Ayahnya sendari mencium keningnya dan mengelus kepalanya.
Tiara menggeleng kepala, tak mau membuat kedua orang tuanya menjadi khawatir. “Aku kenapa yah?” tanyanya mengalihkan omongan Ayahnya, pura-pura lupa apa yang terjadi padanya.
“Emang kamu gak ingat apa yang terjadi kemarin?” Tanya Bundanya heran.
Ia memejam mata, agar air matanya tak menentes. Sedih melihat raut lelah dan sedih di wajah kedua orang tuanya, baru sehari dirinya dirawat tapi mereka sudah terlihat lebih kurus. Apa ini perasaannya saja atau memang Bunda dan Ayahnya tak menjaga kesehatan, sehingga terlihat sakit.
“Kamu kenapa, Nak?” Tanya Bundanya lagi cemas.
Tiara membuka mata dan menatap Bundanya. “Gak apa-apa, Bund.” Tersenyum menenangkannya. “Aku ingat kok apa yang udah terjadi padaku, ternyata kejadiannya baru kemarin, kirain udah lewat beberapa hari.” Sambungnya pelan dan bergurau.
“Walaupun baru kemarin, tapi nyawa Ayah dan Bundamu ini seakan tercabut dari raga kami, Nak.” Ujar Ayahnya sedih dan membelai kepala anaknya sayang. “Itu pristiwa yang menyedihkan dalam hidup kami, melihatmu diantara hidup dan mati, dan berdoa agar anak Ayah ini sadar hari ini. Alhamdulillah, doa kami dikabulkan, dan sekarang bisa melihat senyum manismu lagi,” sambungnya bahagia, lalu mengecup keningnya lagi.
Tiara menatap Ayah dan Bundanya haru dan merasa bersalah. “Maaf telah membuat Ayah dan Bunda cemas,” sesalnya lirih.
“Gak ada yang perlu dimaafin, Nak. Yang terjadi padamu, udah menjadi ujian buatmu, ikhlas yah dengan cobaan ini.” Nasehat Bundanya lembut.
“Iya, Bund.” Mengangguk kepala, lalu menatap ke sekelilingnya. Ia menatap heran ada Wyatt yang menggenggam tangannya. Ingin bertanya, tapi melihat tatapan marah dalam matanya membuatnya urung. Bingung sendiri, kenapa dia terlihat ingin marah padanya. “Adik-adik mana, Bund?” sambungnya bertanya, ketika tak menemukan mereka.
“Mereka menunggu di luar,” ucap Bundanya. “Kamu mau bertemu dengan mereka,” Tiara mengangguk kepala. “Baiklah, Bunda panggilkan.”
“Biar aku aja, Bund.” Tawar Wyatt berdiri, lalu mertuanya mengangguk kepala, baru ia keluar memanggil adik-adik iparnya tanpa menatap Tiara yang melihat bingung dengan sikapnya. Sekarang ia bisa memanggil mereka mertua dan ipar, karena tanpa sepengetahuan Tiara, ia telah menikah sirih dengan Tiara. Dan bisa ditebak, pasti istrinya akan marah atas apa yang telah dilakukannya.
“Wyatt…” Baru saja ingin bertanya tentang Wyatt tapi terputus karena ketiga adiknya masuk.
“Mba,” seru mereka bersama dengan suara parau dan senang melihat Mba nya sadar. Lalu mereka memeluknya sampai lehernya tercekik.
Plak…plak..plak.. pukul Bundanya geram pada pundak ketiga anaknya, karena memeluk Tiara bersamaan tanpa memikir kondisinya. Dan menjewer lalu menarik mereka menjauh dari Tiara.
“Akw!” seru mereka kesakitan, karena jeweran dari Bundanya.
"Sakit, Bund." Rengek Liuda manja, menatap Bundanya sebal, langsung menunduk melihat delikkan tajam darinya.
“Gantian meluknya, sebelum Bunda jewer lagi kalian,” ancam Bundanya kesal. “Mbanya kan baru sadar, kalau kalian peluk berengan kayak gitu, bisa-bisa Mba Tiara kembali pingsan.”
“Maaf, Bund,” seru mereka menyesal.
“Lebay,” seru Alfa bergurau, padahal dirinya ingin sekali menghabisi wanita yang telah mencelakai Mba kesayangannya itu, diantara ketiga saudara perempuannya, ia paling dekat dengan Mba Tiaranya. Maka nya dirinya paling sedih melihat keadaan Mba Tiara yang terbaring di rumah sakit.
