Golden Bride

Golden Bride
Mencoba Menerima



Hening


Tak ada yang bersuara ketika Ayah Dimas menjelaskan flashback, alasan Wyatt menikahinya. Tiara menatap Wyatt tajam lalu memejamkan mata. Ia merasakan elusan lembut di kepalanya oleh Ayahnya.


"Nak, kami tau, kamu sulit menerima kenyataan ini. Awalnya kami keberatan dengan niat Wyatt menikahimu di saat dirimu masih terbaring tak sadarkan diri, bisa dibilang juga koma," ucap Ayahnya lembut sambil mengusap-ngusap kepalanya. "Tapi dibalik dari keinginan Wyatt yang terburu-buru itu, ia lakukan karena tulus menyayangi dan ingin selalu melindungimu."


"Ikhlas yah sayang, ini udah menjadi takdirmu, menikah tanpa persiapan terlebih dahulu, apalagi dalam keadaan tak sadarkan diri." Nasehat Bundanya dengan menepuk-nepuk tangannya. "Jodoh itu gak akan ada yang tau kapan datangnya, walaupun kita telah menyiapkan semuanya tapi kalau belum waktunya, hal itu gak akan pernah terjadi. Pernah kan mendengar, akan akad nikah tapi dalam perjalanan sang mempelai pria, meninggal kecelakaan. Begitupun pernikahanmu, kalau Allah sudah menetapkanmu untuk menikah dalam kondisi seperti ini, tak ada satupun yang bisa menghalangi pernikahan kalian." Mengusap lembut pipi anaknya. "Jodoh adalah salah satu ketetapan takdir Allah yang sudah dibuat sebelum bumi ini diciptakan. Walaupun diulang, dengan kondisi berbeda. Kalian akan tetap menikah, dengan hari dan waktu yang sama. Jadi Nak, ikhlas dengan pernikahanmu ini."


Tiara menghela napas kesal, dan membuka matanya. Menatap kedua orang tuanya yang terlihat sedih dengan sikapnya, memejamkan matanya lagi, lalu membukanya. 


"Nikah sirih, Yah?" tanyanya datar mengalihkan omongan.


"Iya, Sayang." Jawabnya Ayahnya pelan, tak mau anaknya menjadi emosi. "Kamu jangan kuatir, semua berkas untuk mengajukan nikah secara negara dan mendapat surat nikah, sudah diurus oleh mertuamu. Ayah yakin pasti cepat keluar dan mungkin kurang lebih sebulan,  pernikahan kalian akan resmi menurut agama dan negara."


"Apa mau nikah ulang, Nak. Biar hatimu puas dan menerima keyataan ini." Tanya Bundanya lembut, mengajuk hati anaknya.


Tiara menatap kedua orang tuanya yang menunggu penuh harap jawaban darinya, lalu beralih ke Wyatt yang wajahnya datar banget, buat ia kesal saja. 


"Gak perlu, Bund." Menggeleng kepala. Kalau benar alasan Wyatt menikahinya seperti yang telah dikatakan Ayahnya, tak mungkin mengulang akad dan diadakan resepsi sesuai dengan imipiannya selama ini. Terlalu beresiko buat mereka. "Lalu kedua orang tua, Wyatt kemana, Bund?."


"Mereka pulang dulu ke apartement, cucunya ada yang sakit, karena belum beradaptasi dengan iklim kota kita, nak." Cetus Bundanya Lalu mencubit gemas hidung anaknya, yang membuatnya protes tak terima.


"Akw, kenapa dicubit hidungku, Bund," rengeknya tak terima. "Ayah, masa Bunda tega anaknya lagi tak berdaya seperti ini, Kdrt ini namanya," rajuknya manja dan cemberut.


"Kdrt, ndasmu." Cubitnya lagi dipipi anaknya, membuatnya semakin manyun. "Biar otakmu jadi lurus," sela Bundanya pura-pura kesal. "Wyatt udah jadi suamimu, yang hormat kek manggilnya. Kang mas, abang, kakak, bisa juga sayang. Jangan panggil nama aja, kayak manggil orang seumuran, gak baik."  Sindir Bundanya sewot menatapnya tajam.


Tiara mendesah geram dengan muka mayun dan cemberut, pura-pura bertambah sebal. Melihat kedua orang tuanya tertawa karena tingkahnya.  Ia menatap Wyatt yang ikut menyungging senyum simpul, membuatnya berdecak dalam hati kesal. Betapa mahalnya senyuman dibibir suaminya ini, senyum aja susah banget. Terkekeh merinding disko, mengakui Wyatt sebagai suaminya.


"Ayah, Bunda. Ikhlas dan bahagia kan dengan pernikahanku ini," ujarnya serius, ingin mengetahui isi hati kedua orang tuanya.


"Tentu aja, Nak. Karena sekarang tanggung jawab Ayah untuk membahagiankan dan menjagamu, udah diambil alih oleh pria yang tepat. Wyatt, suamimu." Jawab Ayahnya lembut dan bahagia. "Kamu bukan hanya seorang anak, Ra. Tapi telah menjadi seorang istri. Jadi bersikaplah seperti istri yang soleha yang selalu menjaga marwahnya." Sambungnya menasehati bijak. "Langkah pertama, tutupilah setiap helai rambutmu, dengan berhijab. Tolong kurangi nasab Ayah dan suamimu di sana kelak, Nak." Menatap anaknya penuh harap dan hangat.


