Golden Bride

Golden Bride
Dilamar



"Biasa aja kali Nak, gak usah lebay gitu," seru Ayahnya mengingatkan, hanya bisa menggeleng kepala.


"Ikh, Ayah. Wajar donk, Aku shock gini. Diibaratkan yah, Tiada angin maupun hujan, hari masih cerah, tiba-tiba kita disamber petir gitu aja, kan gak mungkin banget." Tandasnya cemberut, menatap Wyatt tajam. "Kalau anda mau ngelawak jangan di sini, bukan tempatnya."


"Gak boleh negatif thinking dulu sama Wyatt," tegur Ayahnya. "Coba kamu dengarkan apa yang akan dikatakan padamu, Nak."


"Gak apa-apa, Yah. Aku mengerti apabila Tiara terkejut dan menganggap apa yang telah kukatakan ini hanya lelucon saja." Sahutnya sopan dan hangat.


"Ck, cari muka," cibirnya geram.


"Tiara." Tegur Ayahnya. "Dengarkan dulu Wyatt ngomong, setelah itu baru giliranmu." Menatap Wyatt dan Leon. "Silakan dinikmati camilan seadanya, dijamin enak loh," sambungnya menawarkan hidangan yang dibawa Tiara barusan


"Hmm," gumam Tiara menggerutu.


"Iya, Yah," sahut mereka bersamaan, lalu mengesap minuman mereka.


"Seperti yang telah kukatakan pada Ayah, niatku kemari memang untuk melamarmu." Jelasnya datar, menatap Tiara tulus. "Tanpa ada maksud untuk jadi bahan lelucon saja."


"Anda gak sedang makan obat apa gitu, sehingga membuat pikiran jadi sedikit terganggu," sindirnya sambil memutar telujuknya dengan melingkar didahinya. "Aduh," serunya terkejut, menatap Ayahnya kesal, karena tangannya dipukul.


"Mau Ayah pukul lagi," ancamnya, kesal mendengar omongan anaknya itu. "Ini minum, biar asap dikepalamu hilang," perintah Ayahnya, memberi minumannya pada Tiara


"Kok aku yang dimarahin sih Yah, kan benar yang kukatakan." Bantahnya tak terima disalahkan, lalu mengangguk pasrah dibawah tatapan tajam Ayahnya. "Iya," menyesap minuman wedang jahe kepunyaan Ayahnya.


"Udah dingin belum kepalamu, apa perlu Ayah ambilkan setembok air buat diraupkan ke mukamu," ujarnya lembut dengan mengancam.


"Gak perlu." Sahutnya mengalah.


"Bagus," serunya senang. "Gak ada yang benar, mulutmu harimaumu, gara-gara asal ngomong bisa menyebabkan perpecahan maupun permusuhan. Jadi hati-hati dalam bicara, Ayah tau kamu merasa apa yang dikatakan Wyatt, sungguh gak masuk akal. Tapi sebagai pria dewasa yang sudah siap berumah tangga dan berkecukupan. Gak lah aneh jika dirinya melamar seorang wanita, yang dinginkannya untuk mendapinginya di sepanjang hidupnya," jelas Ayahnya menasehati dengan lembut.


"Tapi Yah, kami baru bertemu 3 kali," menunjukan angka 3 dengan tangannya. "Lagipula kami gak saling kenal, wajar donk kalau kupikir, kalau dia aneh, masa melamar anak orang yang tanpa mengenalnya terlebih dahulu."


"Pria seperti itu yang membuktikan kalau dia pria yang bertanggung jawab dan berkomitmen. Gak semua pria, yang baru bertemu langsung merasa klop dan yakin untuk menapak ke jenjang pernikahan. Pria yang baik akan meminta langsung ke orang tuanya untuk menjadikan istri, bukan diajak untuk berpacaran saja." Nasehatnya jujur, bukan bermaksud buat memuji Wyatt. Ia sudah tahu dari Wyatt kalau mereka baru bertemu, dan Wyatt langsung merasa yakin untuk menjadikan Tiara istrinya. Ia bisa melihat, ketulusan dan ketegasan dalam kata-kata, dan dirinya mempercayainya.


"Kok Ayah terima bulat-bulat bualannya." Protesnya geram.


"Kamu meragukan feeling Ayahmu ini," tuduh Ayahnya tersinggung. "Lagipula kapan Ayah bilang menerima lamaran darinya, Ayahkan harus tanya sama kamu dulu, gak mungkin langsung terima-terima aja."


"Bukan gitu, Yah." Elaknya cepat, menggenggam tangan Ayahnya. "Maaf."


