
Someone POV
Tok…tok…
Laki-laki yang sibuk dengan notebooknya merasa terganggu dan berucap dengan dingin. “Masuk.”
“Lapor Bos,” ucap seseorang laki-laki dengan perawakan preman menghadap bosnya dengan perasaan takut
“Hmm,” mendongak dan menatap anak buahnya tajam sambil menyandarkan badannya.
“Orang suruhan kita tertangkap.” Ucapnya dengan menunduk takut.
“Kenapa?!” ujarnya tajam dan marah, berdiri dan mendekati anak buahnya lalu meninju perutnya.
Bug…..
Laki-laki meringis kesakitan dan menahan keluhan dari mulutnya.
Bug.. Bug. Bug… Bug... Lalu Bosnya kembali meninju kepala berkali-kali sehingga anak buahnya itu tak berdaya di bawah kakinya dan pingsan
Tiba-tiba Matt masuk ke kantor Rich, berdecak tak suka melihat anak buahnya sedang dipukuli oleh temannya itu sekaligus bosnya.
“Berhenti, Rich!” pinta Matt datar. “Kamu bisa membunuhnya!” melihat anak buahnya sudah tergeletak pingsan.
Rich berhenti melampiaskan amarahnya dan menatap Matt, lalu berjalan ke jendela menatap datar dan dingin ke arah gelapnya malam. Ingin melampiaskan kegagalan anak buahnya untuk kesekian kalinya.
Matt berjalan ke samping Rich yang sedang emosi. “Job kita sekarang bukan hanya melawan salah satu orang yang terkuat dan mempunyai kuasa di beberapa negara tapi mempunyai dukungan yang kuat dari rekan bisnis mereka. Kita juga harus melawan sesuatu yang tak kasat mata yang melindungi wanita itu.”
“Omong kosong!” jawabnya tak percaya. “Tak masuk akal.”
“Kan sudah pernah kukatakan kalau keluarga itu dilindungi oleh makhluk halus.”
“Maksudmu hantu?” menatap Matt seakan sudah gila. “Hahahha, ngelindur kamu, Matt.. Matt.”
“Terserah apapun itu, mau hantu atau roh gentayang. Intinya sama saja, makhluk tak kasat mata,” jawab Matt datar, kesal melihat Rich yang tak percaya omongannya.
“Gimana sampai orang suruhan kita tertangkap?” tanyanya dingin. “Apakah dia tahu siapa yang menyewanya?”
“Tentu saja tidak, semuanya aman. Tapi yang kulihat, dia berlari ke atas dengan ketakutan, seakan ada yang mengejarnya.” Mengingat kembali apa yang dilihatnya, beruntung dirinya bisa lolos dari kejaran para pengawal Wyatt. “Pria itu menjerit ketakutan, seakan sedang berbicara pada sesorang di depannya, padahal tak ada siapapun.”
“Mungkin dia mengalami halusinasi, seakan ada yang mengejarnya.” Ejek Rich datar dan tak percaya
“Kuingin menolongnya tapi entah kenapa ketika akan mengejar, aku terjatuh dan menyebabkan ketahuan dan dikejar oleh para pengawal Wyatt, beruntung akhirnya bisa meloloskan diri,” menatap hampa di depannya dengan pikiran berkecamuk.
“Tapi kamu tak melihat dengan kepala sendiri kan kalau semua ini gagal gara-gara makhluk halus itu, sungguh gak masuk akal!” ejeknya dingin dan sarkas, menatap Matt tajam.
“Semuanya berjalan sesuai rencana tapi entah kenapa ketika istrinya akan meminum juice itu, gelasnya malah terjatuh, dan mereka menyadari ada yang tak beres dengan minuman itu, lalu semuanya berubah kacau.” Menghela napas kesal, selama mendapat job membunuh, baru kali ini mereka harus menghadapi hal semacam ini. “Kamu pasti tetap tak akan percaya, tapi ini benaran terjadi.”
Rich sendiri antara percaya dan tidak, walaupun dirinya yakin pernah dibisikkan sebuah ancaman oleh makhluk halus itu, tapi selama belum dilihat dengan mata kepalanya sendiri, ia sulit mempercayainya.
Tanpa mereka berdua sadari kalau anak buahnya yang pingsan dibelakangnya, membuka mata dan menatap keduanya dengan kosong dan tajam. Berjalan tanpa suara mendekati keduanya dengan mengambil dua botol minuman alkohol yang berada di atas meja. Lalu membenturkannya ke kepala Rich dan Matt.
Crank…
“Dimas!!!” teriak mereka berdua marah dan tak percaya kalau anak buahnya yang selalu mematuhi semua perintahnya itu, berani melukainya. Mereka bergerak menjauhi Dimas yang menyeringai licik dan tajam.
