
“Maaf, bukannya sok menasehati dan merasa benar. Tapi kasihan aja lihat lo sekarang, dari cowok yang berprinsip gak akan menyakiti cewek, karena takut adik ceweknya nanti kena imbas dari perbuatannya. Malah sekarang, melupakan prinsip hidup yang dipegangnya. Sedih lihatnya, Vin. Cinta boleh, tapi kalau hidup lo diatur-atur dan diperintah seenaknya, lebih baik dipikir-pikir lagi deh, ke depannya. Seingat gue, Sarah gak bisa dekat kan dengan keluarga lo. Carilah cewek apalagi yang akan menjadi istri nanti, yang bisa menganggap keluarga lo juga seperti keluarganya sendiri, yang bukan hanya mencintai lo doank tapi sepaket dengan keluarganya juga, yang bisa menghormati dan mau dinasehati. Bukan sebaliknya, malu sama badan, udah besar tinggi tapi tak berkutik menghadapi ceweknya,” sambungnya santai dan menyindirnya telak.
Alvin menelan saliva susah dan malu, lagi-lagi omongan Tiara seakan sedang menelanjanginya.
“Saran gue, lo pikir-pikir ribuan kali kalau mau menjadikan Sarah istri. Mungkin omongan ini kejauhan, dan bukan urusan gue. Tapi kasihan dan gak tega ngebayanginya, lo jadi suami takut istri, istri yang dominan dan mengambil tumpuk kepimpinan dalam rumah tangga bukan sebaliknya.” Menatap Alvin hangat. “Ngomong begini bukan hanya asal ngomong, dari pengamatan gue, Sarah kan dari keluarganya kaya, biasa dimanja, hidup dari kecil tak pernah kekurangan, apalagi seorang model, selalu mendapat apa yang diinignkannya. Berapa lah gaji lo sebulan, apakah mencukupi gaya hidupnya yang glamor, mungkin gaji sebulan lo, sama dengan pengeluarannya selama ini. Takutnya lo akan melakukan apapun, untuk memenuhi gaya hidupnya itu, dan gak menjadi diri sendiri lagi.” Tersenyum lembut padanya. “Kalau emang cinta mati dengannya, buat dia berubah menjadi pribadi yang lebih baik, mau mendekatkan diri dan mencintai keluarga lo, bisa bersikap dewasa, mau memberi, jangan cuma diberi aja.”
Hening…
Drtt..drt.. Tiba-tiba suara ponsel menguar di antara mereka. Tiara melihat Alvin mengangkatnya dengan malas dan berbicara dengan seseorang yang bisa ditebakknya.
“Bentar lagi… iya sabar dulu donk.. Iya, iya,” lalu mematikan sambungannya.
“Baru diomongi, tuh cewek sudah menunjukan taringnya,” cibirnya datar. “Udah pulang sono, nanti lo gak dikasih jatahnya, gigit jari lagi,” sindir tajam, tak menggrubis tatapan Alvin yang sakit hati dengan omongannya.
“Kok lo gitu, Ra.” Ucapnya terluka.
“Lo udah besar, terserah mau dengari omongan gue apa gak, yang rugi lo, sedih dan sakit hati keluarga lo juga. Sebagai teman hanya mengingatkan dan menasehati, kalau hanya dianggap angin lalu doank, gak masalah. Gak rugi juga,” mengangkat bahu cuek, menatap Alvin datar.
“Jangan gitu, Ra. Lo termasuk salah satu sahabat gue, yang penting dalam hidup gue.” Menatap sedih Tiara yang menatap cuek padanya.
“Udah pulang gih sono, daripada nanti cewek lo bikin keributan di rumah gue, bikin malu aja,” usirnya halus.
Alvin menghela napas. “Iya,” sahutnya mengalah.
“Omongan gue tadi di dengar, dipikiri benar-benar. Otak dan logika tuh diajak jalan, jangan nafsu aja digedein,” ujarnya menyindir, geli sendiri dengan tak nyambung omongnanya ini. “Kalau masih begini, dan nyakiti keluarga lo. Maaf, gua gak bisa berteman dengan pria yang tega menyakiti hati seorang ibu yang telah melahiri anaknya, dengan taruhan nyawanya sendiri. Pergi temui cewek lo itu, daripada lo ditarik-tarik kayak sapi, untuk diajak pulang, kan malu lah.” Sambungnya nyelekit dan mengejek, tanpa menggrubis apakah omongannya itu mem buat Alvin tersinggung apa tidak.
“Dari tadi ngusir mulu lo, Ra.” Cetus Alvin ketus.
“Bukan ngusir, hanya cari aman aja,” sahutnya enteng.
“Oke deh, lo orang pertama yang protes dengan tingkah laku gue selama ini, dan gue berterima kasih sekali atas itu,” ucapnya tulus. “Walaupun omongan lo itu banyak nyeleketi nya dan bikin hati sakit,” tersenyum seduh menatap Tiara.
“Maaf, Vin. Kalau gue gak jujur gini, mata hati dan pikiran lo gak akan terbuka,” jawabnya santai.
