Golden Bride

Golden Bride
Balas Dendam Tasya Yang Elegan



“Sadis banget lo, Key.” Seru Tiara geli.


“Orang kayak gitu, gak perlu dikasih hati, nanti bikin dia melunjak.” Ujar Keysa cuek.


“Benar juga yah, hehe.” Tersenyum senang. “Lo ngikut aja yah, nanti gue kenali ama sobat-sobat gue lainnya. Jasmin dan Monic, mereka berdua orangnya asik loh.”


“Oke.”


“Lo mau ngikut kita juga,” seru Tiara heran, ketika Wyatt masih mengikuti mereka.


“Gak.”


“Yah udah, jauh-jauh sono. Ngerintilin mulu, bikin kesal aja.” Gerutunya sewot mengusir.


“Ck, baik nyonya besar.” Sindirnya datar dan berjalan menjauhi mereka.


“Hebat lo, dapat pria yang bucin ama lo, Ra.” Puji Keysa.


“Hehehe, lo bisa aja,” serunya cengengesan. Tak tahu mau dijawab apa, heran Keysa bisa ngomong kalau Wyatt bucin padanya. Bucin dari mana, rabut kali matanya, pikirnya heran. “Kita langsung ke kamar Tasya aja, nanti bareng dia turunnya.”


******


"Baiklah, para hadirin sekalian, sekarang kita masuk ke acara inti pertunangan Tasya dan Roy. Mereka akan bertukar cincin sebagai tanda bukti cinta." Ujar MC mengumumkan akan dimulainya pertukaran cincin. "Sebelum itu, mari kita saksikan foto-foto kebersamaan mereka yang penuh cinta selama pacaran," sambungnya ceria sambil menujukan layar didepannya, yang mulai menampilkan slide demi slide foto-foto Tasya dan Roy.


Maka muncullah foto demi foto, kebersamaan Tasya dan Roy. Baik dari yang lucu, marah, dan mesra. Yang mengundang tawa para undangan, foto-foto mesra mereka, yang bisa membuat para jomblo merasa iri. 


Tiba-tiba disela decakan kagum dan bahagia, muncul foto-foto kemesraan Bella dan Roy. Yang membuat para undangan tercengang dan shock. Semua foto yang berpegangan tangan, pelukan maupun ciuman, ditampilkan semua slide demi slide.


Terdengar bisik-bisik dari para undangan yang mencomo'o kedua pelaku yang ada didalam video tersebut dan banyak umpatan marah dari pihak keluarga Roy dan Tasya, apalagi raut marah yang sekarang dirasakan Roy.


"MATIKAN PROYEKTOR ITU!." Perintah Roy berteriak marah tak terima dipermalukan seperti ini.


Tapi slide demi slide foto itu tetap ditampilkan, tak ada yang berani mematikannya, sesuai intruksi Tasya. Tasya hanya menatap datar yang ditanyakan itu, tanpa menggrubis tatapan marah keluarganya padanya. Disaat Roy akan mematikannya sendiri, munculah sebuah video-video Bella dan Tasya, yang make out dilift di apart Roy di Singapura. Ada juga yang dihotel, yang dipergoki Tasya.


"Yang, kamu yakin mau melanjutkan pertunangan ini," ujar suara Bella menggema diruangan yang hening dengan menyandarkan tubuhnya pada Roy, yang sedang memegang segelas wine sedang duduk disofa, mereka hanya menggunakan bathrobe. Dari sana saja yang menonton pasti sudah berpikiran buruk pada mereka berdua, walaupun baik dari pihak keluarga dan undangan, masih dalam keadaan shock atas apa yang mereka lihat.


"Tentu saja." Sahutnya tegas.


"Apa kalian masih tetap menikah," ujarnya lirih. "Gimana nasib hubungan kita yang udah setahun kita jalani ini, Yang. Gue gak mau yah kita putus loh." Rengeknya manja.


"Tenang aja, Yang. Walaupun gue menikah, tak ada yang berubah diantara kita. Pernikahan ini, hanya pernikahan bisnis. Dua belah pihak saling menguntungkan. Bisa saja kan setelah, Daddy mengangkat gue jadi CEO, akan mencari cara untuk menceraikan Tasya tanpa membuat keluarga marah pada gue." Mengusap kepala Bella lembut.


