
Setelah berbicara dengan Leon dan body guardnya, ia kembali masuk ke dalam, menduduki sofa bed, melihat istrinya bercengkraman bersama keluarga dan para sahabatnya. Tersenyum lega, melihat raut wajah cemas dan takut, hilang dari wajahnya. Mengepal tangan marah, ingin membunuh seseorang tapi belum tahu pasti siapa dalang dari penembakan ini.
"Wyatt," panggil Tasya, membuat semua orang menatapnya.
"Iya," gumamnya datar.
"Ck, gak sopan banget lo manggil suami gue namanya doank," cerca Tiara mencebik.
"Ck, sejak kapan udah terima dia sebagai suami, tadi aja masih protes," balas Tasya menyindir, yang mendapat gerutuan dari Tiara. "Lagian dia aja gak protes dipanggil nama doank, lah masa lo yang sewot sih," sambungnya mengejek.
"Lo kan saudara gue, jadi harus manggilnya dengan hormat dikitlah, kan lebih tua dari kita." Ujarnya tanpa menghindakan sindiran Tasya. "Adik-adik gue aja memanggilnya dengan embel-embel kakak, dan lo pada juga harus gitu." Pintanya tegas tanpa mau dibantah dengan menunjuk ketiga sahabatnya.
"Harus gitu," ujar ketiga sahabatnya tak terima.
"Haruslah," jawabnya tegas dan menatap mereka dengan tajam.
Mereka bertiga menghela napas kesal, tapi tak bisa membantah. Karena dulu semasa kuliah, pernah berikrar, kalau mereka semua menikah, memanggil suami sahabatnya, sesuai dengan yang disuruh oleh sahabatnya itu.
"Ada apa, Sya?" tanya Wyatt datar, dengan santai mengamati perdebatan mereka.
"Oh, iya sampai lupa," ujar malu sambil menatap Tiara geram. "Tadi istrimu ngomong pada kami…" menekan kata istrimu terputus.
"Tasya diam," perintah Tiara cepat dan menatap Tasya kesal.
"Ngomong aja, sya," perintah Wyatt tegas, lalu beralih menatap istrinya dalam dan memperingatkan.
Suasana menjadi tak nyaman, melihat keseriusan Wyatt, mereka menyadari akan ada pembicaraan yang serius, lebih memilih menunggu diluar, dengan berbagai alasan untuk keluar, tinggal sepasang suami istri dan ketiga sahabat Tiara.
"Gini yah, Kak," ujar Tasya. " Ck, belibet amat sih manggilnya," gerutunya berdecak kesal, langsung diam ketika mendapat tatapan tajam dari Tiara. "Tiara ngomong kalau sebaiknya Bella dilepaskan gugutannya."
Hening…
Mereka saling tatap, menunggu reaksi Wyatt yang bersidekap datar dan nyantai.
"Alasannya?"
"Dia.." ucapan Tasya terputus.
"Sya, biar nanti gue aja yang ngomongnya," sela Tiara cepat memperingati.
"Oke," sahut Tasya nyantai dan mengangkat bahu cuek.
"Ngomong-ngomong, tadi sebenarnya apa yang terjadi dalam kamar ini?" tanya Jasmin penasaran mengalihkan omongan, sehingga pembahasa tentang Bella seakan tak pernah dibahas. "Kalau gak salah ada suara kaca sama bunyi ledekan kecil." Mereka menatap Wyatt dengan ingin tahu dan menunggu jawabnnya.
"Gak ada apa-apa," elaknya santai. "Hanya orang iseng aja kurang kerjaan."
"Gak mungkin banget orang isengnya kebangetan, kayak ada orang meleparkan atau melepaskan sesuatu," ujar Monic berpikir kritis. "Lagipula ini kan lantai 32, dari mana coba bisa melempar dari bawah keatas kecuali," memegang dagunya berpikir keras, ciri khasnya saat sedang sibuk berpikir. "Dilempar dari gedung apartement seberang, jaraknya juga kurang lebih 800 meter dari sini dan sepertinya bukan lemparan biasa." Dengan mata berbinar senang dengan pikiran tajamnya.
"Sudah, gak usah dipikirkan lagi," sela Wyatt datar. "Kalaupun iya, siapapun itu telah salah memilih lawan." Sambungnya berbisik dingin dan tajam.
Tiara dan ketiga sahabatnya hanya meneguk saliva tegang melihat raut Wyatt yang seperti itu, membuat mereka ketakutan. Dalam pikiran mereka, jangan sampai membuat masalah dengan Wyatt nantinya.
"Gak usah berwajah tegang gitu lah," ujarnya datar. "Gue gak akan membalas orang sembarang kalau tanpa sebab." Tersenyum simpul melihat raut wajah mereka dengan jelas.
"Wyatt," panggil Ayah Dimas menyelanya, ia berdiri di depan pintu.
