
"Bagus itu, rencana Monic. Setau gue lo masih ada hubungan keluarga juga kan dengan Bella, otomatis kalian saudaraan," seru Tiara sependapat.
"Ck, mana sudi gue saudaraan sama dia," cibirnya sinis dan benci.
"Lah, sepupu lo, Fendi kan nikah sama Mba Ara, Mba nya Bella." Seru Monic mengingatkan.
"Mba Ara beda lo sifanya dari Bella, setau gue, dia sama kayak lo, kurang dapat perhatian dari keluarga. Hehe, sorry Sya," ujar Tiara menyengir, ketika Tasya tersinggung dengan omongan terakhirnya. "Maksudnya gini, Sya. Mba Ara itu kebalikkan dari Bella, semuanya beda. Yah sih diantara mereka, Bella lebih cantik, tapi Mba Ara ngelihatnya gak ngebosenin, kita merasa adem didekatnya."
"Kulkas kale," celetuk Tasya menyela, membuat Tiara mendeliknya geram.
"Kita kan sering berinteraksi dengan Mba Bella, dia orangnya baik, asik diajak bicara, mempunyai aura positif, yang membuat siapa aja yang mendekatinya bahagia. Setau gue, dia seperti dianak tirikan oleh kedua orang tuanya, gara-gara dia gak secantik dan seberhasil Bella sekarang." Jelas Tiara.
"Lo benar, seingat gue dia itu hanya guru ASN kan, mungkin nurut keluarganya gaji seorang guru terlalu kecil dan gak membuat mereka bangga. Beda lagi kalau seorang wanita model, dikenal banyak orang dan gajinya gede." Gumam Monic. "Gue senang ternyata Mba Ara berjodoh dengan Kakak sepupu lo itu, orang baik pasti berjodoh dengan orang baik juga."
"Model yang bergaji besar itu, apabila dia emang terkenal dan udah go internasional. Lah Bella, orang aja banyak gak tau kalau dirinya seorang model." Celetuk Tasya menghina.
"Iya juga sih, gue pernah tanya teman gue yang hidup didunia modeling juga, mereka gak pernah kenal dengan Bella." Seru Monic membenarkan
"Emang sapa teman lo iti?" tanya Tasya penasaran.
"Lo gak akan kenal, gue kenal dia karena sering menginap dihotel tempat gue kerja," elak monic.
"Cowok atau cewek, mencurigakan," Tasya menatap Monic dengan pandangan menyelidik dan curiga.
"Gak usah natap gitu, merinding disko ni bulu roma gue," sembur Monic bercanda, tertawa melihat Tasya cemberut. "Melanjutkan omongan kita tadi, lo ngundang sepupu lo, otomatis, lo harus ngundang keluarga Mba Ara juga kan," menatap mereka yang menganggukkan kepala. "Nah, setau gue, kedua orang tua nya selalu mengelu-ngelukan Bella, terlalu membanggakannya."
"Terus," seru Tasya ingin tahu.
"Calon ibu mertua lo kayaknya kurang suka dengan perjodohan ini kan," Monic bertanya pada Tasya, yang dijawab dengan anggukkan kepala. "Dia terlalu membanggakan Roy, selalu mengganggap anaknya itu selalu benar dan gak pernah membuat keluarga mereka malu, seperti Farrel, adiknya Roy. Dan menganggap lo wanita yang tak pantas untuk anaknya itu. Jadi ketika video mereka lo tanyakan, kebanggan mereka terhadap anaknya akan hancur, dengan melihat wajah sebenarnya dari mereka."
"Lo tau dari mana tentang Farrel." sela Tiara penasaran, dia hanya menjadi pendengar.
"Dia itu sering check in, di hotel gue, dengan wanita yang berbeda, sering ribut kepergok dengan cewek lain, oleh pacarnya, sehingga terjadinya keributan. Pokoknya selalu membuat masalah, gue pernah juga dengar, kalau dia pernah kepergok nyabu, tapi info nya belum tentu kebenarannya." Jelas Monic, sendari menyesap jus mangganya.
"Lanjut," seru Tasya.