Tiara mendengarnya, merasa bersalah karena masih belum bisa menuruti keinginan Ayahnya itu. Hatinya tercubit, mengingat keegoisannya selama ini.


"Nak, jadilah istri yang selalu menyenangkan jika dipandang suami. Taat dan turuti apa yang diperitahkannya, jika memang baik untukmu. Jangan lah bermuka masam, ketika suami pulang dari kerja seharian, sambutlah dengan senyuman tulus. Jangan pernah takut menasehati suamimu jika dia berjalan ke arah yang salah. Percantikkan dirimu hanya untuknya seorang, layani kebutuhannya dengan ikhlas, jangan berkata kasar padanya. Pandai-pandailah menjaga harta dan rahasianya." Nasehat Bundanya bijak dan lembut.


"Pendek banget Bund nasehat, kurang panjang itu mah," candanya terkekeh, langsung mendapat pukulan dilengannya. "Aduh, Bund. Bercanda doank, hehe." Sambungnya meminta maaf dan menyengir.


"Ck, anakmu ini, Yah. Bercanda mulu," decak Bundanya geram.


"Di saat seperti ini baru, diakui anak Ayah," sindir suaminya jahil dan geli. "Sabar, Bund." Sambung Suaminya lembut. "Jangan terlalu serius gitu nanti kerutannya bertambah loh." Guraunya terkekeh melihat istrinya cemberut.


"Anak dan Ayah sama aja, nyebelin." Desisnya manyun.


Tiara tertawa melihat keromantisan kedua orang tuanya, walaupun tak seromantis anak alay jaman now, tapi ia selalu berdoa akan mendapat sosok suami penyayang keluarga seperti Ayahnya, cinta pertama dalam hidupnya.


"Nak, banyak nasehat bijak tentang kewajiban suami istri dalam menjalani biduk rumah tangga. Kalian bisa bersama-sama mencari tau tentang itu. Yang paling mudah untuk diambil pelajarannya, bisa kalian lihat dalam kehidupan rumah tangga kami maupun mertuamu. Ambil yang baik tapi buang yang buruk, yakinlah seiring berjalannya waktu, kalian bisa menempatkan diri masing-masing tanpa canggung dan terpaksa." Ayah Dimas menepuk-nepuk tangannya dan menepatkannya diatas tangan Wyatt. "Sekarang, ngobrollah berdua dengan suamimu tercinta, apa yang masih ada yang mengganjal dihati, bisa kamu utarakan." Mengangguk tegas ketika Tiara akan menolak.


*****


Suasana canggung yang dirasakan Tiara saat ditinggalkan berdua saja dengan wyatt. Tapi tak begitu bagi suaminya ini, hanya menatapnya datar dan terlihat bosan. Ia menghelus dadanya bersabar mendapat suami sebelas duabelas kayak papan triplek ini. Untung gantengnya kebangetan, Terkekeh geli dengan pikiran erornya itu dan langsung diam ketika mendapat cibiran olehnya. Sabar, sabar. Orang sabar banyak duetnya, celetuknya dalam hati menyemangati dirinya.


"Maaf kalau pernikahan kita ini tanpa di bicarakan dulu denganmu," gumam Wyatt datar. "Aku tak menyesal melakukannya, dan tetap akan melakukannya lagi, walaupun waktunya harus diputar balik kembali ke hari kemarin." Sambungnya tegas dan arrogant.


"Ck, gak usah minta maaf kale, kalau masih merasa benar," decaknya geram dalam hati. Masih setia mendengar omongan wyatt.


"Percayalah, kalau bukan situasi seperti ini. Pernikahan kita akan kurencanakan seperti impianmu selama ini," ucap Wyatt lembut. "Menikah dengan tema out door, di tepi pantai. Yang dihadiri oleh keluarga dan orang-orang terdekat saja, dan berbaur menjadi satu, bersama-sama dengan para undangan." Sambungnya memegang tangan istrinya, dan meremasnya lembut.


Tiara tercengang bukan main mendengarnya, heran dan penasaran. Bagaimana suaminya tahu, pernikahan yang diimpi-impikannya itu. Yang tahu pernikahan impiannya itu hanya ketiga sahabatnya saja, pasti dia bertanya pada salah satu dari mereka.


Sebelum menanggapi ucapan suaminya, ia mendengar suara seperti kaca pecah dan sebuah ledakan.


Whooosh!...


Craang!!!...


Blam!... Seketika lampu ruangannya mati maupun lampu yang berada diluarnya.


Ahhh!!!.... Tiara langsung menjerit syok dan ketakutan.


🔊 Met malam readers👏


🔊Bertemu lagi dengan Tiara&Wyatt, hehe🤗


😥Sedih sih lihat yang baca cerita ini sedikit😭


🤔Tapi gw tetap harus semangat buat update cerita ini🤗


👉 Jika ♥ bisa klik👍. Ksh dukungan bt gw yah, biar bs tetap semangat bt melanjutkan crita ini🤗


👉Kritik dan saran, ditunggu yah😊


😇Syukron, Makasih buat readers🙏🙇