
“Gak perlu, Tiara udah punya tunangan,” sela suara pria datar yang mendekat, ketika mendengar wanitanya akan dikenalkan pada pria lain.
“Eh,” gumamnya bingung mau ngomong apa.
“Siapa, Ra?” Tanya Keysa penasaran.
“Ini…” ujarnya terputus
“Wyatt, tunangan Tiara.” Jawabnya datar.
“Ya ampun, Ra. Tunangan kok gak kasih tau sih,” serunya senang, walaupun hatinya kecewa, tak bisa mencomblangi temannya dengan Tiara. Dan sepertinya tunangan Tiara ini bukan orang sembarang, dilihat dari penampilannya yang serba mahal. “Yah, gagal deh besanan dengan lo.” Candanya pura-pura sedih.
“Bukan gitu,” gumamnya serba salah, menatap Wyatt tajam. “Mulut lo ini asal nyeblak aja.”
“Nyantai aja kale, gue ikut bahagia kok. Lo terlihat sangat serasi dengannya, kalau nikah nanti jangan lupa ngundang-ngundang loh, Ra.” Ujarnya berbinar senang.
“Pasti, semua teman Tiara akan kami undang,” sela Wyatt datar.
Tiara kesal, Wyatt selalu menyelanya dan ngomong seenaknya saja. “Ish, ember mulu mulut lo tuh, gak usah menyela terus deh, gue bisa jawab sendiri.” Gerutunya geram, semakin kesal melihat sikap Wyaat yang masa bodoh. “Lo diam aja, gak usah banyak ngomong.”
“Udah, udah. Gak usah ribut gitu, gue biasa aja.” Ujar Keysa menenangkan.
“Lo diam aja kalau gak ditanya, tapi Bunda dan Ayah ke mana,” ujarnya kesal sendari bertanya.
“Mereka didalam, sedang ngobrol.” Jawabnya datar.
“Oh,”mengangguk kepala. “Key, dengar-dengar lo sekarang model yah, selamat yah, cita-cita lo tercapai.” Sambungnya tulus.
“Iya,” ia terkejut, Tiara masih mengingat obrolan mereka mengenai keingingannya setelah lulus sekolah, lalu tersenyum. “Tapi belum terkenal, Ra. Masih merangkak naik untuk ke atas.” Sambungnya santai.
“Gak perlu berkecil hati, kalau lo menjalaninya dengan ikhlas dan lurus-lurus aja, semuanya pasti ada jalannya, lo bisa go international.” Ujar Tiara menyemangatinya dengan menggenggam tangan Keysa.
“Amin, makasih Ra. walaupun miskin tapi gue bukan orang yang akan melakukan berbagai cara agar cepat naik ke atas.” Jawabnya tulus dan jujur.
“Cara seperti itu, biasanya gak bertahan lama, Key. Cepat redupnya, walaupun lambat, kita nikmati aja prosesnya. Karena dari proses itulah kita mendapat banyak pengalaman dan mengajarkan kedewasaan.” Ujar Tiara menepuk-nepuk tangan Keysa. Seingatnya Keysa dulu dari keluarga miskin, dia anak pertama dari 3 saudara, kedua orang tuanya hanya jualan es dan buruh cuci, tapi semua itu tak menyulutkan semangatnya untuk mengejar pendidikan, dan tak minder berteman dengan siapa saja. Dia juga selalu mendapat beasiswa atas kepintarannya. Selama mereka berteman, walaupun tak sedekat dirinya dengan ketiga teman lainnya. Tapi ia sering mendengar curhatan Keysa, dari sana bisa menilai karakter Keysa yang pekerja keras, menyayangi keluarganya dan hidup jujur . “Kalau lo butuh bantuan, hubungi gue aja. Gue usahain nolongi lo, Key.” Sambungnya tulus.
“Makasih, Ra.” Sahutnya lirih sambil meremas tangan Tiara. Ia terharu, Tiara salah satu temannya yang open sama siapa saja, tak milih-milih teman, selalu mau menolongnya, sehingga dia sering merasa sungkan. Ia masih ingat ketika adiknya masuk rumah sakit, butuh biaya banyak, Tiara rela mengosongkan tabungannya secara diam-diam membantunya. Ketika mau mengembalikan uang itu, jawabnya “Udahlah, Key. Uang itu udah menjadi rizki adik lo, gak usah lo kembalikan. Biar jadi ladang pahala buat gue nanti, malah gue malu cuman bisa bantu lo segitu.” Mendengar jawab Tiara itu membuatnya menangis terharu, Tiara sudah membantu banyak tapi masih merasa malu belum membantunya lebih. Tiara juga yang minta tolong pada Tasya untuk membantunya mendapat pekerjaan freelance, agar bisa membantu membiayai sekolah adik-adiknya. Karena keluarga Tasya banyak yang membuka cafe dan restaurant, ia pikir Tasya itu sombong, ternyata kalau sudah mengenalnya, dia sama saja seperti Tiara, suka menolong dan open sama siapa saja. “Kita ngobrol di sini, memang belum mulai Ra.” sambungnya mengalihkan omongan.
