Golden Bride

Golden Bride
Rencana Tasya



"Jadi gimana rencana lo, Sya. Mau liburan, jadi?" Ujar Monic mengalihkan omongan, yang sempat tertunda. Tasya mengangguk kepala. "Mau ke mana emangnya?."


"Kurang tau juga," mengangkat bahu bingung. "Mau nya sih, ke eropa gitu. Kita kan udah lama gak liburan berempat, sekalian aja ambil yang jauh-jauh." Sambungnya santai sendari menghabiskan mis nya.


"Gila, Jeng. Eropa cuy," seru Monic geleng kepala. "Kemahalan, budget gue gak cukup, Sya. Hehehe," sambungnya terkekeh.


"Sama," seru Jasmin dan Tiara serempak.


"Ck," decak Tasya geram.


"Lagian mau liburannya kapan?" tanya Jasmin ingin tahu.


"Kalau bisa yah lusa," sahutnya enteng.


"Aduh, mak jay," seru Jasmin menepuk dahinya. "Cepat banget waktunya, Sya. Gue gak bisa ikut kalau mau lusa berangkatnya. Gue harus minta cuti dulu, paling gak 2 minggu dari sekarang. Kita kan liburannya gak sehari dua haru, maksimal 10 hari." Protes Jasmin menatap Tasya yang tak setuju.


"Gue juga, Sya." Timpal Monic sependapat. "Kita kan kerja sama orang, gak mungkin izin cuti seenaknya, bisa dipecat nantinya. Kredit rumah dan mobil belum lunas uey." menyengir ketika Tasya menatapnya tajam.


"Gue sependapat ama mereka," Timpal Tiara. "Kami ngerti kalau lo ingin menenangkan diri dan menghindar dari orang-orang yang hanya bisa menghakimi tanpa tau permasalahan yang sebenarnya." Tiara menghela napas panjang. "Tapi ini eropa, Sya. Eropa, perlu persiapan yang matang, begitu juga dengan budget kita buat beli tiket pesawat PP, biaya hotel, makan, jalan-jalan, masih banyak lagi." langsung menggengam tangan Tasya. "Mungkin soal budget bagi lo gak masalah, tapi kami minta lo jangan terburu-buru. Hal yang terburu-buru biasanya hasilnya gak baik, Sya." sambungnya menasehati.


"Maaf, gue egois, gak mikir keadaan kalian dulu," gumamnya menyesal. 


"Lo gak salah kok, kami ngerti situasi hati lo yang butuh ketenangan dan pengalihan," ujar Monic lembut. "Kalau emang mau pergi, coba lo menenangkan diri ke Solo aja. Di sana ada Bude' gue, nanti gue hubungi keluarga Bude'. Sekalian lo nunggu kami mengurus cuti ke atasan, bisa menghabiskan waktu di sana." Sambungnya memberi Saran.


"Ide Monic bagus juga, lagian keluarga Bude' Monic udah akrab semua dengan kita." Gumam Jasmin setuju dengan ide Monic.


"Gue setuju, sambil kami mengurus semua persiapan buat liburan panjang kita, lebih baik lo menghabiskan waktu di solo, di sana juga banyak tempat wisata, kalau lo bosan, bisa ke Jogya maupun ke Malang."


"Tapi mana asik liburan sendiri," protesnya cemberut.


"Kan sementara, Sya." Gumam Jasmin lembut.


"Lo juga gak jalan-jalan sendiri, nanti sepupu gue Rani yang akan nemani lo ke mana pun." Bujuk Monic.


"Gue gak enak nanti merepotkan keluarga Bude' Lo, Nic." Ujarnya kurang setuju. "Lagian Nanti Rani dipecat dari kantornya kalau nemani gue jalan-jalan."


"Lo tenang aja yah, kerjaannya itu fleksibel dan nyantai." 


"Emang kerjanya apa, Mon?" tanya Tiara penasaran.


"Dia ada usaha bisnis online pakaian batik, jadi waktunya gak terikat." Jawab Monic. 


"Seingat gue juga, teman cowok lo Budi, tinggal di Jogya dia sekarang." Gumam Tiara


"Budi mana?" tanya Jasmin penasaran.


"Budi teman SMA kami dulu," sahut Tiara santai.


"Maksud lo Budi Ramadhan?" tanya Tasya ragu.


"Iya." Tiara mengangguk kepala.


"Emang lo tau dari mana?" 


"Setahun lalu, gue gak sengaja ketemu dia pas sedang ke Jogya buat ketemu klien di sana," sahut Tiara.


