Golden Bride

Golden Bride
Konfrontasi Bella



“Kalian ngomong apa sih,” seru Jay heran, karena ado obrolan mereka yang tak bisa dipahaminya. Karena menggunakan bahasa yang tak dimengertinya


“Hanya obrolan wanita.” Seru Tasya dalam bahasa inggris. 


“Gue mau nanya, sama lo, Bel.” Tiara menatap penasaran. “Tasya sebenarnya salah apa sih sama lo, sampai lo gak suka padanya.”


“Maksud lo apa, gue gak ngerti.”elaknya cepat dan berusaha bersikap santai.


“Bukan rahasia umum lagi, kalau lo benci pada Tasya. Selalu unggul darinya dan selalu merebut apa yang dimilikinya.” Menatap Bella dengan menyelidiki.


“Gak kok, lo aja yang ngarang.” Elaknya lagi.


“Apa gara-gara si Erik yang ngejar-ngejar Tasya, cowok yang lo sukai itu. Buat lo benci sama Tasya, lagian bukan salah Tasya juga kan, kalau Erik lebih menyukainya daripada lo.” Ucapnya tanpa menggrubis ucapan Bela


“Diam lo!” bentaknya marah.


“Lo ngomong aja, apa sebenarnya yang lo rencanakan sekarang. Gak mungkin kan, gak ada angin dan hujan. Tiba-tiba lo bersikap bersahabat sama Tasya, padahal selama ini, lo selalu melihatkan sikap bermusuhan secara terang-teang padanya.” Tuduhnya tajam. “Apa jangan-jangan lo mau merebut Roy juga, seperti yang lo sering lakukan, merebut setiap pacar Tasya.”


“Ck, omongan lo semakin melantur aja.” Sindirnya datar.


“Lo bisa berusaha ngelakukannya.” Sarannya sarkas.


“Tiara lo udah kelewat batas.” Bentak Roy geram.


“Ra, udah.” Tasya menggenggam Tiara, memintahnya diam.


“Gue belum kelar ngomong,” sambungnya tak menggrubis mereka. “Lo bisa merebut Roy dari tangan Tasya, tapi jangan lo terlalu berharap, sampai melihat Tasya akan menangis meraung-raung bahkan sampai bunuh diri segala. Gara-gara Roy lo rebut.” Menatap Bella dan Roy yang tegang dan memucat. “Hei, nyantai aja, kenapa lo tegang gitu, Bella. Seakan memang benar lo mau merebut Roy dari Tasya.” Tertawa kering. “Bella, lo lihat Tasya. Semua yang diinginkan pria ada pada dirinya. Cantik, sexy, pintar, baik, pintar masak, mandiri. Begitu muda baginya untuk mendapat pengganti Roy, kalau sampai itu terjadi. Gue juga yakin, di luar sana, masih banyak pria yang menunggu kesempatan itu terjadi. Jadi jika Roy sudah terlepas dari hidup Tasya, jangan berharap lagi untuk memilikinya.” Sambungnya dengan tersenyum manis kearah Roy.


Roy menelan ludah, hatinya berdegup kencang, seakan ucapan Tiara itu, ancaman terselubung untuknya. Ia menatap Tiara dengan curiga, apa Tiara mengetahui perselingkuhannya. Jika memang benar, bisa dipastikan Tasya juga tahu, tapi selama ini, tak ad yang mencurigakan dai gleagat Tasya.”Lo baik banget, udah nasehati gue, Ra.” Ucapnya masam dan penuh curiga.


“Ck,” decak nya datar. “Kenapa lo masih di sni, lihat lo bikin gue ingin memukul sesuatu.” Usirnya kasar pada Bella, yang bersikap polos.


“Lo kok jahat banget ama gue, Ra.” Ujr Bella pura-pura menangis dan sedih. “Gue gak penah jahatin lo.”


“Drama lo,” desisnya geram. “Inget, gue gak akan tinggal diam, jika lo punya rencana jahat terhadap Tasya,”


“Kok lo nuduh gue, Ra.” Bella masih menatapnya sedih dan menangis terseduh, terlihat paling menderita.


Jay menatap Tiara bingung, dengan apa yang terjadi, melihat Bella menangis tanpa didiami. “Gak usah lo pikirkan dia, nanti juga datang kok pria gebetannya.” Seru Tiara cuek. “Lo mau pulang gak, Sya. Buang-buang waktu aja lama-lama di sini.”


Mengangguk kepala dan menatap Roy. “Yang, pulang yuk. Udah hamper jam 12, ngobrolnya kita bisa lanjutkan besok-besok.”


“Iya, Yang.” Sahutnya tenang, tanpa menggrubis tatapan tajam Tiara.


