
Tiara berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, ketika sudah berganti baju. Bingung mau menemani Ayahnya mengobrol dengan Wyatt apa tidak. Kalau dibiarkan begitu saja, takutnya kedua orang tuanya akan salah paham atas kedatangan Wyatt ke rumahnya. Setelah sibuk bergelut dengan kebimbangan, ia memutuskan untuk menemani Ayahnya ngobrol.
"Nak, tolong bawa ini ke depan." Pinta Bundanya, saat ia akan menuju ke ruang tamu. Menatap, sepiring besar kue bronis, pisang goreng, lalu secangkir kopi dan tea. Ia tak tau untuk siapa, setaunya Ayahnya tak minum kopi, lalu tea juga Ayahnya kurang suka. "Nanti bawakan juga ini yah," sambung Bundanya, menunjukkan 3 piring kecil untuk menaruh makanan itu, beserta garpunya.
"Adik mana, Bun." Ujarnya bertanya.
"Kenapa nanya-nanya adikmu segala," jar Bundanya tak suka.
"Mau tau aja, Bund. Sensi amat, lagi PMS yah," candanya.
"Hush, sembarangan kalau ngomong," menatap Tiara geram. "Lagipula gak usah nyuruh-nyuruh adikmu, mereka kan tamumu, Tiara," protes Bundanya.
"Bukan gitu Bun." Gerutunya salah tingkah.
"Udah buruan antar ke sana, gak usah banyak protes." Perintah Bundanya.
"Iya, iya." Sahutnya pasrah. Lalu membawa nampan yang berisikan makanan dan minuman itu dengan hati-hati.
Tiara mendengar mereka tertawa, saat ia masuk menaruh nampan itu di atas meja dan berseru. "Seru amat, Yah. Gak lagi ngejelekin Taira kan."
"Hush, negatif tuh lah pikiranmu." Tuduh Ayahnya. "Ayo, duduk dulu samping dulu di sini, temani Ayah ngobrol." Menunjukkan tempat kosong di sebelahnya.
"Nanti, Yah. Masih ada yang mau diambil lagi," tolaknya lembut lalu berjalan meninggalkan mereka.
"Mereka ngobrol apa aja, Nak. Kok kayaknya seru amat," tanya Bundanya penasaran.
"Gak tau, Bund," menggeleng kepala. "Kenapa Bunda gak nemani Ayah ngobrol?" sambil mengambil piring-piring kecil itu, lalu menaruhnya dinampan.
"Gak enak, kayaknya mereka ngobrol sesama pria aja."
"Emang ngobrol apa aja, Bund?" tanyanya.
"Pas Bunda nemani Ayah sebentar, mereka ngobrol tentang bisnis lalu tentang sepak bola. Mana Bunda ngerti, maka nya Bunda ke dapur, menyiapkan camilan buat mereka aja." Terang Bundanya.
"Gak sedang ngomongin Tiara kan, Bund," ujarnya menyelidik.
"Mana Bunda tau," tersenyum misterius padanya. "Nanti kamu tanya aja pada Ayah yah, ayo antarkan lagi itu, nanti mereka mau memakannya."
"Ayah minum apa, Bund," ujarnya bertanya.
"Oh iya Bunda lupa, hehe," tersenyum lalu bergegas ke dapur lagi.
"Mau buat apa lagi, Bund?" tanyanya ingin tau, mengikuti Bundanya ke dapur.
"Tadi Ayah minta dibuati wedang jahe, masih ada banyak," sahut Bundanya, mengambil sepanci kecil wedang jahe, lalu mengambil gelas dan mengisinya. "Seharusnya mereka Bunda kasih aja wadeng jahe yah, kenapa Bunda sampai lupa yah," sambungnya menggerutu. "Kamu mau juga, Nak,"
"Nanti aja, Bund," tolaknya. "Maklum Bund, faktorU," sambungnya sambil bergurau. "Akhw, haha," terkejut mendapat pukulan dilengan oleh Bundanya, dan tertawa melihat Bundanya menggerutu tak terima dibilangi sudah tua.
"Hush, mulutnya, enak aja bilang Bunda udah tua. Mau dimasukkin lagi ke dalam perut Bunda," omel Bundanya sewot, menatap Tiara tajam.
"Gak lah, Bund. Siapa bilang Bunda udah tua, masih cantik dan langsing gini," bujuknya sambil memeluk Bundanya manja.
"Itu pujian atau menghina yah," gerutu Bundanya curiga dan pura-pura tersinggung.
"Ish, dipuji bawaanya curigaan tuh lah, jangan sering cemberut gitu Bund. Nanti keriputnya tambah banyak loh," ujarnya bercanda, lalu mencium Bundanya dengan sayang. "Tadi Bunda nawarin dulu gak ama mereka mau minum apa?" sambungnya bertanya, dan mengalihkan omongan.
