
Someone POV
Dua orang pria sedang duduk berhadapan, dengan suasana dalam ruangan itu sangat tegang.
“Apa rencana anda selanjutnya, Richard? Kenapa wanita itu masih hidup?” Tanya seorang pria asing dengan dingin menggunakan bahasa inggris.
“Kami berusaha menembus sistem keamanan yang menjaga wanita itu tapi selalu gagal,” jawab Richard datar, menatap pria yang mengalir keturuan arab itu.
“Bukannya di negara ini, kalian yang terbaik tapi nyatanya sungguh mengecewakan,” cerca pria itu sinis.
“Ck, anda terlalu berani menghina saya, Tuan,” ujarnya datar dan tajam.
“Kenapa tersinggung,” ejek pria itu datar. “Saya butuh bukti nyata bukan hanya sebuah janji.” Sambungnya tegas.
“Baik, akan saya buktikan.” Jawab Richard tegas dan dingin.
“Bagus,” sindirnya datar, lalu berdiri. “Hasilnya harus terbukti hari ini, jika kalian gagal, kerja sama kita hanya sampai di sini.” Sambungnya tegas, dan berjalan keluar, berhenti sebentar tanpa menoleh. “Akan sangat memalukan, kalau pembunuh bayaran no 1 di negara ini, jika sampai gagal membunuh seorang wanita, hahaha.” Tertawa menghina, keluar menemui asistennya.
Richard menatap pria asing itu dengan dingin, mengepalkan tangannya, aura membunuh keluar dari tubuhnya. Ingin sekali membunuh pria itu tapi resikonya terlalu besar. Ia berjalan kembali ke kursinya, memikirkan rencana yang sudah tersusun dengan sempurna.
******
Keempat orang wanita sedang duduk santai sambil menatap para undangan yang hadir, dengan menggunakan warna gaun senada dengan bentuk berbeda sambil memegang minuman mereka masing-masing
“Apakah kamu bahagia dengan kejutan ini, Ra?” Tanya Tasya menatap Tiara yang berbinar bahagia atas resepsi pernikahannya, yang telah direncanakan Wyatt diam-diam tanpa diketahui oleh istrinya.
“Sangat,” jawabnya lirih dan bahagia. “Makasih yah kalian udah membantu membuat kejutan ini,” menatap terharu pada ketiga sahabatnya.
"Gak apa-apa kan, nemani kita, nanti suami lo marah lagi?" Tanya Tasya.
Tiara menggeleng kepala. "Tenang aja, udah ngomong kok," ia sudah menemani suaminya berbaur dengan keluarga besar mereka dan merasa tak enak membiarkan ketiga teman, walaupun tahu kalau mereka ikut berbaur juga dengan para tamu undangan, yang mayoritas dari kedua keluarganya dan suaminya. Bisa bernapas lega, saat diizinkan bergabung sejenak bersama teman-temannya.
Tiara sungguh tak menduga kalau gaun yang diminta Tasya untuk dipakainya, dengan alasan akan menemaninya ke acara pernikahan mantan Bang Bram, ternyata acara untuk repsepsi pernikahannya sendiri. Pernikahan impiannya akhirnya terwujud, dengan konsep garden party, sederhana, yang hanya dihadiri kedua keluarga besar mereka saja termasuk ketiga sahabatnya, berserta keluarganya.
Tiara awalnya heran ketika datang, melihat para paman dan bibi serta sepupunya yang tinggal berjauhan dengannya, ikut hadir di acara ini. Keluarga besar suaminya juga turut memeriahkan acaranya. Dan hari ini juga dirinya telah resmi menjadi istri Wyatt menurut agama dan negara.
Ia juga tak menduga akan bertemu semua kelurga besar suaminya, diperkenalkannya lah dirinya baik keluarga dari pihak Daddy mertuanya maupun Mommy mertuanya juga. Menurutnya bisa welcome padanya, walaupun instingnya ada beberapa yang berpura-pura menerimanya. Tapi tak memperdulikan semua itu, karena tak mungkin kan ia bisa menyenangkan hati semua orang untuk menerimanya.
“Kami juga awalnya kaget ketika suamimu menanyakan pernikahan impianmu, dan merencanakan semua ini,” ujar Monic.
“Dan benar-benar salut dia bisa merancang semua ini dalam waktu 2 minggu,” timpal Jasmin. “Gue bahagia lo dapat suami yang luar biasa.” Menatap sahabatnya dengan sayang dan menggenggam tangannya.
“Gue bisa lihat ada binar cinta di matanya untukmu, walaupun berusaha ditutupinya dengan sikap datar dan dinginnya itu,” timpal Tasya. “Kamu berhak bahagia, maka nya diberikan jodoh yang luar biasa,” menepuk tangan Tiara dengan sayang.
