
“Gak akan ada yang tau apa yang terjadi sebenarnya, orang-orang hanya tau, kamu dibunuh oleh pencuri.” Ujar Hevva cuek, lalu mendekati Caira yang menghindar. “Kamu sudah mau mati aja, banyak omong.”
"Kenapa kamu diam, secinta itukah kamu pada wanita hina ini, sampai-sampai istrimu akan dibunuhnya, kamu tetap diam,” serunya pada suaminya dengan sorot mata penuh luka. “Menyedihkan.” Sambungnya mengejek, memperhatikan raut wajah suaminya yang mengeras tapi masih tetap diam.
“Sini!” mengejar Caira, menarik kalungnya. "Seharusnya ini milikku."
“Tidaak!” menahan kalungnya dari tarikan Hevva. “Sampai kapanpun kalung ini akan menjadi miliku.”
“Baik," menatapnya dengan angkuh. "Kuambil secara paksa,” ancamnya, lalu menusuk Caira dua kali dengan hasrat penuh dendam. "Matilah!."
“Akww..” teriaknya lalu mendorong Hevaa sekuat tenangnya. “Tolong!... Siapapun itu tolong.” Panggilnya memohon dengan napas tersengal. Apa kah ini akhir hidupnya, meninggal dengan menggenaskan ditangan madunya, dengan disaksikan suaminya sediri . Memikirkan nasib ketiga anaknya nanti, membuat air matanya mengalir deras.
“Percuma saja, tak akan yang mendengar,” cibir Hevva mendekat dan menariknya.
“Dasar wanita pisko, lepaskan Caira.” Teriak Tiara histeris. tapi percuma saja, ia tetap tak bisa menolong.
Tanpa mereka ketahui, ada 2 pasang mata yang mendengar teriak Caira, membekap mulut mereka. Takut bersuara, hanya bisa melihat dengan mata penuh air mata, hanya melihat tanpa bisa menolong.
“Bodoh kamu, Hevva. Kamu pikir keluargaku akan membiarkan diriku mati begitu saja, tanpa pembalasan. Kamu tau, baik Abiku maupun mertuaku, orang yang kejam, mereka sayang menyayangiku, akan mencari tahu sebab kematianku yang sebenarnya dan membalasnya.” Cibirnya, sengaja memancing emosi Hevva. “Mereka bukan orang bodoh, yang percaya saja, akan rencana bulusmu itu, tanpa menyelidikinya.”
“Diam!” betaknya dan mendorong Caira marah.
Caira terdorong ke belakang, dan kepala terbentur vas bunga yang berada di atas meja. Ia terjerembab dan terguling. Memegang perut dan kepala mengeluarkan banyak darah. “Ukh, Ukh.”
Hevva mendekati Caira, mencoba menarik kalung miliknya, tapi genggaman Caira tak mau melepaskannya. “Lepas, ini seharusnya miliku!”
“Mimpi,” lirihnya dengan napas tersengal.
“Caira, tolong simpan tenagamu sampai ada yang menolong, kumohon.” Seru Tiara sedih dan tersiksa melihatnya.
“Sudah mau mati, masih saja keras kepala,” gertunya kesal, menekan perutnya yang terluka dengan sadis. Tanpa jijik melihat banyak darah yang keluar dari tubuh Cairah.
“Akh.. Ukh, Ukh.” Mencoba menjauhkan kaki Hevva dari luka diperutnya, sembari tanganya yang penuh darah tetap memegang erat kalungnya. “Kalung ini akan tetap menjadi milik keturunanku, apapun yang terjadi nanti. Ukh, ukh.” Serunya kesakitan dan Janjinya tegas dengan ikrarnya itu. “Kalian pikir akan hidup bahagia setelah berhasil membunuhku, jangan mimpi. Allah tak tidur, kematianku ini pasti ada pembalasannya.” Sambungnya lirih dan terbata dengan napas tersegal-segal penuh dendam.
“Iya, iya. Ngomonglah sesukamu, sebelum ajal menjemputmu." Cibir Hevva menghina, masih tetap menarik kalung yang terus dipertahankan Caira.
“Tidak! Kumohon Ciara, jangan bicara lagi, bertahanlah.” Pinta Tiara histeris, melihat napa Caira yang terpuuts-putuss, seakan mengatakan kalau nyawanya tak lama lagi.
