
Ketika Tiara sudah kembali dari toilet, ia terkejut melihat seorang cowok duduk di depan Tasya dan mereka sedang asik mengobrol.
"Ra, kenalin Gilang." Ujar Tasya ketika melihat Tiara sudah duduk dikursinya.
"Gilang Ramadhan." Memperkenalkan dirinya dan mengajak berjabat tangan.
"Tiara Wulandari." Jawabnya sopan dan menyambut jabatan tangan dari Gilang. "Siapa, Sya?"
"Temannya Kakaknya Monic, dia bisa membantu kita mengawasi Roy." Ujar Tasya menjelaskan, melihat Tiara masih bingung. "Gilang ini bisa kita bilang dektektif."
"Oh, dektektif." Sahutnya mengerti. "Apa? Tapi untuk apa? Maaf." Menatap Gilang yang menatapnya tajam. Sulit dipercaya baginya untuk berpikir kalau Gilang, seorang detektif. dari gayanya yang nyantai banget, dengan kaos abu-abu tua, jins selutu, dengan sandal gunung. Dari wajah, Gilang terlihat lebih tua dari mereka beberapa tahun, dan wajahnya manis, tak bosan memandangi. tersenyum malu, ketika ketahuan Gilang sedang menatapnya.
"Gue bukan detektif, tapi gue cuma hobi mencari tahu sesuatu yang membuat gue penasaran. Hobi gue ini dilakukan kalau gak sibuk." Tersenyum ketika Tiara menatapnya seksama.
"Oh," sahut Tiara manggut-manggut sendiri. "Jadi rencananya berubah untuk mengintai Roy, secara ada Gilang yang ngebantu kita mengintainya." Habis, tak pernah memikirkan sampai sejauh ini, kalau Tasya harus menyewa detektif.
"Gak, rencana awal tetap dijalankan." Jawab Tasya.
"Tapi kalau ada yang lebih profesional, tenaga kita gak ada gunanya juga, Sya."
"Kenapa, kamu gak mau ikut gue. Masih memikirkan ajakan nonton Alvin." Ujar Tasya menatapnya curiga.
"Bukan gitu, Sya," sangkalnya cepat, bingung sendiri nanti takut salah ngomong lagi.
"Gak usah banyak protes, Ra. Lo ikut aja rencana kita." Ucap Tiara tegas, tidak mau dibantah.
"Ok." Sahutnya mengalah. "Apa rencana selanjutnya." Sambungnya ingin tahu.
"Tadi gue udah selidiki kegiatan Roy hari ini. Dia siang nanti akan ke Singapura."
"Mau ngapain?" Tanya Tasya nyaring dan marah
"Emang lo gak dikasih tahu, Sya." Tanya Tiara hati-hati.
Tasya menggeleng kepala. "Dia bilang kalau hari ini akan sibuk di kantor dan pertemuan dengan klient-nya."
"Mungkin pertemuannya itu di Singapura, Sya. Jangan Nething dulu ya." Saran Tiara.
"Bukan." sangkal Gilang, yang mengejutkan mereka.
"Maksud lo?" Tanya Tiara penasaran.
"Dia dan selingkuhannya akan menghabiskan weekend mereka di sana." Ujar Gilang datar.
"Sial." maki Tasya kesal.
"Language, Bu." Kritik Tiara pedas, mengingatkan Tasya atas umpatannya barusan. "Sabar, Sya." Pinta Tiara menggenggam tangan Tasya. "Rencana kita selanjutnya apa? Hati boleh panas tapi kepala tetap dingin"
"Gue akan ikuti mereka ke manapun untuk mengambil bukti perselingkuhan mereka. Kalau kalian mau ikut, kalian bisa menyusul nanti." Ujar Gilang datar.
"Gimana, Sya." Menatap Tasya yang sedang mengendalikan emosinya.
"Kami nyusul aja, nanti kabari posisi mereka berada," menyerumput minumannya. "Mereka mengambil pesawat jam berapa?"
"12.45," jawab Gilang.
"Oke, sekarang jam 10.50. Kami akan menyusul saja, karena kami mau prepare dulu." Ucap Tasya.
"Itu emang mau lo kan liburan, gratis pula." Ledek Tasya sambil mencibir
"Biarin, kapan lagi coba dapat gratisan. Heheh."
"Kami pulang dulu, Lang. Wa ya, posisimu berada kalau udah sampai." Ucap Tasya undur diri.
"Baiklah, sampai ketemu lagi di sana." Sahut Gilang dan menatap Tiara. "Senang bertemu denganmu, Tiara." Tersenyum manis kepada Tiara.
"Gue juga." Jawab Tiara tulus.
