Golden Bride

Golden Bride
Ponsel Baru



Setelah menghabiskan waktu dengan memanjakan diri dengan treatment eksklusif dan paket retret yang komprehensif, seperti scrub ‘boreh’ tradisional dengan ramuan lokal, dan perawatan cokelat selama dua jam yang mencakup scrub almond antioksidan, chocolate body wraps, dan pijat coklat.


Ketika ditanyakan kenapa mengambil ini, Tasya bilang kalau memberikan banyak manfaat bagi tubuh, mulai dari menurunkan berat badan hingga mengatasi stres. Apalagi kesibukan mereka berkerja, mengakibatkan stress karena pekerjaan, sangat cocok untuk mereka mengambil treatment ini.


Tiara kesal sendiri saat ia meminta Tasya, agar ia membayar sendiri tapi dia menolak, dengan alasan, telah mengajak Tiara, sehingga wajib bagi Tasya untuk membayarnya. Treatment ini sendiri hampir meghabiskan waktu 2 jam. Dan waktu menunjukan jam hampir jam 7. Beruntung saja salon langganan Tasya tak jauh dari kantor mereka, hanya butuh 15 menit, sehingga tak menghabiskan waktu di jalan. Sebelum mereka makan malam, mereka memutuskan untuk shalat magrib terlebih dahulu, di salon itu.


******


"Sya, lo mau pulang?" tanya Tiara, saat mereka sedang menyantap makanan mereka.


"Iya, kenapa Ra." Menatap Tiara penasaran.


"Gue mau cari ponsel baru dulu, kalau lo mau pulang, biar gue sendirian belinya."


"Emang ponsel lo kenapa, setau gue masih bagus deh," tanyanya heran.


"Gara-gara jatuh," menghela napas kesal.


"Jatuh dari mana, gak mungkin kan sampai hancur."


Tiara merengut, mengambil ponselnya dari tas, lalu menunjukannya pada Tasya. "Ini."


"Wuih... Lo apain sampai ponsel sampai batrenya lepas gini, gak berbentuk lagi." Ujarnya tercengang dan heren, memegang ponsel Tiara, dan menatapnya prihatin.


"Tadi gini, pas waktu makan siang tadi, ketika mau ke kantin, lewat tangga samping, dekat kantin. Karena terlalu asik menatap ponsel, sampai gak memperhatikan, kalau gue tersandung atau apalah, gak ngerti. Seperti ada yang nyengol atau tersandung kaki sendiri, otak gue blank dan shock, berpikir akan jatuh. Tapi ada orang yang nolong, sehingga ponsel gue aja yang bernasib tragis gini." Jelasnya dengan sedih, menunjukan ponselnya.


"Jangan-jangan, ini yang dimaksud Wyatt tadi," gumamnya, menatap Tiara curiga. "Wyatt kan orang yang nolong lo."


"Itu.." Jawabnya terbata.


"Gak usah bohong deh, lagian dia gak mungkin tau tentang musibah yang lo alami ini, kalau gak berada di dekat lo." Tuduhnya curiga.


Tiara menghela napas pasrah. "Gue juga terkejut ketika melihat siapa orang yang menolong. Bersyukur banget, gak sampai harus dirawat kalau sampai jatuh saat kejadian itu."


"Lo gak curiga, kenapa dia bisa tiba-tiba ada di sana." Ujar Tiara heran.


"Maksud lo, dia sengaja mencelakai gue, lalu tiba-tiba menjadi pahlawan gitu, hahah." Tertawa mendengar pikiran Tasya. " Drama banget pikiran lo, Sya." Menggeleng tak percaya. "Emang gue siapa sampai dia harus bertindak sampai gitu."


"Yah, siapa tau aja, tapi gak gitu juga sih" mengangkat bahu. "Lo gak pernah berpikir apa, kalau dia melakukan itu karena lo yang sudah menemukan kalung itu."


"Gak."


"Aish, kan lo sendiri bilang, kalau kalung itu yang telah menakdirkan kalian untuk bersatu," mencibir geram. "Masa lo yang bermimpi, gue yang ingat sih." Ia jadi berpikir, apakah keputusan Wyatt untuk bergabung dengan perusahannya, semua dilakukannya demi mendapatkan Tiara. Ia akan mengajukan 10 jempol, dengan kenekatan dan kegigihannya untuk mendekati Tiara. Ia tak berani berspekulasi sendiri, belum tentu yang dipikirkannya itu benar.


