Golden Bride

Golden Bride
Moza Butik Muslim



Tak terasa hari telah berganti menjadi sebulan sudah, Tiara istirahat total di rumah, rangkaian pengobatan dilakukan sehingga membuat kondisi tubuhnya menjadi sehat seperti semula, walaupun kadang merasa bosan, menghadapi situasinya sekarang yang berubah 180 derajat. Biasanya dulu waktunya dihabiskan dengan bekerja, tapi setelah menikah, keluarganya memaksanya untuk berdiam diri saja di rumah tanpa melakukan apa-apa. Serasa menjadi putri raja saja, tapi ia tahu, mereka melakukan itu karena khawatir dengan kondisinya yang belum sembuh.


Beberapa hari lalu Alvin menghubunginya karena ingin menyapaikan kalau Bella mau bertemu dengannya. Tapi dilarang keras oleh body guard yang menjaga rumahnya, dan diusir karena Bella memaksa masuk untuk menemuinya. Ia tak tahu maksud Bella menemuinya, apakah itu murni dengan niat baik atau ada niat jahat terselubung di dalamnya.


Hari ini ia tak biasanya suaminya mengizinkannya untuk keluar menemani Tasya ke Moza butik muslim. Merasa heran, buat apa sahabatnya itu mengajaknya kemari. 


"Ngapain kita kemari, Sya?" menatap heran yang mengajaknya ke butik sepupunya yang seorang desiner terkenal, yang karyanya banyak diminati oleh pencinta fashion dari manca negara daripada negara sendiri. Tak kalah terkenal dari designer ternama Anne Avantie dan Dian Pelangi.


"Kita pesan gaun lah, masa makan, Ra," candanya santai.


"Ck," decaknya kesal.


"Halo, Sya. Apa kabar lo?" sapa seorang wanita datang menyambut Tasya, dengan cipika-cipika dan pelukan hangat


"Halo, Mba." Sahutnya dengan membalas pelukan. "Sibuk gak?"


"Sibuk sih," ujarnya menyengir. "Tapi demi lo, apa sih gak bisa Mba berikan." Sambungnya dengan bergurau.


"Lebay lo Mba," geleng-geleng kepala geli melihatnya. "Gaun yang gue pesan udah jadi, mba?"


"Oh, beres cinta, tinggal fitting aja," sahutnya santai. "Ini pasti Tiara kan," menoleh pada sahabat sepupunya yang menjadi pendengar mereka ngobrol.


"Iya, Mba," Tiara tersenyum ramah.


"Wah, ternyata lebih cantik dari fotonya yah," pujinya tulus.


"Eh!" seru Tiara terkejut.


"Udah, gak usah ditanggapi, emang Mba gue satu ini suka gitu orangnya," ujar Tasya, mengalihkan pikiran Tiara yang penasaran akan maksud Mba Icha. "Ayo, Mba. Mau melihat baju pesanan kami." ajak Tasya semangat.


"Ok, ayo." Ajaknya, lalu berjalan menuju ruang kerjanya.


Tiara dan Tasya mengikuti dari belakang, mereka berjalan menuju lantai 2. Masuk ke ruangan yang sangat besar, terdapat beberapa model gaun yang sepertinya baru selesai dibuat.


"Mau punya siapa dulu?" menatap Tasya dan Tiara bergantian.


"Tiara aja dulu, Mba," tunjuknya cepat.


"Tunggu yah," ucapnya lalu pergi mengambil baju Tiara


"Eh, kok gue, Sya," bisiknya heran.


"Udah, gak usah protes," gerutunya kesal.


"Wajar nanya, Sya. Lo kayak ada yang disembunyikan dari gue," menatap Tasya curiga.


"Kagak ada, curiga aja kerjaan lo," elaknya santai.


Tiara Ingin menimpali tapi Mba Icha datang membawa sebuah gaun gamis berwarna pastel pink dengan potongan A- line dengan detail berwarna gold, semakin terlihat indah, menjuntai lembut menyentuh lantai. Ditambah Layer selendang yg menyatu di bahu, juga ditambah dengan variasi crystal pada bagian depan. Bahan selendang juga menggunakan banyak brokat glitter dan banyak bordir 3D platinum berpayet cantik telihat berkilau dan meninggalkan kesan glamor. Dengan Jilbab dan selendang warna senada simple tapi elegan, terlihat murah tapi mahal, dan bisa dipastikan gaun ini bahan-bahannya bukan murahan.


Tiara bertanya-tanya dalam hati, ada acara apa, Tasya memesan gaun semahal ini. "Untuk siapa gaun ini, sya?"


"Untuk lo lah, masa gue," jawabnya santai.


"Eh, buat apa?" melongo heran.


"Gini yah, Ra. Malam ini lo temani gue ke acara nikahan mantannya Bang Bram," jawabnya santai, dalam hati meminta maaf sama Abangnya itu karena telah menggunakan namanya sebagai alasan.


"Lah kok gue diajak sih?" menatap curiga pada Tasya.


"Biar ada yang nemani, takutnya di sana ketemu bajingan itu, bisa buat gue senewen dan lepas kendali, nanti hancur deh acara nikahan orang," ujarnya serius. "Lo tau kan, dia gencar banget mau ngomong berdua, apalagi ada Abang Bram, habis tuh buaya diulek-ulek oleh Abang gue," sambungnya lebay. "Kalau lo ikut, kan bisa bantu mengalihkan perhatian Abang, dan membawa pria brengsek itu keluar," menatap Tiara serius. "Mau yah, Ra."


