Golden Bride

Golden Bride
Sadarnya Tiara



"Apa yang sebenaranya terjadi di sana?" Tanyanya menatap Afra penasaran.


Afra hanya menanggapinya dengan senyuman. "Nanti kamu juga akan tau." 


"Kenapa harus rahasia-rahasian segala, Fra." Gerutunya geram.


"Karena bukan hakku untuk mengatakannya, lagian bukan suprise lagi kalau kamu tau duluan," ujarnya santai penub teka-teki. Semakin membuat Tiara penasaran, ia tertawa melihat kerutan tak suka di kening Tiara. "Sekarang apa yang akan kamu lakukan terhadap teman yang mendorongmu itu," sambungnya mengalihkan omongan.


Tiara mencebik tak suka. "Bukan teman yah, enak aja."


"Kalian dulu pernah satu kelas kan, walaupun gak akrab dan ribut terus, jatuhnya sama aja kalian teman satu sekolah."


"Tapi tetap aja gak suka di bilang temannya dia," cebiknya kesal.


"Udah, gak baik terlalu menyimpan benci pada orang, merusak hati kita aja," lerai Afra menasehati. "Seperti temanmu itu, rasa iri membuatnya gelap mata dan menghancurkan hidupnya sendiri."


"Aku juga heran, apa yang kurang dalam hidup. Dari fisik dia gak kalah dari Tasya, hidupnya juga berkecukupan, malah lebih. Cerdas juga sih, kalau dia mau belajar," kekehnya mengejek. "Harusnya dia bersyukur atas apa yang ada dalam hidupnya, hanya gara-gara gebetannya gak tertarik padanya, membuatnya benci pada Tasya mendarah daging gitu."


"Apa kamu ikut benci atas apa yang dilakukan padamu?" Ajuk Afra menatapnya ingin tahu.


"Gak tau, tapi mendengar ucapannya saat mendorongku, kalau dia ingin kumati. Membuatku marah dan ingin memukul kepalanya, biar otaknya bisa berpikir jernih lagi." Ucapnya menerawang akan kejadian kecelakaannya. Setelah dipikir, ini juga bukan salah Bella, semua sudah takdirnya untuk celaka pada hari itu.


"Benar, ini bukan salah Bella sepenuhnya. Rasa amarah dihatinya, membuatnya gelap mata mendorongmu. Kupikir dia tak sadar kalau ada mobil yang melaju ke arahmu, dan mungkin sekarang temanmu merasakan rasa bersalah yang menghantui hatinya." Ujar Afra berpikir positif.


"Hanya aja gak habis pikir dalam otaknya, rasa bencinya itu tetap bertahan dari jaman sekolah sampai kami sudah berumur 24," menatap sedih pada Afra. "Padahal kami gak pernah cari gara-gara dengannya duluan, malah kami yang selalu mendapat masalah oleh ulah yang diperbuatnya." Mendesah lelah. "Gak tau lagi, gimana menghilangkan rasa bencinya itu, walaupun rasa itu bukan ditujukan padaku, tapi sebagai sahabat Tasya, aku gak bisa diam aja kalau ada yang menyakitinya.


"Ikhlas, Ra" ujar Afra menasehati lembut, tersenyum melihat kebingungan Tiara. "Kamu ikhlaskan kecelakaan ini, jangan membenci Temanmu itu. Walaupun dia diproses hukum, ikhlaskan dia bebas. Kejahatan gak perlu dibalas dengan kejahatan juga, balaslah dengan kebaikanmu. Kita doakan saja, kebaikanmu perlahan mengikis rasa bencinya."


"Gimana kalau dia gak berubah dan malah semakin membenci?"


"Itu urusan dia, yang penting kamu gak perlu membalas kejahatannya. Dirimu udah membantunya, jika dia gak terima, bukan salahmu lagi." Gumam Afra tersenyum. "Belajarlah untuk gak membenci orang yang jahat pada kita, berpikirlah dari berbagai segi, hingga bisa melihat dari sudut pandang lainnya, yang gak bisa kita lihat." Meremas tangan Tiara lembut. "Percayalah, setitik kejahatan suatu saat nanti akan ada balasannya, begitupun juga dengan kebaikkan."


"Tapi.."


"Gak usah terlalu dibuat pusing, kamu tenang aja dulu. Nanti kalau hatimu udah diajak kompromi dan bisa berpikir lebih jernih. Baru bisa kamu memutuskan, lakukan apa yang membuatmu benar, jangan pikirkan orang lain. Aku tau kamu wanita yang baik dan berhati tulus, kupercaya padamu." Ujar Afra mendukungnya tulus.


