Golden Bride

Golden Bride
Obrolah Wanita



Ia melihat kesibukan Monic dan Tasya menyiapkan bekal untuk Feri. Melihat ke sekeliling ruangan dapur ini. Ia bangga pada Monic, yang sudah berhasil membeli rumah sendiri dari hasil kerja kerasnya. Walaupun rumahnya tak mewah seperti rumah Tasya. Tapi menurutnya bisa membeli rumah sendiri, benar-benar prestasi yang membanggakan. Lagipula, Monic hanya tinggal berdua dengan adiknya, Feri. Kedua orang tua mereka sudah lama meninggal, jadi mereka berdua saling melindungi. 


Ia berniat mau membeli perumahan di dekat Monic, tapi uangnya belum cukup, mau pinjam sama Ayah, malu. Mau ambil kredit, Uang DP nya belum cukup. Rencananya Mau Uang DP rumahnya besar, sehingga bulanannya kecil. Kalau uangnya lebih, maunya membeli tanah, sehingga bisa membuat rumah impiannya sendiri, dari hasil kerja kerasnya.


Dapur Monic, tak terlalu besar, tapi terlihat mewah dengan suasana vintage, dengan kitchen set yang modern. Seluruh rumah Monic dicat warna putih, sehingga terlihat besar dan mewah.


Kapan ia bisa membeli rumah dengan uang dari hasil keringatnya sendiri, geramnya dalam hati dan menghelas napas frustasi.


"Lo kenapa, Ra?" tanya Monic heran, melihat Tiara melamun.


"Gak ada," sahutnya malu, karena kepergok melamun. "Loh Feri nya mana?"


"Udah pergi barusan, lo nya aja sibuk dengan dunia sendiri," sindir Tasya. "Melamun apaan sih lo, sibuk banget, dipanggil-panggil Feri gak nyahut, jadi pergi tuh anak tanpa nunggu lo balik ke dunia nyata dulu." Bersidekap menatap Tiara intens.


"Gak ada," elaknya, menatap kedua temannya yang bersikeras menyuruhnya jujur. "Ck" decaknya kesal. "Gue tadi cuma mikir, kapan gue bisa beli rumah kayak gini dengan hasil keringat sendiri." Sambungnya tersenyum malu.


"Beli aja, apa susahnya sih," seru Tasya heran


"Hei, Bambang. Enak aja bilang beli, rumah tuh beli pake uang bukan daun," gerutunya sewot.


"Yee, siapa juga bilang pake daun." Sahut Tasya nyablak. "Kalau lo beli pake daun, berarti lo Mba kunti donk" candanya jahil.


"Ish, emang ada Mba Kunti cantik kayak gue," serunya kesal dan menyombongkan diri.


"Ada lah, kalau dia sedang nyamar," serunya asal. "Lagian lo emang cantik tapi sayang yah," sambuhnya menatal Tiara intens.


"Apa?" tanyanya geram, walaupu jawaban Tasya pasti akan membuatnya kesal.


Tasya tersenyum jahil. "Yah sayang aja, cantik-cantik kok jomblo dan gak pernah pacaran, Week," mencebik Tiara dan tertawa.


"Tasya..." serunya geram, mau memukul Tasya.


"Udah-udah, debat kusirnya nanti disambung lagi," lerai Monic diantara mereka. "Apa badan kalian kagak lengket, habis berkutat dengan masakan."


"Iya sih." Jawab mereka kompak.


"Ya udah, kita mandi dulu aja. Nanti kalau mau debat lagi, bisa kalian lanjutkan setelah badan segar." Saran Monic


"Oke, Emak," sahut mereka bercanda


"Ck." 


"Hahaha."


******


Mereka bertiga sedang duduk santai, di teras kamar, monic. Sedang menyantap keripik kentang goreng, donat keju dan coklat yang mereka buat tadi siang.


"Lo gak video call Jasmin, Sya?" tanya Monic


"Ini lagi coba, tapi dari tadi memanggil terus," sahutnya geram.


"Mungkin dia lagi sibuk," ujar Tiara.


"Dia tau kan, kita bertiga mau kumpul-kumpul di rumah gue," Monic manatapnya ingin tahu.


"Ya udah kalau gitu, biar dia aja yang ngubungi kita. Takutnya lo ngubunginya sekarang, Jasmin sedang sibuk." Saran Monic.