"Iya, Yah." Berdiri mendekati mertuanya.
"Ada Daddymu tuh," bisiknya menunjuk Daddy sedang di depan pintu masuk, sedang ngobrol dengan Leon.
"Iya, makasih Yah." Ucapnya tulus. "Kalian ngobrolah dulu," sambungnya undur diri dan menatap istri sebentar lalu pergi bersama Ayah Dimas.
Ia mengikuti Daddynya dan Ayah Dimas keluar, setelah menutup pintu. Melihat Leon bersama kepala tim A body guard yang disewanya, Ferdinand Rodrigo, berbicara dan diam melihatnya mendekat.
"Kapan Daddy datang?" menatap Leo marah seakan gara-gara mulutnya yang ember membuat Daddy cemas hinga menyusul kemari.
"Bukan gitu, Dad. Aku tak mau sampai kalian kuatir kayak gini," elaknya cepat. "Siapa aja yang tau masalah ini?" menatap Daddynya penasaran. "Terus Daddy datang sendirian?."
"Daddy bareng stuart."
"Mana orangnya?"
"Lagi membantu body guardmu menyelidiki tkp di gedung seberang," menatap besannya. "Gimana kondisi Tiara, Mas."
"Alhamdulillah, baik. Hanya agak syok dengan kejadian barusan," Jawabnya tenang. "Sebenarnya bunyi apa tadi?" menatap besannya penasaran.
"Nak, kamu belum ngomong apa yang terjadi pada mertuamu," cetus Daddynya menggerutu, melihat anaknya terdiam, bisa ditebaknya. "Sebenarnya terjadi penembakan, yang dilakukan dari gedung apartement, berseberangan dengan rumah sakit ini."
"Apa?!" tanyanya Dimas syok dan terkejut. "Siapa sasarannya?"
"Kemungkinan terbesar ditujuhkan pada Wyatt," jawab Victor.
"Tapi bisa juga ditujuhkan pada Tiara," gumamnya bergetar cemas.
"Rasanya tidak mungkin, yang mempunyai banyak musuh itu, Wyatt." Menatap anaknya menyindir. "Jadi pasti tembakan itu untuk membunuhnya." Menepuk pundak besannya yang cemas. "Jangan cemas dan dipikirkan, gak akan terjadi apa-apa pada menantuku itu, kami akan melindunginya." Sambungnya tegas dan berjanji.
Dimas menghela napas, rasa cemas masih memenuhi hatinya. "Sudah tahu siapa pelakunya?"
"Belum, masih kami selidiki," sahut Wyatt.
Tiba-tiba datanglah kepala tim B body guardnya yang bernama Brian Loxycel, bersama dengan Stuart.
"Bagaimana?" Wyatt menatap Brian yang berdiri di depannya.
"Mereka berhasil melarikan diri," jawabnya menyesal.
"Kenapa bisa begitu," tukasnya tajam.
"Mereka ternyata membayar warga sipil untuk menghalangi kami, sehingga tidak bisa sembarangan bertindak." Jelas Brian tetap tenang dibawah tatapan dingin Wyatt. "Ketika kami menuju lantai teratas apartement seberang, lift semuanya terkunci, dan mereka telah menghilang."
"Hasilnya?" tanyanya dingin. "Mereka ada berapa orang?."
"Kami selidiki, hanya 2 orang, dan sepertinya mereka telah menjadi salah satu penghuni apartement itu." Jelasnya yakin.
"Selidiki lagi, kalau perlu cari info tentang semua penghuninya. Pasti di antara mereka, ada salah satu pembunuhnya." Perintahnya tajam. "Apa pendapatmu?" menatap Stuart datar.
"Pembunuh itu telah merencanakannya dengan cukup matang, dengan waktu yang sangat singkat. Ada beberapa anak buah yang dibawa untuk mengecoh dan merentas sistem rumah sakit ini dan apartement itu. Sisanya, sengaja menyewa warga sipil random, ditempatkan berada tepat di posisi body guardmu bersiaga, untuk menghalangi gerak gerik mereka." Terang Stuart serius. "Sepertinya mereka sudah menyelidiki dan mengamati pergerakkanmu dengan seksama, sehingga membuat body guardmu sulit bergerak."
"Apa kemungkinan ada pengkhianat?" tanyanya datar sambil menatap Brian tajam.
"Kemungkinan itu pasti selalu ada," jawab Stuart datar.
👋Met Pagi Readers👋
😇Terima kasih udah masij setia membaca cerita
amatiran gw ini🙇
😇Maaf tidak membalas bagi yang komen🙏
🤗Kalau suka, jangan lupa 👉 👍 👉 Vote 👉
Rare😉
🤗Karena semua itu akan menjadi penyemangat
bagi gw untuk sering update😉
👏See you again on next chapter, Thanks🙇