
"Mana? mana?" ujarnya panik, berjalan masuk, mendekati lemari kaca dan mengamati wajahnya dengan serius.
"Haha," terbahak melihat reaksi Tasya. "Gue kan ngomong nanti, Sya. Bukan udah, gila lo segitu paniknya."
"Yee, penting itu loh," gumamnya serius. "Wajah kita ini, salah satu aset berharga buat menarik pria-pria borjus di luar sana."
"Iya deh, sebahagia lo aja, Sya." Ikut masuk, sambil menutup pintu teras kamarnya, lalu menguncinya.
"Ck, dibilangi kagak percaya," decaknya sebal.
"Sekarang ceritakan kronologis saat lo dipanggil Nek lampir ke ruangannya." Sambungnya dengan serius dan penasaran. Menepuk-nepuk kasur di sampingnya, menyuruhnya untuk duduk.
Tiara berjalan mendekati Tasya, lalu duduk di sampingnya. Mengambil napas panjang, lalu memceritakan semua kejadian saat ia menghadap atasannya.
Hening...
Sunyi...
Setelah keheningan yang terasa sunyi. "Gue akan ngomong sama Abang agar si Nek lampir jangan sewena-wena ngerjain lo, Ra." Kata Tasya kesal. "Kenapa suasananya kayak horor gini yah, kagak enak." sambungnya berdiri dan berjalan mendekati laktop Tiara yang tergeletak di atas meja kerjanya.
"Lo mau ngapain?"
"Kita ngobrol sambil nonton, biar kagak tegang. Rugilah, gara-gara Nek lampir satu itu, sampai membuat wajah kita keriput, saking kesal padanya." Mata Tasya geram dengan raut wajah cemberut, sambil memilih-milih mana yang mau ditonton. "Kalau gak salah, ada drakor yang udah lo download tapi belum kita tonton kan, Ra."
Tiara tertawa melihat Tasya, dan mengangguk. Kalau kebanyakan rekan kerjanya, memanggil atasannya Nyonya besar tapi kalau Tasya Nenek lampir. Ketika ditanya kenapa memanggilnya begitu. Jawabannya malah lucu, habis kalau marah-marah, wajahnya jelek kayak Nenek lampir. Yang mendengar itu, tertawa terbahak-bahak. Dia juga tak peduli kalau julukannya itu didengar oleh atasannya, yah mana peduli dia lah, yang punya perusahaannya ini pakde-nya, kakak dari Papanya.
Jadi saat ini mereka sedang duduk di ranjangnya sambil menonton drakor, mereka pencinta drakor tapi bukan penggilanya, hanya menonton saat ada waktu luang dan tak bekerja. Seperti sekarang, spontanitas mereka sepakat untuk meraton nonton drakor, karena besok libur, jadi tak masalah untuk begadang semalaman. Beruntung tubuh lelahnya Tiara sudah hilang, dengan bantuan mandi air hangat dan wedang jahe buatan Bundanya, membuat tubuhnya kembali segar.
"Gue salut lo masih bersabar atas sikap Nek lampur, kalau gue. Ugh, udah habisi tuh orang," ujarnya berapi-api sambil meremas-remasnya geram. "Nanti gue akan ngomong sama Bang Bram, biar dia gak sewena sama lo dan rekan kita lainnya."
"Gak perlu, Sya. Nanti semakin jadi tingkah Nyonya besar." Tolaknya tegas.
"Malah kalau kita diamkan, dia semakin melunjak, Tiara." Kata Tasya tegas. "Gak kasihan ama rekan-rekan kerja lo, kena imbasnya gara-gara dia gak suka sama lo," menatap Tiara bimbang. "Kalaupun gak memikirkan diri sendiri, lo harus memikirkan nasib rekan kerja kita lainnya," sambungnya lembut berusaha mempengaruhi kebimbangan Tiara.
"Tapi kalau Bu Murni sampai dipecat gara-gara gue, malah semakin merasa berdosa, Sya."
"Kagak mungkin sampai dipecat, paling cuma diselidiki dulu, kalau dia memang telah menyalahkan gunakan kekuasaannya, maka akan dikasih peringatan. Ada proses dulu lah, gak mungkin tiba-tiba langsung dipecat, secara kedudukannya sudah tinggi dan sudah lama juga bekerja di sana."