"Nak, Wyatt baru mengutarakan niatnya, diterima atau gak, semuanya ada ditanganmu. Maka nya kamu dengarkan apa yang mau dibicarakan Wyatt, lalu pikirkan dengan kepala dingin, jangan kayak gini, orangnya belum semuanya diutarakan, kamu langsung ngegas aja kayak bajaj." Menepuk-nepuk tangan Tiara lembut.


"Huft," helanya kesal.


"Silakan Nak dilanjutkan," pintanya pada Wyatt. "Dan kamu, gak usah ngomong formal gitu padanya, bikin kuping Ayah sakit dengarnya." perintahnya sambil bergurau.


"Hmm,"


"Bisa kami hanya ngomong berdua aja, Yah." Ujarnya sopan meminta izin.


Ayahnya menatap mereka bergantian. "Di sini kan," ujarnya memastikan.


"Iya di sini, Yah," sahutnya membenarkan. "Banyak yang harus kami bicarakan berdua saja, kalau Ayah gak keberatan." Sambungnya hati-hati.


"Baiklah," mengangguk kepala setuju.


"Ayah!" protes Tiara tak suka.


"Gak ada."


"Nah, kalau gitu gak ada masalah kan, kalian ngomong hanya berdua aja, biar lebih privasi, tanpa ada yang menguping obrolan kalian." Seru Ayahnya final.


"Kami bisa ngobrol di mana, Yah?" tanyanya bingung.


"Nak, ajak Wyatt ngobrol di teras samping aja. Di sana, ada gazebo, jadi kalian bisa duduk santai ngobrol di sana, sekalian menikmati ikan-ikan di bawahnya," serunya sambil bercanda, lalu menatap Tiara tanpa mau dibantah.


"Hmm," gumamnya malas.


"Nak Leon, bisa main catur gak," tanya Ayahnya pada Leon.


"Bisa, Yah. Tapi gak mahir, yang mahir itu, Wyatt," sahutnya jujur. "Aku aja gak pernah menang melawannya, Yah." Sambungnya sengaja menyodorkan kepiawan Wyatt pada calon mertuanya. Menatap Wyatt jahil, yang dibalas dengan tatapan tajam


"Wah, bagus itu. Lain kali kamu main catur sama Ayah yah, Wyatt." Serunya bersemangat.


"Iya, Yah."


"Nah sekarang kamu ajak Wyatt ke sana, ngomonglah apa yang masih ada ganjalan dihati kalian. Biar kalian bisa saling mengenal tanpa pikiran negatif yang berkecamuk dihati kalian," serunya menatap Tiara dan menyuruhnya segera cabut.


"Hmm," gumamnya malas.


"Maaf atas sikap Tiara yah, Nak." Ucapnya malu dengan sikap anaknya.


"Gak apa-apa, Yah." Sahutnya hangat, lalu berdiri mengikuti Tiara.


"Leon, Ayah ambil papan caturnya dulu, silakan di makan tuh yang ada di atas meja, masa cuma minum aja," menujukkan hidangan yang ada dihadapan Leon. Yang dibalas dengan anggukan kepala.


******


Tiara dan Wyatt sekarang telah berada digazebo, duduk bersebrangan di pagar kayu gazebo, sambil menatap ikan-ikan di bawah mereka.


"Silakan katakan apa yang ingin anda sampaikan," serunya datar, tanpa menoleh sama sekali.


"Apakah sopan, berbicara tanpa menatap lawan bicaranya sama sekali," tegurnya sinis.


Tiara menoleh pada Wyatt dengan datar. "Nah, gue udah natap Anda kan, silakan ngomong."


"Seperti yang telak kukatakan di dalam, niatku tetap sama, ingin melamarmu menjadi istriku." Ucapnya datar.


"Apakah begini cara anda, melamar wanita." Cibirnya mengejek.


"Apa maksudmu?" tanyanya dingin.


"Iya, masa melamar wanita dengan gaya datar dan kaku begitu. Seperti terlihat tulus sama sekali, malah terkesan terpaksa." Menatap Wyatt dengan menyelidik.


"Beginilah aku sebenarnya, langsung to the point tanpa harus berbelit-belit." Serunya cuek. "Apa kamu mau dilamar seperti difilm-film, dengan suasana romantis." Sindirnya sinis.


"Bisa jadi, momen seorang wanita dilamar itu sekali seumur hidup, dikenang sampai kakek-nenek, agar bisa dicerita pada keturunannya nanti, kalau seperti anda ini, terkesan main-main," sahutnya cuek.


"Aku gak suka yang berbau romantis-romantis gitu," tolaknya tajam.


"Yah udah, itu urusan anda. Berarti omongan ini gak usah diperpanjang lagi. Sekarang aja gue gak melihat ketulusan dari lamaran anda." Sahutnya datar dan tersenyum miring