
Mereka baru tiba di bandara Internasional Changi Singapura. Dan sedang menunggu jemputan, Tiara tahu kalau ada sepupu Tasya yang tinggal di sini tapi resikonya besar kalau meminta bantuannya. Karena kalau sepupunya tahu maka Bang Bram juga pasti akan tahu. Maka-nya, Tasya menghubungi teman mereka Jasmin, yang kerja dan tinggal sementara di sini.
Walaupun bagi Tasya, sudah terlalu sering datang ke Singapura. Tapi sekarang tujuannya berbeda dengan seperti biasanya, sehingga ia butuh teman mereka untuk membantu.
"Sorry, lama nunggu." Seru Jasmin mendekat.
"Baru nyampe kok." Sahut Tasya dan memeluk Jasmin. "Lo apa kabar, Jas. Tambah subur aja."
"Hahaha, baik. Lo menghina atau memuji gue, Sya." Membalas pelukan Tasya. "Ra, lo tambah cantik aja." Mendekati Tiara dan memeluknya juga.
"Baru tahu lo yah. Hahaha" tertawa melihat raut pura-pura Jasmin yang akan muntah.
"Kangen gue sama kalian, coba Monic juga ikut, pasti lebih seru deh." Ujarnya senang sekaligus sedih karena Monic, sahabat mereka satu lagi berhalangan hadir, wajar kalau mereka nggak lengkap, mereka ke Singapura juga dadakan.
"Sorry, kalau kami dadakan minta bantuan lo, Jas." Ucap Tasya sambil memasukkan kopernya ke bagasi mobil.
"Udah biasa kok." Sahutnya nyantai.
"Ledek terus, mumpung orangnya gak ada." Sahutnya pura-pura marah dan mereka tertawa, memang bagi mereka, perihal bantu-membantu secara dadakan sudah biasa bagi Tasya. Memang diantara mereka berempat, yang suka berubah pikiran dan minta tolong di menit-menit terakhir, yah Tasya doang. Sehingga mereka nggak heran hanya sering kesal sendiri yang diminta itu tak bisa selalu mereka penuhi.
******
"Silakan masuk." Membuka pintu apartnya dan membawa koper mereka masuk. "Ini lah gubuk derita gue, walalupun gak terlalu mewah tapi sangat nyaman tinggal di sini." Ucap Jasmin merendah.
"Gubuk dari mana, rumah gue aja kalah mewah dengan apart lo, Jas." Gumam Tiara kagum dengan apart Jasmin. Apartnya jasmin berada di salah satu kawasan apart mewah yang berada di Orchard Road.
Apartment 50 lantai ini benar-benar nyaman, aman dan lengkap. Walaupun bukan termasuk termewah tapi kalau mendapat fasitas lengkap kayak gini, enak banget. Harganya juga pasti mahal banget, ringisnya dalam hati. Berjalan melihat sekelilingnya, apart yang terdapat 2 kamar dengan memiliki kamar mandi masing-masing. Kitchen set keren yang modern dan lengkap, dining table yang menyatu dengan dapur. Ia terkekeh geli dalam hati, katrok benar dirinya, maklum masuk apart baru pertama ini lah, jadi masih aneh dan kayak orang udik.
"Lo gila yah ketawa sendiri." Ejek Tiara aneh.
"Sirik aja lo," cibir Tiara geli.
" By the way, bawa oleh-oleh apa dari Bunda," serunya senang.
"Kagak ada," jawab Tasya jutek.
"Bohong lo pada, gak mungkin lah Bunda
kagak nitip oleh-oleh untuk anaknya yang cantik ini," cibirnya tak percaya.
"Sok tau, lo." mengerengut masam pada Tasya
"Tau lah, gue gitu loh," pujinya bangga, membuat kedua temannya ingin menimpuknya dengan sesuatu. "Mana?"
"Ish, gak sabaran banget." celetuk Tasya geram. "Kasih, Ra."
Tiara hanya geleng-geleng melihat mereka berdua. Lalu berjalan mengambil titipan dari Bundanya lalu memberi pada Jasmin. "Ini," memberikan 1 kg pempek lenjer, makanan khas palembang beserta cuka-nya, bersama jambu biji yang tumbuh dibelakang rumahnya. Memang buah jambu sedang tumbun lebat, dan banyak tersimpan dikulkasnya.
