
"Lo.." seru Tiara tercengang, kerena pria yang telah menolongnya itu, Wyatt. Ia mengerjapkan mata, lalu menggelengkan kepala, berharap yang dilihatnya sekarang hanyalah ilusi semata.
"Ck, gak tau terima kasih." Decak Wyatt datar atas apa yang dilakukan Tiara. "Kenapa matamu, kelilipat," ejeknya tersenyum sinis.
"Kenapa lo ada di sini?" tanyanya membentak heran.
"Kamu gak perlu tau," sahutnya datar. "Lain kali saat mau menuruni tangga, jangan sambil bermain ponsel, bahaya."
"Kamu gak ngikuti gue kan," tuduhnya tanpa menggrubis saran Wyatt.
"Kamu belum jatuh, tapi sepertinya otakmu sedikit bergeser," sindirnya sinis. "Tingkat kepercayaan dirimu patut diajukan jempol," tersenyum sinis. "Emang kamu siapa, harus gue ikuti."
"Itu.." Serunya terbata dan malu, menoleh ke bawah melihat ponselnya yang tergeletak. "Ish, harus beli ponsel baru ini."
"Seperti ponselmu itu, hancur. Kalau kamu jatuh dari ketinggian seperti ini," Wyatt meringis tak bisa membanyangkannya.
Tiara menatap ngeri, tak mau membanyangkannya. "Pertanyaan gue belum lo jawab, kenapa lo ada diperusahaan gue."
"Emang perusahaan ini punya keluarga lo?" ejeknya sarkas. "Siapun bebas berada di sini, kenapa kamu protes."
"Ya, itu..." Tiara menatapnya geram. "Bisa gak pertanyaan gue, gak usah dijawab dengan pertanyaan lagi, bikin kesal."
Wyatt hanya mengangkat bahu. "Lain kali, sebelum menuruni tangga hati-hati," sarannya tajam. "Jangan terlalu fokus pada ponsel, saat kamu berada ditempat yang rawan untuk celaka," sambungnya datar. "Jangan menganggap semuanya enteng, yang tak dianggap bisa membahayakan nyawa."
"Ish, lo ngomong apa sih." Gerutunya tak mengerti.
"Susah ngomong sama orang, yang otaknya cuma sesenti." Ejeknya dingin dan berlalu meninggalkannya.
"Hei!" serunya kesal. "Tunggu," pintanya lagi.
"Ada apa?" jawabnya datar tanpa menoleh.
"Makasih udah nolongi gue tadi," ucapnya tulus, dan geram melihat Wyatt yang hanya melambaikan tangan sebagai jawabannya. Lalu pergi bersama seorang pria yang, terlihat tak asing baginya, ia merasa pernah melihat pria itu, tapi dirinya lupa dimana.
Akh, udahlah, sekarang yang lebih penting, ia harus mengecek kondisi ponselnya itu, pikirnya geram. Menoleh ke kanan dan kiri, melihat apakah ada seseorang di sekitarnya, sepertinya kosong karena rekan-rekan kerjanya pasti sedang makan siang.
Ia menuruni tangga dengan hati-hati, masih ada sedikit takut dihatinya, dan masih tetap menoleh ke sana kemari, khawatir akan terjatuh lagi. Setelah sampai di bawah, ia mengambil ponselnya dan menghela napas geram melihat kondisinya yang hancur. Menoleh ke atas, dan berpikir, ternyata tangganya tinggi juga, gak bisa membayangkan kalau dirinya jatuh dari sana. Dalam benaknya, tak pernah sedikitpun berpikir, kalau kejadian tadi memang disengaja. Karena dirinya merasa, memang telah lalai untuk bersikap hati-hati.
Ia menaruh ponselnya itu ke dalam clutch nya, lalu berjalan menuju kantin, menatap jam tangannya, masih mempunyai waktu setengah jam lagi, untuk dirinya makan siang.
******
Setelah agak jauh, Wyatt menoleh dan menatap Tiara yang sedang menuruni tangga dengan hati-hati. Ia menoleh ke atas, melihat CCTV, yang tak jauh dari tangga, yang bisa merekam semua altivitas disekitarnya.
"Selidiki siapa wanita itu, dan motif apa." Perintahnya tegas dan dingin pada asistennya, Leon. "Berani sekali dia mencari masalah denganku." Menyeringai kejam.
"Baik." Leon menatap Wyatt, ia merasa kasihan juga dengan wanita yang dengan sengaja, menyenggol Tiara yang akan menuruni tangga.
"Apa ini ulah mereka," desisnya tajam.
