Golden Bride

Golden Bride
Someone POV



Someone POV


Seorang pria berdiri di depan kaca jendela, sambil menggengan ponsel di telingannya, sedang berbicara dengan lawan bicaranya.


“Ikuti ke manapun dia akan pergi, ikuti 24 jam. Saya tidak mau tau, kalau sampai gagal, nyawamu akan menjadi taruhannya.” Menatap tajam, seakan lawan bicara sedang dihadapannya. “Jaga diam-diam, jangan sampai dia sadar, tetap selidiki orang-orang terdekatnya dan tetap terus waspada.” Mematikan ponselnya dan berjalan duduk di sofa, menyandarkan tubuhnya, lalu mejamkan matanya. “Ketuk pintu dulu sebelum masuk.”


“Sudah, kamu saja yang terlalu asik dengan pikiranmu sendiri.” Mendekati temannya, dan duduk dihadapannya. “Apa ada pergerakkan?”


“Belum.” Sahutnya datar, masih dengan memejamkan mata.


“Aneh, terlalu tenang. Semakin sulit diprediksi, apa yang akan terjadi nanti.” Jawab temannya dengan curiga.


“Keadaan ini memuakkan.” Geramnya tajam.


“Bergeraklah, sebelum semuanya terlambat.”


“Dia lain daripada yang lain, harus dengan halus mendekati, tiba-tiba masuk kedalam kehidupannya, akan membuatnya lari ketakutan.”


“Lalu apa tindakanmu, semakin dibiarkan, akan membuatnya terancam bahaya.” Menatap temannya tajam. “Dia tidak kamu jaga.”


“Saya tau apa yang harus dilakukan, urusan dia biar jadi tanggung jawabku. Yang perlu kamu lakukan, awasi saja pergerakan mereka.” Ucapnya dingin dan membuka matanya, menatap temannya tajam.


“Baiklah,”sahutnya mengalah. 


“Kalau tidak ada lagi, silakan keluar.” Usirnya datar.


“Ck,” desisnya kesal. “Oke, oke.” Sambungnya mengalah dan pergi meninggalkan boss sekaligus temannya sedirian.


Ia ingin sekali berpura-pura tidak terjadi apa-apa dengan mereka, tapi semakin ditolak, semakin erat ia mengingatnya. Seakan ada sepasang tangan erat yang menggenggam erat hatinya, agar tidak lepas. memikirkan dia terluka, membuat dirinya ingin memecahkan sesuatu, ia tidak tau apa yang terjadi padanya, mereka hanya sekali bertemu, tapi hatinya seakan telah diikat erat kepadanya.


*******


 Someone POV


“Tuan.”panggil seeorang pria pada pria paru baya, yang sedang duduk di meja kerjanya sambil membuka lembaran dokumen.


“Ada apa?” jawab tuannya, tanpa menatap bawahannya.


“Tuan muda, sudah menemukannya.” Jawab anak buahnya.


“Benarkah?” Tanya pria baya itu terkejut. “Kirimkan laporannya sekarang, jangan sampai ******** kecil itu tau.” Sambungnya dengan datar, dalam hati merasa bahagia. 


“Baik, Tuan.”


“Apa yang dilakukannya sekarang.”


“Belum ada, hanya mengamati.” Jawab anak buahnya ragu-ragu.


“Ck,” decak Boss nya geram. “Terlalu banyak yang dipikirkan. Masih saja keras kepala, berusaha untuk menolak.” Tersenyum licik. “Percuma saja, semakin menolak, akan semakin mengikat.” Sambungnya dengan diri sendiri. “Awasi saja, apa yang dilakukan ******** itu, lapor jika ada ada sesuatu yang mencurigakan.”


“Baik, Tuan.S”ahutnya patuh. “Saya permisi.”


Dua menit kemudian, masuklah sebuah email yang ditungguhnya. Membaca dan tertawa. “Selamat menikmati, kehidupanmu yang nyaman sekarang, karena tanpa diminta, hidupmu seakan dineraka."


*****


Someone POV


Seseorang sedang duduk di ruangan temaram sambil menikmati minuman mereka masing-masing.


“Sudah diselidiki, kenapa dia bisa ada di sana?” Perintah seorang yang sedang memainkan ponselnya, tanpa menatap orang dihadapannya.


“Sudah, tapi kami tidak bisa menemukan informasi lebih lanjut, dia menemui siapa di sana.”


“Kenapa bisa begitu.” Bentaknya marah.


“Maafkan kami, kami sudah berusaha, merentas sistem CCTV-nya. Tapi gak ada, telah dihapus. Sepertinya dia telah mengatur semua ini.” Ujar pria itu dengan ketakutan.


“Sial!”makinya marah. “Terus selidiki, saya tidak mau tau, kalau sampai gagal. Kamu tau sendiri akibatnya.” Ancamnya dingin pada orang dihadapannya.


