Golden Bride

Golden Bride
Menikah, Yang Benar Saja?!"



"Ini...Ayah Tiara…" gumam Tasya terbata ragu, bingung harus ngejawab apa.


"Ayah, katakan padaku, siapa suamiku?" tanyanya langsung tak percaya. "Mereka bercanda kan, seingatku, harusnya hari ini acara lamaran dan tunangan, bukan pernikahan," sambungnya curiga menatap orang-orang yang dihadapannya.


"Siapa yang ngomong begitu," elak Ayahnya tenang. "Mungkin temanmu salah ngomong, bukan dirimu yang dimaksud." Mendekati Anaknya dan mengelus kepalanya.


"Ayah lebih baik jujur, aku gak suka dibohongi apapun itu alasannya." Ucapnya tegas menuntut jawaban.


"Tenanglah, Nak. Apa yang dikatakan Ayahmu benar." Bela Bundanya lembut, mendekatinya, dan menepuk tangannya.


"Kalau kalian gak ada satupun yang mau jujur, lebih baik aku keluar dari sini," ancamnya geram, dan akan turun dari ranjangnya tapi dicegah kedua orang tuanya.


"Mau ke mana kamu," larang Ayahnya mencegahnya, ketika anaknya mau beranjak dari ranjangnya.


"Aku gak mau dirawat lagi, kalau gak ada satupun yang mau ngomong jujur padaku." Ancamnya tegas, menatap semua orang kesal.


Semua orang menghela napas prustasi mendengarnya, dan tahu kekerasan kepala Tiara kalau tetap mereka tak bicara jujur. Tanpa sepengetahuan anaknya, kedua orangnya menatap Wyatt, untuk memintanya mengatakan kejujuran status mereka sekarang. Yang dijawab dengan anggukkan kepala. 


Jasmin dan Monic, beranjak menjauh, dan duduk di sofa bersebelahan dengan Monic. Lalu monic berbisik, yang dijawab dengan anggukan kepala. Karena mereka tahu, ini bukan ranah mereka, lalu ikut keluar  dengan diam-diam dari ruangannya bersama ketiga adik Tiara, dan mereka menunggu di living room.


Dengan kode matanya, Ayah Tiara meminta Wyatt berdiri di sebelahnya. 


"Nak, sebelum Ayah ngomong. Apapun yang Ayah katakan, kamu harus ikhlas menerima ketentuan takdir yang telah ditetapkan untukmu." Meremas tangan anaknya lembut. "Percayalah, yang kami lakukan ini, sudah kami pikirkan dengan seksama dan terbaik untukmu." 


"Ada apa, Yah. Jangan buatku takut deh," ujarnya cemas.


"Apa telah kamu dengar itu benar, statusmu sekarang bukan hanya menjadi anak Ayah tapi sudah menjadi seorang istri." Ucap Ayahnya lembut dan pelan.


"Apa?!" menggeleng kepala tak percaya. "Ayah bercanda bukan," tolaknya kesal. "Ayah pasti bercanda." Sambungnya yakin, seolah apa yang dikatakan Ayahnya itu hanya gurauan.


"Tenanglah, Nak." Pinta Bundanya lembut dan mengelus lengannya untuk memintanya tenang.


"Gimana gak tenang, Bund. Hal seperti ini Ayah masih bercanda," elaknya geram.


"Kamu pikir hal penting begini Ayah bisa bercanda." Ujarnya Ayahnya tegas, menatap anaknya tajam.


Tiara bungkam dan menunduk. Tak berani menatap Ayahnya yang sedang marah, ia memejamkan mata dan menenangkan hatinya.


"Ayah tau, kamu bersikeras mengatakan kalau semua ini hanya candaan doank tapi kamu harus menerima kalau yang telah kamu dengar itu adalah kenyataan." Jelas Ayahnya tegas dan yakin.


"Tapi Kenapa?" tanya lirih tak terima. Lalu menatap Wyatt marah. "Dia suamiku kan," sambungnya yakin, bukan mengatakan pertanyaan.


Ayahnya menghela napas, lalu mengangguk. Melihat anaknya mendengus kesal dan mengelus kepala anaknya sayang. "Gak baik seperti itu," nasehat Ayahnya lembut. "Surgamu sekarang bukan di kami lagi, tapi disuamimu, Nak."


"Tapi ini terlalu cepat, Ayah." Tandasnya tegas. "Malah dalam keadaanku seperti ini." Mengingatkan kondisinya yang terbaring lemah tak berdaya.


"Nak, mau keadaan seperti apapun. Kalau jodohmu sudah datang, tak ada satupun manusia yang bisa menggagalkannya." Ucap Ayahnya menasehati bjiak dengan lembut.


"Tapi kenapa bisa, Yah." Cetusyan kesal.


"Oke, Ayah ceritakan alasannya." Ujar Ayahnya. 


Flashback


"Nah, Nak Wyatt mau ngomong apa?" tanya Ayah Dimas. Mereka sedang duduk berhadapan, dalam suatu ruangan yang tak jauh jauh dari ruang operasi dan masih bisa melihat aktivitas orang-orang yang berada diluarnya.


Wyatt mengambil napas. "Mungkin yang kukatakan ini akan membuat Ayah dan Bunda menolak. Tapi percayalah aku tulus menyayangi Tiara dan ini yang terbaik untuk melindunginya." Jelas Wyatt hati-hati, ingin melihat reaksi dari calon mertuanya.


