
Tiara merasa risih ditatap dalam dan menyelidik oleh suaminya.
"Akw!" serunya kesakitan, mendelik kesal pada suaminya sambil mengusap keningnya yang terkena sentilan.
"Gak usah pura-pura bego gitu deh, kamu nguping kan dari tadi," Wyatt menatap curiga. "Kenapa gak pakai jilbab?"
"Gak kok," sahutnya polos dan pura-pura tak tahu. "Maaf, kelupaan," sambungnya menyesal.
Wyatt berdecak kesal dannberjalan mengambil jilbab langsung, yang ditaruh di atas meja, lalu memasangkanya pada kepala istrinya. "Mau jujur atau kusentil lagi," ancamnya sembari bersiap menyetilnya lagi.
"Ish," gerutunya melotot pada suaminya sembari menutup keningnya dari sentilan Wyatt.
"Harusnya kamu tidur, bukannya menguping," sindir Wyatt datar.
"Gak ngantuk lagi," tolaknya merengut.
"Gak usah bandel deh, kamu harus tidur, bukannya sibuk menguping," perintahnya menyindir istrinya lagi.
"Gak usah cerewet deh, kepalaku pusing nih," gerutunya geram dengan menggunakan nada seperti Wyatt, sembari memegang kepalanya..
"Apa yang sakit," seru Wyatt cemas. "Maka nya kamu kan belum boleh banyak gerak, tapi percuma aja ngomong dengan kepala batumu ini, pasti gak nurut," sambungnya mengelus lembut kepala istrinya, masih dengan nada kuatirnya.
"Gak apa-apa, cuma pusing doank," elaknya cepat, menggenggam tangan Wyatt, menenangkannya.
"Kamu harus tidur lagi," ucapnya tegas. Lalu menatap Stuart yang menyengir. "Ngapain kamu di sini."
"Menarik," ucapnya santai dan penasaran.
"Apa?!" tanya Wyatt mendelik tajam dan cemburu.
"Gak usah cemburu gitu," timpalnya cepat. "Baru kali ini kulihat sisimu yang cerewet dan lembut kayak gini, Wyatt." Menatap Wyatt tercengang. "Unbelievable," sambungnya memuji.
"Lebay," cibirnya datar. "Sana, ganggu aja." Usirnya tajam, tapi Stuart tak menghindau perintahnya, masih berdiri di belakangnya. Lalu beralih ke body guardnya yang belum beranjak, masih menatapnya dengan ingin tahu. "Kenapa kalian masih di sini?"
"Tunggu!" perintah Tiara cepat. "Minggir suamiku sayang, aku mau lewat," ketika Wyatt yang berdiri di depannya.
"Mau ke mana?" Wyatt menatap istrinya datar.
"Mau bicara pada pria itu," tunjuknya pada Ghani.
"Ngapain, gak usah ikut campur, Ra," ucap Wyatt tajam memperingatkan.
Ia tidak menggrubis omongan Wyatt. "Bisa kita bicara berdua aja," menatap suaminya dengan tatapan memohon.
"Besok saja, Ra. Ini udah larut malam," tolaknya tegas. "Gak baik buat kesehatanmu."
"Sebentar doank kok," pintanya cepat. "Mau yah, yah, suamiku," rengeknya manja sambil meremas tangan suaminya. "Chagiya," mengedip-ngedip matanya dan memasang wajah imut.
"Chagiya?" menatap geli pada mereka. "Huft..." Stuart menahan ketawanya, melihat tingkah lucu Tiara. Ingin tertawa tapi nanti Tiara tersinggung, suami galaknya marah, kan ribet.
Wyatt langsung menatapnya tajam dan memperingatkan untuk tidak membuat istrinya bertambah malu. Benarkan dugaannya, suami galaknya mulai memunculkan taringnya.
Tiara melihat Stuart yang menahan ketawa, langsung malu dengan tingkahnya yang kayak anak kecil sedang merengek minta dibelikan permen pada orang tuanya. Wajahnya memerah karena malu, dan menutup mukanya dengan tangannya.
"Sana pergi!" perintahnya tegas dan dingin.
"Ck, posesif banget, Bro," cibir Stuartnya mengejeknya.
"Kayak kau tidak saja, gak usah maling teriak maling," sindir Wyatt. "Sana!."
"Oke,oke. Sabar Bro," cengir Stuart mengalah dan berlalu meninggalkan mereka.
"Bisa kita bicara," pintanya lagi dengan lembut dan tegas.
Wyatt menatap istrinya yang keras kepala ini, mengajuk pikirannya. Menghela napas pelan, bisa saja menolak permintaannya tapi ia tidak mau membuat kepala istrinya tambah pusing dan bisa memperlambat proses kesembuhannya nanti.
"Baiklah," jawabnya datar dan mengalah.
"Tapi aku mau Kakak janji dulu, mau ngabuli permintaanku ini," ujarnya hati-hati dengan pelan dan binar mata yang memohon.
"Gak usah minta yang macam-macam, Ra." Jawabnya datar memperingatkan.
"Gak kok, cuma semacam aja," candanya polos dengan mengerling kedua matanya manja. "Ampun, Chagiya," candanya merengek manja ketika suaminya ingin menyentil lagi keningnya.
"Ck," Wyatt berdecak sebal, istrinya ini mirip banget sama mertuanya, suka bergurau dan jahil. Menghela napas kasar, nambah lagi deh yang suka jahil dalam keluarganya. "Katakan."
