Golden Bride

Golden Bride
Alasan Menikah?



"Tapi gak perlu dengan menikah, agar kamu bisa melindunginya," bantah Bunda Etty lagi menolak.


"Aku tau, keinginanku ini berat bagi kalian menerimanya. Tapi kalau Ayah, Bunda takut dengan kami menikah, malah membuat Tiara hidup dalam  bahaya. Kujanji akan melindunginya dengan taruhan nyawaku sendiri." Ikrarnya tegas, menatap calon mertuanya mantap dan tulus.


"Tapi Nak.." ucapan Ayah Dimas terputus.


Drtt...Drtt.. Bunyi ponsel Wyatt berdering. Meminta ijin untuk mengangkatnya dahulu.


"Maaf, Yah. Kuangkat telepon dulu." Sela Wyatt sopan. Yang dijawab dengan anggukan kepala.


"Kamu dimana, Nak?" tanya Daddynya.


"Aku ada diruangan tak jauh dari Ruang operasi, Dad. Nanti kalau sudah di depan sana, tembak lurus aja, ada pintu geser kaca, Dad bisa langsung ngelihatku." 


"Oke, Dad ke sana." 


Wyatt menutup teleponnya dan melihat kedua orang tuanya bersama Leo yang berjalan di belakang mereka.


"Hallo, Son. Lama gak ketemu, makin subur aja," canda Daddy memeluknya hangat ketika melihatnya.


"Ck," decaknya sendari membalas pelukkan Daddy.


"Kamu apa kabar, Nak. Baru 1 minggu gak ketemu, udah kelihat kurus," seru Mommyny menyindirnya, sendari memeluk dan mencium kedua pipinya.


"Baik, Mom. Mommy aja kali matanya rabun," serunya bergurau, yang langsung mendapat pukulan dibahunya. "Haha." Lalu menoleh ke arah kedua calon mertuanya dan memperkenalkan orang tuanya pada mereka. "Ayah, Bunda. Kenalkan kedua orang tuaku." Lalu memberi kode pada Leo untuk menemani calon adik iparnya di sana.


"Dimas," sapa Ayah Dimas sopan, berjabatan tangan.


"Viktor," sapa Daddy Wyatt, membalas jabatan tangan calon besan lalu memeluknya, tersenyum hangat melihat kekagetan calon besannya. "Gak usah heran gitu, kalau calon besan terlihat kaku, kan aneh."


"Hehe," Dimas tersenyum kikuk, merasa lega melihat sambutan hangat dari calon besannya. "Ini istri saya, Etty." Sambungnya menunjuk istrinya di sebelahnya.


"Senang bertemu dengan anda, Mam," sapa Viktor ramah, berjabat tangan. "Ini Nyonya besar tercinta," menunjukan istrinya dengan tatapan mesra, yang mendapat pukulan malu dari istrinya.


"Cut ayunindya Ramadhani, panggil aja Ayu, Jeng."  Ucap Ayu hangat.


"Sayang, kita bukan lagi sensua penduduk, harus pake nama lengkap segala," canda Viktor jahil, yang langsung mendapat cubitan geram diperutnya. "Awk, sakit sayang. Malu donk, besan kita lihat keganasan sayang, nanti di kamar aja yah." Mengedipkan matanya dengan genit.


"Daddy," seru Wyatt dan Istrinya geram, melihat kejahilan Suami dan Daddynya.


"Harap maklumi aja, suami saya habis jet lag. Jadi otaknya kurang segaris, hehe." Canda Ayu terkekeh.


"Haha," Dimas dan Etty tertawa melihat keromantisan pasangan yang dihadapan mereka.


"Senang bisa bertemu dengan orang tua Wyatt, ternyata dia ciplakan anda, Tuan Viktor," ucap Dimas sopan.


"Harus gitu! kalau gak udah saya tendang dia," guraunya tersenyum. "Kita gak usah terlalu formal gini, kan mau jadi keluarga."


"Nanti kami coba," ujar Dimas.


"Mba Ayu orang Aceh yah," ujar Etty ingin tahu.


"Iya Jeng, pasti tau dari depan nama saya kan." Ayu tersenyum. " Panggil nama aja, mungkin kita seumuran."


"Nyantai aja, Jeng. Tiara kan calon mantu kami. Kalau gak melihat langsung, hati ini gelisah terus. Walaupun belum pernah ketemu langsung tapi sudah saya anggap anak sendiri." Ucap Ayu hangat, menggenggam tangan Etty.


"Makasih, Mba," sahut Etty tulus dan haru.


"Jadi gimana keinganan anak kami, untuk menikah hari ini juga, apa diterima" ujar Viktor menanyakan pada Dimas, Ayah Tiara.