"Iya juga sih," gumam Tasya. "Lo gak kenyang, Ra. Gue perhatiin mulut lo ngunya' terus, gak kenyang-kenyang apa," sambungnya tak habis pikir, kebiasaan Tiara yang suka ngemil pada malam hari, kalau kebanyakan wanita, takut makan apa saja dimalam hati, karena takut gemuk. Tapi tidak bagi Tiara, makan sebanyak apapun, badannya tetap kurus, yang sering membuat teman-temanny menjadi iri.


Tiara menggeleng dan cengengesan. "Mau lo," menunjukan keripik kentang pedas ke Tasya.


"Gak, gue udah kenyang makan 3 donat coklat, perut gue gak bisa nampung makanan lagi, udab full," tolaknya.


"Akh, lo gak bisa nikmati hidup, Sya." Cibirnya.


"Gue bukan gak bisa nikmati hidup, Ra. Tapi gue gak mau maruk, perut udah terasa kenyang, masih tetap dipaksa makan." Ujarnya menyindir, tak memperdulikan tatapan Tiara yang tersinggung.


"Ck, lo nuduh gue rakus gitu," seru Tiara tersinggung.


"Bukan gitu, cintaku." Bantah Tasya cepat. "Bukannya ada orang yang mengatakan, makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang. Mungkin kata-kata itu benar, supaya nanti kita gak sakit perut, karena kebanyakkan makan. Sedang dari tadi, gue perhatikan lo gak berhenti makan."


"Yang dikatakan Tasya ada benarnya juga, Ra." Ujar Monic sependapat. "Lo seakan makan ini takut dihabiskan oleh orang lain," sambungny menyeringai menyindir.


"Sembarang," bantahnya cepat dan tak suka.


"Lo ada masalah," Monic menatapnya penasaran. "Biasanya kalau lo makan terus atau ngemil gak sudah-sudah, bearti lo pikiran lo lagi mumet."


"Lo benar lagi ada masalah, Ra." tanya Tasya menyajuk hati Tiara.


"Gak lah," Tandasnya cepat


"Terus ini apa," Monic menunjukkan donat keju dan coklat, yang hanya tersisa 3. Keripik kentang pendas, yang tadi setoples, sekarang tinggal setengah, karena Tiara sendirian yang memakanya.


"Hehe, gue masih lapar," elaknya sambil cengengesan.


momic dan Tasya hanya menggeleng tak percaya, mereka menatap Tiara intens, membuatnya tak bisa berkelit, mereka berdua terlalu mengenal wataknya, sehingga tak mudah membohongi mereka.


"Benaran gak ada apa-apa kok," ujarnya jujur. "Gue tadi hanya mikir, sebaikanya gue beli rumah dulu atau tanah. Kalau rumah, kan bisa kredit, kalau tanah harus cast, mana uang bum cukup lagi, hufft." Menghela napas lesu.


"Emang lo udah tau rumah seperti apa?" tanya Monic, yang dijawab dengan anggukan kepala. "Dp rumahnya udah cukup," sambungnya, melihat bahu Tiara terkulai lemah.


"Kalau emang lo pengen banget kredit rumah, kan Dp nya bisa pinjam sama Ayah," saran Tasya.


"Iya, tau. Gua hanya malu aja minjam ke Ayah," serunya santai.


"Kenapa?" tanya Monic.


"Minjam ke Ayah, berarti minta dong."


"Maksudnya, gue udah tau pasti, minjam ke Ayah berarti uang Ayah gak perlu diganti, alias kita dikasih bukan minjam." jelas Tiara.


"Ya, wajarlah. kan lo anaknya sendiri." Seru Monic heran dengan jalan pikiran Tiara yang bikin ribet sendiri.


"Nurut gue, lo pinjam aja dulu sama Ayah, lo bayar setiap bulan. Mau nunggu lo ngumpul tuh uang, kelamaan, gak tau membutuan waktu berapa tahun," saran Tasya. "Bukan gue pesimis, nurut gue itu emang yang terbaik."


"Kalau lo mau beli tanah, itu harus mengumpulkan uang lagi buat membangunnya sesuai rumah impian lo," ujar Monic


"Benar juga sih, nanti lah gue pikir-pikir dulu." serunya bimbang