
Someone POV
Tok.. Tok..
"Masuk," seru seseorang pada anak buahnya yang sedang berdiri di depannya. "Ada berita apa?"
"Kami sudah mendapat info tentang wanita itu."
"Bagus," ujarnya puas.
"Apa yang harus kami lakukan?"
"Celakai wanita itu, jangan sampai mereka bersatu." Perintah Bosnya dingin. "Lakukan dengan rapi dan jangan sampai dicurigai."
"Kalau gagal bagaimana, Boss?"
"Bunuh wanita itu, dia bisa merusak semua rencana yang telah kita susun." Perintahnya lagi dengan menyeringai kejam.
"Baik, Boss."
"Jangan sampai dia mencurigai kita, kalau sampai itu terjadi, siap-siap kepalamu," menatap bawahannya yang ketakutan. Ia memberikan tanda seperti orang menembak. "Dorr."
"Baik, Boss." ujarnya terbata. Lalu berjalan keluar, setelah melihat tanda menyuruh keluar oleh bossnya
******
Tiara berjalan disebuah lorong yang panjang, seperti yang pernah dilihatnya difilm kolosan, tentang kerajaan. Dimana dirinya berada sekarang, bukannya tadi dia tidur, terus kenapa lagi-lagi harus dalam mimpi seperti ini, pikirnya bingung. Menaiki tangga, mencari jalan keluar dan sedang dimana dirinya sekarang.
Mendengar orang berteriak dan memohon. Ia berlari, mencari suara itu. Melihat Hevva dan Demir yang tangannya dipegang oleh kedua pengawal. Melihat 2 orang paru baya, yang satunya Ayah mertuanya Caira, satu lagi, sepertinya tak asing wajahnya.
“Alv, apa–apa ini” Tanya Levent, marah pada Alv yang berdiri dihadapan anaknya. Melihat anaknya, Demir, diikat dan ditahan oleh para pengawal Alv, besannya. “Kenapa ada wanita ular ini?” menatap dingin Hevva yang ketakutan.
“Coba tanyakan pada anakmu yang tersayang, apa yang telah dilakukan mereka terhadap, putriku tercinta.” Sahutnya dingin dan marah,
“Demir, katakan pada Abi, apa yang terjadi ini,” menatap anaknya tajam, yang masih bersikap datar. “Kenapa kamu diam saja.”
“Tentu saja dia diam, mana berani dia mengaku telah merencanakan membunuh istrinya sendiri.” Cibirnya dingin.
“Apa?!” serunya tak percaya.
“Tak mungkin,” bantah Levent, menoleh Demir. “Katakan itu tidak benar, Nak.” Pintanya.
“Percayalah apa yang Ayah percaya,” ujarnya datar dan cuek.
“Anak kurang ajar,” desisnya marah.
Alv berjalan mendekati Levent, lalu berdiri di sebelahnya. “Ini anak yang kamu banggakan, sengaja membunuh istrinya sendiri agar, bisa menikah dengan simpanannya.” Ujarnya dingin.
“Padahal anakku belum 40 hari meninggal, tapi mereka,” menujuk marah pada Demir dan Hevva. "Berbahagia atas kematian putriku tercinta.” Sambungnya lirih.
“Alv, tenang lah.” Seru levent cepat. “Mungkin ini salah paham, sejahat-jahatnya putraku, tak mungkin dia membunuh istrinya, yang telah memberikan tiga anak untuknya.” Levent masih berusaha berpikir positif dan menenangkan Alv.
“Apa yang gak mungkin, dia tak mencintai istrinya. Sangat mudah untuk membunuhnya,” tuduhnya sinis.
”Kamu terlalu bodoh, percaya begitu saja omongan anakmu itu.” Cibirnya menghina. “Kalau kamu tau yang sebenanrnnya, kamu pasti akal mati berdiri mendengarnya.”
“Coba ceritakan apa yang terjadi,”pintanya ingin tahu.
“Baiklah,” sahutnya, menatap pengawal kepercayaannya. "Bawa Ottmar dan Abraham kemari."
"Baik, Tuan." Memberi hormat lalu berjalan keluar. Tak lama kemudian, pengawal itu membawa kedua anak yang diminta Tuannya.
"Ottmar, Abraham. Kemari, jangan takut." Ujar Levent lembut, memeluk mereka, mengelus pundak mereka dengan sayang.
"Kakek, kenapa tangan Abi diikat?" Tanya Abraham polos dan ingin tau.
"Abimu nakal, jadi Kakek hanya memberi hukuman untuk Abimu." Membawa kedua cucunya untuk duduk dengannya.
"Abi salah apa, Kek?" tanya Abraham lagi.
"Abimu membuat Ummimu menangis, jadi Kakek hukum."
"Alv," seru Levent memperingatkan tak suka.
