Golden Bride

Golden Bride
Bebek 86 Restauran



Tiara dan Tasya, sedang menuju Bebek 86 restauran yang berada di sekitar sudirman, ia sudah ada janji dengan GIlang. Bersukur, kerjaannya selesai lebih cepat, sehingga bisa bertemu dengannya. Ia merasa tak tenang, kalau belum mengetahui informasi yang dibawa oleh Gilang. Pada saat mereka akan memasuki sebuah restauran, ia melihat Roy dan Bella berjalan bergandengan tangan tak jauh dari mereka. Langsung menarik Tasya cepat, membuatnya bersembunyi.


“Lo ngapain narik-narik gue segala.” Gerutu Tasya kesal.


“Hmm, itu…”sahutnya terbata dan bingung. Takut-takut menoleh ke Roya dan Bella yang melewati mereka.


Tasya menoleh ke arah yang dilihat Tiara. “Ngapain pake sembunyi segala, gue bukan penakut, Ra.” Ucap Tasya marah.


“Bukan gitu, Sya. Gue hanya gak mau lo mempermalukan diri lo sendiri dengan ribut dengan Bella.” Bantahnya cepat. “Lagian, ngapain juga harus ribut, bukannya lo udah punya rencana sendiri buat membalas mereka.” Menatap Tasya dengan menyelidik. Ia belum tahu apa rencaana Tasya, karena Tasya belum memberitahunya sama sekali. “Ayo.” Menarik Tasya menjauh, dan memilih tempat duduk di ujung, agak disudut.


“Iya,” gumam sedih.


“Udah gak usah dipikiri, malah bikin sakit hati.” Menggenggam tangan Tasya. “Boleh gue tau, apa rencana lo terhadap mereka.” Sambungnya pelan dan ingin tahu.


“Nanti gue cerita, Ra.” Tolaknya lembut.


“Kapan? Pertunangan kalian 2 minggu lagi loh.”


“Mau pesan apa, mba?” tiba-tiba datanglah pelayan yang membawa menu pada mereka.


“Sya, lo mau apa.” Tawar Tiara, menatap Tasya yang masih melamun


“Gue nurut aja.” Sahutnya pelan.


Tiara menghela napas sedih, melihat Tasya. Mengambil menu, berhubung sekarang udah hamper jam 7, maka ia memilih makanan berat dan mengenyangkan.


“Udang bakar pedas manis, sate lilit sambal mentah, cah brokoli saus tiram, cap cay kering seafood, calamari salad, crepe salad buah, tropical smootie, es kelapa muda,” ujar Tiara sambil menutup menunya.


“Nasinya untuk berapa orang, Mba?” Tanya pelayan lagi.


“4 orang.” 


“Ada lagi, Mba?” Tanya pelayan itu pada Tiara.


“Tambah aja 2, Aqua yang gak dingin.”


“Baik, saya ulangi pesanan Mba,” ujar pelayan itu sambil mengulang pesanan Tiara. “Permisi.”


“Kenapa nasinya 4, kita kan bertiga dan lagipula banyak banget lo pesan, Ra.” Tanya Tassya heran


“Persiapan aja, siapa tau nanti Gilang mau nambah. Kan bukan hanya kita berdua aja yang makan.” Mengambil ponsel dan melihat ada pesan masuk dari Gilang, yang mengatakan kalau 5 menit lagi sampai.


“Benarana lo ada janjian ama Gilang, gue kirai lo bercanda doang.”


“Gak lah.”


“Berarti Gilang udah mendapat informasi yang lo butuhkan.”


“Iya.”


“Pesanan tadi, emang udah lo tanyakan ama Gilang juga.”


“Dia bilang sih, gak ada masalah, gue akan pesan apa. dia gak milih-milih.”


“Lo gak pesan minuman buat Gilang?” Tanya Tasya bingung.


“Udah, Aqua. Gilang bilang, katanya dia minumannya Aqua yang gak dingin aja.” Jelas Tiara. “Kembali ke lo, Sya.” Menatap Tasya dalam. “Sebaiknya lo cerita apa yang sedang direncanakan, biar gue bisa bantu. Gak baik dipendam sendiri.”


“Bukannya gue gak mau cerita, hanya belum fix aja, masih ragu.” Sahutnya lembut.


“Maka nya cerita, biar kita mencari jalannya keluarnya bersama-sama.” Ucap Tiara tegas. 


“Gue tau…” ucapan Tasya terputus saat ada pria yang menghampiri meja mereka.


“Maaf, udah buat kalian nunggu lama,” sela Gilang menghampiri mereka.


“Hai, Sya. Apa kabar?” sapa Gilang ramah.