Matt menjauhi ke arah kiri, mendekati pintu, merasa ada yang tak beres terhadap Dimas. Sedangkan Rich ke kanan mendekati mejanya dan mengambil pistol di lacinya, ingin menembaki Dimas. “Tahan, Rich!” perintah Matt cepat.
“Gila kamu, Matt. Dia mencoba membunuh kita!” menatap marah pada Matt yang mencegahnya.
“Dia bukan Dimas!” Matt menjawab cepat, karena tak mau nyawa anak buahnya terbuang sia-sia.
“Apa maksudmu?” menatap Matt seakan gila. “Jelas-jelas dia Dimas, kita tidak sedang mabuk, Matt. Come on, wake up, Matt!”
“Kamu siapa?” Tanya Matt tegang dan marah. Bergiding ngeri melihat seringai kejam Dimas yang menurutnya mengerikan.
Dimas tak menjawab, berjalan mendekati Rich. Rich heran dengan pertanyaan gila Matt, tapi ia merasa anehnya juga dengan seringai Dimas yang ganjil itu. Mundur, melihat Dimas melangkangkah maju ke arahnya, menembak ke arah Dimas. Sungguh mengejutkan mereka, Dimas malah menghindar. Suara tembakan itu otomatis terdengan oleh para anak buahnya yang berada disekitar mereka.
“Impossible!” maki Rich tegang dan sulit dipercayainya, karena belum pernah ada satu orang pun yang bisa menghindar dari tembakkannya dalam jarak dekat. Seakan peluruh yang ditembakinya itu melaju lambat ketika mendekati dimas.
Matt juga melongo tak percaya, dan beruntung peluruh itu tak mengenainya, yang berada tak jauh dari dimas, dan tertanam di dinding belakangnya.
Rich dan Matt mendengar suara para anak buahnya yang ribut, berlari mendekati arah suara tembakan terdengar.
“Ada apa, Bos?” Tanya salah satu dari mereka, setelah berada di depan ruangan bos mereka, dan bersiap siaga mengeluarkan pistol mereka, ketika melihat Bosnya mengarahkan pistol ke arah Dimas.
Dimas menyeringai lalu dengan sebelah tangannya, melambai ke arah pintu.
Blam… Pintu itu tertutup sendiri dan terkunci.
“Bos!!” panggil mereka shok dengan apa yang dilihat, tak ada angin dan yang mendorong, tiba-tiba pintu itu tertutup. Salah satu dari mereka mencoba membuka, tapi terkunci, kuduk mereka merinding seakan tak percaya apa yang di lihat dan bersikap waspada.
Lagi-lagi apa yang dilakukan Dimas, membuat keduanya terkejut dan harus mempercayai kalau yang terjadi ini benaran nyata, bukan ilusi mereka saja.
“Apa maumu?” Tanya Matt datar dalam hatinya ketar-ketir.
“Hahaha,” tawa Dimas menyerupai suara perempuan. “Jangan sekali lagi melukai Wyatt dan istrinya.” Ancam Dimas dingin dan menyeringai kejam. “Mau tembak silakan, malah yang akan mati, pemilik tubuh ini.” Berjalan mendekati Matt.
“Berhenti!” ancam Rich dingin dan marah, ketika melihat makhluk halus itu merasuki Dimas dan mendekati Matt.
“Kalau kutak mau, kamu mau apa?” Tanya Dimas cuek dan santai, berdiri menatap Rich dan Matt yang tegang.
“Silakan tembak, ayo!” tantangnya. “Setelah pemilik tubuh ini mati, diriku akan merasuki dia.” Lanjutnya sambil menunjuk Matt dengan tatapannya.
“Rich, tenang dulu. Mari kita bicara baik-baik.” Ujar Matt tenang dan tegang.
“Gila kamu! Dengan hantu gini tak harus ngomong baik-baik!” tolak Rich marah.
“Rich..” ucapakan terputus, ketika dirinya tertarik tiba-tiba ke arah Dimas, seakan ada magnet yang menariknya, sungguh tak masuk akal. Dan sekarang dirinya malah tercekik oleh Dimas dan kakinya malah tidak menyentuh tanah alias terangkat. “Uggh!...” mencoba melepaskan cekikkan sebelah tangan Dimas dari lehernya. Gila kuat banget cekikkan ini, pikir Matt gelisah.
“Lepas! Perempuan sia***!” bentaknya dingin, marah dan tajam. Dan ketika akan menembak tiba-tiba pistol itu malah bergerak sendiri ke arah Dimas dan berada ditangannya
🙏Maaf jarang update🙏makasih bagi yang masih mau membaca cerita ini. Minta dukungannya dengan klik like,vote,minta kritik dan sarannya.💘