"Iya tapi lo tau sendiri Wyatt sekarang posesif banget, takutnya gak dizinkan olehnya," jawabnya ragu.


"Kalau soal itu tenang aja, gue udah ngomong kok ama dia, dan setuju. Kan body guard lo ngejaga dari belakang, nanti dia yang akan menjemput lo pulang," jawabnya tegas dan jujur.


"Gimana yah," ujarnya masih ragu.


"Beres, serahkan semuanya pada Mba," jawabnya tersenyum percaya diri. "Ayo, Ra." Ajaknya, ketika melihat Tiara yang menatap mereka curiga.


"Ngapain lo bengong aja, time is money. Buruan sana," ujarnya tegas.


Tiara menghela napas kesal, lalu mengikuti Mba Icha.


Dua jam kemudian Tiara sudah dipermak habis, dibuat secantik mungkin agar orang-orang yang melihatnya menjadi pangling.


"Tara, pemeran utama kita udah datang," seru Mba Icha bertepuk tangan gembira, melihat hasil karyanya yang sukses digunakan oleh Tiara, bahkan membuatnya sangat cantik, seperti bukan Tiara biasanya.


"Siapa lo?" ujarnya pura-pura bertanya tal kenal. "Kembalikan teman gue."


"Ck, lebay," gerutu Tiara malu, lalu menatap gaun Tasya yang memiliki warna senada dengannya tapi dengan bentuk berbeda. "Lo juga terlihat berbeda dan sangat cantik memakai gaun itu, Sya." Pujinya tulus.


"Hoho, tentulah. Orang cantik mah gitu, makin terlihat cantik jadinya," ujarnya sombong. "Akw!" sambungnya kesakitan karena lengannya dipukul Tiara. "Haha."


"Biasa aja lagi, Sya. Lebay banget sih," gerutu Tiara geram. "Apa gak apa-apa kita berdandan wah kayak gini, nanti orang-orang pada bingung ngelihat kita lebih cantik dari pengantinnya. Mereka akan bertanya-tanya, mana sang pengantin, mana sebagai tamu."


"Tenang aja, yang penting kita bersenang-senang," ujarnya menenangkan. "Mumpung suami posesif lo kagak ikut," bisiknya pelan.


"Ck, lo benar, Sya. Haha" decaknya tertawa.


"Hehe," lalu menoleh pada Mba Icha. "Mba,gak apa-apa dianya didandani kayak gitu, nanti suami posesivenya marah lagi," bisiknya sambil menatap Tiara yang sedang menatap pantulan dirinya di kaca.


"Tenang aja, itu permintaan Bundanya, kalau Suaminya marah, bilang aja disuruh mertuanya, Mba yakin dia gak akan berani membantah permintaan mertuanya," jawabnya berbisik yakin.


"Syukurlah kalau gitu, Mba ikut kan?" tanyanya serius. "Habisnya suaminya kalau marah serem banget," bisiknya dengan bergidik ngeri.


"Kenapa kalian berbisik-bisik?" tanyanya curiga.


"Gak ada kok, Ra. Mba Icha tadi hanya curhat sedikit tentang tunangannya," elak Tasya dan bersikap santai ketika dipelototin oleh sepupunya itu, dan memberikan senyuman minta maaf. "Mba ikut juga kan?" lanjutnya bertanya mengalihkan omongan.


"Iya, tentulah. Sayang kalau dilewatkan, siapa tau dari sana, rizki Mba lancar dan mendapat orderan yang banyak," jawabnya dengan semangat. "Kalian tunggu sebentar yah," yang dijawab dengan anggukan kepala oleh mereka.


"Sya, kok gue ngerasa gak nyaman dengan dandanan seperti ini," bisiknya sambil menatap pantulan dirinya yang terlihat wah dan berkelas.


"Mungkin karena lo sehari-hari berdandannya untuk bekerja, bukan pesta mewah seperti ini," ujar Tasya menenangkan. "Tenang aja, gak usah cemas gitu, semuanya pasti berjalan lancar kok," sambungnya penuh teka-teki.


Tiara menatapnya curiga dengan ucapan Tasya, ingin bertanya apa maksudnya, tapi disela oleh Mba Icha.


"Ayo, kita berangkat. Gak baik buat orang-orang pada menunggu kedatangan kita," ujar Icha ambigu.


Tiara menatap mereka bergantian dan ingin menimpali, tapi lagi-lagi disela.


"Udah lah, gak usah dipikirkan, nikmati aja kesenangan kita tanpa ada pawang lo yang menjaga," ujar Tasya santai dan bergurau.


"Cakep."


"Haha." Tasya tertawa senang. "Ayo kita berangkat, mobil jemputan kita udah nunggu di depan," sambungnya mengajak mereka dengan bersemangat.


👋Hai.. Hai..Met pagi Readers👋


🤗Senang bisa update lagi subuh-subuh gini,


hehe😁


😇Tinggali jejak 👉like👉rare👉vote 👉kritik👉


komen👉saran yah😉


😇Makasih bagi yang masih setia baca cerita ini


🙇


🤗See you on next 👉chapter🤗