“Kalung ini akan tetap menjadi milik keturunanku, siapun yang mencoba mengambilnya secara paksa, akan mati dengan tragis sepertiku. Kamu merebut pasanganku, jangan harap nasib pemilik kalung ini akan sepertiku. Siapapun yang mencoba merebut pasangan pemilik kalung ini, orang itu juga akan mati menggenaskan.” Kutuknya terbatah dan lirih. Dalam hati berdoa semoga, apa yang diucapkannya menjadi kenyataannya.
PRANG…
Mereka terkejut mendengar suara vas jatuh dan pecah. Berlari mencari asal suara itu berasal. Mereka takut ada yang memergoki apa yang terjadi. Tiara mendekat, mencoba menggenggam tangan Caira, tapi hanya bayangan yang didapat. “Bertahan, Caira. Kumohon!...” pintany menangis histeris.
******
Hiks...hiks, Tiara menangis dalam tidurnya dan terbangun, lalu duduk. Mengusap air matanya, dan dada berdebar kencang. Mengusap wajahnya frustasi, sungguh menggenaskan kematian Caira. Teganya mereka melakukan itu padanya, tak terpikirkan olehnya untuk melihat langsung memori Caira, sang pemilik kalung sebenarnya. Dan cara meninggalnya, baru kali ini ia melihat kematian yang tragis didepan matanya sendiri walaupun hanya sebatas mimpi. Tapi ini sungguh terasa nyata baginya, karena dadanya masih berdebar kencang, berkeringat, walaupun kamarnya ber-AC.
Apakah ini misteri dari sebuah kalung itu, yang memilih pasangan bagi pemilik kalung sebenarnya. Dikarena kan permintaan Caira. Ia penasaran dengan nasib Caira, apa masih hidup atau sudah meninggal. Berharap dia masih hidup, tapi rasa mustahil dengan tubuh penuh tusukkan begitu. Tapi sebelum bangun, ia mendengar suara barang pecah, pasti ada orang yang mengintip, semoga saja benar, dan orang itulah yang akan menolong Caira dan dia selamat.
Ia melirik jam yang menunjukan jam 3 lewat, percuma saja dia tidur lagi. Sudah mau subuh. Hatinya masih tak tenang, bingung mau cerita sama siapa, takutnya mereka tak percaya padanya dan hanya menganggap dirinya hanya melindur. Ia bangun dan berjalan ke toilet, mengambil wudhu, dan shalat malam minta petunjuk, kenapa ia yang harus mengalami mimpi itu.
******
“Sya,” bisik Tiara. Saat ini mereka sedang fitting baju terakhir sebelum pertungannya malam nanti
“Apa?” Tanya tanpa menoleh. Masih sibuk dengan memperhatikah tamlilan dirinya sendiri dicermin.
“Lo buat baju sebagus itu, untuk pertunangan yang akan digagalkan,” serunya berbisik. “Gak sayang, buang-buang duit aja.” Meringis mengingat harga gaun Tasya yang seharga 2 motor matic.
“Ya, mau gimana lagi. walaupun nantinya berantakan, paling gak gue hariu tampil cantik dan elagan,” jawabnya berbisik, takut didengar orang-orang disekitarnya. Dirinya hanya ditemani oleh Tiara, keluarganya yang lain sudah dari kemarin, mereka fitting baju, bersama tunangannya. Karena kesibukkannya, ia baru bisa fitting siang ini, itu aja harus meninggalkan perkerjaannya untuk sementara.
“Habisin duit aja, ck.” Decaknya geleng kepala, menatap baju pertunangan Tasya. Kebaya kalsik lengan panjang berwarna gold doisertai dengan penyet dan bunga 3D, dipadu dengna rok songket berwarna senada. Pasti menghabiskan banyak uang, pikirnya.
“Gak usah pikirin habis duit berapa, bukan gue yang bayar. Jadi gak rugi juga kan,”celetuknya santai. “Baju lo gimana, beres, gak ada komplen.” Mendapat gelengan dari Tiara sebagai balasannya. “Malam ini lo tidur di rumah kan,” serunya bertanya memastikan.
“Iya.” Mencoba gaun kebaya brokat model loose dan kain batik dengan warna senada dengan Tasya.
“Sudah dari sini, kita ke rumah lo dulu. Bawa aja yang penting, besok gue antar.” Masuk ke ruang ganti baju, melepaskannya. “Firasat gue, malam ini, akan terjadi sesuatu gak sederhana yang gue pikirkan,” sambungnya datar.