
Bella menatap keluarganya, keluarga Roy yang menatap marah padanya. Lalu menatap para undangan yang menatapnya jijik dan merendahkannya. Dia mengepalkan tangan, tak terima dipermalukan seeperti ini. Akan dia balas apa yang dilakukan Tasya ini padanya, dendamnya dalam hati. Kalau dia membalas omongan simulut ember Bram, dia yakin dirinya akan malah dihina terus.
“Maaf, para undangan sekalian. Saya mewakili adik saya, Tasya, menyampaikan kalau drama nya sudah selesai, acara pertungannya ini dibatalkan dan dibubarkan.” Seru Bram sopan. “Maaf bukan maksud kami mengusir, jika kalian mau pulang silakan tapi mohon menikmati hidangan yang telah kami sediakan terlebih dahulu. Dan kami mohon maaf atas pertunjukan yang memalukan barusan, kami harap apa yang telah anda semua lihat, tidak disebar luaskan maupun dikomsumsi publik.” Sambungnya tulus sambil menunjukan meja-meja yang berisi berbagai macam makanan yang telah disediakan. Ia memerintah beberapa anak buahnya dan angota WO lainnya, untuk mengatur para undangan, ada yang langsung pulang, sebagian yang menikmati hidangan, sambil sesekali mereka masih memperhatikan obrolan keluarganya.
Sedangkan baik dari keluarga Roy dan Bella, hanya bisa menahan malu atas apa yang telah dilakukan oleh kedua anak kesayangan mereka.
“Apa-apaan ini, Bram.” Protes Om nya. Setelah Bram membubarkan para undangan. Beruntung dia tak mengundang kolega bisnis, mau taruh dimana wajahnya, kalau harus dijadikan bahan ejekan mereka. Dia sangat marah atas apa yang dilakukan anaknya, Tasya.
“Lah kenapa Om, acara ini memang harus dibatalkan. Emangnya Om masih mau nerima Roy sebagai calon mantu Om, gua rasa Tasya juga akan menolak.” Ujarnya datar dan nyantai, tanpa menggrubis tatapan marah dari Om nya.
“Urus anakmu ini, dia terlalu ikut campur dalam masalah keluargaku.” Seru Daddy Tasya marah pada Rama, Kakaknya.
“Dia sudah besar, Mad. Gak perlu orang tuanya lagi untuk mengatur hidupnya.” Sahut Rama datar sambil menyindir adiknya. “Lebih baik kita selesaikan masalah ini dengan baik-baik di dalam, tanpa dilihat oleh orang-orang.” Ajaknya menatap kedua keluarga Roy dan Bella. Berjalan memeasuki rumah, dan menatap mereka untuk mengikutinya. Semua keluarga besar Tasya, Roy dan Bella, dengan terpaksa mengikuti Rama, berjalan masuk ke ruang keluarga Tassya.
“Sya, Gue pulang dulu yah.” Seru Keysa, saat Tasya akan berjalan mengikuti yang lain.
“Iya, maaf yah Key. Kalau lo harus melihat hal memalukan begini.” Sahut Tasya meyesal.
“Kenapa lo harus malu, seharusnya mereka berdua itu yang malu. Gue yang melihatnya aja marah, apalagi lo yang mengalaminya.” Ujarnya geram. “Emang Si Iyem aja tuh yang gatal, dari jaman pager sampai handphone, gak berubah kelakuannya. Semakin busuk aja hatinya, rasanya mau masukan ke emang, biar dia bisa biang sial." meremas tangannya dengan geram, melihat kelakukan Bella. "Yang sabar, yah Sya. Gue yakin lo akan mendapat pengganti yang lebih baik dari bajingan itu.” Menggenggam tangan Tasya, sambil menyemangatinya.
“Amin, makasih udah datang yah, Key.” Sahutnya tersenyum.
Keysa mengangguk dan tersenyum lembut pada Tasya. “Nanti kita atur lagi yah, buat ketemuan.” Serunya pada Tasya dan Tiara, yang dari acara berlangsung, selalu di sampingnya.
“Oke, bisa diatur.” Sahut Tiara tersenyum.
“Gue pulang dulu yah, kalau lo mau cerita, gue siap 24 jam mendengarnya, Sya.” Ujarnya tulus.
“Iya, makasih banyak supportnya, Key.” Sahutnya tulus.
“Oke." Menepuk-nepuk tangan Tasya dan memeluknya. “Sabar yah, Sya.”
“Tentu,” balas Tasya sambil memeluknya.
“Ra, jangan lupa ngundang gue kalau lo nikah,” pintanya tegas sambil memeluk Tiara.
“Pasti donk,” sahutnya sambil membalas pelukan Keysa. “Lo gak makan dulu, Key.”
