
"Haha, ternyata kamu gadis yang keras kepala juga," menetertawainya dengan pandangan datar.
"Ada yang lucu, aneh," cibir mengejek. Mereka saling tatap, menyelam kekuatan masing-masing. Tiara sudah tak tahan dengan tatapan Wyatt yang intens, lalu ia melengos.
"Emang pria melamar dengan cara romantis, bisa membuktikan kalau dia tulus. Bisa saja dia terpaksa berbuat begitu, agar kekasihnya menerimanya. Bisa juga karena ingin dipuji oleh orang kalau dia pria yang romantis, kita gak bisa menilai dari permukaan sebelum meyelam kedalam hatinya," ucapnya sambil menyindir.
"Hei, Tuan. Inti dari omongan gue, anda melamar tuh dengan nada dan ekspresi yang datar, seperti anda sedang bicara pada bawahan." Serunya agak meninggi. "Anda bicara pada Ayah gue, bisa bicara dengan hangat. Kenapa ama gue, gak bisa," menatapnya sambil menatang.
Wyatt geram dengan Tiara yang banyak tingkah dan protes. "Kamu maunya gimana?"
"Kan tadi udah gue sindir, lamar gue dengan hangat, bukan dengan raut wajah datar dan kaku, gak terlihat ketulusan dari anda." Jelasnya sinis. "Gak perlu dengan cara romantis, biasa aja tapi penuh ketulusan, itu yang paling penting."
Wyatt mengambil napas pelan, tak ketara. Ia menoleh ke sekelilingnya, mencari sesuatu. Setelah dapat, pergi meninggalkan Tiara.
"Ck, kok malah pergi, dasar cemen." Desis ketus. Melihat Wyatt, telah menghilang dari padangannya, ia tak peduli Wyatt ke mana, merasa lega kalau lamaran Wyatt hanya lelucon saja.
"Tiara," panggil Wyatt tiba-tiba, berjalan mendekatinya dengan tangan diletakkan dibelakang seakan menyembunyikan sesuatu. Ia berdiri di depannya memberikan setangkai mawar merah padanya. "Tiara Bulandari, maukan kamu menjadi istriku, menemaniku selama sisa hidupku. Bersama-sama mengarungi bahtera rumah tangga, menjadi satu-satunya ibu dari anak-anakku kelak. Seperti tangkai mawar ini, indah dan berduri, akan menjadi satu-satunya pendampingku dari sekian banyak wanita disekelilingku." Ucap Wyatt tulus, menatap Tiara dengan kelembutan.
Tiara speechless mendengarnya, menatap Wyatt dengan bengong. Tak tahu harus berbuat apa-apa. Bukan seperti ini yang diharapkan akan dilakukan oleh Wyatt.
"Hahaha," tertawa garing, lalu mengambil mawar itu, lalu memutar-mutarnya dengan padangan kosong.
"Ada yang lucu," cetusnya sengit tersinggung. Memalukan sekali ia melakukan ini, pikirnya geram. Berbalik menjauhi Tiara, untuk menghindar karena tak mau wajah merahnya diketahui Tiara dan semakin diejeknya.
"Yah, tersinggung dia," serunya geli. "Jujur yah, bukan seperti ini yang gue mau, tapi gue hargai usaha anda untuk memperlihatkan ketulusan hati anda," sambungnya tulus.
Wyatt duduk bersebarangan menghadap Tiara. "Jadi lamaran gue diterima kan."
"Gak," sahutnya tegas.
"Kenapa?" menatap Tiara dingin, seakan sedang dipermainkannya.
"Gue mau tau alasan anda, melamar gue," menatap Wyatt tajam.
"Pertama, bisa jangan terlalu formal kita ngomongnya," pintanya. "Kedua, mungkin kamu sudah tau mengenai cerita absurd, tentang kalung yang telah kamu bawa tempo hari."
"Maksudnya?" tanyanya pura-pura bodoh.
"Jangan pura-pura gak tau gitu, Tiara. Kurasa kamu sedikit banyak tau tentang, cerita sebuah kalung yang telah mempertemukan seorang pria dan wanita, dan menakdirkan mereka untuk hidup bersama selamanya."
"Apa.." ujarnya terbata dan terkejut.
"Melihat dari keterkejutanmu, kurasa kamu sudah tau, kalau kamu telah dipilih sebagai pedamping hidupku." Sindirnya datar
"Omong kosong, yang menentukan jodoh manusia yah, Tuhan Yang Menciptakan kita, bukan dikarenakan sebuah kalung," protesnya tajam.