"Maksudnya mau menjebak Tasya dan melimpahkan semua kesalahan padanya."


Roy mendengar dan melihat video itu, marahnya bukan main. Disaat ia ingin mematikan video itu, dirinya dicegah oleh Bram, yang menatapnya dengan tatapan membunuh. Sehingga membuatnya  berhenti maju.


"Berhenti, atau lo gue bunuh sekarang juga." Mengambil remote dan menekan tombol pause. Ancam Bram dingin. Roy ingin menjawab, tapi Bram mendorongnya mundur, membuatnya jatuh terduduk.


"Apa-apaan Bram, jangan kasar gitu." Seru Daddy nya tak terima calon mantunya dikasari, walaupun tahu kalau Roy itu bersalah.


Bram tak pedulu, hanya menatap Roy sinis dan benci, yang siap untuk menghancurkan Roy kapan saja. "Paman, video ini kayaknya belum selesai, nikmati aja sampai selesai. Kita lihat apa yang telah dilakukan calon mantu kesayangan paman ini." Sindirnya dingin, dengan santai tanpa memperdulikan tatapan marah dari pamannya. Ia menekan tombol on, untuk melajutkan  video. 


"Kasihan sekali hidupnya, sudah dijadikan alat untuk menguntungkan perusahaannya, sok cantik pula, malah harus dicerai nantinya dengan cara memalukan, gak sabar gimana menderita hidupnya nanti, haha," tertawa senang. "Tapi rancana udah lo buatkan." sambungnya menatap Roy dengan penasaran.


"Tenang aja, kalau kami udah menikah setahun, baru rencana itu gue jalani." Mengelus rambut Bella dan mengecupnya. 


"Tapi gue cemburu lo Yang, sikap mesra lo sama bit** itu, gak rela ngelihat kalian berdua terus." Rajuknya manja.


"Sabar, Yang. Itu kan cuma sandiwara, tak ada cinta sama sekali. Demi rencana kita berjalan lancar, lo harus bersabar yah." Bujuknya.


"Benaran kan lo gak cinta sama si cewek bit** itu." Ujarnya tegas


"Gak donk sayang, kalau cinta masa gue mau menjalani hubungan terlarang ini." Ujarnya menyakinkan Bella. "Gimana orang tua lo Yang, apa gak marah lo berhubungan dengan duda kayak gue."


"Tenang aja, gue kan anak kesayangan. Apapun yang dimau pasti diturutui oleh mereka, lo kan duren, duda keren. Lagipula, nurut gue untung juga dapat mantu kaya kayak sayang, mana berani mereka menolak, calon mantu kaya raya gak habis 7 turunan, haha."


Orang-orang yang hadir, menatap jijik dan sinis pada Bella, mereka mencomo'o dengan kata-kata yang menyakitkan telinga dan hati. Sedangkan Bella melihat tatapan mereka, merasa takut dan hampa. Apalagi melihat tatapan terluka dan malu kedua orang tua nya.


"Kalau mereka tetap menolak karena gak enak dengan orang tua Tasya gimana, mereka kan berteman, Yang."


"Nyatailah itu, gue tau kedua orang tua gimana, bagi mereka harta dan nama baik itu penting, teman mah lewat. Sayang kan punya banyak harta, nama keluarga juga udah diketaui oleh kalangan pembisnis. Mudah lah membujuk mereka, namanya juga kan anak kesayangan. Apapun omongan gue pasti mereka dengar." Ujarnya membangga kan diri.


"Iya, Yang. Lo itu perfect sebagai wanita, bisa membuat gue puas. Gak kayak Tasya, hanya bisa sebatas ciuman. Yang lainnya harus nikah dulu, emannya kita masih Abg, hanya sebatas pegangan doank," Ujarnya geram.


"Kan ada gue, kalau si bit** itu gak bisa memuaskan lo." Mengelus dada Roy. "Sok suci pula tunangan lo itu, Yang. Padahal murahan banget, mau aja dia dijual oleh keluarganya, haha." Sambungnya menghina. "Cantikan mana gue sama tunangan lo itu, Yang." 


"Cantikan lo, Sayang."


"Seksian mana ama dia." Rengeknya manja


"Tentu sayang gue lah." Pujinya mesra.


"Makin cinta deh ama sayang," gumamnya manja dan mencium bibir Roy dengan bernafsu.


Klick