
Tinggg... Bunyi bel di atas pintu. 3 orang wanita celengak-celenguk mencari sesosok yang mereka ajak ketemuan. Sesaat kemudian mereka berjalan ke pojok ruangan, mendekati pria yang sedang menyesap kopinya.
"Hai," sapa Tasya ramah. "Udah lama, Lang. Sorry, ngebuat lo menunggu."
"Gak juga, nyantai aja," sambungnya tenang dan tersenyum. "Silakan diaturi, monggo," sambungnya dengan bahasa jawa.
"Kagak ngerti kami, lo ngomong apa," sahut Jasmin sarkas.
"Lah, orang jawa masa kagak ngerti ngomong jawa," godanya dengan menyindir mereka.
"Udah, lah Jas. Gak usah diladenin." Saran Tiara tenang. "Kita kan mau ngebahas yang lain, Lang."
"Oh iya gue lupa, hehe," sahutnya terseyum. "Kalian bisa pesan dulu, sebelum kita mulai meeting kita pagi ini." Berlagak seperti boss sambil bersidekap.
"Ck...," decak mereka kesal, lalu menatap Gilang hanya tersenyum geli, melihat mereka kesal.
“Gak usah, Lang. kami sudah breakfast sebelum kemari,” tolak Tasya. “Kita to the point aja yah. Gimana hasil pengintaian lo semalam. Apakah berhasil?”sambungnya penasaran.
“Tenang aja, kerjaan gue selalu memuaskan, gak ada yang komplen,” sahutnya sombong dan ambigu.
“Ck,” cibir Jasmin sinis, hanya dibalas dengan tatap datar oleh Gllang. “Sebenarnya lo ini kerjaannya apa? Beneran detektif atau detektif ambal-ambal?” Bersidekap menatap Gilang dengan menyelidik.
“Jasmin,”tegur Tiara mengingatkan.
“Lah benar kan, gue rasa kalian juga pengin tau kan?” jawabnya enteng, tak memperdulikan kalau Gilang akan tersinggung.
“Maafkan Jasmin, Lang. Dia memang serba curigaan orang,” ujar Tasya menyesal, mendelik kearah Jasmin.
“Ngapain lo minta maaf segala, gue kagak salah kok,” cetus Jasmin mencebik kesal.
“Jas…” Ucapan Tiara terputus
“Gak pa-pa, wajar kalau kalian merasa ragu dan ingin tahu,” sela Gilang tersenyum datar, menghiraukan ketidaksukaan Jassmine padanya. “Emang Jack gak pernah cerita tentang gue walaupun sedikit.”
“Jack?” Tanya mereka bingung.
“Maksud gue, Jaka. Kakaknya Monic, biasanya teman-teman kami memanggilnya Jack, dari pada Jaka,” terangnya sambil mengambil kartu nama dari dompetnya. “Ini kartu nama gue.” Menunjukkan sebuah kartu nama ke mereka .
“G&G Investigation Agency,” Ujar Tiara membaca kartu nama yang berwarna hijau lumut, hitam dan emas, berbentuk biasa tapi terlihat elegan.
“Ternyata benaran detektif, kemarin bilang cuma kerja sampingan doang.” Tuduh Tiara sinis.
“Hehe, sorry. Gue lebih suka orang tahu, kalau detektif kerjaan sampingan gue.” dalihnya tenang sambil mengamati bahasa tubuh mereka.
"G&G, apaan tuh?" tanya Tasya penasaran
"Diambil dari nama gue, Gilang dan Garen."
"Siapa Garen?" tanya Jasmin
"Om gue, dia pensiuan polisi. Setelah pensiun dia membuka detektif agensi dan ngajak gue buat bergabung."
"Berarti agensi ini sebagian punya lo juga." ujar Tiara.
"Bukan, Om Garen hanya meminjam nama gue aja. Gue juga karyawan di sana, hehe."
“Oh gitu, kayaknya lo lebih tua dari kita dong, gak sopan kami hanya memanggil nama doang.” Seru Tiara menatap kedua temannya, yang mengangguk kepala membenarkan omongannya.
“Udah gak pa-pa, panggil Gilang aja,”
“Maafkan sikap gue tadi,” ujar Jasmin menyesal.
“Udah biasa kok kalau awalnya kalian curigaan,” memberikan senyuman menenangkan. “Ini foto-foto yang lo minta, Sya.” Memberikan berapa lembar foto mesra Roy dengan selingkuhannya.