"Nanti deh gue pikir-pikir lagi," sahutnya bimbang
"Ngapain lo pake pikir-pikir lagi segala bambang," tolak Tasya kesal, yang langsung mendapat pelototan dari Tiara karena sembarangan memanggil namanya. "Kenapa mau marah," sambungnya protes. Yang dijawab gelengan kepala oleh Tiara, dan menyandarkan badannya ke kasur. "Lagian dia juga salah kok, seingat gue nominal yang lo tulis udah benar, 8 M, kalau harus diganti menjadi 5 M, perusahan akan rugi besar, dan lo yang akan menjadi tumbal atas Kesalahannya." Ikut menyandarkan badannya sambil menonton. " angga lo bisa melawan dia, walaupun dengan secara halus. Kalau gue, sewaktu dia ngebentak-bentak, malah bentak balik." menepuk-nepuk pundak Tiara dengan bangga.
"Sial lo."
"Language, Bu." Sindirnya cepat. "Ayah dengar, ****** lo diomelin semalaman."
"Upss, keceplosan," ujar cengengesan. "Gue lihat situasi ke depannya gimana, kalau dia gak berubah setelah lo kasih kuldum, baru bisa ngomong sama Bang Bram."
"Kuldum itu apaan?" Tanya Tiara bingung
"Kuliah dua menit, Non." jawabnya nyantai.
"Oh, kirain apa," mengehela napas. "Terserah aja, Sya. Gue ikut aja apa bagusnya nurut lo." Sambungnya pasrah.
"Nah, gitu donk dari tadi, kesal juga gue ngehadapi sikap keras kepala lo ini." Seru Tasya senang
"Ck," decaknya malas melihat senyum senang diwajah Tasya.
"Gue dengar tadi lo diomeli sama Ayah yah, Ra. Tapi ada benarnya juga apa yang dikatakannya." Cengar cengir minta maaf. " Heheh, maaf bukannya menguping pembicaran kalian tapi suara kalian terdengar sampai ke kamar."
"Ya, gak pa-pa." Sambil menatap drama yang ada dilaktopnya.
"Mereka khawatir ngelihat kondisi lo yang nantinya ngedrop, gara-gara kelelahan." Ia tahu kondisi fisik Tiara tak bisa terlalu lelah, Tiara sudah langgangan masuk rumah sakit karena kecapean. Akibat kerja lembur, dan sering mengabaikan makan, ditambah lagi bekerja di depan komputer terus, sehingga kepalanya sering pusing. Ia mempunyai riwayat penyakit magh dan anemia, kalau saja saat lembur, bisa menjaga kesehatannya. Otomatis dirinya tak akan mudah sakit, sampai harus dirawat segala.
"Gue tahu tapi mau gimana lagi, sudah kewajiban mengikuti perintah atasan." Sahutnya sambil mengedipkan bahunya.
"Seminggu ini, gue lihat-lihat dulu, apakah sikap Nek lampir masih sama atau sudah berubah. Tapi kalah kagak, masih saja cari-cari kesalahan bawahannya, terpaksa akan minta Abang untuk menegurnya supaya jangan kelewatan." Menatap Tiara yang mau protes. "Gue gak bodoh, Ra. Untuk melihat sikapnya ke lo, gak profesional lagi, ada unsur pribadi yang disengaja dilakukannya."
"Sok bijak segala deh lo." Sindirnya sambil tersenyum.
"Yee, dibilangin ini anak, malah ngeledek." Gerutu Tasya geram.
"Gue cuma gak mau nambah masalah aja, Sya. Selama bisa ngehadapinya, kenapa harus merepotkan orang lain."
"Jadi gue dan Abang orang lain." Seru Tasya meninggih karena tersinggung.
Tiara menggenggam tangan Tasya. "Bukan begitu, Sya. Kalian sudah seperti saudara bagi gue, cuma gak mau dibilang nepotisme, memanfaatkan sebuah hubungan untuk melancarkan pekerjaan. Gak ngomong aja, udah dituduh macam-macam olehnya, apalagi kalau Bang Bram memberi peringatan padanya. Itu sama aja membenarkan tuduhannya."
"Siapa yang berani bilang lo nepotisme. Gue bejek-bejek tuh orang." Sambil meremas-remas tangannya geram. "Ngapain lo mikiran pendapatnya, hanya karena dia yang gak suka sama lo di kantor. Gak usah terlalu memikirkan apa pendapat orang lain, apalagi pendapat Nek lampir itu, bisa stress lo nantinya."