"Sepupu gue, Dwinda. Habis mengunjungi Bibi Nadila di Palembang. Bawa oleh-oleh pempek lenjer buatan sendiri banyak banget, kalau gak salah 5 kg." Jelasny sambil memasukkan jambu ke dalam kulkas. "Bunda inget lo doyan pempek juga, maka nya di bawakan pempek."
"Bunda emang the best," pujinya tulus dan hangat. "Bilangi makasih yah sama Bunda."
"Telepon sendiri sana, kagak sopan pakai diwakili segala." Sindir Tasya.
"Sirik aja lo, week," protesnya sambil berjalan menjauhi Tasya dengan cuek.
"Ck, gak tau terima kasih," cibir Tasya lagi, seakan mengajaknya berdebat.
"Suka-suka gue dong," sahutnya cuek
"Udah deh, lama gak ketemu. kebiasaan kalian gak berubah," sela Tiara menggeleng kepala. "Kita mandi dulu, Sya. Gerah gue, lengek semua." ajak Tiara menatap Tasya.
"Ok, kita mandi dulu," menatap Jasmin. "Jas, gue pake kamar mandi lo, ya."
"Iya, pakai aja."
******
Tingg..Tingg..
Bunyi pesan masuk ke ponsel Tasya, Tiara dan Jasmin mendekat dan melihat kiriman sebuah pasangan yang sedang bercumbu di depan lift.
"Dasar gila," maki Tiara marah dan jijik. "Emang gak ada kamar harus bercumbu di depan lift. Ikhh... Muak gue lihatnya."
"Polos banget deh lo, Ra. Kayaknya segel lo masih aman terkendali yah." Ledek Jasmin geli.
"Hello, jaman boleh canggih dan modern tapi jangan sampai kebablasan juga, sampe harus jualan murah." Memasang raut horor. "Gue sebagai perempuan ngelihat adegan mereka itu menjadi malu. Padahal bukan pemeran utamanya."
"Lo memang terbaik, Ra. Salut gue terhadap prinsip hidup lo di jaman now sekarang." Puji Jasmin tulus. "Tapi mereka cuma pemanasan, Ra. Belum masuk ke intinya." Sambungnya dengan jahil, terkekeh melihat raut horor di wajah Tiara. Jasmin salut dengan prinsip Tiara yang tak mau dicium oleh cowok, apalagi harus free sex. Itu bukan gaya hidupnya, ia tahu temannya itu sudah mempunyai gebetan bahkan mereka ttm alias teman tapi mesra. Tapi dia tetap menjaga dirinya tanpa mau diicip-icip sama yang bukan suaminya. Mungkin diatara mereka berempat, hanya Tiara sendiri yang belum pernah pacaran. Walaupun gaya hidup mereka bebas tapi untuk free sex, pantang melakukannya dengan seorang yang bukan suami mereka kelak.
"Tapi sama aja, Jas. Gak malu apa mereka bercumbu di tempat umum, CCTV dimana-mana. Murah banget harga tuh cewek." celetuknya menghina dan geram.
"Jalan-jalan ke luar negeri tiap weekend, barang-barang branded, dan apart mewah. Harganya bukan murah lagi, Ra. Tapi super mahal, kalau gak punya banyak doku, bisa koit mengap-mengap kehabisan napas." Ujar Jasmin sok bijak. Menatap Tasya yang masih terdiam dengan padangan kosong. "Sya, Tasya. Huss... Wahai jin kesepian, pergilah dari tubuh teman gue Tasya." Sambungnya berlebihan seakan sedang mengusir Tasya yang kesurupan.
"Perlu gue ambil air." Tanya Tiara menanggapi, pura-pura khawatir.
"Buat apa?" Tanya Jasmin heran.
"Buat lo sembur lah, kan kalau orang kesurupan disembur air langsung sadar, kayak di TV-TV gitu loh." Candanya dengan wajah serius.
"Hahaha." Jasmin tertawa ngakak. Sedangkan Tasya kesal melihat tingkah laku kedua temannya.
"Akhw.." Gumam Tiara kesakitan karena dijitak Tasya.
"Bahagia banget kalian berdua bisa ngeledek gue barusah yah." Berkacak pinggang di depan mereka, yang memasang wajah pura-pura mohon ampun. Mereka saling melirik satu dengan yang lainnya dan tertawa ngakak.