“Ya, gue tau,” jawabnya haru dan menggenggam kedua tangan sahabatnya itu.
Tiara menatap suaminya yang berbaur dengan keluarga besarnya, walaupun sikapnya datar tapi bisa bersikap ramah pada mereka. Ini sungguh momen yang tidak pernah tejadi, seluruh keluarga besar dari pihak Bunda dan Ayahnya bisa berkumpul dan melepas rindu.
“Ya ampun pengantin, bukannya menemani suaminya, malah sibuk ngerumpi di sini,” ucap seorang wanita yang mendatangi mereka.
“Bukan ngerumpi, ini lagi mau ambil minum,” elaknya tersenyum. “Sehat Mba, kayaknya tambah langsing aja,” memeluk Mba Siti dengan penuh rindu. Ia sudah 3 tahun tak bertemu sejak acara akikahan anaknya yang kedua.
“Alhamdulilah sehat, Ra. Nyindirnya biasa aja kali, haha,” membalas pelukkan Tiara dengan sayang. “Hebat kamu dapat bule arab, Say.” Pujinya tulus menatap sepupunya itu.
“Mba juga hebat dapat bule aussie,” timpalnya tulus.
“Haha, jodoh gak ada yang tau, Ra.” Jawabnya. “Mba juga gak nyangka akan dapat suami bule, serasa bermimpi aja,” sambungnya bercanda
“Mba benar,” mengangguk setuju omongan Mba Siti.
“Ayo ke sana, jangan berdiri di sini aja, temani suamimu,” ajaknya sambil menatap suami sepupunya itu sedang di kelilingi oleh para paman dan bibinya.
“Ya udah, jangan lama-lama, masa yang punya acara gak berada di samping suaminya, kan lucu, Ra.” Menepuk tangan Tiara dengan sayang, lalu berjalan meninggalkannya bersama para sahabatnya.
“Siapa, Ra?” Tanya Monic penasaran.
“Sepupu gue, Siti Balqis,” jawabnya santai. “Kalau kalian berminat buka usaha tas, reseller aja sama Mba Siti.”
“Emang dia tinggal di mana?” Tanya Jasmin tertarik.
“Di Batam, punya 2 toko jualan tas, baik yang branded ori maupun yang KW.”
“Boleh tuh buat dijadikan side job kita girls,” ajak Tasya semangat.
“Maksud lo, Sya?” Tanya Jasmin dan Monic heran.
“Bukannya kita dulu punya impian buat side job bersama, apapun itu. Gimana kita buka toko jualan tas baik yang branded ori maupun yang KW, mumpung udah dapat agen resellernya yang ternyata sepupunya Tiara,” usul Tasya semangat. “Lagipula Tiara kan dapat suami orang kaya, biar suaminya aja yang memodalinya,” sambungya bercanda. “Awk!” serunya kesakitan karena dipukul Tiara.
“Enak aja, malu tau,” gerutunya memprotes.
“Bercanda, Ra. Gitu aja sewot lo,” ujar Tasya. “Jadi gimana, setuju gak, mumpung Mba Sitinya ada di sini?” menatap ketiga sahabatnya.
“Boleh juga, lo atur aja, Sya. Kami ikut aja,” jawab Monic sambil menunggu persetujuan ketiga sahabatnya.
“Gue ngikut aja,” seru Jasmin. “Lo, Ra?”
“Oke tapi gue ngomong dulu sama suami.”
“Ck, yang punya suami lain sekarang yah,” cibir Tasya bercanda.
“Apaan sih, Sya.” Ujar Tiara malu.
"Aduh, Nak. Kenapa kalian pada di sini?" Tanya Bunda Tiara tiba-tiba mendatangi mereka.
"Cari angin sejenak, Bun. Hehe" Jawab Tasya cengengesan.
"Kamu juga, Nak. Masa pengantin berjauhan, ini kan acaramu," gerutu Bundanya. "Ayo temani suamimu sana, kalian juga, gak enak dilihat yang lain, kalau pada ngumpul di sini." Sambungnya tegas sambil menatap anak gadisnya itu satu persatu.
"Iya, Bund." Jawab mereka serempak
🙋🙋🙋
👋Hai.. Hai..Met sore Readers👋
🤗Senang bisa update lagi selama seminggu ini
ngilang,hehe. Maklum karena kesibukan yang
gak bisa ditinggal, jadi menunda update
terbaru🙇
😇Tinggali jejak 👉like👉rare👉vote 👉kritik👉
komen👉saran yah😉
😇Makasih bagi yang masih setia baca cerita ini
🙇
🤗See you on next 👉chapter🤗