"Semua orang juga tau itu, tapi ini bisa kita katakan kalau kalung itu hanya sebuah perantara semata. Misalnya, ada orang mencari jodoh, dengan perantara makcomblang, ada juga dari sosmed. Nah kalau kita dari kalung itu," paparnya datar.
"Percaya tak percaya, itulah yang selalu terjadi. Sebelum kita, maksudnya orang-orang terdahulu dalam keluarga besarku yang diwariskan kalung tersebut, menemukan pasangannya melalui kalung itu."
"Contohnya?" tanyanya tak percaya.
"Daddyku, ia menemukan Mommyku saat Mom tanpa sengaja menggagalkan orang-orang yang ingin mencelakainya." Terangnya serius. Menghela napas. "Aku juga gak mau begini, seakan gak laku saja. Tapi kalau bukan yang dipilih oleh kalung itu sendiri. Walaupun kita sudah punya pasangan pilihan sendiri, dan memutuskan menikah, gak akan terjadi, karena ada saja kejadian yang membuat mereka gagal menikah."
"Serius" tanyanya tertarik.
"Iya," berjalan mendekati meja pendek di depannya, dan duduk secara lesehan. "Duduk sini, biar kita nyaman ngobrolnya," menunjukan tempat yang ada dihadapannya.
Tiara menatapnya penuh curiga dan ragu, menyelediki dari mata Wyatt kalau saja ada maksud tersembuyi menyuruh ia duduk dihadapannya. Setelah yakin kalau dia tak ada maksud jahat, ia berjalan menujuh Wyatt, dengan pikiran geli, untuk apa ia takut Wyatt berbuat jahat, kan sekarang dia sedang berada dirumahnya.
"Sekarang silakan tanyakan apa yang ingin kamu ketahui," ujar Wyatt datar.
"Benaran ada, jika seorang pria atau wanita yang memiliki kalung itu, udah mempunyai pasangan masing-masing, mereka gak bisa bersatu dengan pasangan mereka," ucapnya ingin tahu dengan serius. Dan Wyatt mengangguk kepala membenarkannya. "Contoh siapa?"
"Daddyku." Sahutnya santai.
"Kok bisa," serunya tak percaya.
"Bisa lah, berarti mereka gak berjodoh," serunya seenaknya.
"Ish, orang bodoh aja tau, kalau pasangan gak bisa bersatu berarti bukan jodoh," gerutunya geram.
"Nah itu tau, kenapa masih nanya," tersenyum miring, senang membuat Tiara kesal.
"Susah yah ngomong sama orang pintar," Ejeknya sinis. Makin dongkol, melihat Wyatt tersenyum lebar, seakan menikmati telah membodohinya. Tiara terpana, melihat senyuman Wyatt, jantungnya berdegup kencang.
"Jangan terlalu lama dipandang, nanti bisa jatuh cinta loh padaku," serunya jahil dan terbahak melihat rona wajah Tiara yang memerah karena malu, melengos karena ketahuan telah memergokinya sedang menatap terpana pada dirinya.
Wyatt sendiri heran, kenapa begitu mudah ia tersenyum, tertawa dan menuruti keinginan Tiara. Biasa ia sangat pelit ekspresi terhadap siapun yang bukan orang-orang yang disayanginya. Apakah ia telah mulai jatuh cinta, tak mungkin, ia tipe pria yang tak mudah jatuh cinta pada pertemuan pertama kali, Pikirnya kalut sambil menggeleng kepala.
"Kenapa?" melihat Wyatt menggeleng kepala.
"Bukan apa-apa," elaknya, tersenyum melihat Tiara menatapnya geram. "Dulu Daddyku sebelum menikah Mommy, beberapa kali mempunyai tunangan dan ada yang hampir menikah, tapi semuanya gagal."
"Apa penyebabnya?" tanyanya seriua.
"Ada tunangannya, ketahuan selingkuh. Ada yang tak sanggup menghadapi kecerewetan GrandPa dan GrandMom. Ada juga tak sanggup menghadapi peraturan dan larangan dalam keluarga besar, yang tak boleh ini lah, tak boleh itulah. Dan yang paling tragis, kekasih Daddy meninggal seminggu sebelum menikah."
"Kenapa wanita itu meninggal."
Huft, mengembus napas pelan. "Wanita itu meninggal bunuh diri karena selalu didatangi sesosok wanita yang bermuka hancur, yang memarahinya telah mengambil suaminya," jelasnya hati-hati, melihat Tiara. Ingin tahu apa respon darinya setelah mendengar ini. Karena sudah terlalu sering, itu terjadi pada keturunan yang diwariskan kalung itu.