Mereka sepakat untuk pulang, meninggalkan Bella sendiri yang masih berpura-pura menangis. pintar sekali aktingnya, seolah-olah dia yang dijahati, gerutunya dalam hati kesal. Ia sempat mendengar, Tasya membisikkan sesuatu di telinga Bella. 


“Lo bisa mencoba saran Tiara tadi, tapi siap-siap aja, balasan gue bisa lebih kejam daripada itu.” Tertawa kejam, menepuk-nepuk pundak Bella yang tegang. “Ayo, Ra.”


******


"Ikuti dia," perintah seorang pria pada pria yang menabrak Tiara tadi.


"Baik," jawab pria itu.


"Besok sore aja, Wyatt." Tolak asistennya.


Ternyata yang duduk di dekatnya Tiara memang benar Wyatt, tanpa Tiara ketahui selalu mengawasinya. "Besok pagi, jam 8 laporannya sudah ada diemailku." perintahnya tegas.


"Iya-iya," gerutunya pasrah. "Tapi Tiara boleh juga, ehk tunggu dulu, jangan langsung marah gitu," sambungnya cepat, melihat Wyatt seakan ingin menerkamnya. "Maksudku, dia terlihat lembut dan lemah, tapi ternyata kalau diganggu, bisa ngigit juga."


"Maksudnya," tanyanya, walaupun ia tahu apa maksud omongan asisten, sekaligus temannya itu.


"Gitu aja masa gak tahu," cibirnya, langsung cengengesan melihat tatapan tajam Wyatt. "Kita bisa lihat, dibalik kelembutannya, dia wanita yang kuat, tak mudah ditindas." menyesap winenya. "Cocoklah dengan karaktermu, kamu butuh wanita yang berkarakter kuat dan lembut untuk mencairkan hatimu yang dingin itu."


"Hmm," menatap temannya dan tersenyum datar.


"Ya sudah, kita pulang. Lama-lama berada di sini, buat gue gak nyaman." Ajaknya. Apalagi ada wanita yang menatap dirinya dan Wyatt dengan tatapan lapar, ia muak melihat banyak wanita yang menjajakan diri mereka di sana. Karena dia bukan pria pencinta one night stand, yang bisa berhubungan dengan wanita tanpa cinta didalamnya.


"Ayo," berdiri lalu berjalan meninggalkan tempat itu.


******


Tiara tak pulang ke rumahnya, ia lebih memilih menginap di rumah Tasya. Lagipula, bajunya sengaja ia tinggal. Untuk pakaian kerjanya, dirinya bisa pulang sesudah shalat subuh, minta diantarkan oleh supir Tasya.


"Akh, nyamannya." Seru Tiara lega, merentangkan kedua tangannya ke atas, sendari berbaring di atas kasur.


"Gimana lo bisa lolos tanpa dicurigai oleh Ayah." tanya Tasya heran sendari ikut tidur di sebelah Tiara.


"Yah, gue bilang aja lo ada sedikit masalah, lagi butuh gue banget." sahutnya santai.


"Apa?!" serunya terkejut. "Jangan bilang lo ngomong jujur tentang masalah gue pada Ayah."


"Kagak lah," bantahnya. "Seperti yang dibilang tadi, kalau lo butuh bantuan gue. Jadi harus menemui lo saat itu juga."


"Emang Ayah nerima alasan lo gitu aja," ujarnya tak percaga.


"Awalnya gak, tapi Ayah tahu gue gak akan bisa berbohong padanya. Syukurlah, Ayah ngerti kalau gue belum bisa cerita dengan jujur tentang masalah yang lo hadapi sekarang."


"Benaran?" tanya Tasya ragu.


"Iya, oneng." serunya geram sambil mencubit pipi Tasya geram.


"Ish," serunya kesal, sendari melepaskan cubitan Tiara.


"Terus Roy gimana?" tanya Tiara hati-hati.


"Gitu aja," sahutnya cuek.


"Rencana lo."


"Masih gue pikirkan, kalau udah yakin, nanti gue cerita kok," ujarnya tersenyum.


"Sya..." ujar Tiara sedih. ia tahu, bibir Tasya menyungging senyum tapi matanya terlihat sedih. "Perlu pelukan." tawarnya sambil duduk menghadap Tasya. "Kalau mau nangis, nangis aja. Jangan sok kuat, lihat lo gini, bikin hati gue ikut sakit, Sya." merentangkan tangannya untuk memeluk Tasya.


"Gue," menatap Tiara dengan mata sedih, lalu duduk menghadap Tiara dan memeluknya "Gue... Hiks... Hiks.." Ia terisak dan menangis dalam pelukan Tiara.