
"Tidak! Jangan!" teriak Tiara ketakutan, sambil menoleh kepalanya kanan dan ke kiri dengan gelisah dalam tidurnya. Ia ketakutan mendengar suara Hevva yang penuh dendam, membuatnya merinding dan berkeringat. "Tidak, Hevva," sambungnya lirih. Masih Bergerak gelisah dalam tidurnya, seperti cacing kepanasan, dengan keringat bercucuran.
Teriakan Tiara, membangun Tasya. Ia bergegas masuk ke dalam kamar Tiara, lalu mendekatinya.
"Ra, lo kenapa?" gumam Tasya Khawatir, lalu menggocang tubuh Tiara untuk membangunkannya. "Bangun, Ra!. Sambungnya dengan sedikit keras.
"Akh," Tiara tersentak, menoleh ke sekelilingnya, menghembus napas lega. Ternyata hanya mimpi, pikirnya lega. Mengapus peluh dikeningnya. Ia belum menyadari Tasya yang duduk dihadapnya.
"Ra, lo kenapa?" Tanya Tasya heran.
"Ee, gue.." ujarnya bingung. Menutup mata, mengambil napas panjang, lalu menghelanya beberapa kali, agar debaran dihatinya hilang.
"Ya, lo kenapa teriak-teriak ketakutan gitu," menghapus peluh dikening Tiara. Menatapnya khawatir. "Lo mimpi apa sampai keringatan gini."
"Cuma mimpi seram aja," elaknya.
"Gak mungkin," bantahnya tegas. "Lo bisa cerita ama gue, walaupun mungkin gue gak bisa membantu, paling gak. Hati lo tenang, bisa berbagi beban." Sambungnya lembut. "Cerita apa yang lo mimpikan, Ra." Meremas tangan Tiara lembut dan membujuk. Melihat tatapan ragu dimatanya. "Ini hanya menjadi rahasia kita berdua, lo tenang aja, Ra.
Tiara mengangguk lelah dan mulai menceritakan dari awal ia bermimpi tentang Caira sampai mimpi barusan. Ia menceritakan dengan sedih dan menangis, harus mengulang kejadian demi kejadian yang dilihatnya. Badannya bergetar ketakutan, saat menceritakan bisikan yang didengarnya.
"Lo tenang kan diri yah, itu hanya mimpi." Bujuknya lembut.
"Tapi itu nyata sekali, Sya." Bantahnya cepat.
"Iya, gue tau." Menggenggam tangan Tiara. "Lo masuk ke dalam masa lalu Caira, setelah menemukan kalung peninggalan keluarga Wyatt." Menepuk tangan Tiara. "Tak ada yang bisa lo lakukan, yang terlihat itu semuanya sudah terjadi. Yang bisa lo lakukan hanya berdoa meminta pengampunan untuk mereka."
"Tapi suara Hevva itu, terdengar seperti kutukan ditelinga gue, Sya. Lo gak mendengar langsung, betapa suara itu penuh dendam dan kebencian."
"Tenang yah, Ra. Sekarang lo shalat aja, berdoa meminta perlindungan dari Allah dan mendoakan arwah mereka." Nasehatnya lembut. "Gak usah lo dengarkan dan dimasuk ke hati, tentang kutukan Hevva itu. Semakin lo pikirkan, hati lo gak tenang. Yakini saja, dia kan jahat, gak mungkin ucapannya didengar oleh Allah, Ra."
"Kita kan gak tau," bantahnya bersikeras. Lalu menceritakan apa yang telah diceritakan Wyatt padanya tentang kalung itu.
"Oke, anggaplah kutukan itu emang ada. Tapi kita balik lagi semuanya pada takdir, Ra. Semua yang terjadi didunia ini pada hidup kita, sudah digariskan ribuan tahun sebelum bumi diciptakan, Ra. " Ujar Tasya menasehati. "Kalau emang orang-orang yang mempunyai hubungan dengan kalung itu harus menderita maupun meninggal. Semuanya itu sudah takdir mereka, Ra." Mengenggam tangan Tiara dan menatapnya hangat. "Gak usah takut, atas apa yang belum terjadi. Tiara yang gue kenal bukan orang yang penakut, hadapi apa yang terjadi nanti. Lo orang baik, gue yakin Allah selalu melindungi orang baik."
"Amin, Insya Allah, semoga saja begitu." gumamnya mengaminkan dengan lirih dan penuh harap.
