
“Kalian ini, gak ngehargai gue banget. Sengaja gue ngasih minuman, sekalian untuk merayakann tunangan kalian minggu depan.” Mengambil minumannya dan menyesapnya dengan gaya angkuh. “Ayo lah, Sya. Gue mau ngucapin selamat atas pertunangan lo, ayo kita cheers buat kalian berdua, semoga pertunangan kalian lancar sampai hari pernikahan.” Sambungnya mendoakan dan bersikap tulus.
Orang yang tak mengenal Bella, mungkin bisa tertipu dengan ucapannya itu, tapi bagi Tasya dan Tiara, yang tahu watak Bella yang suka berpura-pura dan liar. Ucapannya itu hanya sandiwara dimulut doang, tidak sampai ke hati. Tiara menjadi was-was, saat si brengsek itu malah terus membujuk Tasya untuk minum. Padahal ia sudah menyuruhnya untuk menolak saja dari matanya, harus mencari cara agar Tasya tak meminumnya.
“Biar gue aja yang minumnya, kayaknya minumannya enak.” Seru Tiara tiba-tiba, mengagetkan mereka.
“Ya ampun, Ra. Ngapain lo gantikan Tasya minum, curigaan mulu lo orangnya.” Seru Bella tersinggung. “Jangan terlalu overacting lo, nanti orang-orang pada curiga.”
“Apa salahnya gue yang minum. lagian Tasya juga gak suka strawberry squash, masa lo gak tahu,” sindirnya. Mengambil minuman itu. “Lo juga payah Roy, udah tunangan tapi masa gak tahu, kalau Tasya benci minuman ini.” Menyindirnya halus sambil menunjuk strawberry squash.
Tasya menatapnya marah dengan tingkah Tiara, sedangkan Roy dan Bella menatap Tiara tegang. Lain hal nya Jay, yang menatapnya penuh minat. Saat ia akan meminumnya, tiba-tiba ada yang menyenggolnya, membuat gelas itu jatuh, dan membuat kakinya terantuk meja.
“Aduh,” seru Tiara kesakitan, mengusap kaki kanannya. Menatap marah pada orang yang menabraknya.
“Maaf, gak sengaja.” Seru menyesal seorang pria tampan berkulit hitam dan berwajah ramah. “Tadi ada seseorang yang terburu-buru, pria itu menyenggol saya. Membuat saya tak sengaja, menyenggol minuman anda.” Memasang wajah bersalah. “Sebagai permintaan maaf saya, biar saya saja yang membayar minuman kalian.”
“Gak usah,” tolak Tiara cepat, malah bersyukur, minuman itu tumpah. Ia tak tahu apa yang ada di dalam minuman itu, bisa racun, bisa juga obat perangsang. Sungguh sulit dibayangkan, apa jadinya nanti kalau sampai meminumnya.
“Gak pa-pa, saya semakin bersalah, kalau anda menolak.” Ujar pria itu bersikeras.
“Gak usah, kami bisa membanyar sendiri.” Roy merasa tersinggung, pria itu mau membayar bill mereka, seakan dirinya tak mampu membanyar.
“Gak perlu, Mas. Minuman itu gak seberapa kok.” Tolak Tasya ikut nimbrung, dan tersenyum ramah.
“Iya, gak pa-pa, Pak..” seru Tiara bingung mau memanggilnya siapa.
“Ali.” Berdiri dan tersenyum pada Tiara “Saya belum tua untuk dipanggil bapak.” Candanya
“Ekh?” ujar Tiara linglung
“Panggil aja Ali,” memberikan senyuman ramah.
“Hmm, iya. Ini juga bukan salah anda, gue aja yang gak hati-hati tadi.” tolak Tiara.
“Tapi…” ucap Ali ragu
“Nyantai aja kok, hal kecil gini gak usah diributkan.” Tersenyum sambil meletakkan gelas yang telah diambilnya, di atas meja.
“Baiklah kalau gitu, maaf sekali lagi dan saya permisi.” Ali undur diri dan berjalan mendekati meja yang tak jauh dari mereka.
Tiara menatap kepergian Ali dengan lega, tapi sesaat ia seperti melihat Wyatt di sana. Masa Ali kenal dengan Wyatt, apa orang yang ditemui itu Wyatt, tapi mana mungkin. Orang tersibuk seperti Wyatt bisa ada di Exoxs Club ini, pikirnya heran. Mungkin ia hanya halusinasi saja seperti biasa, karena beberapa hari ini, dirinya seolah melihat Wyatt di mana-mana. Ia geram, karena meja yang dituju Ali itu, berada dipojok paling ujung dengan suasana remang-remang, sehingga tak bisa melihat siapa saja yang duduk di sana.
