
Tiara terkekeh melihatnya. "Dengan senang hati," jawabnya datar, bersamaan dengan seruan Bella.
"Maaf!" bentak Bella setengah hati.
"Apa lo bilang, gue gak dengar." Ujarnya pura-pura tak dengar dan menyindir ucapan maaf Bella yang tak ikhlas. Dan mengeratkan pilinannya Bella.
"Maaf!" serunya marah dan kesakitan.
"Bella, Bella. Setau gue tuh yah, orang minta maaf tuh dengan baik-baik, suaranya biasa aja, gak membentak kayak lo," sindirnya. "Perlu gue ajarin juga cara minta maaf yang benar." Sambungnya mengancam, sebenarnya dirinya kasihan juga telah bersikap kasar seperti ini, tapi kalau dibiarkan, bisa dipastikan akan ada korban lainnya juga.
Bella mengambil napas prustasi dan menghela napas keras, mencoba menahan amarahnya. "Gue minta maaf." Gumamnya pelan, dan merasa lega, Tiara melepaskan kedua tangannya. Menatap Roy sedih dan menatap Tiara marah. "Puas lo berdua."
Tiara hanya menggeleng melihat sikap Bella. "Urus selingkuhan lo ini, gue cabut dulu."
"Tunggu!" perintah Bella kesal. "Urusan kita belum selesai."
"Apalagi sih, Bel. Cowok lo kan udah datang, biasanya juga kalian sayang-sayangan tanpa sadar waktu dan tempay," sindirnya malas. "Jangan cari-cari gara deh ama gue, kalau gak mau nyesel," sahut Tiara geram dan mengancam.
"Dimana teman lo itu?" tanyanya tajam.
"Lo mau ngapain setelah tau dia dimana," cibirnya sinis. "Gak usah mencari kambing hitam atas hancurnya hidup lo dikarenakan diri lo sendiri." Lalu menatap Roy. "Urus cewek lo ini, bikin kesal aja."
"Gue gak butuh omong kosong dari lo," serunya marah dan memegang kedua pundak Tiara. "Katakan dimana jalang itu sekarang!," perintahnya tajam dan marah, mengoyang-goyang pundak Tiara.
"Apa yang lo lakukan, Bel." Seru Roy jengkel. "Lepaskan Tiara, gak usah cari masalah lagi, lagian ngapain lo cari keberadaan Tasya segala," sambungnya marah.
"Lo diam, gak usah perintah-perintah gue," serunya tajam. "Gara-gara kalian hidup gue hancur," bentaknya tanpa menghindaukan perintah Roy. "Katakan pada gue, dimana Tasya!" sambil mencengkram pundak Tiara dan menggoyang-goyangkannya.
"Lepas Bella!" perintah Roy marah, dan mencoba menjauhkan Tiara dari Bella.
"Gara-gara lo hidup gue hancur!" rancaunya lagi dengan marah, tanpa melepaskan cengkramannya. "Gue hancur, lo juga harus hancur." Teriaknya histeris seperti orang yang hilang akal, lalu tanpa disadarinya mendorong Tiara dengan keras yang berada dipinggir jalan. "Mati lo!!."
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka, dan menunggu kesempatan datang untuk melakukan yang diperintah oleh bosnya.
Tiara yang terkejut dengan teriakan penuh dendam Bella, terdorong ke belakang tanpa menyadari kalau sedang berada di pinggir jalan. Dorongan yang kuat dari Bella, membuatnya hilang keseimbangan dan berusaha menyeimbangkan badannya yang akan jatuh dipinggir jalan.
Tapi sayang, ada mobil yang dengan sengaja ingin menabraknya. Tanpa sengaja ia melihat ada mobil melaju kencang ke arahnya. Ia terkejut dan mencoba menghindar tapi terlambat, mobil itu telah menyenggolnya, membuatnya oleng dan terjatuh.
Brak
Tiara terkejut, tubuh dan kepalanya terasa sakit, sebelum ia terjatuh dengan kepala yang membentur pinggir trotoar.
Dukk
"Tiara!" teriakan terkejut Roy, melihat Tiara tertabrak, dan bergerak menolongnya.
"Tiara!" teriakan seorang bersamaan dengan Roy, pria itu berlari mendekati Tiara.
Orang-orang yang melihat tabrakan itu langsung panik, lalu mendekati Tiara, bermaksud menolongnya.
"Lo gila yah, bunuh Tiara!" bentak Roy marah, menatap Bella nyalang.
"Gu...e," jawabnya gemetar dan terbata, baru menyadari apa yang telah dilakukannya, ia ketakutan melihat tatapan membunuh dari laki-laki yang mengaku sebagai tunangan Tiara.