“Baik.” Jawab pria itu ketakutan.


“Pergi sana,” usirnya tajam. 


“Baik.”


Seseorang keluar dari tempat persembunyiannnya, dan mendekati orang yang sedang merokok dengan santai. “Tidak ada kemajuan.”


“Kamu dengar sendiri tadi.” Menghembus asam rokoknya.


“Ck, lambat sekali kerjaan orang-orangmu.” Desisinya mengejek. Bersidekap santai tanpa merasa takut akan tatapan membunuh orang yang ada di hadapannya itu.


“Aku tak memaksamu untuk bekerja sama, bukannya kamu sendiri yang merengek datang padaku, untuk membantumu.” Cibirnya dingin, menatap tajam lawannya. Mereka berdua saling menatap sengit. “Kamu bisa mencari orang lain yang lebih berkompeten untuk membantumu.” Tersenyum mengejek.


“Maunya begitu.” Desisinya geram


“Lalu?” tanyanya datar.


“Tak ada orang yang bisa kupercaya, selain dirimu.” Tersenyum miring dan licik. “Dengan kita bekerja sama, kita bisa mendapat apa yang kita inginkan masing-masing.”


“Hahaha.” Orang itu tertawa kering pada lawan bicaranya. “Kamu benar.” Kembali menyesap rokoknya.


******


Drrt… Drrt… Ponsel Tiara bergetar. Ia baru selesai makan, dan sedang bersandar dikursi terasnya sambil mengambil ponsel yang ditaruhnya ddi atas meja. Membuka aplikasi pesan whatsapp. Melihat ada sebuah pesan dari nomor yang tak dikenalnya.


📱0857*****


    Selamat malam, Tiara.


Tiara mengernyit bingung, nomor tanpa nama, berarti bukan orang yang dikenalnya. Ditaruhnya ponsel itu, tanpa menggubrisnya. Menatap bintang-bintang dengan pikiran menerawan. . dengan ditemani dengan keheningan malam yang sejuk. Sejak mimpi itu beberapa hari lalu, hatinya jadi gelisah, untung saja mimpi itu tak datang lagi dan kedua orang tuanya tak bertanya padanya, walaupun tahu kalau mereka ingin tahu dan khawatir padanya


Drrt….Drrt… Dering ringtonenya berdering nyaring, mengagetkannya dari lamunan panjangnya. Mengambil ponselnya, melihat dari nomor tak dikenal yang tadi. Dia tetap tak menggrubis panggilan tersebut, berharap orang yang menghubunginya akan berhenti meneleponnya, karena mengganggu waktunya bersantai. Tapi orang unknown ini tetap terus menghubunginya, dengan kesal ia mengangkatnya.


“Hallo.””sahutnya ketus


“Hallo, Tiara.” Sapa pria yang menghubunginya.


“Iya, siapa ini?” tanyanya kesal.


“Maaf kalau mengganggu.” Jawab pria itu menyesal. “Ini Gilang.”


“Akh, GIlang.” Sahutnya ramah. “Maaf, gue gak tau ini nomor lo.” 


“Gak pa-pa,  lo kan gak punya nomor gue, hehehe.” Ujar GIlang mengerti. “Lagi nyantai, Ra.”


“Iya.”


“Ganggu gak?”


“Gak kok, nyantai aja. Gimana Lang udah dapat informasinya.” Tanya Tiara to the point.


“Sudah, bisa kita bertemu besok, gak enak ngomongnya dari telepon.” ujar Gilang ragu-ragu.


“Hmm…” Tiara sedang berpikir pekerjaannya besok, apakah besok ia harus lembur atau tidak. 


“Gak bisa ya.” Tanya Gilang terdengar tak bersemangat,


“Gue kurang tau, kalau gak lembur. Jam 4 gue udah pulang. Tapi kalau harus lembur jam 8 baru pulang.” Jelasnya ragu.


“Begini aja, kita ketemuan jam 5. Lo WA gue buat pastinya selesai kerja jam berapa. Jika emang lembur, kita bisa ketemuan lusa-nya.” Ucap Gilang memberi solusi.


“Hmm, baiklah.” Jawabnya setuju.


“Gue harap bisa ketemu dengan lo lagi besok, hehehe,”  ucap Gilang malu.


“Ekh,” sahut Tiara bingung harus menjawab apa.


“Save ya nomor gue,” pinta Gilang. “Besok gue WA lo lagi.”


“Siap, Boss.” Seru Tiara bergurau.


“Hahaha.” Tertawa senang. “Biasa aja lo, Ra. Udah dulu yah, Ra. Besok gue harap kita bisa ngobrol banyak.”


“Oke.” Tertawa mendengar gerutuan dari GIlang.


“Selamat malam, Ra.”


“Malam.”