“Gak deh, diet gue, hahaha.” Candanya yang mendapat cebikan dari mereka. “Gue pulang dulu yah."
“Hati-hati yah, Key.” Seru Keysa tulus.
“Siap, Bos.” Candanya lalu meninggalkan mereka.
“Ayo, Sya. Kita masuk, nanti mereka menunggu lama.” Ajak Tiara.
“Bunda dan Ayah, udah pulang yah, Ra.” tanyanya heran, karena setelah acaranya dibubarkan, ia tak melihat mereka.
“Iya, tadi mereka WA gue, izin pulang dulu tanpa pamit. Gak enak, sama keluarga lo.” Ujar Tiara.
“Wyatt.”
“Oh, dianter calon mantu," tersenyum melihat delikkan geram Tiara. "Lalu dia akan ke sini lagi, gak?”
“Kurang tau gue, katanya nanti dia WA lagi.” Sahutnya cuek. “Udah yuk, kita masuk.” Ajaknya sambil mengamit tangan Tasya.
******
Tiara sedang memeluk Tasya yang sedang menangis, karena batalnya pertunangannya semalam membuat keluarganya marah besar dan mengusirnya dri rumah. Mereka marah, Tasya telah mempermalukan nama baik mereka. Sekarang ia menemani Tasya di apart yang dibelinya dengan uangnya sendiri. Ia tahu kalau memang dari dulu, Tasya ingin pindah ke apartnya sendiri, tapi hatinya masih berharap orang tuanya akan memberikan sedikit kasih sayang padanya tapi harapannya itu hanya sia-sia.
“Udah, Sya. Nangis mulu, jadi jelek wajah lo,” ucapnya lebut sambil bercanda. “Lo udah janji, gak akan nangis gara-gara sibajingan itu, cukup air mata lo terbuang percuma. Dia nyesal kagak, lo depresi iya, rugi banget, Sya.” Ingatnya geram sambil memeluk Tasya. Ia merasa sedih dengan sikap kedua orang tua Tasya padanya semalam, bukannya membela anaknya tapi malah menyalahkannya. Mengingatnya itu membuatnya geram, keadaan semalam benar-benar chaos sekali. Yang bisa dilakukannya memeluk Tasya dan memberi kekuatan padanya. Bentakan dan saling menyalahkan, membuatnya muak. Kalau bukan menghormati keluarga Tasya, sudah dikeluarkannya uneg-uneg yang disimpannya selama ini. Menggeleng kepala, membuang ingatan semalam, membuat hatinya menjadi panas kembali.
“Ra, jadi Monic dan Jasmin kemari?” Tanyanya serak, memang sengaja ia tak meminta kedua temannya itu datang semalam, karena percuma saja, pasti batal juga. Lagipulan mereka juga masih diluar negeri, ada kerjaan dari perusahaan.
“Iya, kenapa?”
“WA mereka aja, suruh gak usah kemari.”
“Emang kenapa lo gak mau mereka datang?” menatap Tasya heran.
“Gue mau liburan, gimana kalau kita liburan bareng. Refresing, ganti suasana. Biar pas pulang dari liburan, gue bisa menghadapi sikap keluarga besar yang memojokan gue. Muak dengan mereka hanya bisa menyalahkan tanpa memikirkan sebenarnya yang terjadi dan perasan gue.” Gumamnya geram. Mengingat ada sebagian dari anggota keluarga besarnya, yang memang tak menyukainya. Sehingga dengan kejadian semalam, menjadi kesempatan mereka untuk unjuk gigi, menyudutkanya dan menjilat kedua orang tuanya.
“Emang lo mau ke mana?”
“Gak tau, yang pasti jauh dari Indonesia.” Menggeleng lirih. “Lo bisa kan ikut gue liburan?”
“Hmm, gue harus kerja, Sya.” Ujarnya ragu.
“Lo tenang aja, nanti gue izin sama Bang Bram, dia pasti ngizinin.” Menatap Tiara memohon.
“Kenapa gak ditemani Bang Bram, Sya. Lo tau, dia yang paling terluka dan marah, melihat lo sakit seperti ini.” Menatap Tasya yang sedih, mengingat reaksi Bang Bram yang mengamuk semalam.
“Gak mau, secewean aja kita, Ra.” menggenggam tangan Tiaraa. “Mau yah.” Menatap Tiara memohon.
“Oke.” Tiara menghela napas. “Tapi mau ke mana dan kapan?” sambungnya ingin tahu
Ting Tong
🤗Hai sobat2 reader. Ketemu gw lagi🤗
maaf baru update, mungkin gw jrg update dikarenakan kesibukan kerja. 🙏😇
😇Thank so much, yg msh bersedia membaca crita gw. 🙏
🤗Kl suka, jgn lupa like, vote, comen nya yah😍🤗🙏