"Ayah, bolehkan aku menikahi Tiara hari ini juga." Ucap Wyatt tegas dengan hati yang berdebar, takut mendengar penolakkan dari mereka.


Mereka terkejut dan tak percaya dengan permintaan Wyatt. Sang suami meremas tangan istrinya untuk tenang, dari matanya, mengatakan biar dirinya saja yang mengatasi ini.


"Alasannya?" tanya Ayah Dimas tenang tapi tajam.


"Aku menyayanginya." Jawabnya tulus dan tegas.


"Alasan yang sebenarnya, Wyatt." Pintanya tegas dan datar.


"Aku menyayanginya, Yah. Dan gak ingin…" ucapan Wyatt terputus.


"Wyatt, yang Ayah minta alasanmu yang jujur," selanya tajam. "Ayah tau, kamu menyayangi putriku tapi pasti ada alasan dibalik permintaanmu yang tiba-tiba seperti ini." Sambungnya yakin dan bersikeras, menatap calon menantunya tajam


Wyatt menghela napas lelah, sudah diprediksi kalau ngomong sama Ayah Dimas tak akan muda. "Ayah tau kalau aku tulus menyayangi Tiara." Yang dijawab dengan anggukan kepala. "Dengan menjadi suaminya, aku punya hak untuk melindunginya 24 jam."


"Melindungi dari apa?" tanya Ayah Dimas ingin tahu. "Memang kamu pikir, Ayah gak  bisa melindunginya, kalau Tiara gak menikah denganmu." Sambungnya tersinggung kesal.


"Maaf, Yah. Bukan maksud meremehkan perlindungan Ayah." Bantahnya cepat dan hati-hati.


"Terus apa, ngomong aja sejujurnya ada apa sebenarnya, daripada kamu berbelit-belit." Pinta Ayah Dimas datar.


Wyatt menatap kedua calon mertuanya ragu, lalu menimbang-nimbang, apakah dirinya harus menceritakan semuanya pada mereka atau sebagian. Takutnya mereka tak percaya, malah menolak keinginannya untun menikahi Tiara hari ini. 


Akhirnya dia menjelaskan alasan sebenarnya tanpa mengatakan tentang takdirnya dan Tiara yang telah dipilih oleh kalung warisan keluarganya. Ia yakin, kalau ngomong perihal kalung itu, aka  membuat kedua calon mertuanya tak percaya, malah permintaanya akan langsung ditolaknya.


"Kamu yakin, Tiara ditabrak dengan sengaja bukan ketidaksengajaan." Ujar Ayah Dimas  tegas, yang dijawab dengan anggukan kepala olehnya.


"Ayah..," gumam istrinya parau dan cemas.


"Tenang, Bund. Kita dengar penjelasan Wyatt dulu yah, jangan cemas gitu." Ujar suaminya lembut dan menepuk-nepuk tangan istrinya. Istrinya hanya mengangguk pasrah dan hanya menjadi pendengar.


"Bukannya polisi bilang itu ketidaksengajaan, Nak?" tanyanya ingin tahu.


"Polisi gak tau apa-apa, karena si penabrak belum bisa mereka tangkap." Ucapnya geram, melihat lambatnya proses penyelidikkan kecelakaan Tiara dan seenaknya memutuskan ketidaksengajaan, padahal si pelakunya saja belum ditangkap, karena sedikitnya bukti yang membuat mereka kesulitan mengungkapkannya. Bisa juga ada orang dalam yang bermain, sehingga menganggap kecelakan itu hanya ketidaksengajaan.


"Kenapa kamu bisa yakin ngomong kalau kecelakaan itu suatu ketidaksengajaan?" tanyanya tajam dan penasaran.


"Karena anak buahku sudah menyelidikinya.." ucapan Wyatt terputus.


"Hasilnya?" sela Ayah Dimas tak sabaran.


"Maaf Ayah, Bunda. Yang melakukannya itu orang suruhan dari musuhku." Gumamnya menyesal.


"Bukannya malah lebih membahayakan  Tiara kalau kamu menikah denganya," timpal Bunda Etty tak setuju dengan rencana Wyatt.


"Dan Ayah yakin, musuh-musuhmu buka  hanya satu. Dunia bisnis itu kejam dan bisa saling me jatuhkan kalau kalah bersaing." Ujar Ayah Dimas, memegang tangan istrinya yang masih mau protes pada Wyatt.


Wyatt menghela napas, sedikit banyak bisa menangkap isyarat mereka kalau menolak rencananya."


"Ayah, Bunda. Bukannya aku meremehkan perlindungan kalian pada Tiara. Tapi dengan kami menikah, bukan hanya Tiara yang kulindungi tapi semua keluarganya juga." Menatap dengan memohon. "Akan sulit bagiku untuk melindungi kalian kalau statusku hanya tunangan bukan keluarga. Tapi kalau diriku sudah menjadi anggota keluarga kalian, mereka akan berpikir lagi, jika ingin mencelakai keluargaku." Sambungnya dingin dan mengancam tanpa disadarinya.


Ekspresi kejam Wyatt membuat Bunda Etty takut, dan Suaminya hanya mengode dari mulutnya untuk tenang dan tak usah takut, sambil mengelus tangannya dan memberi senyuman menenangkan.