“Iya, tau,” menepuk pahanya. “Salam aja buat keluarga lo, gak boleh berlama-lama di sini, takut body guard lo di luar mengusir gue lagi,” lalu berdiri menatap Tiara.
“Eh, iya” sahutnya bingung.
“Para body guard lo seram-seram, Ra. Masuk nemui lo aja susah amat, dikasih waktu segala, sejak kapan mereka ada di depan.” Ujarnya bingung daan penasaran, habisnya keberadaan mereka mencolok untuk berada di perumahan padat penduduk seperti rumah Tiara, perumahah yang kedekatan antara tetangga masih kental dan dekat, jadi melihat beberapa pengawal berdiri di halaman rumahnya, banyak tentangga yang kepo dan penasaran.
“Sejak kecelakan itu,” jawabnya pelan dan geram. Sudah dibilanginya berulang kali, kalau para body guard itu boleh menjaga rumahnya, asal jangan mencolok dan membuat orang pada kepo, kan malu juga. Apalagi kalau ada orang yang julik dan mengejek keluarganya sok kaya, pakai sewa pengawal segala. Aish, kerjaan suaminya lah ini, ditolak juga percuma.
“Oh, keluarga lo takut, Bella nekat lagi yah, jadi menyewa mereka,” ucapnya ingin tahu.
“Hmm,” mengangguk kepala, belum bisa ngomong jujur kalau yang meneywa mereka itu suaminya. Ia tahu, Alvin pasti akan kecewa padanya, soal pernikahan yang ditutupimya intu.
“Bagus deh, gue dengar lo kecelakaan, ikut kuatir, tapi untungnya lo sekarang sehat-sehat aja.” Ucapnya senang dan tulus. “Balik dulu yah,” pamitnya.
“Iya, hati-hati,” ucapnya.
“Maksud gue,hati-hati ama pawang lo tuh,” candanya menyindir.
“Ck, Asem benar lo,” gerutu geram, lalu pergi meninggalkan Tiara yang menertawai dirinya.
“Haha,” menatap Alvin yang memassuki mobilnya, tak menggrubis tatapan Sarah yang menatapnya dingin dan marah. Ia belas menatapnya mengejek dan tersenyum miring. Langsung membuat mata Sarah dipenuhi amarah, kalau saja tatapan itu sebuah peluruh, sudah tewas seketika dirinya.
******
Malamnya suaminya mendiamkannya, karena Alvin menjenguknya, Tiara kesal, melihat tingkah suaminya yang cemburu buta. Harusnya kalau tak mengijinkan mereka bertemu dan ngobrol, tak usah disuruh masuk.
"Kak, Alvin hanya menjengukku sakit, gak lebih. Dia juga bareng ceweknya, jangan cemburu buta gitu donk," rajuknya masam, menatap suaminya yang bersandar santai sambil melihat iPad yang berlogo apple itu.
"Siapa?" menatap Tiara datar.
"Apanya siapa?" gerutunya sewot. "Kalau nanya siapa yang cemburu, di antara kita, yang wajahnya ditekuk aja dari pulang kerja siapa, bukan aku kan," menantang suaminya dengan santai.
"Siapa nanya," ujarnya asal dan cuek, yang membuat Tiara menggeram kesal.
"Haha, lucu, lucu," tawanya sarkas garing. "Percaya sama aku, dia tadi hanya menjenguk sebagai teman, bawa ceweknya juga. Malah tuh cewek ngelihatku kayak mau nyicang gitu tatapnya, seram banget," candanya pura-pura bergidik. "Akw!" Tiara mengusap keningnya yang disentil suaminya. "Kdrt ini namanya," menatap Suaminya geram.
Wyatt menaruh iPadnya di nakas sebelah ranjangnya, lalu mencium bekas kening yang disentil tadi dan memeluknya. "Bukan marah, hanya kuatir, temannya itu juga sama gilanya seperti Bella."
"Tenang aja, Kak. Ngadepi tuh Sarah kecil, dia macam-macam, habis nanti mukanya kubuat babab belur" ucapnya santai terkesan sombong. "Lagipula mikir juga kali dia, mau berbuat maca-macam, orang body guard di depan banyak banget yang mengawasi, bisa habis duluan dia sebelum bertindak," lanjutnya dengan menyindir.
"Kan demi kamu juga," elaknya tak menggrubis sindiran istrianya, lalu mencium rambutnya.
"Iye, iye. Ngelesnya jago banget, yang waras ngalah," gerutunya bercanda dengan mulut dimoyongkan.
"Haha," Wyatt tertawa melihat istrinya, mencubit gemas kedua pipinya lalu mencium kedua matanya, kedua pipi dan mencium bibirnya singkat. Hatinya merasa behagia dan berdebar melihat wajah istrinya yang memerah malu dan menggemaskan
🛫🛫🛫
👋Hai.. Hai..Met Siang Readers👋
🤗Senang bisa update lagi siang-siang gini😁
😇Tinggali jejak 👉like👉rare👉vote 👉kritik👉
komen👉saran yah😉
😇Makasih bagi yang masih setia baca cerita ini
🙇
🤗See you on next 👉chapter🤗