"Kita langsung aja menemuinya, biar urusannya cepat selesai." Melangkah menjauh dan menuju Kantor Bram.
******
Jam sudah menunjukan waktu 4 lewat, ia mulai membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang.
"Ra," panggil Tasya, dari depan pintu masuk ke biliknya.
Tiara menoleh. "Ya,"
"Lo bawa motor?" tanya Tasya.
"Gak." Sahutnya sambil membereskan berkas-berkasnya.
"Pulang bareng ya, temui gue diparkiran." Pintanya.
Tiara mengerutkan keningnya. "Mau ke mana?" karena rencananya ia mau membeli ponsel baru.
"Ada aja, lo ngikut aja. Jangan banyak tanya, Ra." Kata Tasya memerintah, menatap Tiara yang mendengus tak suka, lalu melanjutkan kegiataannya. "Lo duluan aja, nanti gue nyusul, oke." melambai pada Tiara yang tak menggrubis omongannya.
Ia sudah duduk di sofa tunggu, yang berada tak jauh dari meja resepsionis, menggerutu Tasya yang lelet, karena sudah menunggu selama 15 menit, dia belum juga turun. Mau mengubunginya, poselnya rusak. Lalu ia memutuskan berjalan menuju parkiran dengan santai, biar dlditunggunya di sana saja, sesuai dengan perintah Tasya.
Tiara hampir mendekati parkiran, melihat Tasya bersadar pada mobilnya sambil cengar cengir polos padanya. Ia kesal, kenapa tak berpikir kalau dia pasti lewat pintu samping. Ketika ia mendekati Tasya, tiba-tiba ada mobil yang mau menabraknya. Ia terlalu fokus melihat depan, tanpa tahu ada yang berniat mencelakainya.
Sebelum kecelakaan itu terjadi, lagi-lagi ada yang menariknya ke dalam sebuah pelukan hangat, ia terkejut, menoleh pada mobil yang hampir menabraknya itu melewatinya begitu saja dengan cepat. Hatinya berdegup kencang, tubuhnya bergetar. Ia tak tahu siapa yang sudah menolongnya, pria itu menepuk-nepuk pundaknya lembut, sendari memeluknya. Mungkin pria itu bisa merasakan perasaan takutnya, sehingga menenangkannya.
"Gak pa-pa, kamu udah aman." Ucapnya tajam tapi penuh kelembutan. "Tenang, gak akan ada lagi yang akan mencelakaimu."
"Ra, lo gak pa-pa?" Tanya Tasya cemas dengan napas memburu, ketika melihat kejadian tadi. Hatinya ketakutan, tak bisa dibayangkan kalau mobil sialan itu berhasil menabraknya. Menarik Tiara dari pelukan pria yang pernah ditemuinya siang tadi, di kantor Bram. Yang diketahuinya, CEO yang merger dengan perusahaannya.
"Gue..." ucapnya terbata dan lirih.
Menatapnya dari atas sampai bawah, mencari tahu apa ada luka atau tidak ditubuhnya. Dirasanya Tiara baik-baik saja, ia menghela napas lega. "Syukurlah, lo gak pa-pa." Dirasanya memeluk tubuh Tiara yang masih bergetar lalu mengusap pundaknya untuk menenangkan. Melepas pelukkannya, lalu memegang pundaknya. "Sekarang tarik napas, buang." Pintanya yang diikuti oleh Tiara. "Sekali lagi, sampai lo tenang, Ra." Ia menoleh pada Wyatt. "Terima kasih, sudah menolong teman saya," Ucapnya tulus dengan formal.
Wyatt menoleh pada asistennya, yang datang membawa sebotol mineral. Mengambil minuman dari tangan Loen, membuka tutup botolnya lalu menyodorkannya ke Tiara. "Ini, minumalah dulu."
Tiara mengambilnya dengan tangan gemetar. "Makasih." Ujarnya tulus.
"Udah dibilangi, kamu harus hati-hati, masih aja ceroboh." Ucapnya tajam. "Harusnya kamu lihat kanan kiri dulu, baru menyebrang." sambungnya kesal dengan kelalaian Tiara
"Gak usah cerewet deh, pergi sana kalau mau marah-marah," perintahnya kesal, menatap Wyatt tajam.
"Hari ini, hari yang beruntung buatmu. Dalam sehari, udah dua kali hampir celaka." Sindirnya sinis. "Malang benar nasibmu, Tlternyata ada juga orang yang sangat membencimu, sehingga hampir membuatmu celaka."
"Benar itu, Ra. Kenapa lo gak cerita ama gue," ujarnya geram dan tersinggung, karena tak mengetahui perihal itu.