
Tiin… Tiin… Suara klakson mengejutkan Tiara yang saat itu sedang makan, membuatnya tersendat.
“Ukhu…Ukhu…”
“Kamu gak pa-pa, Nak” bundanya menatap Khawatir terhadap Tiara.
“Iya, Bun,” sahutnya. “Bunyi klakson siapa itu, ganggu aja.” Gerutunya geram.
“Makan lah dulu, kalau emang tamu kita, biar dia masuk sendiri.” Ujar Ayahnya, menyantap makanannya dengan tenang.
“Baiklah.”
“Biar aku aja yang melihatnya, Mba,” kata Alfa. Ayahnya menatapnya datar, membuatnya bergumam. "Aku udah, Yah.”
“Lihat sana,” perintah Ayahnya.
“Siap, Yah,” ujarnya. Alfa berdiri, berjalan keluar melihat siapa tamu yang datang, lalu tak lama kemudian ia kembali.
“Siapa, Nak?” Tanya Bunda.
“Hmm, itu..” jawabnya ragu, ia tahu orang yang datang itu, sesorang yang kurang disukai oleh orang tuanya.
“Ngomong aja, kenapa gagu gitu,” ujar Tiara cuek.
Alfa menatapnya geram. “Ada temannya Mba tuh,”
“Siapa?” Tanya Ayahnya.
“Itu..,” menggaruk lehernya serba salah, menatap ke arah luar.
“Ngomong aja kenapa sih, Kak,” menatap adiknya geram.
Alfa juga menatapnya geram, ingin marah. Ayahnya menatapnya datar dan menyuruhnya menjawab. “Itu,” menunjuk ke luar.
“Kamu kenapa gitu, Kak,” Tanya adiknya heran
"Ada Kak Alvin, Mba,” ujarnya menatap Ayahnya dengan was-was.
“Kamu mau ke mana, Ra,” tanya Ayahnya menatapnya datar.
“Di rumah aja,” sahutnya tenang.
“Lalu kenapa temanmu datang pagi-pagi gini?” Tanya Ayahnya curiga.
“Gak tau, Yah,” sahutnya mengangkat bahu tak tahu.
“Dia di mana, kenapa gak kamu suruh masuk, Nak,” ujar Bundanya.
“Di teras, katanya dia nunggu di luar aja,” jawab Alfa.
Hening, hanya suara sendok makan yang berbunyi. Tiara dan adik-adiknya menatap Ayahnya ingin tahu, mereka takut bicara, akan membuat Ayah mereka marah, jadi mereka hanya bisa menunggu.
“Habiskan dulu makananmu, setelah itu baru temui dia,” perintah Ayahnya tegasa
“Iya,” mengangguk dan melanjutkan makannya.
“Jangan terburu-buru, kalau dia memang ada perlu, dia akan menunggu,” ujar Ayahnya datar, ketika melihat anaknya makan terburu-buru.
Tiara menghela napas pelan, dan mengikuti perintah Ayahnya. Memang semua anggota keluarga, tahu dirinya berteman dengan Alvin, dulu ketika masih kuliah. Ia sering diantar jemput oleh Alvin. Keluarganya pikir kalau mereka pacaran, tak tahu nya hanya berteman. Ia juga heran, kenapa Alvin dengan berani datang ke rumahnya, pasalnya dia tahu, kalau keluarganya kurang suka padanya. Apalagi kedua orang tuanya, ia heran kenapa mereka tak suka pada Alvin. Ketika ditanya, mereka menjawab. Firasat mereka mengatakan Alvin bukan pria yang baik untuknya, dan pribadinya lemah. Walaupun ia mengatakan kalau dirinya dan Alvin hanya berteman, tapi mereka tak percaya. Ia ingat kata-kata Bundanya.
Flashback
“Bunda tau, kamu tak percaya firasat Bundamu ini,” ujar Bundanya sambil mengelus rambut anaknya lembut. “Tapi percaya lah, dia bukan pria yang terbaik untukmu. Jangan sia-sia kan hati dan pikiranmu pada pria yang tak menghargai keberadaanmu.”
Tiara terkejut mendengar omongan Bundanya, ia piker bisa menyembunyikan perasaannya terhadap Alvin dari Bundanya, tapi ternyata naluri Bundanya sangat tajam.
“Bunda tau, kamu gak suka ngomong tentang ini tapi kamu butuh pria yang kuat dan lembut bersamaan. Pria yang bisa menutupi kekuranganmu yang keras kepala,” tersenyum melihat Tiara yang cemberut dikatakan keras kepala. “Percayalah dengan naluri Bundamu ini, biarlah waktu yang akan menuntunmu menemukan pria yang tepat yang akan menerimamu apa adanya. Yang akan saling melengkapi kekurangan diri kalian masing-masing dengan kelebihan yang kalian miliki.”