"Bukannya kami menolak niat baik, Wyatt. Tapi terkesan terburu-buru harus menikah hari ini. Banyak yang harus diurus mengenai berkas-berkas nikah mereka," terang Dimas masih tetap menolak secara halus. "Menikah dengan alasan untuk melindunginya, bukan dijadikan sebuah alasan."


Viktor melirik anaknya datar, tadi saja dia sempat di kirim pesan oleh anaknya, mengenai rencananya, sebagai orang tua, dirinya hanya bisa mendukung, kalau iti memamg terbaik buat mereka. 


"Kami tau, kalian sebagai orang tua Tiara merasa berat,  harus menikahkannya saat dirinya masih terbaring tak sadar. Tapi kami bisa yakinkan kalau Wyatt benar-benar menyayanginya. Untuk cinta, semoga akan tumbuh dengan berjalannya waktu dalam kebersamaan mereka nanntinya." Papar Viktor hati-hati dan bijak. "Kalian jangan takut, kalau mereka menikah, nyawa Tiara akan selalu teracam. Saya sebagai kepala keluarga, tak membiarkan anak menantu kami terluka maupun disakiti. Percayalah anakmu buka  hanya menjadi menantu kami, tapi akan menjadi anak kami sendiri, yang akan selalu memberikan terbaik buat hidup serta keselamatannya." Sambungnya yakin dan tegas. "Kami tak akan tinggal diam jika anak kami celaka ataupun terluka, Tolong percayalah pada Wyatt, dia melakukan ini karena tulus menyayangi Tiara dan menginginkannya untuk menjadi istrinya."


Wyatt hanya menjadi pendengar, tanpa satupun menyela obrolan mereka, dengan hati cemas, jika calon mertuanya akan tetap menolak keinginannya itu. Ia terus berdoa dalam hati, agar hati mereka diluluhkan.


Dimas dan Etty saling menatap, tak tahu harus menjawab apa. Masih ada keraguan dalam hati mereka untuk mengiyakan permintaan Wyatt. Tapi tahu kalau Wyatt dan kedua orang tuanya tulus menyayangi anaknya dan akan selalu menjaganya menggantikan mereka. Dimas meremas tangan istrinya dan mengangguk, yang dibalas dengan helaan napas pasrah.


"Baiklah, tapi gimana dengan berkas-berkas nikah untuk mendapatkan surat nikah mereka." Ujar Dimas menerima permintaan Wyatt. "Nak, kamu bukan WNI kan?" sambungnya bertanya.


"Iya, Yah."


"Kalau soal surat menyurat, itu mudah. Nanti kami akan menyuruh asisten saya untuk mengurusinya semua, biar dipercepat surat mereka keluar." Sela Viktron meyakinkan Dimas. "Kalau mereka menikah sirih dulu, gak apa-apa kan?."


Dimas mengehela napas mengalah. "Baiklah."  Sendari meremas tangan istrinya.


"Terima kasih." Sahut Viktor dan Ayu tulus dan lega.


"Makasih, Ayah," ujar Wyatt tulus dan tersenyum, lalu menoleh ke Bunda Etty. "Makasih Bunda atas kepercayaannya." yang dibalas dengan anggukan kepala dan senyuman tulus darinya. 


"Dan kami minta sebelum mereka resmi menikah negara dan surat nikah keluar. Pernikahan mereka dirahasiakan dulu, hanya orag-orang terdekat saja yang tahu, demi keselamatan Tiara nantinya." Pinta Viktor memohon, yang dibalas dengan anggukan setuju dari calon besannya. Ia tersenyum lega dan terima kasih pada mereka


******


Someone POV


Seorang pria yang sedang menerima telepon dari anak buahnya, marah karena mereka tak becus melakukan perintahnya.


"Sial!" makinya ditelepon tajam. "Apa kerjaan kalian, ngehabisi satu orang wanita saja tidak bisa!" bentaknya dingin.


"Maaf bos," sahut anak buahnya terbata dan ketakutan. "Ruangannya dijaga ketat dari lift bawah, yang langsung menuju ke ruangan Wanita itu dirawat. Tak sembarang orang bisa naik, setiap pintu masuk rumah sakit itu juga dijaga ketat secara diam-diam oleh Wyatt, Bos." Jelasnya cepat, yang membuat Bos nya bertambah marah mendengarnya.


"Buat apa saya bayar kalian mahal, kalau hal sepele ini saja tak bisa diatasi." Bentaknya dingin. "Saya mau wanita itu mati secepatnya, atau saya akan menyewa pembunuh bayaran lain buat membunuh kalian!" Ancamnya tajam, lalu menutup telepon itu dan melemparkannya ke dinding saking marahnya.


*******


😇Hai Readers🤗


🙇Makasih udah setia baca cerita amatir gw ini..🙇


👏kl suka jgn lupa like,vote&rate🙇


👉krn like readers akan menjadi penyemangat 👉👉gw untuk up terus🤗👍😇