Tiara terkekeh mendengar seruan adiknya itu, tapi dengan haru dan hati bahagia bisa memeluk ketiga adiknya lagi. Ia berusaha menghalau air mata yang akan menetes di pelupuk matanya, tak ingin membuat mereka mengkhawatirkannya lagi. “Walaupun baru sehari kita tak bertemu, tapi Mba bahagia sekali bisa memeluk kalian lagi,” bisiknya lirih dan parau. “Mba takut gak bisa bertemu kalian lagi, Dek.” Tanpa diminta air matanya menetes. Ia tersenyum malu, lalu mengelapnya.
Mendengar ucapan Mba nya itu, membuat mereka tercekat dan sedih mendengar ketakutan Mba kesayangan mereka. “Kami juga, walaupun Mba suka ngomel, bisa memeluk dan mendengar suara Mba, hati gue bahagia banget.” Isak Feiza serak sendari memeluknya erat.
“Adek juga bahagia masih bisa melihat senyum manis, Mba.” Isak Liuda parau, memeluk Mba nya di sebelah kanannya, bersebelahan dengan Mba nya Fezia.
“Makasih Mba, udah kembali pada kita lagi,” Alfa menggenggam tangannya lembut dan mengecupnya dengan sayang. “Maaf belum bisa melindungi, Mba. Aku merasa gagal sebagai adik," sambungnya serak dan sedih.
Tiara meremas tangan Alfa dan tersenyum sayang padanya. “Udah dek. Ini bukan salah lo kok." Ujarnya pada Alfa yang merasa bersalah dan memberikan senyuman terbaiknya agar Alfa tenang. Lalu beralih ke adiknya, Fezia. "Gak usah termehek-mehek gini lah, malu sama umur donk,’ candanya lembut sendari menepuk-nepuk pundak Fezia yang masih tetap memeluknya dan menagis terseduh. Memang diantara dirinya, Fezia dan Liuda. Fezia yang paling cengeng dan sensitif. Maka nya ia harus menenangkan adiknya itu agar berhenti menangis. “Mba, udah gak apa-apa, Zia. Jangan nangis lagi yah, malu sama umur,” guraunya lembut.
“Ikh, Mba ini,’ gerutunya sewot, setelah melepaskan pelukkannya. “Makasih udah kembali pada kita, Mba.” Meremas tangan Mba nya dengan erat, seakan takut kehilangan.
Tiara mengangguk haru. “Mba juga bahagia bisa kembali bertemu dengan kalian lagi.”
Kedua orang tuanya menatap mereka haru melihat keakraban dan sikap saling menyayangi diantara mereka.
“Udah anak-anak, jangan nangis lagi donk. Nanti Ayah juga ikut mewek loh,” gurau Ayahnya yang hanya diam melihat ke empat anaknya yang menangis haru dan saling peluk.
“Ikh, Ayah gak malu mewek depan kita,” seru Liuda manja.
“Gak dosa juga kan, biar kalian tambah sayang sama Ayah.”
“Ayah gak mewek juga, kami tetap sayang kok. Karena Ayah adalah Ayah yang terbaik di dunia bagi kami,” seru Fezia parau dan memeluk Ayahnya.
“Kalian gak ikut peluk kayak Mba Fezia, tanggung Cuma peluk seorang,” gurau Ayahnya dengan mata berbinar haru.
Mereka mencebik melihat tingkah Ayahnya yang kekanakkan tapi akhirnya Liuda dan Alfa ikut memeluk Ayahnya dengan sayang. Hati Tiara bahagia melihatnya, dan mengelap air mata yang menetes dimatanya. Merasakan remasan tangan lembut Bundanya, ia lalu menatapnya. “Aku baik-baik aja, Bund.” Bisiknya pelan yang hanya bisa didengar oleh Bundanya. Yang disambut dengan tepukan lembut pada tangannya.
“Udah Yah, kasihan Tiara nanti malah sedih melihat kalian seperti ini,” ujar Bundanya mengingatkan. “Ayah coba ajak anak-anak keluar aja gih, gantian para sahabat Tiara ingin melihatnya.”
“Ck, kita diusir dek,” cebik Suaminya bercanda, yang langsung tertawa melihat delikkan geram dari Istrinya. “Ayo keluar dulu, nanti Ibu ratu kita malah ngomel-ngomel lagi.”
“Ayah,” protes Istrinya geram dan menganc.