"Iya." memukul pelan lengan Tiara. "Kalau ngalihkan omongan, kamu emang jago, Nak" sindir Bundanya.
"Ikh, Bunda nie," rengeknya manja, masih bergelayut di lengan Bundanya. "Apa yang mereka minta." Sambungnya serius
"Yah, udah. Bearti Bunda gak salah donk, gak nawari wedang jahe, kan yang mereka minta lain."
"Iya yah," Bunda mengangguk kepala, lalu mengusap tangan anaknya. "Ini, untuk Ayahmu. Buruan antar, nanti Ayahmu kehausan lagi, keasikkan ngobrol"
"Oke," sahutnya. "Bunda gak mau nemani kami," sambungnya bertanya.
"Gak, Bunda dengari aja dari ruang keluarga."
Tiara mengangguk kepala mengerti, soalnya ruang tamu dan ruang keluarga hanya bersekat dinding. Jadi kalau kita ngobrol diruang tamu, orang yang duduk diruang keluarga pasti mendengar apa yang kita bicarakan.
"Lama banget kamu di dalam, Nak. Ayah udah kehausan nunggui kamu ngantar minuman Ayah," seru Ayahnya bercanda, ketika ia menaruh isi nampan itu di atas meja.
"Maaf, Yah." Sahutnya lembut, lalu duduk disebelah Ayahnya.
"Nak, tadi Ayah udah ngobrol banyak dengan Wyatt, dan tau maksud kedatangannya kemari," ujar Ayahnya penuh teka teki dan tersenyum.
"Apa, Yah." Sahutnya bingung.
"Coba kamu tanyakan lagi aja pada Wyatt, mungkin kamu mau mendengar langsung dari mulutnya sendiri." Saran Ayahnya mengelak menjawab.
"Ish, Ayah ini kok gitu sih, tinggal bilang aja, susah amat." Gerutunya manja dan mengerucutkan bibirnya.
"Mulutnya gak usah dimonyongkan juga kale, malu dilihat mereka," canda Ayahnya. "Udah besar masih aja manja, begini lah Tiara kalau sama keluarganya, Wyatt. Manjanya gak ketolongan, kamu harus sabar nanti ngadapi sifat manjanya." Sambungnya menatap Wyatt tersenyum, Yang dijawab dengan anggukan kepala olehnya.
"Ikh, Ayah ini apa-apaan sih," gumamnya malu dan penasaran dengan ucapan Ayahnya, tapi ia menahan diri untuk tak bertanya.
"Nak Wyatt, mau ngomong langsung ama Tiara atau Ayah wakilkan," tanya Ayahnya.
"Ngomong apa, Yah?" tanyanya penasaran.
"Penasaran yah," kerling Ayahnya dengan jahil. "Haha," terbahak melihat wajah anaknya yang memerah karena malu.
"Ayah," keluhnya sambil memeluk lengan Ayahnya malu.
"Gimana Nak Wyatt," ujar Ayahnya.
"Aku aja yang ngomong, Yah," sahutnya akrab. Walaupun baru bertemu, kesan didapat dari kedua orang tua Tiara, mereka ramah dan hangat. Ia seperti sedang ngobrol dengan kedua orang tuanya sendiri. Tak ada kesan kaku yang didapatnya, malah Ayah Tiara itu orangnya suka bercanda.
Tiara mendelik tajam, mendengar Wyatt ikut-ikutan memanggil Ayahnya dengan panggilan Ayah juga.
"Gak usah lihat seperti itu juga donk, Nak. Biasa aja kale, orangnya masih didepan matamu, gak akan kemana-mana." Candanya dan tertawa.
Tiara menggeram dalam hati dan merasa malu, melihat mereka yang ikut tertawa seakan mengejeknya.
"Ayah.." rengeknya kesal.
"Buruan ngomong Wyatt, kayaknya anak Ayah ini gak sabaran." Sindirnya pura-pura serius.
"Ck," decaknya kesal dan melengos ke arah lain.
"Iya, Yah," sahut Wyatt hangat.
Tiara kembali menatapnya kesal, sama Ayahnya saja bisa ngomong hangat, kalau sama dirinya maupun orang lain. Datar kayak papan yang diamplas.
"Tiara, aku tadi udah ngobrol banyak sama Ayahmu," ujarnya memulai. "Maksud kedatanganku kemarin, selain ingin bersilaturahmi pada keluargamu. Aku juga udah mengutarakan niatku pada Ayah kalau kuingin melamarmu sebagai istriku," sambungnya tegas, menatap Tiara yang memucat terkejut dan wajahnya memerah seakan menahan rasa marahnya.
"Apa?!" teriaknya terkejut dan shock atas apa yang didengarnya.