
Tiara mencari sosok pria yang tadi sedang duduk di ruang tamunya, sekarang pria itu hilang entah kemana. “Wyatt kemana sih, apa udah pulang yah. Gak sopan banget, pulang gak ngomong-ngomong dulu,” gerutunya geram. Terus mencari kesana kemari, mungkin saja Wyatt ke toilet. Ia terkejut melihat pria yang dicarinya, sedang duduk di kitchen table lagi menikmati nasi goreng buatannya.
“Kayaknya enak yah,” sindirnya ketus, berdiri diambang pintu, menatap pria yang dihadapannya dengan geram, yang membalasnya dengan datar.
“Terima kasih.” Ucapnya datar sambil menunjukan minuman yang dipegangnya kearah Tiara, seolah berada di rumahnya sendiri.
“Tamu gak tau sopan santun, nyelonong aja tanpa ngomong dulu.” Cibirnya, lalu duduk dihadapannya. “Ini barang anda.”
“Ini beli di mana?” menunjukan semua makanan yang ada di meja.
"Enak aja beli, buat sendiri." Bantahnya tak terima
Wyatt mengedikkan bahunya cuek. "Ini juga buat?"Tanya Wyatt sambil memasukkan potongan pempek lenjer ke dalam mulutnya.
“Iya itu buat juga," jawabnya, walaupun bukan ia sendiri yang membuat, tapi bukan berarti pempek itu dibelinya. "Kenapa enak kan.”
“Biasa aja,” sahutnya santai, tanpa menggubris tatapan kesal tiara. “Apa namanya, baru kali ini saya mencicipinya.”
“Itu pempek, makannya dicelupkan ke dalam cuka," menunjukan sebotol cuka, dihadapannya. Lalu mengambil piring kecil untuk Wyatt. ”Cuka masuk ke mangkok ini, lalu pempeknya dicelupkan di dalam sana.”
“Pedas, asam dan manis.” Seru Wyatt, setelah meniru apa yang diajarkan oleh Tiara. “Pedas sekali, tapi saya suka rasanya.” Memasukkan kembali pempek ke mulutnya dengan santai, tak menghiraukan tatapan kesal Tiara. "Ternyata kamu bisa masak juga."
“Ternyata anda sedang kelaparan,” sindirnya sengit sendari meniru gaya bicara Wyatt. “Adab orang bertamu itu, meminta izin dulu yang punya rumah, untuk menikmati hidangan mereka, anda sungguh gak sopan sekali.” Yang dibalas tatapan datar oleh Wyatt.
“Mana milik saya?” Tanyanya datar, berdiri lalu mencuci tangannya, kemudian duduk kembali menghadapan Tiara.
Tiara membuka kotak itu, lalu mengambil barangnya Wyatt yang berupa kalung, yang tanpa sengaja terbawah olehnya. “Ini.”
Wyatt mengulurkan tangannya, mengambil kalung itu, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Mereka kaget bersamaan karena seakan merasakan seperti tersengat, dibenak mereka terlihat sebuah gambaran sebuah tangan yang berlumuran darah sambil memegang kalung itu.
“Ya Allah, apa itu tadi.” Bisiknya tercengang dan ketakutan, sambil meremas-remas jarinya.
“Anda kenapa?” Tanya Wyatt datar, waalaupun ia melihat kilasan gambaran yang diyakininya, dilihat oleh Tiara juga. Tapi ia bisa menguasai dirinya dan berpura-pura tak terjadi apa-apa.
“Anda gak lihat tadi?”tanyanya bingung, menatap Wyatt dengan penasaran.
“Lihat apa?” Jawab Wyatt datar dan heran
Tiara menatap Wyatt dengan menyelidik tajam, lalu menghela napas panjang. “Gak pa-pa.” mengambil air minum lalu menyesapnya.
“Kamu bisa katakan apa maksud dari lihat itu.”
“Gak pa-pa.” tolaknya halus. “Kalung anda sudah saya kembalikan, saya minta maaf tanpa sengaja membawanya. Saya minta permasalahan ini jangan diperpanjang lagi. “Pintanya tulus.
"Kenapa tidak menjawab omongan saya apa ada yang kamu sembunyikan," menatapa Tiara menyelidik.
"Ck, halusinasi, alasan saja," cibir datar. “Kalau mau saya bawa ke polisi, anda mau apa?” sambungnya menantang Tiara sambil menatapnya mengejek.