“Kenapa?” Tanya Tiara penasaran dengan sikap Gilang yang terlihat waspada.
“Gak ada pa-pa,” menggeleng kepala, matanya masih mengamati di sekeliling meja mereka.
“Apa perasaanku aja, atau emang benar kalau ada yang mengawasi kita.” Bisik Tiara pelan pada Gilang.
Gilang menatapnya tercengang, karena Tiara juga bias merasakannya. Ternyata Tiara mempunyai kepekaan yang sangat tajam atas sekelilingnya. “Tenang, hanya perasaanmu aja,” bantahnya menenangkan. Ia tak ingin membuat mereka, merasa terancam dan ketakutan.
“Benaran?” selidiknya curiga.
“Udah lo nyantai aja, gak ada pa-pa,” sahutnya lembut dan yakin.
“Ada apa sih, dari tadi kalian bisik-bisik.” Celetuk Jasmin menatap mereka dengan curiga.
“Gak ada apa-apa,” ujar Gilang menyakinkan.
“Ra, kenapa?” menatap Tiara ingin tahu.
“Gak ada pa-pa, hanya perasaanku aja,” sahutnnya lembut
“Ada apa kalian ini?” Tanya Tasya bingung.
“Tiara merasa parno sendiri, seolah ada yang mengawasi. Padahal gak ada,” jelas Gilang tegas.
“Benaran, Lang?” Tanya Tasya lagi.
“Iya,”mengangguk kepala tegas dan tersenyum hangat kepada mereka, untuk menenangkan kegelisaan mereka.
“Syukurlah kalau gitu,” Tasya mendesah lega. “Selain foto-foto ini, apakah ada yang lain?”
“Ada,” Gilang mengambil ponselnya dan menunjukan sebuah video Roy yang berciuman panas dengan Bella. “Nanti gue kirim ke lo.”
“Oke,”mengangguk kepala. “Oh ya, kita mau tau tentang kalung yang gue ceritakan semalam.” Menyenggol Tiara untuk menyruhnya bicara.
“Boleh gue lihat dulu kalungnya?” Tanya Gilang hati-hati, sambil memasati sekitarnya.
“Ini.” Tiara menaruh kalung yang sudah dimasukkan ke wadah khusus kalung, kepunyaan Jasmin. Daripada kececeran, hilang entah kemana, bias gawat urusannya.
Gilang mengambil dan memasatinya dengan cermat dan serius. “Wah…wah… Kalian beruntung menemukannya.”
“Maksudnya?” Tanya Tasya ingin tahu.
“Mahal ini, benar-benar mahal. Bisa membeli puluhan pulau, harga kalung ini,”seru Gilang kagum dan senang bias melihat kalung langkah di dunia.
“Lebay lo,” cibir Jasmine tak percaaya.
“Dibilangi kagak percaya,” gerutu Gilang kesal. ”Kalian tahu gak, kalung ini hanya satu di dunia dan terlangkah. Gue baru melihatnya sekarang, tapi pernah membaca sedikit tentang kalung ini. Gak semua orang bisa meilikinya, karena kalung ini diturunkan dari generasi ke generasi keluarga yang memilikinya.”
“Lo yakin,” ujar Tiara tercengang dan shock, ada persaan takut dihatinya, membuatnya ketar-ketir tak tenang. Gilang menggangguk kepala, membenarkan omongannya.
“Lo tahu gak kalung itu punya siapa?” Tanya Tasya penasaran, sambil menggenggam tangan Tiara yang dingin.
“Gue gak tahu, nanti gue akan mencari tahu pemiliknya.” Sahutnya tegas. Ia juga penasaran dengan kalung ini, bentuknya tak biasa, malah aneh dan terkesan penuh misteri. Apalagi, terus bersinar terang, berkelap-kelip, yang keluar dari berlian itu sendiri maupun dari kedua mata sepasang phoenix. “Lo hati-hati menjaga kalung ini, jangan sampai hilang. Bisa dikejar oleh pemiliknya sampai 7 keturunan.” Sambungnya mengingatkan sambil bercanda.
“Sial lo.” Maki Jasmine tajam. “Jangan nakut-nakuti, Tiara.”
“Sorry, bukan maksud gue begitu,” kelunya menyesal.
“Gak pa-pa, gue ngerti kok,” sahutnya nyantai. “Tentu aja, harus gue jaga. Kalau hilang, belum tentu 7 keturunan gue bisa membayarnya. “Sambungnya tersenyum masam.