“Belum, Tasyanya masih dirias, calonnya Tasya aja belum datang kok,” sambil melihat jam nya yang hampir menunjukan jam 8.
“Padahal 25 menit lagi, mulai yah.” Keysa melihat jam tangannya. “Kenapa lo gak ngerawangi Tasya di dalam, Ra.” Tanyanya heran.
“Biasa, kan orang kita emang gitu, heheh,” guraunya. Menatap Wyatt yang diam, merasa geli, dia menurutinya untuk tak usah ngomong kalau tak diajak bicara. “Disuruh Mommy, buat keliling, lihat-lihat persiapannya udah beres semua apa belum.”
“Wah, wah, siapa ini yang datang,” seru suara mencemooh dari jauh, berjalan mendekati mereka.
“Ck, ada ulat bulu datang.” Bisik Keysa geram.
“Hahaha,” tertawa mendengar ejekan Keysa.
“Benar nian lo, bikin gatal-gatal kalau mendekat.”
“Mana?” Tanya Wyatt datar.
“Tuh, yang memakai baju kurang bahan,” bisiknya dan tertawa melihat kening Wyatt yang mengerut, menatap Tiara seakan dirinya itu aneh. “Udahlah lo diam aja kalau gak tau.” Sambungnya tak sopan, langsung menyengir ketika mendapat tatapan tajam dari Wyatt. “Hehe, maaf.”
“Ngapain lo di sini, ini bukan tempat lo,” ejek seseorang yang berdiri didepannya dengan congkak.
“Lo ngomong sama siapa, Iyem.” Cibir Keysa sinis. “Lama tak bertemu, mulut lo makin lemas aja, Bella.”
Yah, yang mendekati mereka itu, Bella, dan temannya Sarah yang bergelayut manja dilengan Alvin. Tiara hanya menatap mereka datar, merasa geram, melihat keangkuhan Bella dan temannya, seakan mereka berdua itu wanita tercantik di dunia.
“Lo terlihat beda, Ra.” Puji Alvin menatapnya intens. “Cantik.”
“Eh, makasih.” Sahutnya tulus, melihat Alvin yang salah tingkah.
“Ehem,” deheman dari Sarah mengalihkan tatapannya. “Biasa aja lihatnya, Beb. Gak ada yang perlu dipuji,” cibirnya sinis menatap Tiara dari atas ke bawah.
“Siapa itu, teman lo, Yem,” sindir Keysa mengejek. “Cocok sih berteman dengan lo.”
“Hey, miskin. Nama gue Bella, seenaaknya aja, manggil Iyem. Pikun yah lo, gitu aja harus dikasih tau dulu,” sindirnya marah dan menghina.
“Lah dari dulu kan panggilan lo Iyem,” sahutnya cuek.
“Kenapa dia dipanggil begitu,” seru Wyatt datar, menatap dingin ke Alvin, yang tak berhenti menatap Tiara.
“Oh, dia sering merebut cowok orang, maka nya kami manggilnya gitu. Soalnya dulu ada Ibu-ibu jualan dikantin, yang udah punya pasangan tapi masih suka selingkuh, namanya Iyem munaroh. Istri dari selingkuhannya melabraknya, sehingga dia dilarang lagi jualan dikantin kami. Dia ini terkenal dengan merebut pacar orang, maka nya sejak itu, teman-teman disekolah kami maupun hatersnya Iyem ini, memanggilnya itu.” Terangnya menyindir sambiil menunjuk Bella. “Dia lebih terkenal dengan panggilan Iyem dari pada nama aslinya, hahaha.” Sambungnya tertawa menghina.
“Diam lo!” bentaknya marah dengan wajah merah.
“Kenapa gak suka lo, kan itu emang benar,” tantangnya datar. “Ati-ati lo, Ra. Nanti tunangan lo ini direbut si Iyem ini.” Sambungnya menyindir Bella sengit.
“Apa!” seru Alvin meninggi dan kaget. Mereka menatap Alvin aneh dengan reaksinya yang berlebihan.