“Bunda.” Ujarnya terenyuh.
“Mencintai itu boleh, tapi kalau cinta membuatmu menutup mata akan hati nuranimu akan kebenaran. Itu bukan cinta tapi obsesi, Nak.” Tersenyum lembut pada anaknya. “Pria yang mencintaimu gak pernah menyakitimu sedikitpun, ia akan menjadi tameng terdepan untuk selalu melindungimu, suatu saat nanti pria itu akan datang. Bunda selalu berdoa untuk kalian bertiga, anak-anak Bunda akan mendapatkan pendamping terbaik nantinya.”
“Iya, Bund,” jawabnya dengan melamun, menatap keluarga dengan tatapan kosong.
“Gak baik pagi-pagi udah melamun,” nsehat Bundanya, sendari mengusap rambut anaknya.
“Ekh…”Ujarnya kebingungan.
“Gak usah melamun, habiskan makananmu, terus temui temanmu itu,” perintahnya Ayahnya tegas.
“Maaf,” menggangguk kepala.
******
“Maaf nunggu lama,” Tiara berjalan mendekati Alvin dan duduk ddi sampingnya. “Tumben kemari pagi-pagi, ada apa?”
“Gak pa-pa, salah gue juga bertamu tanpa ingat waktu,” tersenyum pada Tiara. “”Iseng aja ingin ketemu, gue kangen pada lo, masa gak boleh, hehehe,” ujarnya sambil cengengesan. “Lagian kita udah lama gak ketemu".
“Gak biasanya, maka nya gue heran aja.” Jawabnya santai. “Jujur aja, gak mungkin lo iseng doang kemari.” Menatap Alvin menyelidik dan intens, karena ia tahu betul wataknya.
Alvin ditatap seperti itu, membuatnya salah tingkah. “Lo ini gak percaya banget ama gue.”
“Ya, bukan gitu. Gue tau lo tuh gimana, gak mungkin aja lo tiba-tiba berkunjung tanpa maksud tertentu.”
“Ck,” berdecak sebal, menghela napas prustasi karena Tiara tak percaya padanya. “Lo mau ke mana hari ini?”
“Emang kenapa?”
“Gak usah, jawab pertanyaan gue dengan pertanyaan deh, kebiasaan lo yang bikin gue kesel aja,” gerutunya kesal.
“Hehe, Sorry,” ujarny cengengsan.
“Kalau lo gak ke mana-mana, kita jalan yuk,” ajaknya.
“Gila lo, ini baru jam 6.30.” gerutunya. “Gue Bisa di marahin oleh Ayah.”
“Bukan sekarang lah, tapi nanti siang.”
Tiba-tiba Bunda Tiara datang membawa sepiring bakwan jagung dan secangkir tea hangat buat Alvin. “Ini Bunda bawakan camilan buat nemani kalian ngobrol.”
“Makasih, Bunda.” Ujar Alvin tulus.
Bundanya tersenyum. “Kalian ngobrol lah, Bunda ke dalam dulu.”
“Iya, Bund.” Jawab mereka serempak.
“Gimana, Ra. Bisa kan kita jalan, ayolah kita udah lama loh gak hang out berdua.” Bujuk Alvin.
“Kayak nya gak bisa deh, Vin. Gue udah ada janji.” Jawabnya menyesal, memang siang nanti ia akan bertemu dengan Tasya dan Monic, di rumah Monic. Membahas rencana Tasya nanti, sehingga ia harus menolak ajakan Alvin.
“Sama Tasya,” serunya kesal dan bisa menebak, sama siapa lagi Tiara hang out kalau tidak sama Tasya, yang selalu memusuhi setiap mereka bertemu.
“Kalian kan bertemu setiap hari, bisa kan untuk hari ini dibatalkan.” Bujuknya lagi.
“Maaf, Vin,” jawabnya menyessal.
“Kalau gitu, gue ikut ajak sama kalian.”Serunya cepat tanpa pikir dua kali.
Tiara menatapnya heran, Alvin kan tahu kalau teman-temannya tak suka padanya, masih nekat mau ikut. “Alvin, ini urusan wanita. Masa lo mau gabung dengan kita, lo pasti gak nyaman.”
“Emang urusan apa sih, kayak dirahasiakan banget,” protesnya kesal.
“Ya, wanitalah. Pria gak boleh tahu,” elaknya tegas.
“Gue kan gak ganggu, Ra. Kalian bisa melakukan apapun, gue cuma ikut dan sebagai pendengar.”
“Cewek lo ke mana?” tanyanya curiga. “Gak biasanya weekend gini, gak jalan bareng cewek lo.”
“Dia ada jod foto di luar kota, lusa baru pulang.” Jawabnya sambil menghela napas kesal.