
“Hei, hentikan, psiko. Lo gak bisa bunuh orang seenaknya,” bentak Tiara mencoba menghentikan Hevva, yang mencoba mendekati dan menusuk Caira lagi
“Teriaklah sekuatmu, panggil semuanya. Gak akan ada yang bisa mendengar,” ejeknya tertawa jahat, mendekati Ciara yang terus menghindar. "Teriak, ayo teriak. Mana suaramu, cuma segitu saja teriakkanmu, ck menyedihkan."
“Apa yang sudah kamu lakukan pada mereka,” serunya tajam, sambil menahan rasa sakit diperutnya, sambil berdoa akan ada seseorang yang menolongnya. “Pelayan! Pengawal!” teriaknya lagi.
“Gak ada, pelayanmu, hanya diberi mereka obat tidur,” sahutnya enteng. “Sedangkan pengawalmu, sedang di suruh suamiku pergi entah kemana.” Sambungnya cuek.
“Bohong!”
“Terserah kalau kamu gak percaya,” menyeringan licik. “Kasihan sekali hidupmu Caira, apakah kamu gak mau tau kalau suamiku ini yang merencanakan semua ini,” bisiknya jahat, mempengaruhi Caira.
“Gak mungkin!” bantahnya. "Demir suamiku, bukan sumaimu," desisnya tegas.
“Apa yang gak mungkin,” serunya tajam, tak menggrubis omongan Caira yang lain. “Dia mencintaiku, sudah pasti akan menuruti apa yang kuperintahkan.”
“Gak mungkin dia dengan begitu bodohnya menuruti perintahmu ini, taruhannya bukan hanya gelarnya yang dicabut, tapi nyawanya juga,” serunya tenang, menolak percaya hasutan Caira, sendari menahan sakit, sengaja mengulur waktu, siapa tahu ada yang datang menolongnya.
Tiara geram sendiri, berusha menolong Caira, tapi tak bisa. Ia terus berusaha menarik Hevva menjauhi Caira, lagi-lagi bayangan yang digenggamnya, berteriak, tapi tak ada suara yang terdengar. Ia meremas rambutnya kesal, terus berdoa semoga ada yang menolong Caira secepatnya, sebelum wanita psiko ini membunuh Caira.
“Kamu pikir, suamiku bodoh tak merencanakan semua ini dengan matang,” sindirnya menghasut Caira, tetap mengakui Demir itu suaminya.
“Terserah, aku tetap percaya pada suamiku. Sekejam-kejamnya dia, gak mungkin tega merencanakan membunuh istri dan ibu yang telah memberikan 3 orang anak untuknya,” bantahnya yakin.
“Percaya saja apa yang mau kamu percaya, gak tau kan selama ini kami terus berhubungan. Apakah kamu tau, ke mana Demir, pergi selama sebulan, gak kembali, tentu saja, menemuiku,” ujarnya angkuh dan tertawa.
“Haha, kamu terlalu bodoh percaya, kalau Demir akan pasrah berpisah denganku.” Hevva menikmati raut wajah terkejut dan teluka dari mata Caira. “Aku memang pergu dari Negara ini, tapi ku beritau rahasia terbesar padamu,” tersenyum licik. “Apakah kamu tau, ke manaku selama ini tinggal. Tentu saja gak tahu, coba tanyakan sama suami tercintamu itu, dia yang mengatur semuanya dimanaku tinggal bersama keluargaku. Dia juga rajin mendatangiku, dalam setahun tanpa dicurigai”
“Bohong!” Bantahnya berteriak sambil terus menahan sakit
“Caira, Caira. Cinta butamu telah menutupi hatimu untuk percaya, kalau suamimu itu telah berubah. Apa kah kamu tau, kalau kami sudah menikah, walaupun hanya menikah sirih,” serunya mengejek bahagia membuat Caira terluka. “Kamu juga gak taukan, kami juga mempunya anak, perempuan.” Serunya dingin. “Kamu yang menikmati hidup penuh kemewahan seperti ini, gak tau bagaimana rasanya, hidup menjadi bahan cemoon menjadi istri sirih orang. Gak tau kan rasanya, ketika anakmu selalu bertanya kenapa Ayahnya selalu jarang berada didekatnya, kamu gak tau rasanya!” sambungnya berteriak marah.
