
Tiara menelan saliva tegang, ditatap tajam oleh suaminya. “Kakak marah yah?”
“Sudah tau pakai nanya lagi,” cetusnya datar.
“Aku ada alasannya meminta itu pada Kakak,” ujarnya pelan dan berusaha bersikap santai.
“Apa?”
“Aku akan merasa berdosa, gara-gara diriku, seorang istri dan anak harus kehilangan sosok yang penting bagi hidup mereka,” ucapnya hati-hati.
“Seharusnya sebelum dia berbuat itu, harusnya dipikirkan ribuan kali, sebab akibat dari perbuatannya.” Jawabnya datar dan sinis.
“Aku tau kalau Kakak marah karena berani menembaki ruanganku dan ingin memberi pelajaran bagi yang lain, agar mereka gak meniru temannya itu, tapi apakah harus dibunuh.” Menatap suaminya ingin tahu. “Bukannya dengan membunuhnya bisa memicu dendam dalam keluarganya. Kalau dendam dibalas terus seperti itu, kapan selesainya. Hidup kita tak akan tenang, dihantui pembalasan yang tak berkesudahan.” Sambungnya memegang tangan suaminya.
“Dia harus mati,” desis Wyatt dingin.
“Kak, bukannya membunuh itu dosa. Ada istilahnya karma, kita berbuat jahat suatu saat kita atau keluarga kita akan menunai kejahatan yang telah kita perbuat.” Menepuk lembut tangan suaminnya. “Gak selalu perbuatan jahat dibalas dengan kejahatan, apa bedanya kita dengan dia,” melihat suaminya yang mengeraskan rahangnya. “Jangan dibunuh, aku udah memaafkannya.”
“Ck, sok baik kamu,” decaknya dingin.
Tiara tersenyum mendengarnya, tidak tersinggung dengan omongan Wyatt. “Apa salahnya kita memupuk kebaikan, suatu saat kebaikan kita itu akan kita panen, bisa kita yang mendapatkan atau keturunan kita nanti.”
“Tiara..” omongan Wyatt terputus.
“Kak, aku ngerti alasannya melakukan itu,” selanya cepat. Hatinya deg-degan melihat pelototan dari suaminya. “Memang tindakannya itu tidak patut dibenarkan, tapi melihat pengorbanannya itu, aku bisa memahami. Jika diriku diposisinya juga, ketika suami dan anakku antara hidup dan mati, harus diselamatkan. Maka aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan mereka, ku kira Kakak juga begitu kan.” Menatap suaminya lembut. “Kak, mau yah memafaatkannya dan memberi kesempatan kedua padanya, kuyakin dengan kita memaafkannya, akan memberikan penyesalan dalam hatinya.”
“Kamu ini..” ucap terharu dengan pikiran dan kelapangan hati istrinya, ia tidak bisa berkata-kata mendengarnya. Ingin memarahi kebodohan dan kebaikan istrinya tapi tak tega, berdiri dan memeluknya sendari mencium kepalanya.
“Mau yah Kak memafaatkannya, kutak mau hidup dihantui oleh rasa bersalah dan dosa karena suamiku membunuhnya gara-gara diriku. Apalagi alasannya melakukan itu membuat hatiku tak tega dan bisa merasakan pengorbanannnya itu.” Ucapnya lembut dalam pelukkan suaminya dan mengelus tangannya.
Hening…
Wyatt mengambil napas keras dan menghelanya, menaruh pipinya ke kepala Tiara, memeluknya erat dan hangat. “Kakak bisa menjawab dengan tidak,” ucapnya mengembus napas kalah.
Tiara menggeleng kepala. “Gak.”
“Yah sudah, gak usah nanya lagi,” cercanya datar.
“Benaran Kakak akan memaafkannya dan memberi kesempatan kedua untuknya,” ujarnya lagi ingin memastikan, membalikkan badannya untuk menatap mata suaminya langsung.
“Iya,” jawabnya datar dan tegas.
Tiara melihat ketulusan dan kejujuran dari mata suaminya, tersenyum manis dan bahagia. “Makasih, Kak.” Ucapnya tulus dan manja, lalu mencium sudut bibir suaminya malu, membenamkan lebih dalam ke pelukkannya suaminya dengan wajah memerah malu.
“Hmm,” gumamnya datar, tapi dalam hati ikut merasa bahagia. Melihat tatapan bahagia istrinya dan dihadiahkan kecupan singkat darinya. Tersenyum lembut melihat semburan merah di wajahnya, menurutnya terlihat semakin cantik. “Kak ke luar dulu yah, kamu tidurlah.” Sambungnya dan mengusap kepalanya.
“Kak,” ujarnya ragu.
“Kamu tenang aja yah, Kakak gak akan melanggar janji.” Jawabnya tegas, lalu sekali lagi menciumnya dan berlalu meninggalkan istrinya sendiri.
Tiara meremas tangannya cemas, disuruh tidur tapi matanya tak mau terpejam barang sedetikpun. Hatinya masih cemas akan nasib pria itu, walaupun yakin suaminya pasti akan menepati omongannya. Ia ingin mendengar pembicaraan mereka lagi, tapi rasanya badannya terasa lemas sekali, menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan matanya. Tidak menyadari kalau suaminya mendekatinya, menatapnya kuatir.
