
"Maksud lo, han... hantu," bergidik ngeri membayangkannya. Tapi kalau memang begitu. apa itu Afra. Rasa Afra yang ditemuinya, berwajah cantik, pikirnya heran.
Wyatt mengangkat bahu tak tahu. "Sebelum meninggal, wanita itu sering bercerita pada Daddy, agar ia meninggalkan Daddy. Karena Daddy itu suaminya, setiap malam dengan mimpi berbeda, dengan orang yang sama dan permintaan yang sama. Gak ada yang percaya dengan ucapannya sehingga membuatnya stres dan memutuskan untuk menabrakan dirinya sendiri, dan tewas seketika."
Tiara memucat ketakutan, akan mengalami itu juga. "Terus gimana dengan wanita yang dipilih oleh kalung itu, apa akan di... diteror juga," serunya menelan ludah.
Wyatt menggeleng lalu tersenyum. "Ternyata kamu penakut juga yah," ejeknya geli.
"Siapa yang takut," elaknya sok berani dan menantang. "Gue hanya gak suka, diteror oleh makhluk yang tak kasat mata. Bikin gue gak bisa tidur aja." Bisiknya malu pada diri sendiri.
"Haha," Wyatt terbahak mendengar bisikkan Tiara. "Ngaku aja penakut, hahaa," tertawa sampai perutnya sakit.
"Ck," decaknya malu. "
" Kamu tenang aja, seperti yang kukatakan tadi, yang bukan dipilih sendiri oleh kalung itu, baik wanita maupun pria itu yang akan diteror. Sedangkan yang terpilih, gak. Malah akan dipermudah jalan mereka untuk bersatu."
"Impossible," serunya tak percaya.
"Terserah, tapi itulah kenyataan yang terjadi." Ujarnya cuek.
"Lalu benaran GrandPa dan GrandMom lo mengerikan, sehingga wanita itu gak tahan menghadapi kecerewetan mereka."
"Dulu iya, tapi mereka udah meninggal. Yang sekarang gak, kan beda orang."
"Lalu peraturan apa yang sulit dihadapi oleh wanita itu, sampai menolak."
"Peraturan yang khusus dibuat untuk bukan yang terpilih, apa isinya hanya pasangan yang tak terpilih yang tahu. Karena menurutku, isinya selalu berbeda, disengaja untuk membuat siapapun itu menolak." Terangnya serius. "Tenang aja, kamu pasti langsung diterima oleh keluargaku tanpa syarat." Sambungnya dan bergumam dalam hati, tentu keluarganya langsung sujud syukur, ketika tahu ia sudah menemukan calon pengantinnya.
"Selain Daddy lo, apa ada orang lain juga mengalaminya dari keluarga lo," ujarny menyelidik.
"Ada, selalu begitu yang terjadi, pada mereka yang diwariskan kalung itu."
"Maksud lo yang memaksakan diri untuk menikah dengan pilihannya sendiri, akan berakhir tragis," seru tercengang.
"Gak selalu, hanya terjadi pada mereka yang menyiapkan pernikahan." Ujarnya kalem, menikmati mimik wajah Tiara yang berubah-ubah, dalam hati tersenyum geli.
"Berarti itu kalung kutukan donk," serunya agak meninggi.
"Gak juga, tergantung persepsi pewaris itu sendiri menganggapnya kutukan," jawabnya tenang. "Ada juga yang bersyukur mendapatkannya, sampai harus melakukan berbagai cara keji untuk mendapatkannya." Sambungnya dengan tajam dan dingin.
Tiara bergidik ngeri, dengan aura mencekam dari Wyatt. "Apa?" tanyanya hati-hati.
"Jadi lamaranku, diterima kan" ujarnyanya mengalihkan pembicaraan.
"Ck," decaknya kesal. "Terus kenapa lo yang mendapat kalung itu?" tanyanya ingin tahu.
"Kalung itu selalu diwariskan pada anak pertama, anak tertua dalam keluarga. Baik itu pria maupun wanita. Daddyku, anak tertua dari 6 bersaudara, jadi diwariskan kepadanya. Lalu turun padaku, anak pertama dari Daddyku."
"Jadi, gimana kalau yang diwariskan kalung itu, meninggal?" ujarnya ingin tahu.
"Kalung itu sendiri yang memilih pemiliknya. Contohnya saja, kalau diriku meninggal, makan kalung itu sendiri yang akan memilih pemilik tang baru."
