Golden Bride

Golden Bride
Menjenguk Tiara Yang Sadar



“Hehe, bercanda sayang,” mengedip sebelah matanya genit pada istrinya. Yang langsung mendapat seruan jahil dari anak-anaknya.


“Aduh, Bund. Adek yang jomblo kagak kuat, masih belum cukup umur,” gurau Alfa geli, melihat wajah Bundanya yang malu.


“Duh, romantis yang kagak inget umur, bikin iri aja, Bund. Haha,” sindir Fezia bercanda dan tertawa.


“Bund, apa resepnya donk. Biar bisa dapat jodoh kayak Ayah,” canda Liuda pura-pura penasaran.


“Lo gak akan dapat kayak Ayah, Dek. Kan Ayah milik Bunda seorang, iya gak Bund.” Ujar Tiara mengerling alisnya jahil.


“Dasar kalian ini,” seru Bundanya malu dan mendelik dan memukul lengannya manja pada suaminya yang hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang malu seperti gadis remaja yang baru mengenal cinta. “Udah deh, Ayah ajak mereka keluar aja. Lama-lama tensi Bunda naik lagi,” sambungnya menggerutu. “Hush, keluar sana gih," usirnya dengan melotot mengancam ketiga anak dan suaminya yang mau protes. Hanya menggeleng kepala melihat ketiga anaknya yang menggerutu disuruh keluar, karena belum puas ngobrol dengan Mba nya.


******


"Ra…" Seru ketiga sahabatnya senang, ketika masuk ke dalam, langsung memeluknya, dari dua sisi yang berbeda.


"Aduh...duh. Gue bisa mati muda kalau kalian peluk barengan kayak gini," gumamnya serak bercanda karena merasa tercekik.


Mendengar ucapan Tiara itu, langsung mereka melepaskan pelukkannya. "Maaf," ujar mereka menyesal. 


Lalu Jasmin dan Tasya mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Tiara, sedangkan Monic menggerutu harus duduk disofa depan ranjangnya.


"Kalian ngobrol lah yah, Bunda keluar dulu," ucap Bunda geli melihat ketiga sahabat anaknya


"Disini aja, Bund," ujar Monic.


"Bunda mau lihat ketiga anak manja diluar, takutnya mereka berbuat ulah," terang Bundanya. Mereka mengangguk paham, dengan tingkah laku adik-adik Tiara, kalau merasa bosan, ada saja kejahilannya yang membuat Ayahnya kesal. "Kalian ngobrol lah sepuasnya, gak akan ada yang ngeganggu kok." Sambungnya tersenyum lalu meninggalkan ruangan anaknya


"Lo baik-baik aja kan, Ra?" tanya Tasya cemas.


"Lo benar-benar buat kami spot jantung tau, Ra. Ketika ngedengar kecelakaan yang menimpah lo kemarin," gerutu Jasmin sedih.


"Apa masih ada yang sakit, Ra?" tanya Monic khawatir.


"Gue sekarang gak apa-apa kok," Tiara menggenggam tangan Jasmin dan Tasya menenangkannya. "Kalau ngomong tuh satu-satu, jangan barengan gitu, kan pusing dedeknya." Guraunya sendari tertawa.


"Ck, kalau udah tertawa gitu, berarti udah waras, Girls," canda Monic, yang dijawab dengan anggukkan kepala Jasmin dan Tasya.


"Sekarang coba lo cerita dari awal, kenapa lo bisa didorong oleh si medusa itu," pinta Jasmin.


"Medusa?" tanya Tiara bingung, siapa yang dimaksud Jasmin.


"Iya, yang dorong lo kemarin, masa udah amnesia sih, Ra." Canda Tasya geram.


"Oh, Bella. Haha, ada-ada aja kalian ini," Tiara tertawa keki mendengar julukkan itu. "Emang gak ada yang ngeceritakan kejadian kemarin pada kalian," sambungnya heran.


"Wyatt ngomong kalau lo sengaja didorong ketika ada mobil akan melintas, itu aja sih. Dia aja gak tau detailnya gimana." Seru Tasya marah, ketika mengingat apa yang dilakukan Bella pada Tiara. 


"Maka nya kami ingin dengar versi lengkapnya dari lo," ujar Monic ingin tahu.


Dengan cekatan Jasmin mengambil minuman yang ada di sampingnya, dan membantu Tiara menyesapnya dari pipet. "Lo mau makan apa, Ra. Biar perut lo terisi, dari kemarin pasti belum makan."


