
Ditempat lain
Dor… Dor...
Seorang pria dengan wajah dingin terlihat ingin membunuh sedang menembaki sebelah paha 2 anak buahnya. Matt dan Jack, yang diperintahkannya untuk membunuh seorang wanita, tunangan Wyatt.
Mereka berdua terduduk dan kesakitan sebelah pahanya ditembak, berusaha berdiri walaupun harus menahan rasa sakit itu
Bug.. Bug… Pria itu kembali memukul Matt dan Jack, sehingga membuat kedua pria ia terjatuh ke lantai dengan bibir sobek. Dan mereka dengan susah payah berdiri lagi, walaupun tidak tegap.
"Memalukan, membunuh seorang wanita saja tidak becus!!!" Ujar Pria bos dari kedua pembunuh bayaran itu, berdiri di depan mereka. "Ini kan sudah makanan sehari-harimu, Matt. Kenapa bisa gagal?" menatap Matt dingin.
"Ada pengganggu, Bos," timpal Jack dengan terbata, terdiam ketika mendapat dukungan tatapan tajam dari Matt.
"Kenapa tidak kalian habisi dulu lalat pengganggu itu, baru wanitanya Wyatt." Tudingnya tajam.
Matt dan Jack menelan saliva dan berpikir, mau dibunuh bagaimana, kan penganggunya itu tidak bisa mati lagi.
"Sungguh rekor memalukan bagimu, Matt. Selama ini kamu selalu berhasil membunuh korbanmu, kenapa malam tadi gagal."
Bug..Bug.. Ia memukul kedua anak buahnya lagi, dengan marah. Membuat keduanya terjatuh. Bruk.. dan terbaring ke lantai. Lalu berdiri menjulang di hadapan mereka yang terkapar kesakitan. "Berdiri!!!"
Lalu Matt dan Jack, berusaha berdiri kesusahan, dan kesakitan dengan darah terus mengalir deras dari paha mereka, tanpa diobati. Beberapa anak buah yang lain, dalam hati meringis dan kasihan terhadap bos mereka, Matt dan Jack, harus mendapat pelampiasan dari bos besar mereka.
"Mereka sulit percaya lagi dengan kinerja kita, kalau membereskan satu wanita saja tidak becus," Pria yang bernama Richard itu, menatap bengis ke Matt. "Jelaskan kenapa tembakanmu meleset!!"
Matt dalam hati tercengang kenapa Rich tahu tembakannya meleset, pasti ada anak buahnya yang memantau pekerjaannya tanpa mereka ketahui.
"Percuma saja, aku cerita pasti kamu tidak akan percaya," ucapnya datar, menahan sambil rasa sakit, seolah keadaanya baik-baik saja. Orang lain pasti tidak berani ngomong aku-kamu pada pemimpin mereka, tapi tidak bagi Matt. mereka sudah lama berteman, sudah seperti kakak-adik, jadi tidak perlu ngomong dengan formal.
"Percaya atau tidak, tergantung apa yang kamu ucapkan!" ujarnya datar.
Matt menoleh ke Jack, teman sekaligus asistennya, yang terlihat akan oleng, dan matanya tak fokus lagi. Ia melihat tembakan Rich, berada diorgan yang vital, kalau tidak ditangani dengan segera, Jack bisa meninggal, dan semuanya itu karena dirinya. "Bisa kita bicara berdua saja, setelah luka kami ini diobati!" Matt menatap tegas dan datar tanpa ada takut.
"Kamu berani tawar menawar, Matt?!" desis Rich menyeringai mengerikan. "Bisa sajakan kalian langsung kubunuh, daripada merepotkan."
"Silakan," tantangnya datar. "Kamu akan kehilanganku dan Jack, orangmu yang paling setia padamu, dan tidak akan menemukan pengganti yang lebih baik dari kami berdua."