“Itulah resiko yang harus kamu dapat, jangan menyalahkanku dengan apa yang telah terjadi dalam hidupmu. Itu pilihanmu sendiri, karena memilih jalan menjadi istri simpanan suamiku,” sahutnya datar, menolak percaya tapi melihat kejujurran dan kesakitan dari mata Hevva, ia yakin, apa yang dikatakannya itu benar. Hatinya sakit sekali, mengetahui apa yang telah dilakukan suaminya itu. Air matanya menetes, lalu ia mengelap air mata itu.
“Menangis, huh,” ejeknya. “Gak terhitung banyaknya, air mataku menetes, meratapi kehidupanku.”
Tiara membekap mulutnya tak percaya. Dasar pria gak tahu diri, berani-beraninya membodohi istrinya selama ini, makinya marah. Ia ikut merasakan sakit, atas penderitaan Caira.
“Kamu!” teriaknya marah, tak terima disalahkan. Mengejar Caira, yang terus menghindar.
“Hevva hentikan!,” teriak Tiara hendak menghentikannya. Ia melihat Hevva berhasil menarik Caira, lalu menusuk pisaunya kembali perut Caira.
“Matilah kamu!” menusuk Caira dua kali.
“Akhw!” teriak Caira kesakitan. Anakku, batinnya dalam hati sedih. Ketika Hevva akan menusuknya, ia mencari barang apa yang didekatnya, untuk menghindar tusukkan itu. Ada buku tebal, yang bisa digapainya. Lalu memukulnya ke kepala Hevva. “Ükh, UKh.” Batuknya yang keluar darah dari mulutnya.
“Caira!,” teriak Tiara histeris. Mendekatinya. “Tolong bertahan,” sambungnya lirih dan sedih. Mengapai-gapai bayangan Caira.
“Akhw!” teriak Hevva kesakitan, melihat darah dari keningnya, lalu menatap Caira penuh dendam.
“Apa-Apa ini!” bentak suara pria yang tiba-tiba masuk.
“Sayang,” seru Hevva manja, mendekati Demir. “Lihat apa yang dilakukan istri jalangmu itu, dia berani melukaiku.” Adunya jahat, dan pura-pura kesakitan.
“Apa yang kamu lakukan!”bentaknya marah.
Caira tesenyum miris, melihat yang datang suaminya. Bukannya menolong dirinya, malah sibuk menguatirkan simpanannnya. “Harusnya aku yang bertanya, apa yang sedang kamu lakukan padaku. Uhk..ukh” Lirihnya datar, keluar darah lagi dari mulutnya. “Tega kamu lakukan ini, pada wanita yang telah memberikan 3 orang anak padamu, ukh, ukh.” Hatinya teriris, melihat suaminya hanya mentapnya datar, tak berinisiatif menolongnya.
“Demir gak mencintaimu, wajar jika suamiku ini melakukannya,” bergelayut manja ditangan Demir, dengan pisau masih ditangannya.
“Sayang, penghalang kita ini, harus segera dilakukan. Sebelum semua pelayan bangun dri obat biusnya.”
“Kasihan sekali dirmuu, Hevva. Apa dengan menyingkirkanku, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu impikan,” lirihnya disela kesakitannya. Merasakan darah mengalir di kakinya. “Tidak, ukh..ukh,” sambungnya histris, menangis nasib janinnya yang keguguran.
“Ternyata kamu sedang hamil, kasihan,” ejeknya senang. Melihat begitu banyak darah yang mengalir dari kaki Caira, dan tahu darah apa itu.
“Tega kamu, membunuh darah dagingmu sendiri. Dibutakan cinta, kamu tega membunuh anakmu sendiri,” teriaknya lirih dan menangis. Menatap suaminya yang terkejut akan fakta dirinya sedang mengandung, tak lama kemudian raut wajahnya kembali datar. “Haha,” tertawa kosong, apa yang diharapkannya. Bagi suaminya, mereka berdua hanya penghalang cintanya. “Apa kalian pikir, dengan menyingkarkanku bisa hidup dengan bahagia, gak mungkin,” menahan rasa sakit diperutnya. “Keluargaku gak akan tinggal diam.”
“Tenang saja, semua itu sudah direncanakan kok,” sahutnya tenang.
“Apa maksudmu, ukh,ukh.” Merasakan napasnya sesak dan berat.
“Stop Caira, Stop. Tolong jangan bicara lagi, semakin kamu bergerak dan bicara, akan semakin membuatmu lemah dan kehabisan darah,” seru Tiara menangis dan memohon, seakan Caira mendengarnya saja.