"Gak usah bahas itu deh, Ra. Bikin mood gue jelek aja" gerutunya kesal.


"Lah, emang takdir lo Wyatt kan, percuma ditolak, gak akan bisa." Ujar Tasya mengingatkan. "Coba lo pikir, apa gak aneh tiba-tiba ia berada di kantor kita dan menolong lo saat akan celaka." Ia berdecak kesal, melihat Tiara yang menggeleng kepala. "Ck, maka nya sensitif dikit lah jadi wanita, jangan hanya fokus sama 1 pria aja. Enak kalau pria itu, melakukan hal sama seperti kita, ini malah menganggap kita angin lalu." Sambungnya menyindir ketidakpekaan Tiara.


"Mungkin juga sih." Serunya berpikir. "Tapi gue gak mau berandai-andai, takut salah, ka malu gue jadinya." Bantahnya cepat. "Rasanya gak mungkin, dia aja bilang gue ceroboh, nyuruh hati-hati kalau jalan." Sambungnya kesal mengingat ucapan Wyatt tadi siang.


"Omongan dia benar juga," menganggung sependapat. "Tapi setau gue lo kan orangnya teliti, gak ceroboan. Kenapa tiba-tiba lo akan jatuh, kalau tanpa sebab," ujarnya heran dan berpikir. "Apa mungkin ada orang yang sengaja menyenggol lo, emang punya niat buat nyelakai." Sambungnya berspekulasi negatif.


Tiara menggeleng kepala. "Gak boleh nethink dulu, Ra. Siapa tau emang salah gue, yang terlalu sibuk dengan ponsel, tanpa memperhatikan jalan di depan." Bantahnya berpikir positif.


"Udah deh, gak usah ngomong itu lagi, masih ngeri dalam benak gue, kalau ingat kejadian tadi siang." Bergidik dan meringis mengingatnya. "Habiskan aja makanan kita ini, lalu temani gue cari ponsel."


"Emang lo mau merek ponsel apa?" tanyanya. "Iphone?"


"Gak, samsung aja. Iphone kemahalan, yang murah aja."


"Lah kan gaji lo cukup membeli ponsel merek Iphone."


"Gila lo, emang gaji gue harus dihabiskan beli ponsel aja. Bisa gigit jari kalau uang gaji habis, sedangkan gajian masih lama." Gerutunya kesal.


"Hehe, iya yah." terkekeh. "Ayo, kita cabut, tapi gue mau bayar bill makanan kita dulu." menatap Tiara yang mau protes. "Gak usah protes, gue yang ngajak lo, otomatis gue juga yang banyar." Sambungnya cepat lalu berdiri, membanyar bill pesanan mereka.


"Selalu gitu alasannya," gerutunya geram


******


Saat ini mereka berada di galeri ponsel terdekat, sedang mencari-cari ponsel yang diinginkan Tiara.


"Yang ini gimana, Ra." Tasya menunjukan Ponsel Samsung galaxy note 10 plus.


"Gak, kemahalan," tolaknya sambil berbisik menatap horor ponsel yang harganya hampir 20 juta.


"Kalau yang ini," Menunjukan samsung S 9.


"Gak," mengeryit dengan harga ponselnya lebih dari 10 jutaan.


"Emang lo mau yang harga berapa?" tanya Tasya bersabar.


"Gue lihat-lihat dulu." ucapnya sambil berjalan berkeliling melihat-lihat berbagai macam ponsel samsung.


Tiba-tiba ada Spg yang mendekatinya, sambil membawa ponsel Samsung Note 9, memanggilnya dan tersenyum padanya.


"Mba, galeri ponsel kami sedang ada promo hari ini, ponsel Samsung Note 9 ini, sedang ada promo, dari harga 14 juta menjadi 8 juta."


Tiara menatapnya tak percaya dan curiga, mendekati Tasya dan berbisik. "Lo percay apa yang Mba-Mba itu katakan."


"Gak."


"Masa promonya banting harga banget," bisiknya curiga.


"Gak mungkin kan," sambung Tasya sependapat.


"Iya," Tiara mengangguk kepala.


"Mba, bisa mendapat promo gede-gedean dengan menggunakan kartu kredit BCA," Jelas SPG itu sopan dan ramah. "Mba punya kartu kredit BCA kan,"


"Iya," jawabnya sambil masih menatapnya curiga.


"Buruan aja beli Mba, mumpung ada promo. Besok gak ada lagi lo," bujuk SPG tersenyum.