“Baik, lo makin ganteng aja, Lang.”  Canda Tasya


“Iya dong,” sahut Gilang sombong.


“Dasar narsis,” cibir Tasya geli.


"Heheh,lo apa kabar juga, Ra," sapa Gilang


“Baik, seperti lo lihat," jawab Tiara,” menatap Tiara.


“Kalian udah pesan belum?” tanya Gilang


“Udah kok,” menyebutkan pesanan mereka tadi. “Gak pa-pa kan dengan menu yang gue pesan tadi.”


“Gak masalah, perut gue bersahabat dengan makanan apapun, asal halal dan enak.” Candanya tersenyum pada mereka berdua. “Mau bahas sekarang atau nanti.”  


“Sekarang aja, makanannya juga belum datang.” Jawab Tiara


"Oke,” memberikan iPadnya pada Tiara, berisikan informasi yang telah dicarinya. “Semuanya ada di situ.”


Tiara mengambil, lalu membacanya dengan serius. “Kenapa sedikit sekali informasinya.”


“Pemilik kalung itu, bukan orang sembarang. Jadi gak ada yang banyak didapat tentang kalung itu. Hanya seputar pemiliknya.” Menatap Tiara. “Kalung itu, dimiliki oleh turun temurun keluarga Knoxfeld, salah satu orang terkaya di Turki. Kalung itu selalu diwariskan kepada setiap anak dari anak tertua. Baik yang lahir itu, pria maupun wanita.”


“Jadi gimana kalau anak tertua gak memiliki keturunan.” Tanya Tasya ingin tahu.


“Maka akan diwariskan kepada anak selanjutnya.” Terang Gilang. “Saat ini, kalung itu diwariskan pada Wyatt Alger Knoxfeld. Fotonya bisa lo lihat di sana.”


“Mana-mana?” Tanya Tasya semangan. “Wihh, cool banget, ini mah perfect man,” puji Tasya, menatap Tiara. “Tangkapan besar nih, Ra.” Bisiknya ke Tiara, yang mendapat pelototan darinya, mebuatnya tertawa.


“Keluarga Knoxfeld, mempunyai banyak usaha. Dari rumah sakit, perhotelan, perkapalan, perusahaan kilang minyak, dan masih banyak lagi. Wyatt sendiri keturuan campuran, Ayahnya Rhett Victor Knoxfeld keturunan campuran Turki dan Spanyol. Ibunya keturuan Aceh.”


“Jadi dia berdarah Indonesia juga,” ujar Tiara terkejut. “Pantas dia bisa berbicara bahasa Indonesia dengan lancar.” Sambungnya berbisik pada diri sendiri, tapi didengar oleh Tasya.


“Lo udah bertemu dengannya?” menatap Tasya kesal dan tajam. “Pantas aja lo gak pernah ngomong lagi tentang kalung itu, jangan-jangan udah dikembalikan.


"Iya."


"Kenapa gak cerita.” Tanya Tasya kesal


“Maaf, Sya. Bukannya gak mau cerita, gue lupa, mana lagi kita disibukan dengan dead line laporan kerja sama yang baru. Lo tau sendiri, senin nya kita semua, pada dibuat sibuk semua dengan perusahan baru yang mengajak kerja sama dengan  perusahaan kita.” Jelasnya dengan lembut dan hati-hati, tanpa membuat Tasya kesal lagi.


“Lo benar,” ucapnya setuju. “Gue heran, perusahaan besar gitu, mau bekerja sama dengan perusahan kecil seperti perusahaan kita.” Sambungnya heran.


“Jangan terlalu mengecilkan perusahaan sendiri, Sya” ujar Tiara mengingatkan. Perusahan mereka termasuk perusahan yang sedang berkembang. Mereka bergerak dibidang developer rumah dan apartement, klien-klien mereka sebagian banyak dari perusahan besar. Tapi baru sekarang, perusahan mereka mendapat klien yang menawarkan kerja sama jangka panjang 


“Kalian ini bicarakan apa sih?” Tanya Gilang bingung.


“Oh maaf, Lang.” ucap Tiara menyesal. “Kita bicara out the topic yah.”


“It’s ok,” jawab Gilang santai. 


“Udah, gak usah ngomongi kerjaan saat sekarang, bikin pusing,” elak Tasya 


“Permisi, Mba,” seorang pelayan datang bersama temannya, membawa pesanan mereka dan menyajikannya. “Ada lagi yang bisa saya bantu, Mba, Mas.”


“Gak ada, makasih.” Sahut Tiara sopan.


“Baiklah, saya permisi.”  Sahut pelayan itu ramah.


“Ayo, kita ngobrol sambil makan,”ajak Tiara. Mengambil lauk yang diinginkankan, dan menyuapkan ke mulutnya.