"Kok lo baru ngomong," gerutu Tasya geram. Ia berteman dekat dengan Budi, mereka lost kontak sejak tamat SMA.


"Hehe, sorry gue lupa," gumamnya menyesal dan cengengesan.


"Nah, bagus itu. Lo banyak yang nemani, Sta." Seru Jasmin bersemangat.


"Siap, Bos," bercanda dengan memberi hormat, yang mendapat cebikkan dari Tasya. "Tapi nanti yah, ponsel gue di kamar."


"Jadi setuju lo ke solo?" tanya Monic menyajuk hati Tasya.


"Terpaksa iya deh," serunya pasrag dan menghela napas.


"Kapan lo berangkat, biar gue ngehubungi Bude' gue?" tanya Monic ingin tahu.


"Mungkin lusa, Kayaknya." Jawabnya santai. "Tapi gue nginep di hotel aja, Nic. Gak enak merepotkan keluarga Bude' lo."


"Gak, lo harus nginep di rumah Bude' gue." Tolaknya tajam. "Nanti Bude' sedih, lo gak mau tinggal di rumahnya. Secara kita tau, kalau lo itu udah jadi kesayangan Bude." Sambungnya bercanda.


"Ck, lebay," decak Tasya sebal.


"Emang gak masalah lo kabur ke Jogya, Sya?" tanya jasmin.


"Maksud lo?" sahut Tasya tajam.


"Gak usah marah dulu," seru Jasmin cepat. "Kita semua tau, kalau lo ngilang tiba-tiba yang paling cemas kan Bang Bram." Sambungnya pelan. "Lebih  baik ngomong dulu sama Abang lo itu tentang rancana-rencana ke depannya. Daripada nanti dia nyewa dektektif buat nyariin lo, gak berabe."


"Benar juga tuh Jas, lo diskusikan dulu semua rencana liburan kita ini padanya, gue yakin apapun yang buat lo bahagia, dia pasti setuju-setuju aja." Sahut Monic mengangguk kepala.


"Ngomong-ngomong, Sya. Mau tetap di sini sambil nunggu hari lo pergi ke solo," gumam Jasmin penasaran.


"Emang kenapa?" Tasya menatap bingun ke Jasmin.


"Takutnya si buaya buntung itu, nyariin lo di sana." Sahut Jasmin.


Tasya merenung dan paham maksud omongan Jasmin, dia belum mikir ke sana. Lagian ngapain juga dia nyariin sampe ke apart gue ini. 


"Kita kan gak tau, apa yang akan dilakukan Si buaya buntung itu, Sya. Buat berjaga-jaga, bagusnya lo ngungsi aja ke mana gitu. Bisa rumah Tiara atau tempat Monic." Ujar Jasmin menyarankan.


"Nurut gue, bagusnya Tasya ngungsi di rumah Tiara. Lagipula, jarak bandara dan rumah Tiara gak terlalu jauh." Saran Monic. "Gue yakin, dia gak berani jambangi lo ke sana, dia kan takut banget sama Ayah Tiara yang galak, hehe."


Mereka menganggu setuju, Roy memang takut pada Ayahnya. Soalnya pernah dibentak-bentak oleh Ayahnya, dikarenakan saat itu mau menjemput Tasya, tapi Tasya nya belum mau pulang. Jadi mereka ribut di teras rumahnya. Ayahnya datang, lalu membentak Roy dan memberi kuliah 7 menit alias diceramahi oleh Ayahnya. Sehingga Dia kapot buat datang ke rumahnya sendiri.


"Iya, lo benar Nic. Ternya lo pinter juga yah," gumam Jasmin bergurau.


"Ck, kalau mau muji gak usah tanggung-tanggung." Decaknya sombong.


"Hahaha," Tiara, Tasya dan Jasmin tertawa melihat sikap sok sombongnya Monic.


"Udah dulu yah, gue ada janji ama klien jam 9 ini," sela Jasmin.


"Gue juga." Seru Monic sama.


"Pak turun banget sih lo," cibir Jasmin protes.


"Suka-suka gue, Wee," seru Monic santai dan menjebel Jasmin.


"Udah deh, jangan mulai lagi." Sela Tiara lembut.


"Siab bosQu." seru mereka serempak sendari bercanda.


"Nanti Wa kami lagi yah, Sya secepatnya. Pastinya rencana liburan kita mau ke mana. Biar gue cepat minta izin cuti pada atasan." Ujar Jasmin.


"Beres." Seru Tasya sambil memberi tanda ok dengan tangannya.


"See you, girls. Bye." Seru Jasmin dan monic serempak. Klick, sambungan telepon terputus