“Lo kenapa, Ra?” bisik Tasya penasaran, soalnya Tiara menatap terus ke arah Ali pergi tadi.
“Gak pa-pa,” memberikan senyum menenangkan.
“Makasih.” Sindirnya cuek.
“Lo naksir sama pria tadi, jangan terlalu mimpi.” Tersenyum menghina. “Pria seperti tadi, tipe wanitanya bukan kayak lo.”
“Lo bisa meramal, hebat banget.” Ejeknya. “Maksud lo, tipe pria tadi, seperti lo. Suka obral murah ke mana-mana.”
“LO!” bentaknya marah.
“Gak suka, gue ngomong fakta.” Bersikap santai dan menatap Bella datar. “Bukan rahasia umum lagi lah Bella, soal lo yang memiliki banyak gebetan. Malahan gue dengar lo pernah ribut, didatangi oleh istri gebetan lo itu.”
“Benaran, Ra.” Tanya Jay penasaran dan bersemangat.
“Iya.” Menatap Roy. “Lo bisa Tanya sama teman lo itu, cerita lengkapnya. Gak mungkin dia gak tahu, lah gebetannya itu suami adik sepupunya.”
“Wah,” seru Jay bingung harus menjawab apa. melihat Roy yang menatap Tiara Marah dan Bella seakan ingin memakannya hidup-hidup.
“Gak baik, membuka aib orang lain, Ra.” Nasehat Tasya, menepuk-nepuk tangan Tiara untuk mengingatkannya.
“Maaf,” seru Tiara tanpa dosa.
“Jangan sok suci lo, Ra. Gue tau lo cinta mati ama Alvin, masa lo belum nyerahkan diri padanya demi mendapatkan dirinya.” Tuduh Bella sarkas.
“Haha, pintar juga lo ngelawak.” Tertawa mengejek. “Kayaknya lo lebih tau diri gue daripada diri gue sendiri, hebat lo.” Menepuk tangan sambil tertawa. "Lo ngefans sama gue, sorry mory yah, gue normal."
“Lo!" serunya marah sambil menenangkan emosinya. "Sudah jadi rahasia umum juga, cinta lo gak dibalas oleh Alvin.” Sambungnya sendari menatap tajam Tiara. “Lo kan tau, pacar dia sekarang teman gue. Teman gue ngomong, Alvin tau lo mencintainya tapi pura-pura bodoh gak tau. Dia ngerasa kasihan gak bisa ngebalas cinta lo, kasihan lihat lo, cinta dari dulu tapi gak digrubis.” Sambungya memanas-manasi Tiara. “Mudah aja mau dapat cinta Alvin, lo tinggal serah diri lo seutuhnya sama dia.”
“Hahaha,” tertawa geli, walaupun hatinya merasa sakit, mengetahui fakta itu.
“Udah, Ra.” Pinta Tasya sangat, ia memahami rasa sakit dihati Tira sekarang.
“Lo mau gue seperti diri lo, murahan.” Berdecak dingin. “Mimpi aja terus.”
“Ck, murahan teriak murahan.” Serga Bella.
“Emang lo pernah lihat gue dicium oleh pria, dipeluk gitu, atau digrebek oleh pasangannya.” Sindirnya.
“Lo!”
“Kagak kan, berarti jangan asbun.” Duduk tegak menghadap Bella, menilainya dari atas kebawah dengan menghina. “Lo nyuruh gue murahan seperti lo. Yang biasa tidur dengan siapa saja, asal punya duet. Hello, gue barang mahal, yang berstatus halal dari KUA baru bisa nyentuh gue.” Sambungnya sombong. “Orang kayak lo, mana ngerti status halal KUA, ya gak Sya.” Menatap Tasya meminta persetujuan.
“Benar sekali.” Gumam Tasya menganggung setuju. “Dengar, Bel. Setau gue, sebejat-bejatnya pria, sebelum menikah suka jajan diluar. Pastinya mereka akan mencari istri dan ibu dari anak-anaknya, dari wanita baik-baik yang bisa menjaga harga dirinya.” Menatap Roy dengan senyum manis, padahal ia bermaksud menyindirnya.