"Nanti aja," jawabnya santai. "Tapi pertama-tama, aku mohon jangan bawa pria itu pergi dulu, sebelum kita selesai ngomong."
"Tiara," ucapnya memperingatkan dengan curiga.
"Please," rengeknya manja menatap suaminya lembut.
Tiara tahu kalau suaminya itu lagi marah, dilihat dari sikapnya yang langsung keluar tanpa ngomong padanya dulu. Tahu kalau suaminya mencoba bersabar dengan sikapnya yang banyak tingkah. Hatinya berdebar, membayangkan permintaanya nanti, pasti tak dengan mudah dituruti olehnya, bisa jadi langsung ditolak mentah-mentah.
"Kalian tunggu di sini, jangan ke mana," ucapnya tegas lalu masuk menemui istrinya. Berdecak kesal melihat istrinya masih diam ditempatnya. Lalu ia mendorong kursi roda itu dan mengangkat istrinya ke atas ranjangnya.
"Kak," ujar Tiara pelan.
"Ada apa?" duduk di hadapan istrinya dengan menatapnya datar.
"Hmm, aku.." ucapnya terbata, takut dengan dengan reaksi suaminy. Menyakinkan diri sendiri kalau ia harus membicarakan ini padanya. "Aku mendengar obrolan kalian tadi."
"Dasar menguping," desisnya datar. "Lalu," sambungnya malas.
"Apa benar dia yang telah membocorkan informasi tentangku pada pembunuh itu." Ucapnya ragu.
"Seperti yang kamu dengar, itulah jawabannya." Jawabnya datar.
"Aku tau, tindakannya itu gak bisa dibenarkan," ujarnya terbata sambil meremas tangannya yang bergetar.
"Terus," ucapnya cuek. "Ngomong langsung saja, kamu mau apa?" ucapnya dingin, melihat tangan istrinya yang gemetar. "Tenanglah, belum selesai ngomong, sudah takut duluan, payah." Sindirnya datar.
"Ck," decaknya malu, lalu mengambil napas. "Tadi aku dengar alasannya.." ucapannya terputus.
"Nguping," sela Wyatt cepat dan menyindirnya.
"Iya, ya. Menguping, puas," semburnya geram. "Ck, gak perlu diingat juga keles, kayak anak kecil aja," bisiknya pada diri sendiri tapi kedengaran juga oleh suaminya.
"Tiara," panggil suaminya mengingatkan.
"Sorry, hehe." ujarnya polos dan menyengir.
"Kita to the poin aja, kamu mau ngomong apa?"
"Kalau aku minta Kakak melakukan sesuatu, apa Kakak bersedia mengabulkannya." Menatap suaminya ingin tahu.
"Tergantung," jawabnya cuek.
"Ish," desisnya geram.
"Tiara."
"Iya," jawabnya cepat. Sedikit banyak ia tahu, kalau suaminya sudah memanggilnya dengan nada begitu, pasti hatinya sedang kesal. "Aku tau pria itu sangat bersalah telah mengkhianati kepercayaan Kakak tapi yang kudengar tadi dia punya alasan sendiri, yang sangat berharga melebihi dirinya sendiri."
"Terus," jawabnya cuek.
"Aku juga dengar, stop gak usah lebay deh, dengar sama nguping, artinya sama aja," ucapnya sebal ketika suaminya mau membenarkan ucapannya, yang mendengar menjadi menguping. Mendelik geram melihat suaminya menahan tawa, lalu mengubah menjadi datar seperti biasa. Sekali datar, tetap aja datar, pikirnya geram. "Aku dengar pria itu mau Kakak bunuh untuk penghianatannya, Kasihan Kak."
"Kenapa harus dikasihani," ucapnya dingin dan tajam sekaligus cemburu itu.
"Bukan kasihan padanya tapi pada keluarganya," jawabnya cspat, ketika melihat mata suaminya yang cemburu. "Coba banyangkan nasib anak dan istrinya kalau suami sekaligus seorang Ayah dbunuh demi mereka, bagaimana kehidupan mereka." Ucapnya pelan.
"Itu bukan urisan kita, Ra." Jawabnya tegas dan cuek.
"Itu urusanku, kalau berhubungan diriku," ucapnya tegas dan menatap suaminya marah.
Mereka saling tatap, berperang melalui tatapan mata, tak ada yang mau mengalah, sama-sama keras kepala.
Wyatt akhirnya mengalah dan menghela napas kesal. "Jadi maumu apa, gak usah berbelit-belit." Ucapnya dingin.
Tiara meremas tangannya ragu. "Aku," ucapnya terbata, lalu mengenggam kedua tangan suaminya. "Kumohon jangan bunuh dia." Sambungnya cepat, menatap suaminya lembut dan meremas tangannya.
"Apa?!" seru Wyatt, walaupun sedikit banyak tahu keinginan istrinya itu, padahal pikirnya, dia tak berani mengutarakannya.
👋Met Sore Readers👋
🤗Senang bisa update lagi sore ini, hehe☺
😇Makasih yang masih setia membaca cerita ini,
jangan bosen-bosen yah🙇
🤗Tinggalkan jejak komen👉kritik👉sarannya😉
😇Kalau suka, jangan lupa tinggalkan jejak👉👍
👉rare👉vote buat cerita ini☝😉
🤗See you on next 👉 chapter👋