"Dari cerita yang pernah diceritakan pada kami, jika pasangan terpilihku, tiba-tiba meninggal sebelum menikah dan belum mempunyai keturunan. Maka seumur hidupnya pemilik itu, gak akan menikah maupun memiliki keturunan." Terang datar.
"Doa lo jelek banget, doai gue meninggal," tuduhnya kesal menatap Wyatt cemberut.
"Itukan perumpamaan, hidup mati kita, gak akan ada yang tau. Walaupun kita mempunyai rencana tapi kalau takdir kita berkata lain, kita bisa apa." Sahutnya menahan tawa, melihat ekspresi Tiara. "Kamu tenang aja, aku juga masih punya keinginan menikah dan mempunyai keturunan. Akan kujaga, dirimu dengan sekuat tenaga," candanya pura-pura serius.
Wajah Tiara memerah mendengarnya, melengos dengan hati berdebar-debar. Ia malu sekali, kalau debaran itu sampai terdengar oleh Wyatt. Mau ditaruh dimana muka gue, masa diempang, gerutu dalam hati.
"Ehem...Ehemm," gumamnya menetralkan suara dan kegugupan hatinya. "Gimana kalian tau, kalau kalung itu memilih pemiliknya sendiri, emang udah pernah terjadi?"
"Pernah, sedetik pemilikny meninggal. Kalung itu akan langsung memilih penggantinya."
"Gimana cara?" tanyanya antusian ingin tahu.
"Kalau pemilik baru, berada didekat pemilik lama yang meninggal. Kalung itu, akan bercahaya. Tapi kalau jauh, maka kalung itu secara gaib akan, berada dalam genggaman pemilik baru."
"Impossible banget," ujarnya meninggi tak percaya, rasanya mustahil terjadi. Tapi setelah dipikirnya, ia saja bisa bertemu dengan Afra, itu saja tak masuk akal. Ditambah lagi keanehan kalung itu dalam memilih pemilik baru, seakan itu bernyawa. Ikh, kok serem yah, kayal horor dan penuh keutukan gitu, gidiknya ngeri dalam hati.
"Tak ada yang tak mungkin di Dunia ini, semuanya bisa aja terjadi, walaupun kita bersikeras menolaknya." Menatap Tiara intens.
"Seiring berjalannya waktu kamu pasti akan tau semua cerita yang berkaitan dengan kalung itu, yang selalu diceritakan selama turun temurun sebagai pengantar tidur." Ucapnya santai. "Jadi gimana, Tiara?" sambungnya lagi bertanya.
"Gue gak bisa menjawab sekarang," tolaknya tegas.
"Baiklah, aku akan memberi waktu sampai besok," ucapnya memerintah.
"Hei, gak bisa gitu donk, jangan seenaknya, sama aja maksa itu," protesnya tak terima.
"Apalagi yang kamu ragukan?" tanyanya ingin tahu.
"Pernikahan itu sekali seumur hidup, gak bisa diputuskan dengan mudah. Banyak yang harus dipertimbangkan. Apalagi kita belum mengenal pribadi masing-masing, jangan seenaknya memutuskan." Terangnya menolak permintaan Wyatt yang seenaknya.
"Apa yang kamu takutkan, Ra." Menatap mata Tiara intens. "Kubisa menjanjikan kesetian kalau kita sudah menikah. Kuberjanji akan melindungimu selalu apapun yang terjadi. Keuangan, gue termasuk pria yang royal, jadi mau beli apa aja, berapa harganya pun, gak masalah. Dan soal cinta mari lah kita belajar tuh saling mencintai, intinya kamu harus percaya padaku, kalau kutak akan menyakitimu."
"Ck, emang gue mata dueitan. Selama masih bernapas, duit masih bisa dicari," sahutnya tersinggung dan sinis. "Beri gue waktu," pintanya pelan.
"Baik, asal jangan lebih dari seminggu, keluargaku gak sabar ingin bertemu denganmu." Ucapnya final.
Dasar bossy, sama aja bohong itu namanya, gerutunya kesal. "Hmm." Gumamnya malas.
"Jadi Tiara maukan kamu percaya padaku, menyerahkan masa depanmu ditanganku," pintnya tulus.
"Hmm, gue…"ujarnya tebata-bata.
"Gak pa-pa kalau belum bisa menjawab sekarang, tapi percayalah. Lamaran ini adalah bukti keseriusanku untuk membina rumah tangga denganmu," menatap Tiara lama.
Mereka saling tatap, menyelami perasaan mereka masing. Hati mereka berdebar-debar, seakan ada tali tak kasat mata yang mengikat mereka.