"Udah deh, sekarang lo ambil wudhu dan shalat yah. Hampir jam 4, tenang kan diri lo dengan shalat." menepuk tangan Tiara. "Gue balik dulu, nanti kalau lo belum tenang. Gue siap mendengar semua keluh kesah lo, Ra."
"Iya," mengangguk dan melihat Tasya yang berjalan meninggalkan kamarnya.
******
Wyatt POV
Ditempat lain, seorang pria, yang tak lain, Wyatt, mengalami mimpi seperti yang Tiara lihat. Ia terbangun dengan peluh didahinya, walaupun ia pria yang terkenal dingin dan kejam. Mendengar suara Hevva yang terbawa angin dengan penuh dendam dan benci, tetap membuatnya merinding. Ditelinga, ucapan Hevva itu seperti sebuah kutukan.
Ia berpikir, apakah kematian yang telah didengarnya tentang keluarga sebelum dirinya itu, kutukan dari Hevva. Kenapa ia tahu nama wanita itu, karena sejak awal Tiara bermimpi, ia juga mengalaminya. Hanya tak menyadari kalau Tiara juga mengalaminya.
Dirinya pria yang berpikir logis, tak percaya dengan yang namanya kutukan. Tapi mau tak mau harus dibuat percaya tentang takdir pasangan pemilik kalung yang diwariskan secara turun temurun. Ia tahu apa yang terjadi sama pewaris kalung itu bukan hanya bualan dongeng sebelum tidur. Mengambil napas lalu menghelanya kasar, mengusap wajahnya lelah, lalu beranjak ke kamar mandi
******
"Baik," tersenyum. "Lo nelepon siapa?" sambil mengaduk mie goreng tumis seafood pedas.
"Monic dan Jasmin," lalu duduk dan mulai menuangkan jus mangga kotakan ke gelasnya. "Iya, lagi masak orangnya, mau ngomong, ok, gue ganti mode video call yah." Ujarnya sambil menyesap jus nya
"Ra, lo kenapa?" Tanya Jasmin khawatir, setelah telepon Tasya diganti dalam mode video call.
"Gue gak apa-apa, mungkin kecapean aja kok," elaknya santai. "Ngomong-ngomong, kalian udah tau rencana Tasya mau ngajak kita liburan?" sambungnya mengalihkan omongan dan itu berhasil, ia menghembus napas lega, sendari meletakkan mie gorengnya ke piring dirinya dan Tasya. "Lo mau pakai nasi, Sya?" dijawab dengan gelengan kepala. "Pangsit?" menunjukan pangsit yang berada ditoples.
"Iya," lalu menarik toples pangsit itu dan meletakkannya dipiringnya.
"Lo buat apa, Ra?" tanya monic penasaran.
"Cuma mie goreng seafood kok," jawabnya sambil menyuap mie ke mulutnya.
"Enak donk, udah lama kita gak makan mie goreng tumis seafood andalan lo, Ra." Gumam Jasmin protes sekaligus memuji.
"Lo aja kale, bukan gue," ejek Tasya memanas-manasi Jasmin.
"Ck, gak usah ngompori deh," decaknya pura-purah kesal.
"Hehe, hmm, enaknya. Mau gak, ke sini kalau mau," kekeh Tasya sambil menunjukan mie yg digulung digarpunya.
"Maka nya, Jeng. Jangan jadi Bang Toyib terus," sindir Monic bergurau.
"Bang Toyib, Bang Toyib. Kenapa gak pulang-pulang," nyanyi Tasya lagu dandut Bang Toyib, sengaja menyindir Jasmin yang rarang sekali pulang ke Indonesia, sejak dia kerja di Singapura.
"Lah malah nyanyi dia, liriknya salah pula, ck," gerutu Jasmin geram dan cemberut.
"Haha," tawa ketiga temannya, senang mengerjainya dan melihatnya cemberut.
"Ish, ledek terus, ayo ledek," gerutunya. "Gak apa-apa, cewek cantik mah gitu, banyak yang sirik," sambungnya memuji diri sendiri dengan bangga.
"Hahaha," tawa mereka lagi.
"Udah, udah. Gak bosen ribut mulu," lerai Tiara.
"Gak, hahaha." Tawa mereka senang.
Tiara hanya mengulum senyum dan menggeleng kepala melihat kelakuan ketiga temannya. Ia menyesap jus mangganya dan membawa piringnya ke wastafel, lalu duduk kembali.
"Mau nambah jus nya, sya." Tawarnya ketika melihat gelas isi jus Tasya habis.
"Iya."