"Gak usah, bayangin makanan aja perut gue rasanya mual. Kayaknya nanti aja dulu, mungkin sejam kemudian baru bisa." Tolaknya halus dan membenarkan letak bantal dipundaknya, biar nyaman tapi membuatnya meringis, karena kepalanya ikut pusing, lalu memejam mata sebentar.


"Kalau lo gak kuat cerita, nanti aja, Ra." Ujar Monic cemas melihat Tiara yang memejamkan mata dan meringis seperti sedang kesakitan.


"Gak apa-apa kok, cuma pusing doank." Bantahnya cepat, masih memejamkan matanya.


"Monic benar, Ra. Lo istirahat aja dulu." Timpal Tasya ikut cemas, lalu meremas tangannya.


Tiara membuka mata melihat ketiga sahabatnya. "Mungkin tadi bergerak benarin letak bantal, jadi sedikit pusing. Mungkin 5 menit lagi hilang kok, kalian jangan cemas yah. Gue ngerasa pesakitan kalau dilihatin gitu," gerutunya sewot melihat raut cemas mereka. "Beri gue 5 menit dulu yah, ngilangin pusing ini."


"Ambilah waktu sebanyak mungkin, Ra. Jangan pikirin kami, lo relaks aja dulu biar pusingnya hilang." Ucap Jasmin lembut sambil menepuk-nepuk tangan Tiara.


"Makasih," gumamnya lalu memejamkan matanya


Ketika sahabatnya menatap Tiara khawatir dan takut kondisi Tiara ngedrop kalau diajak ngobrol serius. Tapi mereka bisa bernapas lega, ketika Tiara membuka mata tak sampai 10 menit, lalu memberikan senyuman.


"Kalian ini lucu, gue baik-baik aja tapi dicemasi seperti orang pesakitan banget. Tenang aja yah, gue kuat kok." Ujarnya tegas dan menyakinkan. Lalu ia mulai menceritakan kejadian saat pertama bertemu Bella, sampai ketika didorong oleh Bella. Hanya ada beberapa ucapan Bella yang tak perlu diceritkan pada mereka.


"Gila!" Maki Jasmin geram. "Otaknya lagi konslet, berani berbuat gitu."


"Pengen gue hancuri muka plastiknya!" Maki Monica Marah.


"Gue bunuh sekalian aja, biar gak ngeganggu hidup orang lagi!" Seru Tasya dingin dan tajam.


"Bee, sadis banget, Sya," gumam Monic pura-pura ketakutan.


"Sebelum lo bunuh, lo mutilasi aja dulu, biar gak ada yang ngenalinya," timpal Jasmin ngomporin.


"Lalu buang ke laut, biar potongan jasadnya dimakan ikan-ikan." Timpal Monic tambah ngawur, memanasih suasana.


"Haha, kalian ini omonganya asal banget," Tiara tertawa geli melihat gerutuan ketiga sahabatnya, lalu terdiam saat dirinya ditatap tajam. "Hehe, maaf." Menyengir polos. "Hebat kalian  bisa berpikir sadis gitu, gue aja biasa aja."


"Emang lo gak dendam?" Tanya Jasmin sangsi, tak percaya.


"Lo gak marah?" Tanya Tasya penasaran.


"Lo gak balas apa yang telah dilakukannya," Monic heran dan ingin tahu.


Tiara tertawa mendengar serua bertanya dan penasaran mereka. "Munafik kalau ngomong gak marah, tapi apa dengan membalas kelakuannya, bisa membuat gue gak dirawat seperti sekarang." Ia menggeleng kepala. "Setelah dipikir-pikir, apa yang didapat dengan ngebalasnya, kalau gitu sama kayak dia donk, sama-sama jahat. Gue gak mau mengotori hati ini buat ngebencinya, seperti dia yang mengotori hatinya buat ngebenci Tasya dengan alasan sepele banget, gara-gara cowok." Menggenggam kedua tangan Tasya dan Jasmin, lalu tersenyum. "Gak dibalas juga, pasti sekarang hatinya tak tenang, dihantui rasa bersalah dan berdosa."


Ketika sahabatnya yang mendengar ucapan Tiara, merasa terharu dan tak percaya dengan kebaikkan hatinya. Kalau mereka berada diposisinya, mungkin sudah dibalas biar menyesal. Ingin protes, tapi melihat raut polos tanpa amarah dan lembut dari wajahnya, membuat mereka menelannya  sendiri.


"Ngomong-ngomong, gimana keadaan Bella sekarang?" Tanyanya penasaran mengalihkan omongan, ketika melihat raut wajah tak setuju dari mereka