Rich menatap datar, mereka berdua saling tatap, mengukur kekuatan masing-masing. Rich tahu, di atara sekian banyak anak buahnya, Matt dan Jack yang paling setia, mereka bahkan rela mati untuknya. Yang dikatakan Matt benar, dirinya pasti tidak bisa menemukan orang yang bisa dipercayainya selain mereka.
"Percaya padaku, apa yang kukatakan nanti, mungkin kamu tak akan mempercayainya, tapi lebih baik hanya kita berdua yang membicarakannya, karena ini tak masuk akal dan sedikit memalukan." Menatap datar Rich, dalam hati memaki kekerasan temannya itu, membiarkannya terus mengoceh, dengan sadis membiarkan dirinya kesakitan begini.
Rich menatap dalam mata Matt, melihat kejujuran di matanya. Lalu beralih ke Dio. "Bawa mereka berdua." Menatap Matt. "Sejam lagi, temuiku di atas." Rich berlalu meninggalkan ruang bawah tanah bersama dengan para anak buahnya.
Matt mengangguk datar, mengerti kalau Rich ingin ia menemuinya di ruang kerjanya, mereka berbicara berdua saja.
*****
Sejam kemudian Matt telah duduk berhadapan dengan Rich, yang menuntut jawaban.
"Sekarang cerita!" perintahnya datar.
"Ck, seperti biasa. Tanpa basa basi dulu," cibir Matt, langsung cuek ketika mendapat tatapan tajam dari Rich. Ia mulai cerita, dari awal mau menembak sampai mereka melarikan diri. "Beruntung kami bisa meloloskan diri, dengan bantuan warga sipil yang kita bayar."
"Omong kosong!" Bentaknya datar.
"Apa?"
"Penganggumu itu seorang makhluk halus, gak masuk akal." Menggeleng kepala tak percaya. "Ck, ck, menggelikan. Buat lah alasan logis sedikit, aku bukan anak kecil yang bisa kamu jejali omong kosong seperti ini!"
"Seperti yang kukatakan tadi, akan sangat mememalukan, kalau sampai tersebar, pengangguku saat mau membunuh hanya seorang makhluk halus," sahutnya datar. "Kamu bilang, habisi saja yang menganggu. Ck, mau dihabisi gimana, orang tuh penganggu udah mati."
"Kamu bercanda kan?" menatap tajam Matt.
"Apa aku terlihat sedang melawak!" ejeknya tersinggung.
"Kamu tidak ngobat kan," tuduhnya sinis.
"Ck, tidak usah marah gitu, aku kan hanya bertanya," jawabnya cuek dan santai menanggapi kemarahan Matt.
Matt mendengus lalu berdiri menuju lemari yang berisikan minuman berakohol. Bermacam-macam jenis wine, bir, Vodka, wiski, anggur, ada di sana, baik yang kadar alkoholnya rendah maupun tinggi, memang temannya ini suka sekali mengoleksi minuman itu di ruang kerjanya. Dan tidak sembarang orang bisa meminumnya kecuali atas ijin dari Rich.
Karena tidak melihat yang dicarinya, ia berali ke lemari es. Melihat minuman kaleng yang diinginkannya. Mengambil salah satu minumam kaleng San Miguel, memiliki kadar alkoholnya rendah, kurang dari 10%. Lalu membuka dan menyesapnya, Matt kembali duduk di kursinya tanpa memperdulikan Rich yang menatapnya tajam.
"Matt, Matt. Jangan bilang kamu takut dengan makhluk halus itu," ejeknya sinis.
"Terserah kamu mau mengejekku, tapi lihat ini," menunjukan warna merah agak kebiruan yang masih terlihat, walaupun mulai memudar, di leher sebelah kirinya.
Rich mendekat, lalu terheran. "Apa itu?" walaupun tahu bekas apa yang di leher Matt, tapi otaknya terus menyangkal.
"Ini bekas cekikan dari hantu wanita itu."