"Ummi," ujar Abraham polos, lalu seakan diingatkan kejadian mengerikan, ia menangis. "Hiks, Ummi. Hiks, Ummi."
"Sekarang Aham ceritakan pada Kakek Levent apa yang terjadi dengan Ummi, sehingga Aham menangis." Bujuk Alv pada cucunya, sambil.memeluknya. Ia menatap Ottmar, yang menunduk dan meremas kedua tangannya dengan ketakutan. "Ottmar, tenang. Tak akan ada yang menyakiti kalian, selama ada Kakek." Sambungnya lembut dan tajam. "Ayo, Ottmar. Biar Kakek Levent tau yang sebenarnta."
Levent mendekati Ottmar tang tetap diam, ada rasa sedih, ketakutan, marah yang ditujukan kepada Ayahnya. Semua itu diamati oleh Levent, ada perasaan takut, kalau yang dikatan Alv ada benarnya. Ia menatap Abraham. "Kenapa Aham menangis?"
"Aham takut, Hiks," terisak menyedihkan. "Aham melihat Ummi berdarah, banyak sekali. Hiks," memegang tangan kakeknya. "Aham mau nolong Ibu, tapi dilarang Kak Ottmar, Hiks." Memegang tangan Kakeknya Erat. "Ummi minta tolong, tapu tidak ada yang mau menolong Ummi, Kek. Aham tidak bisa nolong Ummi, Hiks."
Deg, jantung Levent berdetak dengan cepat. Rasanya tak sanggung melanjutkan, ia tahu pristiwa itu akan meninggalkan trauma yang sangat mendalam dan membekas pada kedua cucunya. "Ada siapa saat Ibu berdarah, Ham." Sambungnya hati-hati.
"Ada Abi sama Ammah itu," menunjukan Hevva yang terlihat menyedihkan. "Mereka jahat, tidak menolong Ummi Aham. Abi Jahat, diam saja ketika Ummi berdarah, Hiks. Uwaaa..." Abraham menangis dengan kencang.
"Sudah, Sayang." Kakek Alv memeluknya lembut. Hatinya sedih mendengar tangisan menyayat dari cucunya. Kedua cucunya, memang sangat pintar, diumur 3 tahun, sudah berbicara lancar dan mudah mengingat sesuatu. Ia bersyukur, kepintaran Ibunya turun pada kedua cucunya. "Ottmar, Kakek minta, kamu bisa ceritakan, apa yang kamu lihat pada Kakek Alv. Agar Kakekmu memberi hukuman bagi orang yang telah berbuat dosa."
"Tapi Abi.." serunya terbata, menatap Ayahnya dengan bingung.
"Tak usah pikirkan Abimu, kamu cerita kan saja yah, Cu. Urusan beliau, biar Kakek Levent yang mengatasinya." Bujuk Alv lembut.
"Kakek.." ujarnya ragu, meremas-remas tangannya.
Levent menggenggam tangan Cucunya, Ottmar. "Jangan takut, ada Kakek."
Ottmar menapa Ayahnya, yang menatapnya datar. Lalu menatap benci pada Hevve. Dengan terbata dan terisak, ia menceritakan apa yang ia lihat, tanpa ditambah maupun dikurangi adegannya. Setelah Ottmar bicara, Alv menyuruh kedua pengawalnya untuk membawa kedua cucunya pergi. Cukup kekerasan yang telah mereka lihat, ia tak mau kedua cucunya menyasikkan kekerasan pada Abinya
Bugh... Bugh
"Anak tak tau diri," bentaknya marah setelah memukul Demir, melihatnya terkulai pasrah dilantai. "Apa pernah aku mengajarimu untuk menyakiti wanita, apalagi membunuhnya." Menarik kerah baju anaknya. "Apa pernah kamu melihat Ummimu menangis, gara-gara disakiti oleh Abimu ini, pernah." sambungnya berteriak. Ia menjauhi anaknya, dan terduduk, menutupi matanya dengan kedua tangannya. "Ya Allah, ampunilah dosaku, yang telah gagal mendidik anakku sendiri, sehingga dia menjadi seorang pembunuh." Ujarnya lirih dan menatap sedih anaknya.
"Tega sekali, Mir. Membunuh Istrimu sendiri, apa kamu tak memikirkan anak-anakmu sama sekali. jiwanya akan selalu dihantui adegan ketika Umminya merenggang nyawa. Hatimu benar-benar telah dibutai oleh wanita culas itu." ujarnya lirih dan tersiksa. "Sia-sia, didikan agama yang telah kami ajarkan padamu, alangkah sedihnya Ummimu kalau mendengar anak kesayangannya telah tega membunuh istrinya sendiri." Menatap anaknya yang datar tapi matanya terlihat sedih dan menyesal.