“Gak ada yang bisa saya lakukan selain dengan mengharapkan belas kasihan anda untuk melepaskan saya," ujarnya merendah. "Dugaan saya, anda pasti bukan orang sembarang. Dari cara mencari dan menemukan saya hanya butuh sehari, terlihat mudah sangat mudah. Saya rasa juga, anda bisa menduga kalau kalung itu tanpa sengaja terbawa oleh saya."
"Kenapa bisa berpikir begitu, kamu tahu siapa saya.” Tuduhnya dingin dan curiga.
“Saya gak tau anda siapa, bagi orang biasa seperti saya mencari orang di negara ini, seperti mencari jarum ditumpukan jerami, sangat sulit. Tapi kenyataannya, anda dengan begitu mudah menemukan saya.” Menatap Wyatt datar. “Kalung anda juga masih utuh, gak ada yang cacat.”
“Belum tahu.” Elaknya, memeriksa kalung itu dengan seksama.
“Kalung itu memang seperti itu yah?”Tanya hati-hati karena penasaran.
“Seperti gimana?”
“Berpijar seakan ada lampu di dalamnya, dan sekarang malah semakin terang. Baru pertama kali ini saya menemukan hal aneh seperti ini.” Menunjukan kalung yang sekarang berpijar. “Ada sesuatu yang aneh dengan kalung itu.”
“Anda terlalu sensitif, jangan terlalu berpikir yang aneh-aneh.” Ujarnya menyindir. “Baiklah, kalungnya sudah saya dapat, untuk kelanjutan proses hukum selanjutnya, silakan tunggu saja.” Sambungnya mengancam dan berdiri. "Silakan siapkan saja pengacar." tersenyum miring
“Tunggu!.” Pinta cepat dan menyusul Wyatt. “Bisa gak urusan ini sampai sini saja, kalungnya sudah dikembalikan dengan utuh. Saya tidak mencurinya, walaupun miskin, pantang bagi saya mencuri milik orang lain.”
“Permisi.” Ujarnya tanpa menggrubis Tiara, sambil berjalan pergi.
“Tunggu!.” Mencekal lengan Wyatt.
Wyaat berbalik dan menatapnya tajam. “Ada lagi?.”
“Saya mohon.”pintanya tulus
“Kamu tunggu saja,” sahutnya cuek dan dingin.
“Tapi…” ucapnya terbata-bata dengan ragu.
“Kemanapun kamu pergi, saya akan menemukanmu.” Ancamnya dingin, menatap Tiara yang menganggapnya tidak mungkin dan gila. “Percayalah, saya pasti akan menemukanmu dimanapun berada. “ berjalan mendekati Tiara dan berbisik. “Apa yang ditakdirkan menjadi milik saya, pada akhirnya akan tetap kembali pada saya.” Tersenyum sinis lalu membuka pintu. “Terima kasih makanannya, sampai ketemu lagi, Gelinim.”
“Hei, tunggu.” panggilnya kesal, saat Wyatt menutup pintu, meninggalkannya dengan perasaan campur aduk. Kesal, takut, was-was, heran. Hati kecilnya berbisik kalau semua ini belum selesai, mereka pasti akan bertemu lagi. Menaruh tangan didadanya, merasakan degupan kencang, seperti akan terjadi sesuatu yang tak menyenangkan nantinya. Mengambil napas panjang dan menghelanya, berjalan duduk, menutup matanya, sambil menenangkan hatinya.
******
Ia merasa asing dengan tempat ini, ini di mana?Kenapa rumahnya seperti bergaya kolomial belanda. Terus berjalan sembari menoleh kanan kiri, mencari seseorang yang bisa ditanyakan. Ia mendengar suara pistol dan suara orang menjerit kesakitan. Sontak, membuatnya kaget dan tegang, dengan cepat berlari mencari asal suara itu.
Tibalah ia pada sebuah ruangan, dengan cahaya redup. Tercengang melihat sesosok wanita, tergeletak berlumuran darah sambil menggenggam sebuah kalung, yang liontinnya juga berlumuran darah. Darah itu memenuhi liontin itu, terlihat mengerikan. Ia shok, kakinya sulit digerakan, ingin menolong tapi kakinya tak bisa bergerak, berteriak meminta bantuan, suaranya tak keluar.
Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan, ingin melihat wajah wanita itu tapi gelap, seakan ada tabir yang menutupinya. ia terus berteriak memanggil siapa saja, walaupun tahu kalau tak akan ada suara yang akan keluar dari mulutnya. Niatnya satu, untuk membantu wanita itu, ia terisak sembari berteriak, tapi tak ada yang mendengar, hanya kesunyian mencekam yang didapat, terus berusaha menggerakkan kakinya, dan memanggil-mangil siapa saja yang mendengar.