"Hmm," Tasya berpikir dan menatap mereka yang menunggu jawab darinya. "Ide lo bagus juga, gue ikuti rencana lo."
"Nah itu baru sobat gue," seru Monic senang, menepuk-nepuk pundak Tasya bangga.
******
Tiara sedang kebingungan mencari keberadaan Tasya, karena mereka akan makan siang di luar, tapi temannya itu belum nongol-nongol juga. Ketika berada di depan kantor Bang Bram, ia mendengar, suara orang sedang bertengkar yang tak lain adalah Bang Bram dan Tasya. Ia berdiri, dan menajamkan pendengaran dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Abang kenapa harus dijual perusahaan ini, gue gak terima." Seru Tasya Marah.
"Udah berapa kali Abang bilang, cintaku. Gak dijual, hanya perusahaan kita merger dengan perusahaan AK.Corp," sahut Bram tenang, ia tahu kalau Tasya akan protes tak setuju akan seperti ini.
"Sama aja Bang, apapun istilahnya. Gue gak suka, apalagi dia membeli sebagian saham kita. Ini kan perusahan keluarga Bang, jangan seenaknya dijual." Tasya menatap Bram tajam.
Tiara melihat Bram yang dengan santai duduk dikursinya, menghadapi kemarahan Tasya, sambil berdiri didepannya. Ia ingin masuk tapi tak enak, apalagi sedang bertengkar seperti ini.
"Adikku sayang, semua keputusan udah dipikirkan dengan matang. Dewan direksi, yang semuanya keluarga kita semuanya sudah setuju, kenapa lo yang jadi marah-marah seperti ini." Ujarnya sendari berjalan mendekatinya, membawa Tasya duduk disofa yang tak jauh dari mejanya
"Gimana gak marah, kalau perusahan kita udah merger sama perusahan lain, otomatis semua sahamnya bukan milik keluarga kita sepenuhnya. Semua keputusan yang diambil demi kebaikan perusahaan, harus ada orang lain yang bukan anggota keluarga kita, yang ikut andil didalamnya. Lama-lama perusahaan ini bukan milik kita lagi." Terangnya menyeruakan isi hatinya.
"Gak usah khawatir gitu, walaupun kita merger, saham terbanyak masih tetap dimiliki oleh keluarga kita. Semua ini dilakukan demi kemajuan keluarga kita, dengan merger ini, perusahaan kita akan dikenal sampai manca negara," jelasnya dengan sabar.
"Bang setau gue perusahaan kita udah banyak dikenal oleh perusahaan lainnya dari luar negeri, jadi melakukan itu rasanya gak perlu." bantahnya bersikeras.
Hufft, Bram menghela napas sabar, menghadapi sikap keras kepala Tasya. "Dek, memang benar kata lo, kalau perusahan kita udah go internation, udah banyak bekerja sama dengan perusahaan lain dari manca negara. Tapi dengan kita bergabung dengan naungan AK.Corp, maka kita akan lebih maju dan berkembang, lalu klien kita bukan sembarang klien tapi dari perusahaan besar, seperti Radf.Corp, MKX Company dan masih banyak lagi." Menggenggam tangan Tasya. "Lo gak usah khawatir lagi dengan keadaan perusahaan kita sekarang ini, yang terjadi gak semenakutkan seperti yang lo pikirkan kok." menepuk-nepuk tangannya lembut.
"Tetap aja hati gue gak terima," gerutu tegas. "Saham siapa yang telah dijual?" sambungnya bertanya menatap Abangnya tajam.
"Eeng... itu.." jawabnya terbata dan ragu, ngomong jujur akan membuat Tasya lebih marah, tak ngomong ia akan langsung menanyakan ini pada Daddy, dan sudah dipastikan alamatnya pasti tak baik.
"Jangan bilang kalau saham Abang yang dijual," tuduhnya dan menatap tajam, melihat Abangnya yang terdiam dan menyesal. "Benaran, Bang." Teriaknya tercengang dan marah, berdiri lalu berjalan mondar mandir. "Kok bisa sih Bang, saham siapa lagi, jawab gue, please."