Tiara merasakan ada yang mengalir dari kepalanya, ia memegangnya dan melihat darah ditanganya. Ia memejamkan matanya, rasa sakit seakan membutakan mata dan telinganya. Hanya terdengar samar-samar teriakan marah suara laki-laki, yang dirasanya tak asing baginya, sebelum ia hilang kesadarannya.
******
Someone POV
“Bagaimana?” Tanya suara sesorang dengan dingin dan kejam.
“ Beres, Bos.” Jawab sesorang pada bossnya.
“Oke, Bos.” Sahutnya gugugp dan menelan saliva dengan susah.
“Iktui mereka,” peritahnya tegas. “Cari kesempatan, bunuh dan ambil kalung itu secepatnya.”
“Siap, Bos.” Tutt… Pria itu menatap sambungan telepon yang diputuskan, lalu melihat wanita itu dibawa dan dimasukkan ke mobil tunangannya. Ia menghela napas kasar, ini tak kan mudah, kalau tunangannya sudah bergerak, dirinya yakin, seujung kukupun tidak bisa mendekati wanita itu.
******
Someone POV
“Bagaimana?” Tanya suara sesorang dengan dingin dan kejam.
“ Beres, Bos.” Jawab sesorang pada bossnya.
“Oke, Bos.” Sahutnya gugugp dan menelan saliva dengan susah.
“Ikuti mereka,” peritahnya tgas. “Cari kesempatan, bunuh dan ambil kalung itu secepatnya.”
“Siap, Bos.” Tutt… Pria itu menatap sambungan telepon yang diputuskan, lalu melihat wanita itu dibawa dan dimasukkan ke mobil tunangannya. Ia menghela napas kasar, ini tidak mudah, kalau tunangannya sudah bergerak, dirinya yakin, seujung kukupun tidak bias mendekati wanita itu.
******
Wyatt berjalan mondar mandir di depan UGD, hatinya sakit melihat Tiara ditabrak di depan matanya tanpa sempat menolong. Ia mengeraskan rahangnya marah, diakuinya memang belum biss mencintai tunangannya tapi rasa sayang dan memiliki sudah menyelusup dihatinya yang dingin. Akan ia balas siapa yang berani melakukan semua ini pada wanitanya.
“Bagaimana?” tanyanya pada Leo yang mendekatinya.
“Bella sudah dibawa ke kantor polisi beserta kekasihnya.” Jelas Leo. "Dia histeris, menolak ditahan."
"Kekasihnya?" tanyanya datar.
"Sepertinya akan dibebaskan, karena yang mendorong Tiara, Bella. Banyak saksinya yang melihatnya."
"Saksi dan yang menonton sudah dibereskan?"
"Anak buahku sudah membereskannya."
Wyatt mengangguk kepala puas. “Yang menabrak?” tanyanya tajam.
“Sedang diselidiki,” jawabnya datar. “Instingku mengatakan kalah ini kerjaan mereka.”
“Begitu,” ujar Wyatt datar. "Tapi kita belum ada bukti."
“Kuyakin, ini pasti mereka."
"Belum tentu juga," menghela napas. "Aku terlalu banyak musuh, tapi bisa kita sempitkan, siapa yang paling membenciku dan inginku hancur," sambungnya datar. "Satu lagi, siapa yang berambisi memiliki kalung itu."
Leo hanya menatapnya tenang dan berpikir. "Apa tindakanmu selanjutnya?” menatap Wyatt ingin tahu. “Kamu harus bertindak cepat, agar bisa hak melindungi Tiara sepenuhnya. Kurasa ini baru peringatan dari mereka, bisa juga pengawasanmu yang kendor sehingga memberi kesempatan bagi mereka untuk mencelakai Tiara.”
Wyatt mengepal tangan dan menatap dingin Leo. “Perketat pengawasan di sini maupun seluruh keluarga Tiara, lakukan dengan diam-diam. Kuyakin mereka gak akan suka kalau dikawal oleh bodyguard.” Mengambil napas kasar. “Awasi pergerakkan mereka dengan ketat, kalau sudah tahu siapa dalang yang melakukannya, lakukan apapun untuk menggagalkan rencana mereka.” Wyatt menatap ke ruangan UGD dengan tatapan penuh amarah. “Mereka berani mencelakai wanitaku, jangan harap hidup mereka tenang.”
Tap…Tap… suara langkah terburu-buru mendekati mereka dengan wajah shok, sedih, menangis, dan cemas. Wyatt menatap keluarga Tiara dengan perasaaan bersalah, karena gagal melindunginya.