“Ra, kamu merasa pusing yah?” Tanya Wyatt cemas dan menggenggam tangannya.
Tiara membuka matanya, menggeleng kepala. “Gak apa-apa.” Ucapnya menenangkan, lalu menoleh ke belakang suaminya. Ada Stuart, Ghani dan beberapa body guard, menatap suaminya heran, menunjuk orang-orang di belakangnya.
“Ghani, ingin mengucapkan terima kasih langsung padamu.” Ucapnya datar, lalu duduk di ranjang istrinya dan memeluknya. “Ngomong to the point saja,” menatap Ghani dingin.
Tiara mengerutkan keningnya melihat sikap suaminya yang terlihat cemburu, karena Ghani ingin ngomong dengannya, ia meremas tangan dan mengelus menenangkannya.
“Nyonya, terima kasih telah memaafkan saya,” ucapnya lirih dan tulus. “Kebaikan anda, tidak akan bisa saya balas seumur hidup. Saya berjanji akan setia pada suami anda dan nyawa ini mulai sekarang miliknya.” Janjinya tegas.
“Jangan,” tolaknya halus. “Nyawa itu milik lo sendiri bukan milik suami gue. Jalani saja hidup dengan benar setelah ini, kasihan istri dan anak lo yang akan kecewa jika suami sekaligus seorang ayah, harus mendekam di penjara atau meninggal karena dibunuh kalau masih seperti ini.”
“Gak perlu” tersenyum tulus. “Gue yakin, suami gue bisa menjaga dirinya sendiri, hehe.” Guraunya cengengasan melihat suaminya yang geram, mengelus tangannya dan tersenyum lembut padanya. “Saran gue, carilah pekerjaan yang jangan menantang bahaya seperti ini, karena pekerjaan ini nyawa taruhannya.”
Ghani terdiam. “Makasih banyak,” hanya itu yang bisa diucapkannya dengan tulus dan bersyukur, bisa bertemu dengan orang baik seperti Tiara, walaupun suaminya terlihat kejam seperti iblis. Ia tidak menduga kalau istri bos nya, selain cantik fisik, hatinya juga tak kalah cantiknya.
Tiara mengangguk dan tersenyum ramah. Merasa risih, ketika body guard Wyatt, menatapnya terpesona seolah dirinya itu seorang malaikat.
Wyatt seakan merasakan ketidak nyamanan istrinya. “Bawa dia pergi, “ perintahnya tegas pada body guard yang berdiri di samping Ghani. Lalu menatap Ferdinad dan Brian. "Kalian urus sisanya."
"Baik." Jawab mereka bersamaan
"Kak," ujarnya menatap suaminya mengingatkan.
"Ck, kamu tenang saja, dia tidak akan dibunuh, paling dibuat cacat," jawab suaminya kejam.
Ghani dan para body guard itu, menelan saliva mendengar kekejaman Wyatt.
"Kak." Panggilnya menggenggam tangannya, menatap suaminya dalam.
Wyatt menghela napas kasar. "Oke," jawabnya menyerah, lalu menatap Ferdinand dan Brian lagi. "Kamu urus dia, jangan dibunuh dan dibuat cacat," sambungnya datar dengan menekan kata-kata itu. "Keluar!."
Ferdinand dan Brian mengangguk. "Baik."
“Baik,” sahut yang lain juga.
"Puas." cibir suami, menatapnya geram.
"Makasih, Kak." Jawabnya lembut sambil meremas tangannya.
“Makasih, Ra.” Ucap Stuart tulus, baru kali ini dirinya melihat teman sekaligus iparnya itu dengan sukarela menuruti keinginan seirang wanita selain keluarganya, apalagi seorang istri yang baru dinikahinya beberapa hari yang lalu dan suatu perubahan yang sangat besar bagi orang yang mengenalnya. Dia seorang yang berhati dingin dan seenaknya terhadap teman kencannya bisa terlihat tak berdaya ditangan istrinya, sungguh pemandangan yang sangat menarik, seolah Wyatt bucin terhadap istrinya.
“Apa?” Tanya Tiara bingung dengan ucapan Stuart.
“Udah pergi sana, istriku mau istirahat.” Usirnya kasar.
“Ck,” decaknya sebal. “Aku pergi dulu, suamimu posesif banget, Ra.” Tertawa melihat tatapan tajam dari Wyatt, kalau orang lain mungkin sudah berlari ketakutan melihatnya, tapi dirinya sudah biasa, jadi bersikap santai saja. “Sekali lagi, makasih Ra.” Sambungnya dengan teka-teki, membuat Tiara tidak paham maksudnya.
👋Hai... Hai.. Morning Readers👋
🤗Senangnya gw bisa update lagi☺
😇Makasih banyak yang masih setia membaca
cerita ini🙇Maaf kalau komennya belum gw
balas yah🙏
😊Bagi suka tolong tinggalkan jejak 👉👍👉rare
👉vote😉Biar gw semangat gitu loh buat
sering update, Hehe👌
🤗Yang mau kirim 👉komen👉kritik👉saran. Yo
wes diaturin Malah gw senang loh kalau ada
yang komen, apalagi kalau ada yang memberi
masukan terhadap cerita ini😉
🤗See you on next👉chapter😉