Tiara menelan salive dengan gugup mendengar ucapan Afra. "Terima kasih," jawabnya tulus.


"Tiara, bangun donk. Maaf gara-gara gue lo sampai begini," isak Tasya lirih.


"Itu suara sahabatmu kan?" ujar Afra menanyakan.


"Iya," jawabnya ikut sedih mendengar isakkan Tasya.


"Bangunlah, Ra. Hati gue semakin bersalah melihat lo begini," isak Tasya tersiksa dan sedih.


"Aku ingin bangun, tapi gak tau gimana caranya," gumam lirih Tiara penuh harap.


"Kamu bisa ikuti cahaya di atas," tunjuk Afra ke atas. Tiba-tiba ada sebuah tangga berbentuk spiral tanpa pegangan, yang menuju ke atas, dan terdapat pintu putih yang bersinar di sana.


"Hahaha," Afra tertawa lucu mendengar pikiran Tiara.


"Apa yang lucu, Fra?" tanyanya heran melihat Afra tertawa, seakan mengejeknya.


"Pikiranmu itu ngelantur," masih tertawa geli.


"Maaf," gumamnya malu.


"Kamu gak salah kok, wajar kalau merasa takut." Gumamnya menenangkan. "Tapi tenang aja, kamu gak akan jatuh, ada aku yang akan menolongmu dari sini." Menepuk-nepuk tangan Tiara hangat.


"Tapi.." ujarnya ragu.


"Percayalah padaku, Ra. Aku gak akan membiarkanmu jatuh," unar Afra tegas dan yakin.


"Makasih," gumanya tulus. "Apa kita bisa bertemu lagi, Fra," sambungnya sedih berpisah dari Afra.


"Doakan aja yah," gumamnya lembut. "Sana naiklah, kasihan keluargamu udah menunggu." Seru Afra mengingatkannya.


"Makasih," lalu memeluk Afra sedih.


Afra membalasnya dan mengelus pundaknya dengam sayang, seakan memeluk adiknya sendiri. Lalu melepaskannya dan membawa Tiara menuju Tangga yang berada di sampingnya, dan membantunya naik. Ia terus menatap Tiara yang naik dengan ragu dan takut. Setelah Tiara sudah berada didepan pintu itu, dia berbalik dan melambaikan tangannya, sebelum membuka pintu dan menghilang.


"Semoga kita bisa bertemu lagi, Ra." Bisik Afra penuh harap.


******


Ughh... erangan lirih kesakitan menganggetkan orang-orang yang berada dalam ruangan inap Tiara.


Banyak seruan syukur melihat Tiara yang sadar tapi belum bisa membuka matanya. Ia merasa matanya sangat berat dibuka, kepalanya juga terasa sakit.


"Cepat panggil dokter sekarang!" perintah suara tegas seorang pria, entah pada siapa. Dan Tiara juga tak mau tahu, ia me coba membuka matanya yang tapi masih berat, seakan matanya ditempel lem saja.


"Pelan-pelan, Nak. Jangan dipaksa yah," ujar suara Bundanya lembut, sambil meremas tangan Tiara untuk memberi dukungan.


Ughh...


"Nah, Tiara. Coba pelan-pelan buka matanya, kalau berat ditutup dulu. Perlahan aja, biar kepalamu gak sakit," seru seorang wanita padanya.


Ia merasa sesuatu yang dingin menyentuh dadanya, dan matanya silau karena cahaya yang menyorotinya.


"Sekarang kita coba lagi yah, pelan-pelan. Nah bagus, kamu pasti bisa," bujuk lagi suara wanita di sampingnya.


Tiara berusaha lagi membuka mata, merasa silau, lalu menutupnya lagi. Beberapa kali ia mencoba membuka dan menutupnya. Sehingga terakhir kalinya bisa membuka mata sepenubnya tanpa merasa silau lagi. Orang-orang disekitarnya hanya menanti dengan gugup dan cemas dengan keadaannya.


Tiara menatap kosong ke atas, lalu merasa tenggorokannya sangat kering dan sakit. "Haus.." bisiknya lirih.


"Alhamdulillah," ucap mereka bersyukur melihat Tiara telah sadar sepenuhnya. Ada yang menangis terharu, mengenggam tangannya lalu menciumnya lembuh, ada yang mencium keningnya. Lalu Bundanya membantunya minum dengan matanya yang terharu senang melihat putrinya kembali padanya.