"Hantu, yang benar saja," mengibas sebelah tangannya seolah omongan Matt itu hanya omong kosong. "Jaman sekarang kamu masih percaya dengan hantu, impossible." Sindirnya sinis.
"Terserah, apapun namanya wanita itu," menyesap minumannya. "Bukannya takut, wanita itu benar-benar mengerikan. Matanya terlihat sekali ingin membunuhku, dia munculnya dengan kondisi yang bisa membuat orang mual, apalagi bau busuk yang menyengat, bisa buat kita muntah." Menghabiskan dengan sekali teguk, perutnya mual, harus diingatkan dengan kejadian itu.
Waktu itu terlalu fokus dengan wanita itu, yang seakan ingin membunuhnya, sehingga tidak memperdulikkan dengan bau busuk yang menusuk hidungnya. "Kalau yang kuhadapi manusia, kuyakin bisa mengatasinya, kalau perlu sekalian kubunuh juga, tapi ini makhlus halus Bro, tanpa tubuh. Kita tembaki berkali-kali saja, malah tembus." Berdiri prustasi lalu mencengkram kaleng minumannya.
"Kamu bisa bertanya pada Jack, untung dia tidak pingsan menghadapi makhluk halus itu. Kita tahu sendiri, tidak ada satupun yang ditakutinya kecuali hantu ataupun sejenis itu." Melempar minuman kaleng ke ranjang sampah yang ada di pojokkan. "Aku yakin dia sok berani padahal hatinya ketakutan, lihat aja sekarang, dia malah tidak berani menceritakan apa yang dilihatnya. Memalukan memang, seorang pembunuh tapi takut terhadap makhluk halus." Tertawa sarkas. "Haha, mau bilang bohong tapi ini kenyataan."
Rich berdiri lalu menatap lekat ke semua leher Matt, memang bekas cekikkan itu mulai memudar. Rasanya sulit diterima dengan pikiran logisnya, masa ada makhluk halus bisa membunuh. Dalam 20 tahun karirnya sebagai pembunuh, baru kali ini mereka berhadapan dengan hal-hal yang tak masuk akal seperti ini.
"Apa wanita itu mengikuti kalian sampai sini?"
"Sepertinya tidak, walaupun iya. Pasti ada kehebohan di markas kita ini."
"Lalu dari mana datangnya wanita itu?"
"Kurang tau," mengangkat bahu. "Kurasa dia penjaga Wyatt atau tunangannya."
"Maksudmu?" menatap bingung dan penasaran.
"Kurasa, orang sekelas Wyatt. Main dukun, bukan gayanya," ujarnya datar. "Kutebak mungkin wanita itu semacam leluhur salah satu dari mereka."
"Bisa jadi wanita itu, salah satu penunggu rumah sakit itu atau penunggu rooftop apartement, yang merasa terganggu dengan kedatangan kalian," sangkalnya seenaknya.
"Ck, asal nyerocos saja." Ledeknya sinis. "Tidak mungkinlah, karena wanita itu ngomong begini sesaat kami mau melarikan diri." Mengambil posisi mundur. "Kalau kalian mencoba membunuh salah satu di antara mereka. Nyawa kalian jadi taruhannya, nyawa dibayar dengan nyawa, Hahaha." Sambung Matt mencoba meniru cara ngomong wanita itu saat mengancamnya.
👋Hi.. Readers👋
🤗Ketemu lagi dengan cerita gw ini, hehe😊
😇Makasih yang masih menjadi pembaca setia
cerita ini🙇 Maaf tidak bisa membalas komen
kalian🙏
👏Monggo yang mau ngasih komen, kritik dan
saran. Wes diaturi yo, gw senang banget kalau
ada yang komen, baik itu masukkan ataupun
kritik😉
🤗Kalau suka cerita☝, jangan lupa 👉 👍 👉 rare
👉 vote.😉
👋See you on next👉chapter🤗