******
"Cie.. Cie.. Ada yang cinlok ini." Ledek Tasya senang, saat ini mereka sedang berada dalam mobil menuju jalan pulang.
"Biasa aja kale, Sya." Gumam Tiara nyantai. "Untuk ukuran detektif, ia terlihat biasa banget. dalam otak gue, detektif itu selalu berpakaian formal dan raut wajah selalu serius. Tapi Gilang Kagak, kayaknya juga dia lebih tua dari kita. rasa gak sopan manggil dia nama aja."
"lo benar juga, nanti kita tanyakan aja umurnya berapa, biar kita enak mau manggilnya apa." ucap Tasya satu pikiran dengan Tiara. "Sebenarnya, Gilang boleh juga, manis dan sopan." Tasya mengingat pertemuannya tadi. "Gue rasa dia cowok yang baik dan setia, serta tidak suka tebar pesona." Sambungnya sambil mengejek cowok yang disukai Tiara.
"Maksud lo apa ngomong gitu, mulai deh jiwa makcomblangnya kumat." sindir Tiara tak nyaman.
"Apa salahnya kan dicoba, kalau emang Gilang tertarik dengan lo." Saran Tasya lembut. "Jangan mengharapkan yang gak pasti, karena waktu gak akan terulang kembali."
"Belum berpikir ke sana," gumam Tiara singkat.
"Belum atau gak mau. Dua kata itu memiliki arti yang berbeda loh, Ra." menatap Tiara lembut. "Lo selalu menasehati untuk move on, jangan terpatok dengan hubungan tak pasti, seperti yang terjadi sekarang pada gue. Sudah tau sendiri bukan, kalau gue cinta banget dengan Roy. Tapi gue berusaha bangkit, gak mau jadi cewek bodoh yang hanya menjadi tempat singgah sementaranya, yang saat dia merasa bosan dengan jiwa pertualangannya di luar sana, dengan seenaknya dia mau pulang dan menetap. Sekarang kata-kata ini, gue kembalikan lagi ke lo, coba diterapkan untuk diri sendiri, karena gue lihat lo sekarang yang butuh move on. "
Menatap Tiara yang sedih sambil menatap keluar, menepuk-nepuk punggung tangan kanannya. "Maaf, bukan maksud mengejek, cuma gak mau sahabat yang sangat disayangi masih saja stuck dengan hubungan tak pasti, ikut merasa sakitnya ngelihat lo diremehkan oleh si curut satu itu. Bilang sayang tapi preet besok malah sayang-sayang sama orang lain." Sambungnya memaki geram dan marah. "Lo gak marah kan sama gue, ngomong kayak gini."
"Gak, Sya." Tersenyum menenangkan. "Lo benar, hidup gue benar sia-sia kalau hanya stuck pada Alvin doang." Memeluk Tasya sayang. "Makasih udah diingeti lagi, Sya."
"Itulah gunanya suadara." Membalas pelukan dengan sayang.
******
Mereka langsung berbenah, apa saja yang akan dibawa ke Singapura. Mereka hanya semalam di sana, besok malam, sudah balik lagi, dan lusa sudah kembali kerja. Jadi mereka hanya menyiapkan pakaian seadanya, hanya menggunakan satu koper kecil, untuk barang-barang mereka berdua.
"Kalian dapat tiket jam berapa?" tanya Bunda Tiara masuk ke kamarnya, melihat anak-anaknya sedang berbenah.
"Gak tau, Ma. Tasya semua yang handle." jawabnya sambil mengambil peralatan mandinya di kamar mandi.
"Berangkat jam berapa, Sya." Menoleh ke Tasya dan menunggu jawaban.
Tasya melirik jam tangannya yang menunjukan jam 12 lewat 10. "Kami pesan tiket jam 14.30, Bund."
"Masih lama berarti, Bunda kirain mau berangkatnya sekarang." ujar Bunda, berjalan mendekati Tasya, lalu membantunya. "Kalau sudah kalian makan lah dulu, sekarang udah lewat waktu makan siang. Ajak Tiara, nanti Magh nya kambuh kalau perutnya dibiarkan kosong." Lalu beranjak meninggalkan kamar anaknya
"Iya, Bund." Berjalan menuju kamar mandi, dan berbicara pada Tiara. "Ra, gak ada lagi kan yang mau dibawa."
"Gak ada, kenapa Sya." mengerutkan keningnya heran.
"Kita disuruh Bunda lunch, mana perut gue udah berontak minta diisi." serunya manja dengan mengelus perutnya yang kelaparan dengan berlebihan.
"Oke, dari pada diomelin Bunda," mengangguk dan mengajak Tasya menuju ruang makan.